
POV Author
**********
Reyhand bersikukuh untuk memberi tumpangan kepada bapak tua itun, namun bapak tua itupun bersikukuh menolak niat baik Reyhand dengan alasan tidak mau merepotkan.
"Baiklah pak, kalau begitu saya jalan duluan. Bapak hati hati di jalan." Ujar Reyhand.
"Iyaa nak, terimakasih atas tumpangannya. Maaf bukan bapak tidak mau, hanya saja bawaan bapak cukup banyak takut ngerpotin kamu."
"Iyaa pak saya paham, kalo gitu saya duluan pak, mari.."
"Mari mari." Ujar Bapak tua itu sembari tersenyum.
Reyhand pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan bapak tua itu masih mengengkol motor miliknya.
"Kasihan sekali kamu pak, sudah tua tetapi harus banting tulang demi keluarga." Gumam Reyhand seorang diri, sembari memperhatikan bapak tua itu melalu kaca spionnya.
Tidak perlu waktu lama, setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya Reyhand pun tiba di Lorong karetan.
Ia pun memasuki jalan setapak yang Alhamdulillahnya sudah di cor, jadi mobilnya tidak kotor akibat jalan yang becek karena hujan deras semalam.
Terlihat dari kejahuan kontrakkan Claraa masih tertutup rapat. Jangankan jendela hordengnya saja masih rapi menutupi silaunya matahari.
Reyhand memarkirkan mobilnya di pinggir jalan setapak, karena kontrakkan Clara tidak memiliki halaman yang luas, hanya cukup untuk memarkirkan kendaraan berroda dua saja.
Ia pun turun dari mobil, dan perlahan berjalan menuju kontrakkan Claraa.
"Pasti masih tidur, dasar wanita pemalas!" Gerutu Reyhand seorang diri.
Reyhand berdiri di depan pintu kontrakkan Claraa, namun saat ia akan mengetuk pintu terdengar dari dalam suara yang membuat darah Reyhand seketika mendidih.
Tidak ingin salah mendengar, Reyhand pun mendekat dan menempelkan telinganya di daun pintu kontrakkan Claraa.
Dan terdengar jelas suara yang Reyhand ketahui itu adalah suara milik Claraa, suara yang sama persis seperti suara saat Reyhand dan Claraa beradu kasih di atas ranjang.
"Kurang ajar!" Umpat Reyhand.
Sedangkan yang terjadi di dalam kontrakkan Clara,
"Ahhhh.. ahh.. terus .. ahhh" Ujar lelaki yang sedang berada di bawah Claraa, ia sangat menikmati permainan yang Claraa ciptakan pagi ini.
Namun semua itu tidak berjalan mulus, semulus pertempuran mereka semalam di karenakan,
Tok! tok! tok!
Tiba tiba saja ada seseorang yang menggedor pintu kontrakkan Claraa, yang pada akhirnya gairah yang sedang memuncak itu menjadi hilang seketika.
"Siapa si, ganggu orang saja!" Teriak Claraa dari dalam kontrakkan.
Sedangkan, Reyhand yang mendengar teriakan Claraa ia langsung seperti orang kesetanan. Dengan membabi buta ia menggedor gedor pintu kontrakkan Claraa, bahkan Reyhand berusaha mendobraknya.
Berulang kali ia menumburkan tubuhnya dengan sekuat tenaga pada pintu yang kayunya sudah lumayan lapuk namun masih tetap berdiri dengan kokohnya.
Claraa yang tidak menggunakan sehelai benang pun menjadi kalang kabut kala mendengar pintu akan di buka secara paksa oleh seseorang yang berada di luar.
Ia dan lelaki hidung belang itu segera mencari cari pakaian mereka masing masing yang berserakan di lantai.
Namun sayang sebelum tubuh mereka tertutup sempurna, pintu telah berhasil di buka paksa oleh Reyhand.
Alhasil, mereka bertiga beradu pandang, karena diantara mereka bertiga itu ada yang saling mengenali.
Tidak menunggu waktu lama, kenangan buruk itu kembali berputar di memori otak Reyhand, kenangan terburuk yang pernah ia lalui seumur hidupnya dan sekarang kejadian itu sama persis terulang kembali.
"KAU!! LELAKI BIADAP!!"
Jika saat itu Reyhand masih remaja ia tidak berani menghajar lelaki yang ada di hadapannya ini, tetapi tidak untuk sekarang. Hati dan perasaannya benar benar telah di buat terluka oleh orang yang sama.
Bugh! bugh! bugh!
Reyhand menghajar lelaki yang ada di hadapannya ini, tidak lupa juga ia menendang pusaka milik lelaki itu yang masih menjaur tergantung lemas.
"Rey cukup Rey kamu bisa membunuhnya!" Teriak Claraa, ia benar benar panik melihat Reyhand yang seperti kesetanan menghajar lelaki paruh baya ini tanpa ampun.
"DIAM LO B*NGS*T!!" Maki Reyhand.
Bugh! bugh! bugh!
Reyhand terus menghajar lelaki ini, sampai ia tergeletak lemas di lantai dengan darah yang memenuhi seluruh wajahnya akibat bogeman yang Reyhand berikan untukknya.
"Mati aja lo!! Bumi pun tidak akan sudi menerima manusia seperti kamu!!" Teriak Reyhand, dan sekali lagi ia melayangkan tendangan ke arah pusaka lelaki itu.
"Rey." Lirih lelaki itu, lelaki yang di ketahui bernama Prabu Sanjaya, atau Ayah dari Dokter Zainal dan suami dari bu Ratna, mamahnya Dokter Zainal.
Reyhand yang di panggil oleh pak Prabu hanya membuang muka. Ia masih menetralkan emosinya dan mengatur nafasnya yang begitu ngos ngossan akibat perkelahian yang terjadi barusan.
Sedangkan Claraa ia telah berpakaian lengkap menutupi lekuk tubuhnya, lalu berjalan mendekat ke arah Reyhand yang masih berdiri di hadapan Pak Prabu.
"Rey, maaf kan aku." Ujar Clara, sembari tangannya meraih jemari Reyhand lalu menggenggamnya.
Tanpa malu ia memeluk Reyhand dari belakang.
Yang ada di fikiran Claraa, ia merasa bahwa Reyhand menghajar lelaki itu karena Reyhand marah Claraa ketahuan memadu kasih bersamanya. Namun semua itu hanya fikiran Claraa, faktanya Reyhand menghajar lelaki itu karena dari awal sudah memiliki dendam yang terpendam.
Dengan kasar Reyhand melepaskan pelukkan Claraa pada tubuhnya. Reyhand berbalik arah dan menatap Claraa dalam, lalu tanpa aba aba ia melayangkan satu tamparan ke pipi mulus Clara.
Plak!
Jelas terdengar suara tamparan itu memenuhi ruang tamu yang sempit ini.
"Rey!" Lirih Claraa penuh penekanan.
Claraa pun memegang pipi mulusnya yang terasa begitu panas akibat tamparan yang Reyhand layangkan untuknya barusan.
Ia tidak menyangka jika Reyhand akan sekasar ini. Untuk mengelabuhi agar tidak terkena amukan Reyhand lagi, Claraa pun mengeluarkan senjata andalannya.
Dan ternyata,
"Simpan air mata buaya mu itu wanita murahan! Kau, anggap kita tidak pernah bertemu mulai saat ini!" Ujar Reyhand.
Ia menahan amarahnya agar tidak berlaku kasar lagi terhadap wanita yang ada di hadapannya ini.
"Rey, bagaimana dengan anak kita?" Lirih Claraa di sela tangisnya.
"Anak__"
Belum selesai Reyhand bicara, seorang wanita dari luar datang dan langsung menjawab pertanyaan yang Claraa lontarkan barusan.
"Claraa tidak pernah hamil! Jangan kan hamil rahim saja dia tidak punya!" Ungkap wanita itu.
Seketika Reyhand dan Claraa menoleh ke arah sumber suara itu. Dan betapa kaget nya Claraa saat mengetahui siapa pemilik suara itu.
"TANIA!!" Teriak Claraa.
Ia tidak menyangka jika Tania, sahabat baiknya berani membongkar rahasia terbesar nya di hadapan lelaki yang selama ini telah Claraa bohongi.
Reyhand pun tidak menyangka bahwa selama ini Claraa telah menipu dirinya.
"KAU!!!
PLAK!!
Bersambung..