
~~ sudut pandang yuuta ~~
Pagi ini aku berjalan dengan santai menuju ke akademi, dengan santai aku merenggangkan tubuh ku dan terus berjalan ke akademi, kemarin hampir seharian aku berkeliling kota bersama luchifer, sasha, dan marina hingga membuat tubuh ku sangat lelah, oh ya kouko kemarin memutuskan untuk pergi mencari sesuatu saat ku tawari untuk tinggal di rumah ku.
Aku menghela nafas setelah mengingat hal itu dan memutuskan untuk terus berjalan menuju ke akademi, setelah berjalan selama beberapa menit akhirnya aku sudah hampir sampai di depan gerbang akademi.
Di depan ku nampak sekelompok anak yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan pedang di pinggang mereka yang sedang berjalan menuju ke akademi sihir, bila ku lihat dengan cermat dari seragam mereka dan pedang yang mereka bawa kurasa mereka berasal dari akademi ksatria.
“apa yang di lakukan oleh murid akademi ksatria di akademi sihi?”tanya ku dalam hati.
Aku menyisihkan pertanyaan itu dan bergegas masuk ke dalam akademi karena sudah hampir bel masuk, setelah berjalan beberapa menit akhirnya aku tiba di kelas dan dengan segera aku duduk di bangku ku.
*kringgg
Bel berbunyi dan semua murid segera duduk di tempat mereka masing-masing, tak lama setelah bel berbunyi pintu terbuka dan bu mira dan kepala sekolah masuk kedalam kelas lalu menatap kami semua di depan kelas.
“selamat pagi anak-anak hari ini kepala sekolah datang ke kelas kita untuk menyampaikan sebuah pengumuman untuk kita”kata bu mira.
Seketika seluruh murid riuh karena penasaran dengan pengumuman yang akan di sampaikan oleh kepala sekolah, bu mira meminta seluruh anak untuk tenang kemudian mempersilahkan kepala sekolah untuk berbicara.
“anak-anak hari ini akademi kita akan mengadakan latihan bersama dengan akademi ksatria untuk mempererat kerja sama antara ksatria dan penyihir, kuharap kalian bisa bekerja sama dengan murid akademi ksatria”kata kepala sekolah.
Jadi ini alasan kenapa murid-murid akademi ksatria datang ke akademi sihir, semua murid seketika memasang wajah muram setelah mendengar pengumuman kepala sekolah.
“kurasa ada masalah antara penyihir dan ksatria”batin ku.
“bersiap-siap lah karena kita akan berangkat bersama menuju ke arena latihan, pastikan kalian membawa barang-barang yang memang di perlukan saja kalian mengerti?”tanya kepala sekolah.
“kami mengerti!!”jawab kami semua.
Setelah itu kepala sekolah dan bu mira keluar dari kelas, semua murid segera menyiapkan barang-barang yang di rasa perlu di bawa untuk latihan, aku menghela nafas dan memikirkan soal apa yang akan ku bawa saat ini.
[tuan anda mendapat sebuah kiriman dari dewa]
“huh kiriman apa itu?”tanya ku kepada system.
[saya juga tidak tahu, tapi dewa bilang anda tahu soal kiriman itu]
“begitu ya, kalau begitu berikan pada ku”perintah ku kepada system.
[baik tuan]
Setelah system mengatakan itu sebuah lingkaran sihir muncul di depan ku, dari dalam lingkaran itu keluarlah sebuah pedang katana lengkap dengan sarung berwarna hitam dengan lambang di bagian ujung pangkal nya.
“inikan pedang yang pertama kali ku buat dulu saat umur 5 tahun dulu”batin ku.
Aku meraih pedang itu dan mengamati nya dengan seksama, seketika aku berasa bernostalgia saat memegang pedang ini.
[anda kelihatan sangat senang mendapat kiriman pedang itu]
“bagaimana aku tak senang, ini adalah pedang yang ku buat sendiri saat umur lima tahun dulu, banyak hal ku lalui bersama pedang ini dulu”kata ku kepada system.
[begitu ya, aku senang karena tuan mendapatkan benda yang sangat berharga bagi tuan]
“ya terimakasih system”ucap ku dengan semangat.
[s..s..sama-sama tuan yuuta]
Seketika telepati ku dengan system terputus dan dengan santai aku memasang pedang ini di pinggang ku, aku menoleh dan menatap luchifer yang sedari tadi mengamati ku dan pedang di pinggang ku.
“yuuta dari mana kau dapat benda itu?”tanya luchifer.
“ah ini aku mengambilnya dari magic bag tadi”jawab ku.
Bila aku bilang ini adalah kiriman dari dewa pastinya akan menjadi masalah bukan, luchifer mengangguk paham dan mengamati pedang di pinggang ku, dengan santai aku mengambil nya dan memperlihatkan nya lebih dekat kepada luchifer.
“pedang ini sangat indah, apa aku boleh memegang nya?”tanya luchifer.
“tentu saja”jawab ku dengan santai.
Luchifer meraih pedang katana ku dan mengamati nya dengan seksama, ia kemudian menarik pedang itu dan menatap bilah pedang ku yang berwarna merah terang.
“bilah pedang ini indah sekali, apa kau yang membuat nya yuuta?”tanya luchifer.
“ya aku membuat nya sendiri saat umur ku 5 tahun”kata ku dengan santai.
“u...u..umur lima tahun!!, kau tak bercanda bukan?”tanya luchifer dengan tak percaya.
“aku tidak bercanda, pedang itu memang ku buat saat umur ku lima tahun”kata ku.
“heeh itu tidak mungkin”kata luchifer tak percaya.
“yah kalau kau tak percaya ya sudah”kata ku.
Aku mengambil kembali pedang itu dan memasang nya ke pinggang ku lagi, setelah itu aku mengikuti teman-teman ku yang lain untuk menuju ke tempat kepala sekolah dan bu mira menunggu.
Aku dan yang lain nya berjalan menuju ke gerbang depan untuk berkumpul dengan murid dari kelas lain dan juga kepala sekolah dan bu mira, setelah berjalan beberapa menit akhirnya kami semua tiba di gerbang depan dan nampak kepala sekolah, bu mira dan murid kelas lain sudah menunggu kami.
Tanpa berlama-lama lagi kami semua kemudian berangkat bersama menuju ke arena latihan, tempat itu berada di tengah kota tepat nya di utara alun-alun kota, setelah kami berjalan selama hampir 30 menit akhirnya kami tiba di arena latihan.
Di depan arena nampak gerombolan murid-murid akademi ksatria yang sudah menunggu rombongan kami, ku lihat mereka menatap kami semua dengan tatapan sinis dan nampak meremehkan kami, di depan gerombolan murid-murid akademi ksatria nampak seorang gadis berambut pirang dengan armor ringan dan pedang di pinggang nya menatap kami dengan tajam, di samping gadis itu berdiri tuan karls dengan jas kerajaan dan pedang di pinggang nya.
“akhirnya kalian datang juga”kata tuan karls kepada kepala sekolah.
“maaf karena sedikit terlambat, kami masih harus mempersiapkan beberapa hal saat hendak berangkat ke sini”kata kepala sekolah.
“tak masalah, dari pada kita berlama-lama sebaiknya kita masuk kedalam saja”kata tuan karls.
Setelah kepala sekolah dan tuan karls berbincang sebentar kami semua kemudian berjalan masuk ke dalam arena latihan, saat berjalan gadis yang tadi berdiri di samping tuan karls nampak nya sedang mengamati ku.
“apa ada yang salah dengan ku ya?”batin ku.
Aku kemudian memutuskan untuk tak mempedulikan tatapan gadis itu dan terus berjalan masuk ke arena, setelah berjalan masuk selama lima menit akhirnya kami semua sudah tiba di dalam arena.
Kemudian tuan karls dan kepala sekolah meminta kami semua berkumpul untuk mengumumkan sesuatu, dengan santai aku berdiri di antara teman-teman ku sambil menatap kepala sekolah dan tuan karls.
“hari ini latihan di mulai dengan pertandingan persahabatan antara murid akademi sihir dengan murid akademi ksatria, kami akan memberi kalian waktu 10 menit untuk mempersiapkan diri sebelum pertandingan persahabatan di mulai”kata tuan karls.
“untuk pertandingan pertama yuuta hibiki akan melawan marie reinard”kata kepala sekolah.
Setelah mengumumkan urutan acara dan jadwal pertandingan semua anak bubar dan sedang mempersiapkan diri mereka, karena aku saat ini tak tahu harus melakukan apa jadi aku memutuskan untuk duduk di pinggir arena sambil mengelap pedang ku.
Setelah 10 menit kemudian aku sudah berdiri di arena dengan pedang milikku yang terpasang di pinggang ku, terlihat seorang gadis sedang berjalan memasuki arena dengan rapier di pinggang nya.
“pertandingan berakhir bila salah satu dari kalian berdua menyerah atau tak dapat bertarung lagi, baiklah dengan ini pertandingan persahabatan di mulai”kata tuan karls dengan lantang.
Gadis itu langsung mencabut rapier nya dan menatap ku dengan seksama, di pinggir arena nampak para murid akademi ksatria bersorak kepada gadis itu sedangkan para murid akademi sihir nampak hanya diam saja.
“kejam sekali mereka tak mendukung ku”batin ku.
Aku menghela nafas dan mencabut pedang katana ku, bilah pedang ku yang berwarna merah membuat gadis dan semua murid akademi tertegun, tanpa pikir panjang gadis itu berlari kearah ku sambil mengarahkan rapier nya untuk menyerang ku.
Dengan seksama aku mengamati pergerakan gadis itu dan berhasil melihat sebuah celah untuk menyerang nya, aku menendang tanah dan berlari melesat kearah gadis itu sambil mengarahkan ujung pedang ku ke arah gadis itu.
“teknik pernafasan air: bentuk ke tujuh: tusukan tetes air melengkung”
*sringg
Sebuah tusukan yang cepat dan akurat mengenai ujung pedang rapier gadis itu, kemudian muncul efek layak nya tetesan air di permukaan air pada ujung pedang ku, setelah itu pedang rapier itu hancur menjadi serpihan-serpihan kecil.
Gadis itu nampak terkejut melihat pedang rapier nya yang hancur setelah mengenai ujung pedang ku, semua murid akademi ksatria terdiam seketika setelah melihat pedang milik gadis ini hancur di tangan ku.
“pemenang nya yuuta hibiki!!"
Mendengar itu semua murid akademi sihir nampak bersorak senang, sedangkan murid akademi ksatria nampak menatap ku dengan tatapan benci.
dengan santai aku duduk kembali ke pinggir arena dan kembali mengelap pedang ku, saat tengah mengelap pedang ku lihat luchifer, sasha, dan marina berjalan menghampiri ku, setelah berjalan beberapa menit akhirnya mereka bertiga sampai di tempat ku dan menatap ku dengan senang.
“selamat atas kemenangan mu yuuta”kata marina.
“ah terimakasih atas ucapan selamat nya marina, tapi kita tak boleh puas dulu karena ini sehabis ini masih ada pertandingan lain”kata ku.
“eh begitu ya”kata marina dengan malu karena menyadari hal itu.
“seharusnya kau menyadari nya marina, oh ya yuuta teknik apa yang kau gunakan tadi saat melawan gadis itu?”tanya sasha.
“itu bentuk ke tujuh dari teknik pernafasan air”kata ku.
“bentuk ketujuh pernafasan air?, aku tak pernah dengar soal teknik itu”kata sasha dengan bingung.
“itu karena teknik itu di ajarkan oleh kakek ku ketika umurku lima tahun dulu”kata ku.
“eh berarti kau sudah menguasai teknik itu sejak kecil”kata sasha.
“ya kurang lebih seperti itu”kata ku.
Setelah mengatakan itu aku memasukan pedang ku kembali ke sarung nya dan menatap gerombolan murid akademi ksatria yang sedang mengamati ku, mereka nampak nya sedang mencari cara untuk mengalahkan ku di pertandingan berikut nya.
“hei yuuta”panggil sasha.
“apa?”tanya ku.
“apa kau tak merasa ada yang aneh dengan tubuh mu?”tanya sasha.
“merasa ada yang aneh dengan tubuh ku?, apa maksud mu?”tanya ku.
Sasha kemudian mengeluarkan sebuah cermin persegi dan mengarahkan nya pada ku, nampak saat ini rambut ku kembali menjadi hitam dan warna kedua mata ku berubah, mata kiri ku berwarna aquamarine sedangkan mata kanan ku berwarna dark magenta.
“apa yang terjadi pada ku !?!?!?”teriak ku dengan panik.
Aku menatap diri ku dengan kebingungan karena secara tiba-tiba penampilan ku berubah menjadi penampilan ku dulu, ku lihat para murid akademi ksatria nampak tersenyum melihat ku.
“hei yuuta apa kau melakukan sesuatu hingga penampilan mu berubah?”tanya sasha.
“aku tak melakukan apa pun sama sekali”kata ku kepada sasha.
“aneh sekali”kata sasha.
“mata kirimu indah juga”kata luchifer.
“ya luchifer benar, penampilan mu saat ini tidak buruk”kata marina.
Kalau ku pikir sih kata-kata marina ada benarnya, ini mungkin hanya mempengaruhi penampilan ku saja bukan kekuatan ku.
“sepertinya ada masalah dengan mu ya yuuta?”tanya kepala sekolah yang berjalan kearah ku.
“hanya masalah kecil saja, oh ya di mana tuan karls?”tanya ku kepada kepala sekolah.
“dia sedang mengarahkan murid-murid akademi ksatria”kata kepala sekolah.
“begitu ya”kata ku sambil menghela nafas.
Dengan santai aku bangkit dari tempat duduk ku dan mulai mengayunkan pedang ku untuk berlatih sebentar sembari menunggu giliran ku, ku lihat kepala sekolah, luchifer, sasha, dan marina nampak kagum dengan gerakan pedang ku.
Para murid akademi ksatria yang sejak tadi mengamati ku nampak terkejut melihat gerakan ayunan pedang ku, beberapa dari mereka nampak berbisik-bisik sambil menonton gerakan ku.
“gerakan anak itu nampak sangat hebat”
“siapa sebenarnya anak itu?”
“sulit di percaya seorang penyihir memiliki kemampuan berpedang sehebat itu”
Aku tak mempedulikan bisikan mereka dan terus mengayunkan pedang ku, setelah mengayunkan pedang selama 10 menit aku memutuskan untuk berhenti dan kembali duduk di pinggir arena untuk beristirahat.
“gerakan ku jadi sedikit kaku setelah sekian lama tak berlatih”batin ku.
Aku menghela nafas lalu kemudian menatap gadis berambut pirang yang tadi bersama tuan karls sedang berlatih mengayunkan dua pedang di tangan nya kepada sebuah boneka jerami, aku mengamati gerakan pedang gadis itu dan hanya bisa tersenyum kecil.
“hmm tidak buruk, namun gerakan nya sangat kaku”batin ku.
Gadis itu terus mengayunkan dua pedang nya selama beberapa menit hingga kemudian ia berhenti dengan nafas terengah-engah dengan lelah, dengan santai aku menyarungkan pedang ku dan berjalan menghampiri nya.
“gerakan mu tadi itu kaku sekali”kata ku sambil berjalan kearah nya.
Semua murid akademi ksatria seketika menoleh menatap ku setelah aku mengatakan itu kepada gadis itu, gadis itu nampak paham dengan siapa aku bicara dan langsung menatap ku dengan tajam.
“kau, apa karena kau memiliki sword art skill dan juga teknik pedang yang aneh itu kau merasa sangat hebat dengan menceramahi ku”kata gadis itu dengan kesal.
“gadis ini emosian sekali”batin ku.
“harus ku katakan kalau teknik pedang ku lebih unggul dari mu, tidak teknik pedang ku lebih unggul dari murid akademi ksatria”kata ku dengan tenang.
Seluruh murid akademi sihir terdiam mendengar kata-kata ku yang sangat percaya diri ini, gadis itu menggertakan gigi nya dan menatap ku dengan marah.
“kau bertarung lah dengan ku satu lawan satu”kata gadis itu.
“baiklah aku terima, kalau bisa sekarang saja”kata ku dengan santai.
Seluruh murid akademi sihir dan ksatria menatap ku dengan sangat terkejut karena aku meminta untuk duel ini di lakukan sekarang, aku menoleh dan menatap sasha, luchifer, dan marina yang menganga melihat tingkah ku.
“hehe maaf karena tingkah ku ini membuat kalian terkejut”batin ku.
Aku kemudian menatap gadis pirang yang saat ini sudah memasang kuda-kuda untuk bersiap menyerang ku,dengan santai aku menatap nya dan berdiri dengan santai.
“kenapa kau tak mengeluarkan pedang mu, bukan kah kita akan bertarung satu lawan satu?”tanya gadis itu.
“daripada bertanya soal itu bukan kah kau lebih baik menyerang ku, apa jangan-jangan kau takut kalah dari ku”kataku dengan nada merendahkan.
Gadis itu menggertakan giginya dan berlari kearah ku dengan sangat marah, aku tersenyum kecil melihat gadis ini yang mudah sekali di provokasi.
“untuk ukuran ksatria wanita semangat nya boleh juga”batin ku.
Gadis itu melayang kan sebuah tebasan horizontal kearah ku namun dengan mudah nya aku menghindari serangan nya, semua murid akademi ksatria nampak terkejut ketika aku dapat menghindari serangan gadis itu.
“apa hanya ini yang kau punya, sebaiknya kau tak berbaik hati pada ku karena pertarungan yang sesungguhnya lawan mu tak akan berbaik hati walau pun kau ini seorang perempuan”kata ku kepada gadis itu.
“diam lah!!!”kata gadis itu dengan kesal.
Gadis itu nampak kesal karena kata-kata ku tadi, aku mencabut pedang ku dan menangkis semua serangan gadis ini, ku lihat dia sepertinya kelelahan dan nafasnya nampak kacau.
“atur nafas mu itu”kata ku kepada gadis itu.
Aku mengarahkan sebuah tebasan horizontal kepada pedang yang di pakai oleh gadis itu, pedang yang di pakai gadis itu kemudian terlepas dari tangan nya dan terlempar keluar arena, dengan cepat aku mengarahkan bilah pedang ku ke leher gadis itu.
“kau kalah”kata ku.
Gadis itu terduduk setelah mengatakan itu kepada nya, ia kemudian menatap ku dengan tak percaya.
“b..bagaimana kau bisa?”tanya gadis itu.
“kau tahu bertarung dalam keadaan marah bukan ide bagus, bila kau memiliki skill berserk masih tak masalah tapi bila kau tak memiliki skill itu dan menyerang dalam keadaan marah itu sama saja kau menebas angin”kata ku.
“gerakan mu tadi itu membabi buta dan kau tak memperhatikan ritme nafas mu hingga pada akhirnya kau kelelahan”lanjut ku.
Seluruh murid akademi ksatria terdiam mendengar kata-kata ku, gadis itu nampak menyadari kesalahan nya dan menundukan kepala nya di hadapan ku.
“kau tak berniat untuk merendahkan ku tetapi kau berniat untuk mengajari ku dan memperbaiki gerakan ku”kata gadis itu.
Semua murid akademi ksatria terkejut mendengar kata-kata gadis itu, dengan santai aku memasukan pedang ku kembali dan menatap gadis itu yang masih menundukan kepala nya.
*hiks
Nampak air mata menetes dari wajah nya, semua orang yang ada di sini nampak terkejut melihat gadis ini menangis, entah kenapa rasanya aku tak tega melihat nya menangis.
“apa aku terlalu keras padanya?”batin ku.
Aku menggaruk belakang kepala ku dengan bingung dan kemudian meraih sapu tangan dari saku celana ku, dengan santai aku berlutut di hadapan nya dan menyodorkan sapu tangan ku kepada nya.
“hapus air mata mu itu, apa kau tak malu memperlihatkan dirimu yang menangis di hadapan teman-teman mu?”tanya ku sambil menyodorkan sapu tangan ku.
Gadis itu masih menundukan kepala nya sambil menggigit bibir nya dan mencengkeram tanah, melihat nya aku kemudian meletakan tangan ku di kepala nya dan mengelus nya.
“kau tak perlu kecewa, kalah menang itu adalah hal biasa belajarlah dari kekalahan mu agar kau menjadi lebih kuat lagi”kata ku kepada gadis itu.
Gadis itu mengangkat wajah nya setelah aku mengatakan itu kepadanya, ia kemudian meraih sapu tangan yang ku sodorkan lalu menghapus air matanya.
“kalau boleh ku katakan teknik mu berpedang tadi sudah cukup bagus, jarang-jarang ada anak perempuan yang memiliki teknik sebagus itu”kata ku.
“apa kau sungguhan soal itu, padahal aku masih belum terlalu ahli”kata gadis itu.
“aku sungguhan, oh ya dari mana kau belajar teknik pedang seperti itu?”tanya ku.
“aku belajar berpedang dari ayah ku saat umur tujuh tahun, kau sendiri dari siapa?”tanya gadis itu balik.
“aku belajar berpedang dari kakek ku saat umur lima tahun”jawab ku dengan santai.
Semua murid akademi ksatria membelalakan mata mereka dan menatap ku dengan terkejut, gadis itu terdiam mendengar kata-kata ku.
“k..k..kau bercanda kan?, tidak mungkin umur lima tahun dapat belajar berpedang”kata gadis itu dengan tak percaya.
“memang sedikit tidak mungkin tapi waktu itu aku yang memaksa untuk belajar berpedang kepada kakek ku walau aku tak punya bakat berpedang sekalipun”kata ku.
Gadis itu terkejut mendengar kata-kata ku, aku menghela nafas panjang dan duduk di dekat gadis itu sambil memeluk pedang ku.
“aku belajar pedang kepada kakek ku setelah dua bulan kematian kedua orang tua ku karena sebuah kecelakaan, awal nya kakek ku berinisiatif untuk mengajak ku belajar berpedang hanya untuk mengalihkan pikiran ku dari kecelakaan dan kematian kedua orang tua ku namun saat melihat ku kalah hanya karena satu ayunan pedang membuat kakek ku tak berniat untuk mengajari ku lagi”kata ku.
“dia meninggalkan mu ya”kata gadis itu.
“ya dia meninggalkan ku, semenjak saat itu kakek ku jarang pulang kerumah dengan alasan berlatih”kata ku.
Setelah mengatakan itu aku menoleh dan menatap wajah gadis berambut pirang itu yang nampak sedih setelah mendengar ceritaku.
“kurasa aku menceritakan terlalu banyak hal kepada mu”kata ku sambil bangkit berdiri.
Setelah bangkit berdiri aku berbalik hendak pergi ke pinggir arena namun sesuatu menarik lengan jas seragam ku, aku menoleh dan menatap gadis berambut pirang itu yang sekarang menahan lengan seragam ku.
“um s..siapa nama mu?”tanya gadis itu dengan malu-malu.
“nama ku yuuta hibiki, nama mu?”tanya ku balik.
“nama ku maria elinstone”kata gadis itu.
“hmm maria, nama yang cantik sama seperti orang nya”kata ku.
Wajah gadis itu seketika memerah setelah mendengar kata-kata ku, para murid akademi ksatria menatap maria dengan terkejut.
“oi oi apa aku tak salah lihat, wajah nona maria memerah setelah di puji oleh anak itu”kata salah satu anak akademi ksatria.
“ini pertama kalinya nona maria tersipu malu karena anak laki-laki”kata anak-anak lain.
Wajah maria nampak semakin memerah setelah mendengar perkataan teman-teman nya, aku yang melihat maria kemudian mengulurkan tangan ku kepada maria.
“daripada duduk di tanah terus menerus seperti itu lebih baik kau berlatih lagi”kata ku kepada maria.
“a...ah y..ya kau benar sebaik nya aku berlatih”kata maria buru-buru bangkit berdiri dan segera berlari mengambil pedang nya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala ku melihat maria yang nampak sangat antusias.
“ada apa dengan nya?”tanya ku dalam hati.
[anda sepertinya lupa dengan apa yang telah tuan lakukan kepada gadis itu]
“memang nya apa yang telah aku lakukan pada nya?”tanya ku kepada system.
[tuan yuuta ini tidak peka kepada perasaan anak perempuan ya]
“oi system apa maksud mu?”tanya ku kepada system dengan bingung.
[lebih baik anda cari tahu sendiri sebab nya]
Setelah system mengatakan itu telepati ku terputus dan aku hanya bisa menghela nafas sambil menggaruk belakang kepala ku dengan bingung.
“apa yang telah aku lakukan ya?”tanya ku pada diri ku sendiri.