
*POV Author*
*********
"Mamah, jangan asal bicara!"
Mendengar Zainal bicara seperti itu, Mamah menghentikan langkahnya. Ia sedikit kecewa karena Gita tidak sebaik yang ada di fikirannya.
"Jelas jelas sudah di depan mata Gita ketawa tawa sama lelaki lain, kamu masih mau ngebelain dia?" Ungkap Mamah,
Dokter Zainal pun menghentikan langkahnya, dan berbalik arah menghampiri Mamahnya yang tertinggal beberapa langkah di belakang.
"Mamah, aku kasih tahu ya. Tidak baik menilai orang hanya dari pandangan, tapi nilai lah seseorang itu dari hati, karena hati tidak bisa berbohong." Ucap Dokter Zainal sembari menggandeng tangan Mamah agar Mamah melanjutkan langkahnya.
"Tunggu dulu!"
"Kenapa Mah?"
"Kamu kenal lelaki yang sedang bersama Gita?"
"Iya kenal lah Mah, kalo aku nggak kenal sudah aku hampiri mereka sejak tadi." Ujar Dokter Zainal cengingisan.
Degh!
Perasaan Mamah Zainal semakin gelisah kala ia mendengar pengakuan Putranya bahwa ia mengenal lelaki yang sedang bersama Gita saat ini.
"Kamu duluan saja, Mamah mau ke toilet sebentar."
Tanpa menunggu persetujuan dari Putra nya, Mamah Zainal melepaskan gandengan tangan Zainal dari lengannya, dan Mamah langsung mengambil langkah seribu menuju toilet.
Dokter Zainal begitu bingung dengan sikap Mamah yang tiba tiba saja begitu aneh.
"Mah tunggu!" Panggil Dokter Zainal.
Namun, Mamah tidak mau menyahut panggilan dari putra nya. Tanpa menoleh ke kiri dan kanan, Mamah terus mempercepat langkah nya agar segera sampai di toilet.
"Mungkin Mamah kebelet." Gumam Dokter Zainal.
Tidak ingin bengong di tempat seperti orang linglung, Dokter Zainal pun segera menghampiri Calon Istrinya. Selain karena rindu yang sudah menumpuk, ada rasa Cemburu yang memenuhi rongga dadanya kala ia melihat Kekasihnya duduk bersama lelaki lain. Walaupun Dokter Zainal tahu bahwa lelaki itu adalah Reyhand, sahabat Kekasihnya.
"Sayang." Sapa Dokter Zainal, ketika ia sudah sampai di meja, dimana meja itu di duduki oleh kekasihnya.
"Mas." Lirih Mbak Gita, ia sedikit kaget karena kedatangan Dokter Zainal yang tiba tiba. Mbak Gita tidak menyadari karena ia sedang serius membahas soal Aina dan Sanusi.
"Hay Bro." Sapa Reyhand kemudian.
"Duduk Mas, ngomong ngomong Mamah mana? Kamu bilang disini sama Mamah." Tanya berentet dari Mbak Gita.
"Mamah sedang ke tolet, palingan sebentar lagi kesini."
"Ohhh.. Udah makan belum?" Tanya Mbak Gita.
Seperti mendapat reruntuhan emas, Dokter Zainal pun merasa sangat bahagia, walaupun penyebab kebahagiaan itu adalah hal yang sepele.
"Belumm Sayang, dari tadi Mas niatnya mau makan bareng sama kamu, tapi kamu udah makan duluan." Tutur Dokter Zainal dengan begitu manja.
Ia sengaja melakukan ini, untuk membalas sakit hatinya pada Reyhand. Sedangkan Reyhand, melihat kelakuan Dokter Zainal sama sekali tidak merasakan gekolak apapun, itu karena ia menganggap Mbak Gita benar benar hanya sebatas sahabat.
Sedangkan Mbak Gita ia masih terus berusaha melupakan perasaannya terhadap Reyhand dan mencoba fokus dengan seseorang yang telah tulus mencintainya. Seseorang itu tidak lain ialah Dokter Zainal.
"Ohh yaudah kalo belum, aku suapin mau?" Tanya Mbak Gita sembari tersenyum manis menatap Calon Suaminya.
"Apa itu?" Tanya Dokter Zainal, matanya menatap heran kearah sepiring makanan yang ada di hadapan Mbak Gita karena seumur umur belum pernah ia melihatnya.
"Ini namanya Seblak Mas, masa iya kamu nggak tahu?" Ujar Mbak Gita.
"Mas bahkan baru ini mendengar nama nya. Coba aaaa." Ucap Dokter Zainal sembari membuka mulutnya pertanda minta di suapin.
Mbak Gita pun mengerti dengan keinginan Calon suaminya ini, namun ia masih malu malu untuk melakukannya karena saat ini posisi mereka sedang berada di tempat umum.
Mbak Gita ragu ragu, dan menatap ke arah Reyhand yang ada di hadapannya. Reyhand yang di tatap pura pura tidak melihat, ia malah asyik menghabiskan Seblak nya.
Mbak Gita pun menjadi geram melihat tingkah Reyhand yang seolah olah tidak terganggu, ia pun diam diam menginjak kaki Reyhand dan seketika,
"Losss santai aja, anggep gua nggak ada." Ucapnya penuh penekanan.
Namun dalam hati ia mengumpat Mbak Gita "Dasar! kayak anak ABG aja pake acara malu malu meong, padahal kan sebenernya suka. Awas aja lu Gita, enak bener kaki gua lagi anteng anteng main injek aja!" Ungkap Reyhand dalam hatinya.
"Tu kamu denger kan, Rey aja minta di anggap nggak ada. Jadi ayo suapin Mas."
"Yaudah Aaaa."
Jleb.
Satu sendok seblak akhirnya masuk kedalam mulut Dokter Zainal. Dan Dokter Zainal tidak bisa bicara apapun karena mulutnya penuh dengan seblak komplit.
"Enak?" Tanya Mbak Gita.
"Hu'um." Ucap Dokter Zainal sembari menganggukkan kepalanya.
Mbak Gita tersenyum, ia merasa ada yang berbeda dengan hati nya semenjak ia mengikhlaskan Reyhand dan memilih untuk mencoba menerima Dokter Zainal. Mbak Gita merasa perasaan nya lebih tenang dan yang pasti lebih bahagia.
Itu lah buah dari keikhlasan.
Mbak Gita bersiap siap akan menyuapkan kembali sesendok seblak ke pada Dokter Zainal. Namun belum sampai sendok itu ke mulut, si Claraa datang lagi dan langsung memberikan Caci maki untuk Mbak Gita.
"Oh emang wanita murahan ya! Bisa bisa nya setelah dengan cowok gua, sekarang dengan cowok lain lagi!! Murahan mah emang gini ni sana sini oke!!" Hardik Claraa, sembari tangannya menenteng seperti bos dan tersenyum meremehkan.
Mbak Gita, Dokter Zainal, dan juga Reyhand seketika melongo mendengar ungkapan yang di lontarkan Claraa barusan.
Mbak Gita yang di hina seperti itu pun tidak merasa tersinggung, dia tetap santai dan stel kalem aja menanggapinya, karena menurut Mbak Gita Ucapan Claraa barusan sangat jauh dari apa yang ada di dalam diri Mbak Gita.
"Kecoa datang lagi!" Lirih Mbak Gita.
"Claraa!!" Bentak Reyhand.
Reyhand sungguh tidak menyangka jika Claraa akan kembali lagi ke Cafe dan menghina Mbak Gita, padahal tadi sudah ia ancam habis habisan dan Claraa menurut, tetapi sekarang apa ini Claraa malah membuat ulah lagi.
"Apa Rey? Belain aja terus wanita murahan ini!"
Seketika darah Dokter Zainal mendidih mendengar julukan yang Claraa berikan untuk Mbak Gita calon istrinya. Dokter Zainal pun berdiri dan tanpa aba aba lagi langsung,
Plakk!
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Claraa.
"Awww!" Rintih Claraa, sembari memegangi pipinya yang terasa pedas karena tamparan Dokter Zainal.
"Jaga ucapan anda Nona, jika besok masih ingin melihat matahari!!"
"Yang harus nya di jaga itu dia!! Dia telah merebut Calon suami gua! Paham lu!!" Teriak Clara.
Seketika para pengunjung Cafe Meranti menatap kearah Claraa dengan tatapan iba, nyalang, ada juga yang mencemooh dirinya.
"Dia yang lu maksud itu siapa? Gita? Wanita ini?" Tanya Dokter Zainal sembari menatap kearah Mbak Gita.
"Menurut lo!"
"Astaga, sudahlah Mas orang kayak dia ini sudah nggak waras, cape aja ngeladeninnya bisa bisa kamu ikut nggak waras kayak dia!"
Dokter Zainal tidak menyangka dengan Respon Mbak Gita yang begitu santai menghadapi Clara yang begitu bar bar. Ia tetap pada pendiriannya, dan tidak mempercayai apa yang Claraa ucapkan tadi.
Namun,
"Betul kan apa dugaan Mamah, Gita ini bukan wanita baik baik!"
Bersambung..