
POV Author
***********
Sinar mentari mulai terlihat, namun suasana rumah Pak Prabu sudah di sugu kan dengan berbagai perdebatan yang semakin lama semakin memanas.
"Dia itu murahan! Ya pantesnya di perlakukan seperti ini!"
Mamah Zainal kembali akan menjambak Rambut Bi Surti tetapi,
Plak!
Seketika semua terdiam.
"Ada apa ini Pah, Mah? Kenapa ribut terus kerjaannya, masih pagi buta juga!" Omel Dokter Zainal yang tiba tiba muncul dari balik pintu.
"Wa,--"
"Sekali lagi kamu bilang dia wanita murahan, aku nggak akan segan segan usir kamu dari sini!"
"Pah!"
"Sudah, sudah, sudah! Itu urusan kalian, aku tidak mau ikut campur. Tapi ada satu hal yang Mamah dan Papah harus tau."
"Apa?"
"Aku mau hari ini juga Mamah dan Papah datang kerumah orang tua Gita. Tidak ada alasan apa pun, pokoknya sesegera mungkin aku harus menikah dengan Gita, bila perlu besok!"
"Apa kamu sudah Gila Zainal? Masalah Mamah belum selesai kamu sudah minta kawin?"
"Aku kan sudah bilang Mah, itu urusan kalian aku tidak mau ikut campur. Yang aku mau segera Nikahkan Aku dan Gita. Setelah itu aku ada tugas ke Pekan Baru. Aku ingin sebelum aku di tugaskan ke Pekan Baru, aku sudah menikahi Gita. Jadi aku bisa membawa Gita ke Pekan Baru bersama ku. Dan untuk urusan Mamah dan Papah dan perempuan ini, aku mohon bisakah di tunda dulu? Karena aku tidak mau kehilangan Gita lagi untuk yang kesekian kali." Ungkap Dokter Zainal.
Sejenak, Pak Prabu seperti mendukung rencana Putra nya ini.
"Baiklah, hari ini kita akan melamar Gita."
"Aku sudah melamarnya semalam."
"Wow, anak Papah! Ini baru lelaki sejati."
"Nunggu kalian keburu Gita di lamar orang! Pokoknya hari ini tanggal pernikahan harus di tentukan!"
"Buru buru banget kamu."
"Iya Pah, sudah kebelet."
"Hahahaha!"
*******
Sedangkan di kediaman Pak Basuki, seorang gadis dengan baju tidur berwarna Pink itu masih setia dengan bantal gulingnya, dan menjelajah Alam mimpi.
Teriknya sinar mentari yang masuk dari celah hordeng, tidak menjadi alasan untuk ia terbangun dari tidurnya.
Karena ini Weekend, pukul Sepuluh pagi Mbak Gita masih terlelap bersama iler yang telah memanjang.
Tok! Tok! Tok!
Ketukkan pintu terus saja terdengar, tetapi Mbak Gita sama sekali tidak menggubrisnya. Ia masih setia memejamkan matanya.
"Mbak, bangun!!!!!!!" Teriak Aina dari luar kamar.
Tetapi,
Hening.
"Ini orang kalo tidur persis kayak mayat hidup!" Gerutu Aina.
Tok! Tok! Tok!
Aina masih berusaha menggedor pintu kamar Mbaknya, sepertinya ada hal yang sangat penting.
"Astaga!"
Aina menarik nafasnya, ia merasa kesal karena belum berhasil membangunkan Putri tidur dari mimpi indahnya.
"Kenapa nggak aku telfon aja."
Ia pun masuk kekamar nya dan mengambil Ponselnya lalu mencari nomor Mbak Gita dan menelfonnya.
Ia kembali ke depan Pintu kamar Mbak Gita.
Dari luar terdengar jelas dering Ponsel Mbak Gita yang terus berbunyi.
Kringgggg!!
Belum ada perubahan.
Tetapi,
"Halo?" Ujar Mbak Gita dengan suara serak khas bangun tidur.
"Mbak bangun!!!! Di depan ada orang tua Dokter Zainal dan keluarganya!!"
"Apa?!!"
Seketika mata Mbak Gita melotot seolah akan keluar dari tempatnya.
Ia melihat ponselnya, dan betapa terkejut dirinya saat melihat angka yang tertera di layar Ponselnya menunjukkan angka Sepuluh, dua lima.
Yang artinya saat ini telah pukul Setengah Sebelas siang.
"Astaga!! Mati aku!" Ujar Mbak Gita seraya menepuk Jidadnya.
Tidak mau mengulur waktu lagi, Mbak Gita pun segera berlari ke kamar mandi.
Jebar jebur jebar jebur..
Terdengar dari luar suara air..
"Rasain, siapa suru ngebangkong." Ujar Aina,
ia menahan tawanya mendengarkan suara gaduh dari dalam kamar Mbaknya itu.
"Aduh! Pake acara kesiangan pula!" Gerutu Mbak Gita,
Ia mengambil baju faforitnya dari dalam lemari, untung saja baju itu saat ini tidak kusut.
"Kenapa pula datang tiba tiba, nggak ada kasih kabar dulu! Nyebelin juga lama lama itu orang!" Gerutu Mbak Gita seraya menyisir rambutnya.
Tidak mau berlama lama, tanpa bedak ini dan itu, Mbak Gita memilih praktisnya saja.
Ia mengambil bedak My Baby lalu ia poletkan di wajahnya secara merata, tidak lupa dengan lipstik yang berwarna merah muda itu ia poleskan di bibir Ranumnya.
"Selesai.."
Terakhir ia merapikan bajunya dan segera meluncur ke luar.
Ceklek.. ceklek..
Aina masih setia menunggu di depan pintu kamar.
Dan..
"Astaga!"
Hampir saja keduanya bertabrakkan.
"Lah Mbak nggak ngerem dulu, main selonong aja."
"Kamunya aja udah kayak satpam tau nggak! Mana, di depan rame ya?" Tanya Mbak Gita.
Wajah ayunya terlihat begitu tegang, juga dengan bedak yang ia pakai tadi sedikit belepotan akibat terburu buru.
Rasanya ingin sekali Aina tertawa, namun masih ia tahan.
Tetapi,
"Hahahha.. hahahah.."
Tawa Aina seketika langsung pecah, ia sudah tidak dapat menahannya lagi, karena wajah Mbak Gita saat ini benar benar seperti pelawak internasional.
Tegang tetapi lucu.
Kesal melihat tingkah Adiknya yang malah tertawa seperi ibu Kunti, Mbak Gita menimpuk kepala Aina dengan tangannya.
Puk!
"Aduh Mbak."
"Betulkan jin nya langsung minggat."
"Basing aja kalo ngomong."
"Lah kamu, di tanya bukannya di jawab. Ini malah ketawa ketawa nggak jelas!"
Aina langsung menarik tangan Mbak Gita masuk kembali ke dalam kamarnya, dan membawa Mbak Gita ke depan meja hias yang terdapat Kaca yang cukup besar.
"Lihat, Mbak perhatiin deh wajah Mbak, Vallen aja kalo lihat Mbak pasti dia akan tertawa ngakak."
Spontan Mbak Gita melihat ke arah cermin yang memantulkan bayangannya.
Seketika, saat itu juga Mbak Gita mengusek ngusek wajahnya agar bedak yang menempel di wajahnya menjadi rata.
"Sudah sudah, sudah cantik itu, nanti malah habis pula bedaknya."
Mbak Gita tidak menggubris celotehan Adiknya, ia terus fokus memperbaikki bedak yang menempel di wajahnya.
"Gimana? Udah oke belum?"
"Oke dong, tapi.."
"Tapi apa?"
Lagi Aina ingin menertawakan Kakak Perempuannya ini, karena sebetulnya keluarga Dokter Zainal saat ini tidak ada di rumahnya.
Semua ini hanyalah akal akalan Aina saja, agar Mbak Gita bangun dari tidur panjangnya.
"Malah bengong! Tapi apa?"
Mbak Gita begitu serius menantikan kata kata yang akan Aina ucapkan.
Satu
Dua
Tiga
"Tapi bo'ong, hahahaha."
Seketika semua tisyu yang ada di atas meja rias itu menjadi berterbangan ke udara karena ulah Mbak Gita.
"Kauuuuu! Dasar Adek Durhaka!" Teriak Mbak Gita seraya melemparkan botol bedak My Baby yang ada di sebelahnya tepat mengenai kepala Aina.
Bukannya marah, atau meminta maaf, Aina justru terus tertawa.
Ia begitu bahagia hari ini karena telah membuat Kakak Perempuannya menjadi gelabakkan akibat ulahnya.
"Seharusnya kita tadi Selvi dulu Mbak, biar jadi moment dan bisa di lihat di kemudian hari, jangan lupa di unggah di lapaknya Mbak. Mbakkan anak Tik Tokkers, hahaha.." Ujar Aina di sela tawanya.
"Lucu? Awas aja nanti kamu kena karma nya baru tau rasa! Berani beraninya ngerjain Mbak."
"Lagian Mbak, kalo udah tidur sampe lupa waktu. Mentang mentang ini hari Minggu."
"Ya terus kalo hari minggu mau di apain? Di goreng apa di sambel? Apa mau di rendang?"
Seketika kedua bersaudara itu tertawa terbahak bahak di dalam kamar.
"Hahah.. hahaha.. hahaha!"
Kamar Mbak Gita begitu ramai hanya karena suara mereka berdua saja yang sudah seperti Mamang penjual Cilok, teriak teriak lalu tertawa bahagia karena ada yang beli dagangannya.
"Mbak, soal kerjaan yang semalem gimana?"
"Astaga.. Mbak aja baru bangun tidur."
"Itu lah Mbak, tidur aja kerjaannya."
"Sewot aja."
Mbak Gita berlalu melewati Aina yang berdiri di sebelah meja riasnya.
Rencana ia akan melanjutkan tidur panjangnya, karena hari ini adalah memang jadwalnya Mbak Gita beristirahat.
Tetapi,
saat akan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang begitu empuk ini, terdengar suara mesin mobil memasukki halaman rumahnya.
Mbak Gita dan Aina langsung berlari ke jendela, mereka sedikit menonholkan kepalanya untuk melihat keadaan dihalaman rumah.
Lagi
Lagi
Dan lagi.
Bukan hanya satu mobil.
Tetapi,
Tujuh mobil mewah satu persatu memasukki halam rumah Pak Basuki yang cukup luas itu.
Di setiap mobil terlihat penuh dengan orang orang yang dandanannya cukup rapi.
Dan di belakang nya lagi terlihat tidak ada satu pun orang kecuali Pak supir,
tetapi,
mobil itu berisi..
"Astaga! Ya ampun! Ya Allah! Ya Tuhanku!" Mbak Gita menyebut semua kata yang terlintas di kepalanya.
"Mbak! Pacarmu benar benar datang hari ini! Dan lihat betapa ramai dia membawa rombongan!" Seru Aina.
Mereka berdua saling pandang, dan segera keluar dari kamar.
Ternyata Ayah telah berdiri di ambang Pintu menyambut kedatangan mereka. Sedangkan Ibu, terlihat tergesa gesa seraya Vallenia berada di gendongannya menghampiri Aina dan juga Mbak Gita yang berdiri di kongliong ruang keluarga.
"Pasukkan Besan datang!"
Bersambung..