My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 29 : Tragedi Berdarah



Pov Author


********


Bi Surti begitu panik melihat Reyhand yang seperti orang kesurupan menghajar Pak Prabu, Papahnya sendiri yang begitu ia benci. Benci karena kesalahan Papahnya sendiri.


"Ya Allah Gusti! Nak, sudah nak tidak baik main hakim sendiri!" Teriak Bi Surti, ia mencoba merelai perkelahian antara bapak dan anak ini.


Bukan apa, jika Bi Surti yang menghajar Pak Prabu sampai pak Prabu mati di tempat juga tidak masalah karena dirinya lah yang akan bertanggung jawab.


Namun, jika Reyhand yang menghajar Pak Prabu sampai mati di tempat, Bi Surti tidak akan rela, karena akibatnya Reyhand bisa masuk penjara terjerat kasus pembunuhan.


Tidak tidak tidak, jangan sampai itu terjadi. Reyhand bahkan belum menikmati arti dari kebahagiaan di sepanjang hidupnya.


"Rey, berhenti nak Ibu mohon." Lirih Bi Surti, ia sudah kehabisan cara untuk menghentikan aksi putranya ini.


Mendengar suara lirih bi Surti, Reyhand pun seolah seperti di hipnotis.


Di hipnotis karena sebutan "Nak" yang bi Surti sematkan untuk Reyhand, dan panggilan "Ibu" untuk Bi Surti.


Seketika Reyhand menghentikan aksinya, menghajar Pak Prabu, Papah yang ia benci selama ini.


Bi Surti pun merasa lega karena Reyhand mendengarkan ucapannya.


Namun itu tidak berlangsung lama. Belum lima menit Bi Surti menarik nafas lega, satu kejadian yang tidak pernah ia bayangkan terjadi di depan matanya karena,


melihat Reyhand yang tidak fokus, pak Prabu langsung mengangkat guci yang ada di sebelahnya lalu,


Prangggg!!


"YA ALLAH GUSTI!!" Teriak Bi Surti.


Seketika tubuh Reyhand menjadi lemas lunglai tidak berdaya.


Sesaat ia masih mendengar suara jerit tangis yang keluar dari mulut wanita yang baru ia ketahui bahwa dia adalah ibu kandungnya. Ibu yang telah melahirkannya.


Di detik detik terakhir, hati Reyhand berdenyut nyeri kala ia mengingat tentang Pak Prabu, lelaki yang Reyhand ketahui adalah Ayah kandungnya namun pada kenyataannya sekarang ia tega mencelakakan Reyhand, Putranya sendiri.


Darah segar mulai mengalir dari kepala Reyhand, lambat laun matanya mulai sayu dan perlahan menutup.


Reyhand pingsan, ia tidak sadarkan diri dengan keadaan darah yang masih mengalir deras dari kepalanya dan tubuhnya di kelilingi oleh pecahan Guci.


"KAMU PEMBUNUH PRABU!! KAMU MEMBUNUH PUTRAKU!! Teriak Bi Surti, ia menjadi kalang kabut melihat keadaan Reyhand begitu memprihatinkan.


Bi Surti duduk dan memeluk tubuh Reyhand yang telah lemas, sambil menangis ia menciumin telapak tangan Putranya ini,


"Nak Ibu mohon bertahanlah, setelah ini kita akan hidup berdua dan bahagia selamanya. Ibu mohon bertahanlah." Racau Bi Surti, ia lalu menciumi jemari Reyhand.


Sedangkan Pak Prabu ia hanya berdiri mematung melihat tubuh putranya yang telah di penuhi oleh darah segar.


Bi Surti pun keluar Apartemen untuk mencari bantuan.


Ia melewati begitu saja Pak Prabu yang berdiri disebelah pintu. Bagi Bi Surti tidak ada lagi kehormatan untuk Pak Prabu, cinta dan kekaguman yang bertahtah di hati bi Surti kini semua telah lenyap dengan seketika.


Yang tersisa hanya kebencian dan amarah. Namun untuk ia ungkapkan saat ini bukanlah waktu yang tepat, karena kondisi Reyhand lebih penting dari segalanya.


"Tolong! Tolong! Tolong anak saya tolong!" Seru Bi Surti,


namun situasi di lantai dua saat ini sedang sepi senyap karena para penunggu kamar rata rata sedang bekerja saat di pagi hari begini.


Dengan terpaksa Bi Surti harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan bantuan.


Bi Surti memilih untuk menuruni tangga darurat dari pada menggunakan lift, siapa tahu di pertengahan jalan ia bertemu seseorang yang bisa membantunya.


Dan Alhamdulillah do'a bi Surti langsung di jabah oleh Author.


Dengan nafas yang ngos ngosan bi Surti langsung mengutarakan keluh kesahnya terhadap lelaki office boy ini.


"Nak tolong!  Tolong Putra saya!"


"Ada apa bu? Tenangkan dulu diri ibu, lalu bicara yang jelas agar saya bisa mengerti."


Keringat telah bercucuran membasahi wajahnya, Bi Surti hanya menggelengkan kepalanya.


"Duduk dulu bu. Tarik nafas yang dalam lalu hembuskan."


"Kamu pikir saya akan melahirkan? sudah ayo ikut saya ke lantai dua, putra saya saat ini sedang sekarat akibat ulah Papahnya yang nggak ada otak itu!" Oceh bi Surti,


ia pun menarik paksa tangan lelaki office boy itu sehingga mau tidak mau office boy itu hanya menurut saja, mengikuti arah langkah kaki bi Surti melangkah.


Namun karena posisi sekarang menaikki satu persatu anak tangga dan lelaki office boy itu kesusahan membawa alat kebersihan, akhirnya ia membuka suara yang ia pendam selama bebebrapa menit tadi.


"Ibu maaf, kalo begini caranya saya tidak mau menolong putra ibu!" Ungkap lelaki office boy ini, sembari melepaskan genggaman tangan bi Surti.


Bi Surti yang mendengar penolakkan dari lelaki office boy ini pun menjadi geram, rasanya ingin sekali bi Surti menjadikan rujak dengan bumbu kacang yang pedas lelaki yang ada di belakangnya ini.


"Kamu mau putra saya meninggal? dia adalah penunggu apartemen ini sudah bertahun tahun lamanya. Dan kamu jika tidak mau menolongnya, kamu akan selalu di hantuinya di setiap kamu menginjakkan kaki di apartemen ini!" Ancam Bi Surti kemudian dengan nafas yang memburu.


"Makanya ibu biarkan saya berjalan sendiri! Apa ibu tidak lihat betapa dengan susah payah saya menaikki anak tangga demi mengimbangi langkah ibu? Ibu tidak lihat saya sedang membawa apa? Dan Ibu seenaknya saja menarik narik tangan saya, seolah saya ini tali yang di pake buat tarik tambang?" Omel lelaki office boy itu.


"Aduh! Kamu ini lelaki tetapi mulutnya kok kayak yang lagi viral itu."


"Apa?"


"Lambe Turah!"


"Sudah ayok jangan banyak bacot lagi!"


Mereka pun berjalan dengan terburu buru menaikki anak tangga yang hanya tinggal lima tingkat setelah itu mereka sampai di lantai dua.


Lelaki itu menaruh alat kebersihannya di sudut ruangan. Dan segera menyusul Bi Surti yang sedikit lagi hampir menghilang dari pandangannya.


"Gila! Kalo emak emak lihat anaknya terluka paniknya begini yak." Gerutu lelaki office boy itu.


Ia pun mengambil langkah seribu agar tidak tertinggal lebih jauh jaraknya dengan Bi Surti.


Tidak menunggu waktu lama, setelah melewati bebebrapa kamar yang pintunya pada tertutup akhirnya mereka berdua samapi di kamar dimana Reyhand berada.


Namun bi Surti tidak melihat batang hidung Pria brengsek itu.


Pak Prabu telah melarikan diri duluan dan meninggalkan Reyhand yang tidak sadarkan diri, masih tergeletak di lantai dengan posisi yang sama seperti tadi.


Alih alih bi Surti tidak mau memperdulikan dimana keberadaan Pak Prabu, yang terpenting saat ini ialah menolong putranya.


"Oh Tuhan!" Ujar lelaki office boy itu saat ia sudah sampai di kamar Reyhand.


Di mana kamar itu telah menjadi saksi bisu atas apa yang telah terjadi hari ini kepada dirinya.


Tidak mau mengulur waktu, lelaki office boy itu segera bertindak.


Ia akan menganggkat tubuh Reyhand, namun sayang tubuhnya kalah besar dengan tubuh Reyhand, alhasil ia tidak kuat menggendong Reyhand dan meletakkan kembali di lantai.


Bingung harus apa, Bi Surti yang semakin panik pun akhirnya sebuah ide terlintas di fikirannya.


"Kamu angkat kepala dan saya angkat kakinya."


"Jangan gila kamu bu, kamu fikir lantai dua ini jaraknya hanya lima senti ke lantai dasar?"


Bersambung..