
~~ sudut pandang yuuta ~~
"jadi bagaimana jawaban mu yuuta?"tanya kepala sekolah.
kepala sekolah menatap ku yang berdiri di depan nya dengan bahamut di pinggang ku, saat ini aku memutuskan untuk memberikan jawaban soal undangan kepala sekolah untuk meminta ku bersekolah di sini.
"aku terima undangan itu"kata ku singkat.
kepala sekolah tersenyum menatap ku dan ia mengeluarkan sepucuk surat dari laci meja nya dan memberika nya pada ku, aku menerima surat itu dan menatap nya dengan heran dengan maksud kepala sekolah memberikan surat misterius ini kepada ku.
"kepala sekolah apa maksud anda memberiku surat ini?"tanya ku.
"itu adalah surat undangan khusus dari akademi, dengan itu kau bisa mengikuti tes dua Minggu lagi"Kata kepala sekolah dengan santai.
"begitu ya kalau begitu aku pamit kembali untuk mempersiapkan diriku dan berlatih"kata ku sambil berbalik untuk keluar dari ruangan kepala sekolah.
tepat saat aku baru berjalan beberapa langkah pintu terbuka dengan paksa dan terlihat di balik pintu Sasha berdiri di ambang pintu bersama kelompok nya, aku menatap Sasha yang berjalan mendekati meja kepala sekolah dengan sangat marah.
"kepala sekolah apa maksud anda dengan anak laki laki ini?"tanya Sasha.
"aku meminta nya bergabung degan akademi, kebetulan kita kekurangan murid yang cukup kuat saat ini"kata kepala sekolah.
"tapi kepala sekolah dia kan bukan bangsawan seperti mayoritas murid di akademi"kata Sasha.
kepala sekolah menghela nafas dan menatap Sasha yang berdiri di depan nya.
"sebenarnya ada satu hal yang harus kau ketahui soal yuuta"kata kepala sekolah.
"apa itu?"tanya Sasha.
"ini soal pedang hitam di pinggang yuuta dan kekuatan nya yang di atas rata rata semua murid"kata kepala sekolah.
Sasha berbalik dan menatap ku yang berdiri memunggungi mereka, ia menatap bahamut dengan terkejut dan tak percaya.
"aku pernah dengan cerita soal ksatria hitam suci, ku dengar hanya orang yang sangat kuat saja yang bisa memakai kekuatan nya"kata Sasha.
"ya itu benar dan kau harus tahu dulu yuuta itu memiliki rambut hitam dan mata yang normal, tetapi sejak ia menggunakan kekuatan pedang hitam itu ia menjadi dirinya yang sekarang"kata kepala sekolah.
aku berjalan untuk keluar dari ruangan itu namun langkah ku terhenti karena sebuah penghalang yang menghalangi pintu, seharus nya aku tak bisa merasakan nya tapi berhubung aku memiliki kekuatan yang di berikan oleh dewa dan kekuatan bahamut aku mampu untuk merasakan aura sihir di sekitar ku.
"apa kau yang menciptakan penghalang di pintu ini Sasha?"tanya ku sambil berbalik menatap Sasha.
"bagaimana kau bisa tahu kalau ada penghalang di pintu?"tanya Sasha.
"aku merasakan nya"kata ku dengan santai.
Sasha menatap ku dengan heran karen jawaban ku, bila di lihat dari ekspresi Sasha kurasa orang orang tak bisa merasakan sihir dengan leluasa karena setiap orang memiliki batasan sihir, aku menghela nafas dan berjalan mendekati pintu di mana penghalang itu aktif.
aku menatap penghalang yang di buat oleh Sasha dan mengetuk-ngetuk nya, penghalang itu terasa cukup tipis dan rasanya sangat mudah untuk di terobos.
"tipis banget penghalang nya"kata ku sambil mengamati penghalang itu.
"apa kau Baru saja mengatakan penghalang tingkat tinggi itu sangat tipis?"tanya Sasha dengan tak percaya.
"ya apa mau ku buktikan?"tanya ku.
aku menghela nafas dan dengan santai menjentikkan jari ku di depan penghalang itu, seketika penghalang itu hancur dan aku berbalik menatap Sasha yang mematung melihat ku memecahkan penghalang nya.
"bagaimana kau bisa?"tanya Sasha dengan sangat tak percaya.
"soal itu kau tak perlu tahu, sudah lah aku mau bersiap untuk tes dua Minggu lagi sampai jumpa"kata ku sambil melambaikan tangan ku kearah Sasha.
aku berjalan keluar dari dan dengan sangat santai tanpa mempedulikan Sasha dan para murid yang terkejut melihat ku memecahkan penghalang tingkat tinggi dengan satu hentikan tangan, aku memejamkan mata ku dan menghela nafas karena kekuatan ini bahkan melebihi ekspektasi orang orang di dunia ini.
"kurasa ini karena kakek dewa"gumam ku.
"luchifer sedang apa kau di sini?"tanya ku.
"umm aku memutuskan untuk menginap di kamar ini, apa kau keberatan?"tanya luchifer.
"ah aku tidak keberatan kok"kata ku.
aku masuk ke dalam dan meletakkan bahamut dan ponsel ku di atas meja, kemudian aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri ku, sambil menyiram tubuh ku dengan air aku memikirkan soal tes untuk masuk ke akademi yang akan di adakan dua Minggu lagi.
setelah membersihkan tubuh selama beberapa menit aku memutuskan untuk keluar dan mencoba bertanya kepada luchifer soal tes yang akan di adakan dalam waktu dekat, dengan memakai kaos aku menatap luchifer yang duduk di atas kasur dalam diam, kurasa ia sedang memikirkan sesuatu hingga melamun.
"hei luchifer pikiran mu sedang pergi kemana?"tanya ku sambil duduk di kursi yang ada di samping kasur.
luchifer tersadar dari lamunannya dan menatap ku yang sudah duduk di dekat nya, ia memalingkan wajah nya saat aku mengamati wajah nya untuk menyimpulkan apa yang ia pikirkan, walau pun ia memalingkan wajah nya aku tahu ia sedang mencoba untuk tidak menangis di hadapan ku.
"ada apa dengan nya hingga membuat nya menangis?"tanya ku dalam hati.
luchifer memalingkan wajah nya dan menatap ku sambil mencoba tersenyum walau pun aku tahu senyuman itu kesan nya sangat di paksakan, aku menghela nafas dan menatap langit langit kamar sambil mencoba memilih kata kata yang sekiranya tak membuat luchifer tambah sedih.
"apa yang terjadi dengan mu?"tanya ku.
"ah tidak ada aku hanya memikirkan soal latihan ku saja"Kata luchifer.
"hah kau pikir aku tak tahu dengan hati mu yang sedang sedih seperti itu, memang nya ada masalah apa hingga membuat mu mencoba tak menangis di hadapan ku"kata ku.
aku tahu kata kata ku barusan cukup buruk untuk menenangkan luchifer tapi hanya kata kata itu saja yang bisa ku katakan berdasarkan situasi saat ini, luchifer terlihat terkejut aku tahu soal dirinya dan ia mulai mengusap air mata nya yang mulai keluar dari mata nya.
"sebelum nya aku ingin minta maaf kepada mu"kata luchifer sambil mengusap air mata nya.
"minta maaf soal apa?"tanya ku.
"ini soal Sasha, dia sebenarnya bukan sepupu ku melainkan dia adalah kakak ku, aku ragu untuk mengatakan nya pada mu tadi"kata luchifer.
aku menghela nafas dan mengusap kepala nya dan tersenyum kepada nya.
"tak perlu pikirkan soal itu, dan kurasa kau punya masalah dengan nya"kata ku.
"sebenarnya aku pernah mencoba untuk menyelesaikan nya tapi gagal, di keluarga ku aku selalu mendapatkan perlakuan yang sangat spesial sedangkan Sasha tak mendapat perlakuan yang bisa dikatakan spesial, dia iri dengan ku dan mulai membenci ku"kata luchifer.
mendengarkan perkataan luchifer aku langsung paham maksud masalah yang di hadapi luchifer, aku menghela nafas dan menatap langit langit kamar.
"begitu ya kurasa kau harus bicara dengan nya untuk meluruskan kesalahpahaman itu"kata ku.
"tapi bagaimana jika dia tak mau untuk bicara dengan ku?"tanya luchifer.
"jangan berkata yang masih belum terjadi, kau pasti bisa selama kau memiliki niatan untuk memperbaiki hubungan mu dengan kakak mu"kata ku dengan santai.
setelah aku mengatakan hal itu luchifer terdiam dan dengan tiba tiba ia memeluk ku, aku yang masih tak memiliki persiapan untuk di peluk hanya bisa terkejut melihat luchifer.
"terimakasih yuuta"kata luchifer pelan.
"ya sama sama, dan sebaiknya kau tidur karena sudah sangat larut"kata ku.
"lalu bagaimana dengan mu?"tanya luchifer.
"santai saja aku nanti istirahat kok sekarang tidur lah"kata ku.
luchifer membaringkan tubuh nya di kasur dan aku menyelimuti tubuh nya dengan selimut, setelah berbaring beberapa menit akhirnya luchifer tertidur dengan pulas.
aku berdiri di samping luchifer lalu mematikan lampu kamar dan membaringkan tubuh ku di atas sebuah sofa yang ada di tengah ruangan, sambil berbaring aku menatap langit langit kamar dan menghela nafas panjang.
"ku harap tak terjadi hal yang tak di inginkan besok"gumam ku.