
*POV Author*
••••••••••••••••
"Jangan gila Claraa!!"
Mendengar pengakuan Claraa yang tidak masuk akal itu, darah Reyhand menjadi mendidih. Ia menyalakan mesin lalu menancap gas dengan kecepatan tinggi meninggal kan Kediaman Pak Basuki tanpa pamit pada Mbak Gita maupun Aina.
Sedangkan Claraa ia tidak menyangka jika respon Reyhand akan semarah ini mendengar pengakuan nya tadi. Nyali Claraa seketika menciut namun ini sudah terlanjur apa salah nya ia lanjut kan. Untuk apa pun yang akan terjadi itu urusan belakangan.
Sungguh pemikiran yang dangkal.
Mobil Reyhand terus melaju dengan kecepatan tinggi melewati trotoar demi trotoar, entah kemana tujuan nya, Claraa juga tidak banyak bicara ia terus berdoa dalam hati agar nyawa nya masih di lindungi Tuhan.
Di kediaman Pak Basuki~
"Assalamualaikum.."
Mbak Gita yang sedang asyik memainkan ponsel nya berbalas pesan dengan Calon Suami nya sangat terkejut kala ia melihat Dokter Zainal dan Ibu nya telah berdiri di hadapan nya.
"Wa'alaikumsallam, Mas kok.. Mamah." Ucap Mbak Gita gugup.
Lalu ia pun menyalami Calon Ibu mertua nya itu.
"Apa kabar mah?" tanya Mbak Gita sambil mencium punggung tangan Calon Ibu mertua nya ini.
Kini panggilan Mamah untuk Ibu nya Zainal sudah terbiasa di lidah nya, dan tidak gugup seperti awal awal dahulu.
"Alhamdulillah Mamah sehat Nak." Ucap Mamah Zainal
Lalu,
di luar dugaan Mbak Gita, Calon Ibu Mertua nya itu tanpa aba aba lagi langsung memeluk erat tubuh langsing Mbak Gita, lalu berkata
"Terima kasih Nak kamu telah menerima pinangan Zainal, walaupun baru secara pribadi tapi kamu jangan khawatir setelah papah pulang dari Bali hubungan kalian akan langsung di resmi kan."
Mbak Gita hanya senyum senyum saja. Lalu pelukkan itu berakir dan Mbak Gita mengajak Ibu Mertua nya masuk menemui Ibu dan yang lain nya.
"Jadi aku di cuekkin nih??" ucap Dokter Zainal
"Kalian kan belum halal jadi mana boleh ber dua duaan, nanti ada setan yang ikut nyantol." Ucap Mamah Zainal sambil menggandeng lengan Mbak Gita berjalan masuk ke dalam rumah.
"Yaelah mah, ini siang bolong mana ada setan yang mau ikutan nyantol." Ucap Dokter Zainal sambil berjalan membuntuti Mamah nya dan Mbak Gita dari belakang.
"Ada, ini setan nya di belakang mamah lagi berjalan." Ujar Mamah Zainal sambil tertawa kecil.
Dan Mbak Gita juga ikutan terwata mendengar ucapan calon Ibu Mertua nya barusan.
"Mamah sungguh tega nya tega nya tega nya.."
Lalu mereka telah sampai di dapur, di mana seluruh sanak saudara ibu dan ayah sedang berkumpul. Ada yang masak, giling bumbu, goreng ayam, masak nasi dan tugas tugas lainnya, tidak lupa juga di iringi dengan tawa dan canda mereka.
"Assalamualaikum.." Ucap Mamah Zainal.
Dan semua mata tertuju pada Mamah Zainal, Mbak Gita, dan juga Dokter Zainal yang sedang berdiri di tengah tengah pintu dapur.
Ibu, dan Ayah belum pernah bertemu dengan Mamah nya Zainal jadi agak sedikit bingung dan bertanya tanya siapa wanita yang blsedang bersama Mbak Gita saat ini.
"Wa'alaikumsallam.." Jawaban serempak mereka.
Lalu Mamah Zainal dan Mbak Gita mendekati ibu yang sedang mengupas bawang, sedangkan Dokter Zainal ia mendekati Ayah.
"Ibu, ini Mamah Mas Zainal, dan mamah ini ibu saya." Ucap Mbak Gita sambil tersenyum.
"wahh Mbak sebentar lagi ada yang mau jadi manten kayak nya." Ucap Adik nya Ibu sambil tertawa.
Lalu obrolan demi obrolan berlanjut dengan hangat. Mamah Zainal merasa nyaman berada di antara keluarga Mbak Gita, dan juga Dokter Zainal bisa langsung meng akrab kan diri satu sama lain.
Mbak Gita merasa bahagia dengan ke akraban ini, walaupun ia belum mencintai Dokter Zainal namun ia akan selalu berusaha untuk menerima Dokter Zainal apa pun keadaan nya dengan tulus, seperti Dokter Zainal yang dengan sangat tulus dan sabar menanti diri nya.
"MasyaAllah lucu sekali kamu."
Toel toel toel.
Mamah Zainal menoel noel pipi gembul Vallenia.
Aina hanya tersenyum melihat kelakuan Mamah nya Zainal, lalu ia pun berkata,
"nggak nyangka ya buk kalo kita akan bertemu disini, dan Ibu akan jadi Ibu mertua Mbak Gita." Ucap Aina sambil tersenyum ramah.
"Iyaaa Aina, jodoh emang nggak ada yang tahu. Tapi ngomng ngomong kenapa Sanusi mengundurkan diri dari pekerjaan nya?"
Deg,
Ucapan Mamah Zainal barusan sungguh membuat hati Aina menjadi berdegup kencang. Telinga nya masih sangat sensitiv jika mendengar nama Suami nya di sebut, apa lagi ini Mamah Zainal bertanya tentang Sanusi Suami nya Aina cukup membuat mood nya jadi berantakan namun di sisi lain ia juga penasaran dengan Suami nya itu.
"Maksud nya gimana bu?" tanya Aina.
Ternyata rasa kepo melebihi dari segala nya.
"Waktu itu Sanusi tidak masuk kerja selama tiga hari tanpa izin tanpa keterangan, dan setelah besok nya Ia datang namun bukan untuk bekerja melainkan Ia mengundur kan diri dengan alasan Ia akan pulang ke jawa karena di minta kedua orang tua nya meneruskan usaha mereka."
"(Hari itu adalah hari terakhir kami bertemu bu.)" Ucap Aina bergumam dalam hati.
Aina terus menyimak apa yang di sampaikan oleh Mamah Zainal.
"Tapi kenapa kamu tidak ikut?" tanya nya.
Aina bingung harus jawab apa, harus kah ia mencerita kan semua nya tentang apa yang telah terjadi namun ia masih ragu akan hal itu.
"Na??" ucap Mamah Zainal sambil menyentuh tangan Aina.
Aina hanya menatap sendu Mamah Zainal.
"Cerita kan saja Na apa yang membuat mu sedih." Ucap Mamah Zainal.
Aina merasa Mamah Zainal tahu sesuatu tentang Suami nya, ia pun menarik nafas nya dalam lalu di hembuskannya dan berkata,
"Sudah lama kami tidak bertemu bu, sejak hari itu bahkan dia tidak pernah memberi ku kabar. Dia juga tidak mengetahui bahwa aku telah melahir kan putri untuk nya."
Saat ini di hadapan Mamah Zainal Aina merasa begitu rapuh, ia menangis menumpahkan segala keluh kesah nya, juga karena ia teringat masa masa indah bersama suami nya.
Jujur saja dari lubuk hati nya yang terdalam Aina begitu sulit melupakan Suami nya, walaupun Suami nya telah menoreh kan luka yang cukup mendalam, namun yang nama nya cinta pertama itu sangat sulit untuk di lupakan.
Mamah Zainal memeluk Aina sambil mengusap usap punggung Aina memberi kenyamanan.
"Kamu tahu Aina saya dulu awal menikah juga sama seperti mu, sungguh banyak cobaan yang datang silih berganti. Hingga akhir nya Tuhan memisahkan saya dan Papah Zainal beberapa waktu karena kesalah pahaman. Namun karena rasa cinta kami begitu besar akhir nya mengalahkan semua keegoisan itu."
Menurut Aina kesalah pahaman adalah hal yang mudah ia lalui namun untuk masalah yang ia hadapi ini bukan tentang kesalah pahaman apa lagi ke egoisan melain kan Penipuan.
"Mas Nusi belum pernah bercerai dari Sofia bu, istri pertama nya."
Bersambung..