
~~ sudut pandang yuuta ~~
“ugh segar nya”gumam ku sambil merenggangkan tubuh ku.
Aku berdiri di tengah ruangan dan menatap luchifer yang masih tertidur, kelihatan nya perasaan nya sudah lebih baik dari sebelum nya, aku kemudian berjalan menuju ke kamar mandi untuk mandi pagi, setelah mandi beberapa menit aku keluar dan menatap luchifer yang masih tertidur dengan sangat nyenyak.
“kurasa lebih baik ku biarkan saja dia istirahat”kata ku.
Aku segera berpakaian dan meraih ponsel ku untuk ku bawa, dengan santai aku duduk di sofa dan menyalakan ponsel ku untuk mencari informasi soal sihir, sambil membaca penjelasan yang ada di ponsel ku aku melirik luchifer yang masih tertidur di kasur, aku terus membaca penjelasan soal sihir di ponsel ku hingga sebuah suara ketukan membuat ku kaget. Dengan segera aku berjalan menuju ke pintu untuk membuka nya, aku membuka pintu dan tak mendapati siapapun di depan kamar kecuali sepucuk surat yang tergeletak di lantai.
“surat apa ini?”tanya ku sambil mengambil surat itu di lantai.
Aku mengamati surat ini dan masuk kembali ke dalam kamar, aku berdiri di dalam kamar sambil mengamati surat misterius ini dengan seksama dan teliti, dari kertas amplop nya tak tertera nama dan alamat pengirim yang menurut ku cukup aneh.
“kurasa harus ku buka”kata ku.
Dengan santai aku merobek amplop surat itu dan meraih sepucuk surat di dalam nya, aku membaca surat itu dan mengehela nafas, ini adalah surat yang di tulis oleh sasha yang meminta luchifer menemui nya di koloseum tempat di adakan ujian praktek untuk masuk ke akademi.
“hmm sepertinya masalah antara mereka berdua cukup serius, tapi aku agak tidak tega membangunkan nya”kata ku.
Aku memikirkan soal isi surat itu dan memutuskan untuk pergi menemui sasha di sana, memang ini bukan urusan ku tapi kurasa aku akan menyampaikan soal keadaan luchifer saat ini, aku meraih jas putih yang ada di lemari kamar dan berjalan keluar sambil membawa surat itu.
“hmm dimana tempat ujian praktek itu ya”tanya ku dalam hati.
Aku berpikir dan mengeluarkan ponsel ku dari saku celana ku dan membuka peta untuk mencari tempat ujian praktek akan di adakan, setelah berkutat dengan peta di ponsel ku selama beberapa menit akhirnya aku mendapatkan lokasi tempat itu.
“lumayan dekat juga dengan akademi”gumam ku.
Aku menatap peta itu dan terlintas di pikiran ku satu hal, aku mengetikan nama sasha dan terlihat sebuah titik muncul di tengah arena, kurasa ia sudah menunggu di sana sejak lama.
“baiklah kurasa jalan saja tak masalah”gumam ku.
Aku memasukan ponsel ku dan berjalan menuju ke tempat itu untuk menemui sasha, sambil berjalan menuju ke tempat itu aku juga memikirkan beberapa mantra sihir yang tadi ku baca, aku berhenti dan memutuskan untuk mencoba salah satu mantra yang ku pelajari secara singkat di ponsel ku.
“search”
Sebuah lingkaran sihir berwarna merah muncul di bawah ku dan menyebar ke seluruh tempat, seingat ku search adalah tipe sihir area yang berguna untuk mencari sesuatu seperti benda dan makhluk hidup, dengan sihir ini aku dapat merasakan aura sihir orang lain tanpa harus berada di dekat mereka.
“energi sihir siapa ini, lumayan besar juga”gumam ku.
Aku memfokuskan indera ku dan dapat melihat seorang gadis berdiri di tengah sebuah arena, dari energi sihir nya sudah bisa ku pastikan itu sasha, di sekitar tempat sasha terdeteksi pula energi sihir yang sangat kecil, kurang lebih ada 5 sumber di sekitar sasha dan aku bisa memastikan sasha ingin melakukan sesuatu kepada luchifer.
“kurasa aku harus memastikan nya”gumam ku.
Aku kembali berjalan sambil memasukan kedua tangan ku ke saku celana ku, seharusnya aku tak mau ikut campur soal masalah keluarga ini tetapi kupikir tak masalah membantu luchifer.
~~ sudut pandang sasha ~~
Aku berdiri di tengah arena tempat ujian praktek untuk masuk ke akademi menunggu luchifer datang, tadi aku meminta seseorang untuk mengantarkan surat itu kepada nya untuk meminta nya datang ke hadapan ku, sambil mengetuk ngetuk sepatu ku aku berdiri di tempat ini untuk menunggu dia datang.
“duh dia ini lama sekali”gumam ku.
Aku mendengus kesal dan menatap sesosok anak laki laki berjalan menuju ke ke tempat ku, sesaat kemudian terlihat yuuta yang berjalan sambil mengantongi kedua tangan nya kedalam saku celana nya, aku menatap dia dengan terkejut karena ia tiba tiba datang ke sini, ia berhenti dan menatap ku dengan tatapan yang sangat santai sekali.
“yo sasha sedang apa kau disini?”tanya yuuta dengan santai nya.
“justru aku yang harus nya bertanya pada mu”kata ku dengan sedikit kesal dengan sikap yuuta.
“ah aku hanya jalan jalan mencari angin segar saja dan karena ini”kata yuuta sambil mengeluarkan sepucuk surat dari saku celana nya.
Aku menatap surat itu dengan terkejut, bagaimana bisa surat yang seharus nya untuk luchifer berada di tangan yuuta, ia menghela nafas dan menatap ku dengan mata nya yang berwarna merah semerah darah.
“apa yang ingin kau lakukan dengan luchifer di tempat ini?”tanya yuuta dengan nada suara dingin.
“tidak ada apa apa hanya ingin bicara dengan nya”sangkal ku.
“lalu untuk apa ada lima orang yang sudah bersiap di sekitar tempat ini?”kata yuuta sambil memejamkan mata kirinya dan menguap bosan.
Aku terdiam karena ia bisa merasakan keberadaan mereka padahal aku meminta mereka untuk menekan energi sihir mereka hingga tak terasa, yuuta berdiri di hadapan ku dengan sangat santai.
“jadi kau sudah tahu soal mereka ya, pastinya kekuatan mu cukup besar hingga bisa mendeteksi mereka”kata ku.
Tepat setelah mengatakan itu aku menatap yuuta dengan tajam, sebuah pola sihir muncul di mata ku ini dan dinding koloseum retak dan aku terus menatap yuuta selama beberapa menit hingga akhirnya aku menatap nya dengan heran.
“bagaimana bisa tidak mempan?”tanya ku dengan tak percaya.
“mudah saja itu karena aku lebih kuat dari mu dan juga aku bisa menggunakan sihir pada mata mu itu”kata yuuta.
“mana mungkin sihir ini hanya di kuasai oleh keluarga kerajaan”kata ku.
“kurasa aku akan membuktikan nya di hadapan mu kalau bukan hanya keluarga kerajaan yang bisa menggunakan kemampuan itu”kata yuuta.
Aku menatap mata yuuta yang mengeluarkan pola sihir yang sama dengan ku dan memancarkan cahaya kemerah merahan yang sangat pekat, seketika keadaan menjadi sangat berat hingga membuat ku tak tahan dan jatuh terduduk di hadapan nya.
“siapa dia sebenarnya?”tanya ku dalam hati.
Yuuta berjalan mendekati ku sambil menatap ku yang terduduk di tanah, ia berhenti di depan ku dan mendekatkan wajah nya kepada ku, seketika mata kami bertemu dan tubuh ku membatu seketika saat menatap mata yuuta, sorot mata yang sangat menusuk yang memancarkan kesedihan,kemarahan,kesepian,rasa sakit, dan kekejaman membuat ku terdiam dan tak bisa bergerak di tempat.
“apa apaan mata itu”kata ku dengan suara bergetar.
“bukalah mata mu lebih lebar dan lihatlah lebih dalam ke jurang”kata yuuta dengan intimidasi yang sangat kuat.
Yuuta menonaktifkan sihir mata nya dan menghela nafas sambil menatap ku.
“kuharap kau paham batasan antara dirimu dengan ku”kata yuuta.
Yuuta berbalik dan berjalan meninggalkan ku yang masih terdiam karena tak percaya dengan kekuatan yuuta yang sebenarnya, di pintu masuk koloseum terlihat luchifer berdiri dan menatap yuuta yang berjalan kearah nya, yuuta berbicara pada luchifer sebentar dan ia menarik tangan luchifer untuk mengajaknya pergi dari sini.
“mata itu, siapa dia sebenarnya?”tanya ku dalam hati.
~~ sudut pandang yuuta ~~
“yuuta apa yang kau lakukan dengan sasha?”tanya luchifer.
“tidak ada apa apa bukan hal penting kok”kata ku.
Sudah jelas aku tak akan mengatakan kalau kakak nya merencanakan sesuatu kepada nya disana tadi, kami berdua terus berjalan hingga akhirnya sampai di alun alun kota dan dengan segera kami berdua duduk di bangku taman yang ada di sana.
“yuuta apa yang tadi kau lakukan disana tadi?”tanya luchifer.
“oh hanya mencoba beberapa sihir bersama sasha”kata ku.
“aneh sekali padahal kemarin dia terlihat tak terlalu bersahabat dengan mu”kata luchifer.
“yah setelah ngobrol dengan nya kami akhirnya bisa menjadi sedikit akur”kata ku.
“tunggu luchifer bukan kah kau murid akademi?”tanya ku dengan heran.
“sebenarnya itu aku belum resmi bergabung dengan akademi, kerajaan memberikan seragam akademi sebelum ujian masuk untuk menandai calon murid akademi yang memang di anggap pantas masuk ke akademi”kata luchifer.
“jadi begitu ya tapi kalau begitu seharus nya aku di beri seragam juga”kata ku.
“kau sudah mengenakan nya kok”kata luchifer sambil menatap jas yang ku pakai.
Aku mengamati jas yang ku pakai dan mengerti dengan maksud luchifer, jas ini berwarna putih dengan corak hitam dan berlengan panjang mirip jas yang di gunakan untuk acara acara formal hanya saja aku tak memasang kancing nya dan membiarkan kemeja ku terlihat.
“begitu ya, aku paham”kata ku.
Aku menghela nafas dan memejamkan mata ku dengan lega, namun tiba tiba ponsel ku berdering, dengan segera aku mengangkat panggilan yang masuk kepada ku.
“halo ini yuuta”kata ku.
“ah hai yuuta kau masih ingat dengan laki laki tua renta ini?”tanya kakek dewa.
“ya aku masih ingat, ada apa kakek menghubungi ku?”tanya ku.
“kulihat kau sudah semakin mahir menggunakan kekuatan mu dan juga sudah dapat cewek di sana”kata kakek dewa.
“kakek ini dia hanya teman ku tau”kata ku.
“ya aku tahu, mungkin kau ingin mengajak nya ke rumah mu sendiri”kata kakek dewa.
“huh rumah ku sendiri?”tanya ku dengan heran.
“ya aku sudah menyiapkan sebuah rumah di kota itu, sebaiknya kau kesana untuk melihat nya dan juga aku sudah berikan peta nya di ponsel mu itu”kata kakek dewa.
“begitu ya mungkin aku akan kesana sekarang, terimakasih kakek”kata ku.
“sama sama nak dan semoga beruntung dalam ujian masuk akademi”kata kakek dewa.
Aku menutup panggilan itu dan memikirkan sesuatu sebelum ke rumah yang di maksud
oleh kakek dewa.
“yuuta ada apa?”tanya luchifer.
“ah luchifer apa kau bisa berjanji padaku soal ini?”tanya ku.
“berjanji soal apa?”tanya luchifer balik.
Aku mendekatkan mulut ku ke telinga nya dan membisikan sesuatu, setelah berbisik kepada nya ia mengangguk dan kami berdua segera bangkit dari bangku taman.
“baiklah sebelum itu tunggu sebentar”kata ku.
Aku membuka peta yang di berikan kepada dewa dan mengamati nya sejenak, kemudian aku menaruh ponsel ku di saku dan menatap luchifer yang berdiri di dekat ku.
“tolong pegang tangan ku sebentar”kata ku.
“kenapa ?”tanya luchifer.
“aku akan menggunakan sihir kesana jadi ayo”kata ku.
Luchifer memegang tangan ku dan aku segera merapal sihir gate di sana, dalam sekejap kami berdua sudah berada di depan gerbang sebuah mansion yang terlihat cukup mewah, aku membuka peta di ponsel ku untuk memastikan nya sedangkan luchifer mengamati mansion ini dengan heran.
“ku dengar mansion ini di beli oleh seseorang”kata luchifer.
“eh begitu kah?”tanya ku.
Aku mengamati mansion ini dengan seksama sambil sesekali melihat peta, saat aku tengah memastikan mansion inilah yang di maksud oleh kakek dewa tiba-tiba gerbang terbuka dan seorang laki laki berjas menghampiri ku dan memberi hormat kepadaku.
“selamat datang tuan muda”kata laki-laki itu kepada ku.
Aku mematung seketika setelah laki laki itu mengatakan hal itu, sedangkan luchifer menatap ku dengan sangat terkejut, aku menghela nafas dan menatap pelayan yang ada di hadapan ku saat ini.
“maaf karena tak sopan perkenalkan nama saya sean, saya dikirim ke sini untuk melayani anda”kata tuan sean.
Setelah memperkenalkan diri kepada ku ia mempersilahkan aku dan luchifer masuk ke dalam, sesaat kemudian ksmi semua sudah masuk ke dalam dan aku menatap deretan pelayan berbaris di hadapan ku, total ada tiga puluh pelayan dan dua juru masak, aku menatap mereka dengan tak percaya dan aku diantarkan oleh tuan sean menuju ke ruang belajar pribadi ku.
Aku duduk di kursi ku dan menghela nafas panjang karena aku hampir terkena serangan jantung melihat semua ini, luchifer duduk di sofa dan mengamati ruangan ini dengan tak percaya, tak lama kemudian setelah kami berdua duduk seorang pelayan masuk sambil membawa dua cangkir teh dan meletakan nya di hadapan kami berdua.
“tempat ini luar biasa sekali”kata luchifer sambil mengamati setiap sudut ruangan.
“y..ya aku juga berpikir begitu”kata ku dengan agak tak percaya.
Kurasa kakek dewa terlalu berlebihan soal ini, aku menghela nafas dan tiba tiba aku merasa ada sesuatu yang masuk ke kepala ku dan membuat kepala ku sedikit sakit, setelah beberapa menit akhirnya rasa sakit itu menghilang.
“apa yang anda lakukan dengan kepalaku tadi kakek?”tanya ku dalam hati.
“ada apa yuuta?”tanya luchifer.
“ah tidak ada oh ya diminum teh nya nanti dingin lho”kata ku dengan sedikit gelagapan.
Aku meraih cangkir teh ku dan meminum nya, sejenak aku diam dan menatap luchifer untuk menanyakan sesuatu kepada luchifer.
“oh ya luchifer apa kau bisa jelaskan soal ujian praktek masuk ke akademi?”tanya ku.
“ya, di ujian itu nanti akan di adakan duel satu lawan satu, seseorang di anggap menang bila membuat lawan nya tak bisa bertarung lagi atau yang paling parah membunuhnya”kata luchifer.
“...”
Aku terdiam mendengar penjelasan luchifer, bila membuat lawan menyerah sih aku oke saja tapi bila membunuh membuat ku sedikit ragu, melihat ekspresi luchifer yang terlihat biasa saja kurasa membunuh dalam ujian praktek sudah sering terjadi.
“bila begitu aku harus berlatih untuk mengikuti ujian itu”kata ku dengan serius.
Sebaiknya aku meningkatkan kemampuan ku agar aku bisa bertahan di ujian praktek itu, mulai dari kemampuan ku bertarung hingga meningkatkan penguasaan sihir ku.
”oh ya luchifer apa alat pedang boleh di gunakan?”tanya ku.
“semua senjata di perbolehkan bahkan alat pedang sekalipun, tapi kebanyakan calon murid akademi menggunakan kekuatan mereka sendiri”kata luchifer.
“begitu ya”kata ku sambil meminum teh ku.
Setelah ku pikir pikir lebih baik menggunakan kemampuan ku sendiri tanpa bantuan bahamut, selain karena efek dari menggunakan bahamut dan kekuatan ku secara bersamaan aku juga tak ingin terlalu mencolok dan membuat gempar seisi kota dan kerajaan.
“yosh kurasa aku akan berusaha semampu ku”kata ku.
Menjadi murid akademi bukanlah ide yang buruk, dengan itu mungkin aku bisa memanfaat kan akademi untuk mencari tahu soal beberapa hal yang tak ku mengerti soal dunia ini dan juga agar kekuatan ku sedikit berguna untuk dunia ini, aku menoleh ke jendela dan mendapati hari sudah sore.
“semoga tak terjadi hal buruk saat tes masuk nanti”gumam ku.