My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 36 : Uluh uluh Romantisnya



POV Author


***********


Dokter Zainal hanya diam dan menatap bingung ke arah halaman rumahnya.


"Sebaiknya kita turun dan lihat siapa yang meninggal." Ucap Dokter Zainal.


Perasaan Dokter Zainal pun menjadi berkecambuk, apakah sang Mamah yang telah meninggal dunia, tetapi tadi sebelum Dokter Zainal meninggalkan Rumah, keadaan Mamahnya baik baik saja walaupun sedang sewot karena Papah tak kunjung pulang.


Atau jangan jangan Papahnya lah yang telah menghembuskan nafas terakhirnya.


Tak ingin berlama lama dan terus menduga duga, Dokter Zainal pun segera membuka sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil dan memutari mobil ke sebelah kiri, menghampiri Mbak Gita.


"Ayo." Ujar Dokter Zainal, ia pun menggandeng jemari Mbak Gita.


Mbak Gita hanya tersenyum, lalu mereka berdua berjalan beriringan memasuki halaman rumah orang tua Dokter Zainal.


Telah ramai orang berkumpul,  ada yang membaca yasin sebagian ada bapak bapak yang hanya duduk duduk di depan teras rumah.


"Pak.." Sapa Dokter Zainal kepada para tetangganya yang sedang duduk di teras Rumahnya.


Ia sudah tidak bisa menahan rasa khawatirnya, langsung saja pertanyaan itu lolos dari mulutnya.


"Siapa yang meninggal, Pak?"


Sedangkan Mbak Gita hanya berdiri di belakang Calon Suaminya. Tetapi genggaman jemari mereka tidak terlepas. Sekalipun di depan orang ramai.


"Saya juga tidak tahu dia siapa, saya tidak pernah melihatnya. Tetapi orang orang bilang bahwa yang meninggal adalah Putra Papah kamu, yang artinya dia adalah Saudara kamu."


"Saudara?"


"Lebih baik kamu masuk dan lihat sendiri Jenazahnya."


Rasa penasaran sangat menyelimuti hati dan perasaannya, ia pun mengangguk dan berlalu masuk ke dalam rumahnya meninggalkan sekelompok bapak bapak tetangganya tadi.


"Ayo Sayang."


Melihat Dokter Zainal yang tidak melepas gandengan tanggan Mbak Gita, sedikit banyak para tetangga berbisik bisik. Namun entah apa yang mereka bicarakan. Mbak Gita maupun Dokter Zainal tidak mau memperdulikannya.


Yang terpenting saat ini ia harus masuk kedalam rumah dan melihat Saudara siapa yang di maksud oleh Bapak Bapak tetangganya tadi.


Saat telah sampai di ruang tamu, hanya ada beberapa ibu ibu yang sedang membacakan surat Yasin.


Namun di tengah tengah mereka hanya ada kasur kosong, tidak ada siapapun yang tidur di atasnya.


Lalu kemana Jenazah yang dimaksud?


Melihat raut wajah Dokter Zainal yang seperti sedang kebingungan, Bu Rt pun menyudahi membaca Surat Yasinnya. Lalu ia letakkan Yasin itu di pangkuannya.


"Nak Zainal." Sapa Bu Rt. "Jenazahnya sedang dimandikan di belakang." Ujar Bu Rt seolah ia tahu isi fikiran Dokter Zainal.


"Ohh iya bu, terimakasih."


Tidak mau bertanya lagi, Dokter Zainal segera menuju halaman belakang juga Mbak Gita yang mengikutinya dari belakang.


Perasaan mereka berdua begitu dag dig dug der, bercampur menjadi satu saat langkah mereka telah mendekati lokasi pemandian Jenazah.


Namun,


"Mah."


Mamah hanya melihat sekilas ke arah Mbak Gita, lalu ia buang muka dan melanjutkan perjalannya menuju lantai dua di mana kamarnya berada.


"Mas, sepertinya ini bukan waktu yang pas aku berkunjung kesini."


"Mungkin Mamah sedang merasakan kesedihan karena kejadian hari ini, kamu jangan di ambil hati ya tentang sikap Mamah tadi." Ujar Dokter Zainal sembari mengelus lembut puncak Kepala Mbak Gita.


"Tapi Mas, aku melihat Mamah sepertinya sangat membenci ku."


"Tidak sayang, mana mungkin Mamah membenci kamu. Mas yakin saat  ini Mamah pasti sedang ada masalah." Ujar Dokter Zainal, ia berusaha agar Calon Istrinya ini tidak berkecil hati atas perlakuan Mamah tadi.


Mbak Gita lalu menarik nafasnya dalam dan perlahan ia hembuskan.


"Mas masih belum mengetahui Saudara siapa yang dimaksud oleh Bapak Bapak yang duduk diteras tadi."


Mereka berdua diam untuk beberapa saat, lalu


"Kamu mau ikut atau disini saja?"


"Ikut."


Mereka berdua melanjutkan langkahnya menuju ke area Pemandian Jenazah yang berada di halaman belakang Rumah.


Dari kejahuan Mbak Gita telah memperhatikan wajah seseorang yang sedang di mandikan oleh Pemandi mayat tersebut.


Mbak Gita sangat mengenal dan juga merasa tidak asing dengan wajah pucat itu. Semakin lama langkah mereka semakin dekat, juga dengan Jenazah yang sedang dimandikan itu.


Satu langkah lagi dan,


"REYHAND!" Teriak Mbak Gita,


ia begitu shock saat melihat dengan jelas Jenazah yang sedang dimandikan saat ini ternyata dia adalah Reyhand, Sahabat Karib Mbak Gita sendiri.


Dengan spontan Mbak Gita langsung berlari berhamburan memeluk tubuh Reyhand yang sudah tidak bernyawa lagi.


"Tidak Rey! Ini pasti mimpi! Rey bangunnn!! Lu ngapain tiduran disini ayo bangun Rey bangun!!" Racau Mbak Gita.


Ia tidak dapat menahan gejolak kesedihan yang memburu hatinya saat mengetahui ternyata bendera kuning itu milik Reyhand. Sahabat juga sekaligus calon Adik Iparnya.


"Sayang, kamu tenang dulu. Biarkan mereka melakukan tugas mereka sampai selesai. Kasihan Reyhand." Ungkap Dokter Zainal. Perasaannya sedikit lega saat mengetahui ternyata yang telah meninggal dunia adalah Reyhand bukan Mamah atau pun Papahnya,


Akan tetapi, rasa leganya tidak hanya sampai disini saja karena masih banyak pertanyaan pertanyaan yang bermunculan di kepalanya tentang sosok Reyhand kenapa bisa ada di rumahnya.


Bukankah mereka tidak saling mengenal sebelumnya, hanya mengenal sekilas karena Calon Istrinya memiliki hubungan Persahabatan dengannya, juga mereka tidak ada hubungan keluarga namun kenapa saat ini Jenazah Reyhand ada di rumahnya, bahkan Papahnya ikut memandikan Jenazah Reyhand.


Atau jangan jangan!


Fix, sekarang Dokter Zainal mengetahui penyebab Mamahnya menjadi Bad mood hari ini.


"Ini nggak mungkin kan Mas, dia bukan Reyhand kan? Dia bukan Sahabatku kan? Atau aku yang sedang bermimpi? cubit aku Mas, cubit Aku!" Racau Mbak Gita, tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja membasahi kedua Pipi mulusnya.


"Nak, tenangkan Gita dulu, setelah ini Papah akan membicarakan sesuatu sama kalian." Ujar Pak Prabu, yang pada akhirnya ia membuka suara.


Mendengar perintah Papahnya, Dokter Zainal hanya menurut saja, ia pun membawa Mbak Gita menjauh dari area Pemandian Jenazah itu.


Ia membawa Mbak Gita ke lantai dua, lantai dimana kamarnya berada.


Tidak ada ruangan lain selain Kamarnya, karena saat ini suasana rumah begitu ramai.


Padahal Reyhand bukanlah siapa siapa di rumah ini namun para pelayat yang datang cukup ramai.


"Sayang, kita kekamar Mas aja ya. Sepertinya kamu butuh untuk menenangkan fikiranmu."


"Mas pikir aku Gila? Coba aku tanya bagaimana perasaanmu saat tiba tiba  mengetahui Sahabat kamu telah pergi untuk selama lamanya! Bagaimana Mas? Dan sekarang kamu bilang aku butuh menenangkan pikiranku? Sedangkan aku tidak tahu apa apa penyebab kematian Reyhand, Mas! Aku.." Ujar Mbak Gita,


ia tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi, ia terduduk lemas di lantai sembari menangis, dengan air mata yang terus mengalir begitu deras membasahi kedua pipi mulusnya.


Kini penampilan rapi dan cantiknya tepah berganti menjadi begitu kusut. Untung saja tadi ia menggunakan make up yang tipis jadi saat ini wajahnya tidak belepotan akibat air matanya.


Dokter Zainal pun tidak tega melihat keadaan Kekasihnya yang begitu memilukan hati.


Ia ikut berjongkok dan tanpa Mbak Gita duga, Dokter Zainal menggendong tubuhnya ala ala Bride Style menaikki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dua dimana Kamarnya berada.


"Mas turunin nggak!" Cegah Mbak Gita,


Namun Dokter Zainal tidak menghentikan langkahnya ia tetap menaikki satu persatu anak tangga tanpa memperdulikan ocehan Mbak Gita.


Mbak Gita memberontak, namun tenaganya kalah kuat dengan Dokter Zainal, alhasil ia hanya diam dan menurut saja.


" Kalo kamu berontak lagi, satu ciuman akan mendarat di bibir mu, Sayang."


Bersambung..