
~~ sudut pandang yuuta ~~
Saat ini aku sedang memakan makan malam ku bersama marina, luchifer, dan sasha di bar penginapan tempat semua murid menginap malam ini, pihak akademi sihir dan ksatria sudah menyiapkan tempat untuk kami beristirahat dan bermalam di kota ini selama beberapa hari jadi semua murid bisa mempersiapkan diri mereka untuk latihan bersama besok.
“hah... aku masih tidak habis pikir kalau mereka secara tidak langsung mengusirku dari rombongan, apa ini karena aku terlalu sering terlibat masalah dengan keluarga bangsawan ya?” keluh ku.
“itu salah mu sendiri karena tiba-tiba datang dan membela luchifer di depan teman-teman ku”kata sasha.
“kurasa sebaiknya kau berhati-hati mulai sekarang dan mencoba sebisa mungkin untuk tidak terlibat masalah terlebih lagi dengan bangsawan ”kata marina.
“aku akan mencoba sebisa ku untuk tidak terlibat masalah, oh ya di mana maria?”tanya ku sambil menatap sekeliling.
“ya ampun, kau itu bukan nya memikirkan dirimu sendiri malah memikirkan orang lain dasar bodoh”kata sasha.
“dia bilang ingin berlatih sendirian di halaman belakang penginapan dan dia akan menyusul nanti makan malam”kata marina sambil menghela nafas.
“kalau boleh jujur saja kemampuan maria dalam berpedang itu tidak buruk, namun ada sesuatu yang membuat nya sangat ragu dan bimbang”kata ku sambil meminum teh ku.
“mungkin itu karena dia masih terbayang-bayang tragedi dua tahun lalu”kata sasha.
“huh tragedi dua tahun yang lalu?”tanya ku dengan bingung.
“yuuta apa kau pernah dengan tentang tragedi dimensional space time rift di akademi sihir?”tanya sasha.
“hmm ah, tuan sean pernah menceritakan tentang tragedi di mana seseorang membuka celah dimensi ruang dan waktu secara paksa di laboratorium sihir akademi”kata ku.
“ya, waktu itu kepala sekolah, tuan karls, ayah, ibu dan ibunya marina melakukan sebuah eksperimen untuk membuat sebuah portal ke dunia lain, namun eksperimen itu berakhir dengan sebuah kegagalan”kata sasha.
“celah dimensi ruang dan waktu yang di buka oleh ibunya maria menjadi tidak stabil dan berubah menjadi lubang hitam yang menyedot apapun ke dalam nya, waktu itu ibunya berniat untuk memperbaiki celah itu namun karena daya hisap lubang itu sangat kuat dia kemudian terhisap ke dalam dan setelah itu celah itu menghilang”lanjut sasha.
“semenjak saat itu laboratorium di akademi sihir di segel dan menjadi tempat terlarang untuk semua nya, termasuk para guru dan bangsawan”kata luchifer.
Aku terdiam sambil memikirkan tentang apa yang terjadi kepada ibu nya maria dan marina dua tahun lalu, pastinya berita tentang menghilang nya ibu nya membuat maria menjadi sangat ragu dan bimbang.
“semenjak ibu menghilang, maria berubah menjadi lebih sering termenung dan menangis setiap malam”kata marina.
“namun seingat ku dulu sejak kejadian itu maria bilang ia sering bertemu dengan seorang anak laki-laki bertopeng rubah”kata sasha.
“huh anak laki-laki yang memakai topeng rubah, ah maksud mu memakai topeng kitsune?”tanya ku.
“apa kau tahu soal topeng itu?”tanya marina.
Dengan santai aku membuka magic bag ku dan mengambil sesuatu dari dalam sana, tak lama
kemudian aku mengeluarkan sebuah topeng kitsune yang dulu ku gunakan selama berlatih pedang di perguruan kakek dulu.
“ini adalah topeng kitsune yang ku gunakan saat berlatih pedang di perguruan nya kakek ku dulu sekaligus jimat keberuntungan ku saat ikut ujian akhir menjadi pemburu iblis saat umur ku tujuh tahun”kata ku dengan santai.
“t-topeng ini mirip sekali dengan yang di gunakan oleh anak itu”kata marina.
“eh apa kau pernah melihat nya?”tanya ku.
“aku pernah melihat maria sedang berbicara dengan anak bertopeng itu melalui celah pintu kamar nya, aku masih ingat dengan jelas bentuk topeng nya seperti ini”kata marina.
Aku mengambil topeng kitsune ini lalu mengamati nya sambil mencoba mengingat-ingat
apa yang ku lalui dulu melalui topeng rubah ini.
“dua tahu lalu ya, kalau tak salah aku saat itu masih menjadi murid tahun kedua di akademi pedang, dan seingatku aku sering bermimpi bertemu dengan seorang anak perempuan yang selalu termenung di dekat jendela kamar nya”kataku.
“jangan-jangan anak laki-laki itu adalah kau”kata marina sambil menatap ku.
“aku hampir tak bisa mengingat hari itu, namun sepertinya aku tahu harus apa dengan topeng ini”kata ku sambil menatap mereka bertiga.
“jangan-jangan kau berniat untuk menemui maria sambil memakai topeng itu”kata luchifer.
“ya, bila ini bisa menghibur maria kenapa tidak”kata ku.
Dengan cepat aku segera menghabiskan makan malam ku lalu beranjak dari meja dan berjalan menuju ke kamar ku sambil membawa topeng rubah milik ku untuk bersiap menemui maria, dengan santai aku memakai sebuah kimono yang ku bawa dan memakai topeng rubah itu.
“mari kita lihat apa yang bisa ku ingat dari topeng ini”gumam ku.
*sementara itu di halaman belakang penginapan*
~~ sudut pandang maria ~~
Malam ini aku duduk di bawah sebuah pohon sambil memeluk kedua lutut ku dan mencoba
untuk melupakan tragedi dua tahun lalu, saat tengah mencoba melupakan nya terdengar suara langkah kaki dari balik pohon, dengan cepat aku mencabut pedang ku lalu mengarahkan nya kearah pohon.
“siapa di sana?”tanya ku sambil memegang pedang ku.
Di terangi cahaya bulan aku dapat melihat seorang anak laki-laki bertopeng rubah berjalan keluar dari balik pohon, anak itu kemudian menatap ku yang sedang mengacungkan pedang kearah nya.
“sudah lama tidak bertemu ya, maria”kata anak itu.
Melihat anak itu dengan tak percaya aku menjatuhkan pedang ku lalu dengan cepat aku
berlari dan memeluk anak laki-laki itu sambil membenamkan wajah ku pada dada nya dan menangis.
“selama dua tahun kau pergi ke mana saja, kau tahu aku sangat merindukan mu”kata ku.
“ah maaf karena aku tak menemui mu selama dua tahun lama nya, kau tahu aku harus melatih para junior ku di perguruan dan juga aku masih harus bersekolah di akademi pedang”kata anak itu.
“tunggu jadi kau bersekolah di akademi juga, kenapa kau tidak mengatakan nya sejak dulu dasar bodoh”kata ku sambil menendang kaki anak laki-laki itu.
“aww kau tidak bertanya tentang itu dulu, jadi aku tidak memberitahu mu”kata anak laki-laki itu.
Aku kemudian melepaskan pelukan ku dan menatap topeng rubah yang ia pakai, aku
masih ingat dengan jelas aku pernah bertemu dengannya dua tahun lalu setiap malam.
anak laki-laki itu kemudian duduk di bawah pohon sambil menghela nafas panjang, dengan santai aku kemudian duduk di samping nya sambil menyandarkan kepala ku ke pundak nya seperti dahulu.
“seharusnya kau memberitahu ku kalau kau tidak akan menemui ku lagi setelah pertemuan terakhir kita malam itu, jujur saja selama dua tahun itu aku sangat kesepian”kata ku.
“umm apa aku boleh tahu siapa namamu, jujur saja selama dua tahun kau masih belum mengenalkan diri mu kepada ku”kata ku sambil menatap nya.
“hmmm mungkin nama samaran saja tak masalah bukan”kata anak itu.
“memang nya kenapa kalau kau memakai nama aslimu?”tanya ku.
“umm bila aku memakai nama asliku maka aku akan kena masalah besar nanti”kata anak laki-laki itu sambil menggaruk-garuk kepala nya.
“hmph baiklah kau boleh memakai nama samaran saja, tapi suatu hari nanti kau harus memberi tahuku nama asli mu”kata ku.
“ya-ya aku janji padamu”kata anak itu.
“kalau begitu kau memakai nama samaran apa?”tanya ku.
“panggil saja aku Nora”kata anak laki-laki itu.
“Nora, nama yang lucu”kata ku.
Dengan santai anak laki-laki itu atau Nora mengulurkan tangan nya lalu mengelus kepala ku dengan lembut, sudah sejak lama dia tidak mengelus kepala ku seperti ini.
“hei nora”kata ku.
“ada apa?”tanya nora.
“umm aku ingin mengatakan perasaan ku kepada mu, aku menyukai mu sejak pertama kali kita berdua bertemu malam itu” kata ku sambil membenamkan wajah ku pada dada nya.
Nora terlihat terdiam setelah aku menyatakan perasaan ku yang kupendam sejak dahulu kepada nya, dengan sedikit heran aku menatap nora yang terlihat diam setelah aku menyatakan perasaan ku pada nya.
“apa kau tidak menyukai ku Nora?”tanya ku.
“a...ah tidak-tidak aku hanya sedikit terkejut karena kau menyatakan perasaan mu kepada orang tidak jelas seperti ku”kata Nora.
Nora menatap pedang yang tadi ku bawa lalu menatap ku, aku tidak tahu seperti apa ekspresi wajah nya saat ini karena wajah nya selalu tertutup topeng.
“aku tidak percaya kau sekarang menjadi seorang pendekar pedang”kata nora sambil menatap pedang yang tadi ku jatuhkan.
“memang nya kenapa dengan hal itu?”tanya ku.
“tidak apa-apa ku pikir anak perempuan tidak tertarik dengan yang seperti itu”kata nora.
Nora kemudian mengangkat kepala nya lalu menatap bintang-bintang yang bertebaran di
langit malam yang cerah, ia kemudian menoleh menatap ku.
“sudah larut malam, sebaiknya kau kembali dan beristirahat”kata nora.
“baiklah, tapi aku ingin kau janji satu hal kepada ku”kata ku.
“apa itu?”tanya nora dengan penasaran.
“berjanji lah kalau kau akan menemui ku dan tidak akan menghilang tanpa kabar lagi”kata ku sambil menahan air mata ku.
Nora diam sejenak menatap ku lalu berjalan mendekati ku dan mengusap air mata ku, ia dengan tenang membuka telapak tangan nya dan sebuah lingkaran sihir dengan rune sihir yang tidak pernah ku lihat sebelum nya muncul di telapak tangan nya.
Dari lingkaran itu kemudian munculah sebuah kalung dengan sebuah kristal yang indah, di dalam kristal itu terdapat sebutir cahaya kecil berwarna emas yang bergerak-gerak bebas di dalam nya.
“aku janji tidak akan menghilang tanpa kabar seperti dulu, oh ya bisa kah kau mengangkat rambut mu sebentar?”tanya Nora.
Dengan kebingungan aku mengangkat rambut ku dan dengan santai nora memakaikan kalung itu ke leher ku, aku dengan penasaran mengamati kalung itu lalu menatap nora dengan kebingungan.
“aku tak akan pergi lagi seperti dulu dan akan selalu berada di samping mu, bawalah kalung itu karena bila terjadi sesuatu maka kalung itu akan melindungi mu”kata nora sambil mengelus kepala ku.
“Nora, terimakasih”kata ku sambil menangis.
Nora kemudian memeluk ku sambil mengelus punggung ku setelah itu dengan senang aku berjalan menuju ke pintu belakang penginapan untuk masuk ke dalam, sebelum masuk aku berbalik dan menatap nora yang masih berdiri di bawah pohon itu sambil menatap ku.
Setelah puas melihat nora dengan santai aku berjalan masuk ke dalam penginapan dan
bergegas menuju ke kamar ku untuk beristirahat malam ini.
*sementara itu di kamar yuuta*
~~ sudut pandang yuuta ~~
Saat ini aku sedang berbaring di kasur sambil menutupi mataku dengan lengan lengan ku, di samping ku tergeletak topeng kitsune yang tadi ku gunakan untuk menemui maria di halaman belakang penginapan.
“kenapa aku tak bisa mengingat apapun tentang maria dua tahun lalu?”gumam ku.
Aku menghela nafas panjang lalu mengambil ponsel ku yang tadi ku letakan di atas meja kecil dan memutuskan untuk menghubungi kakek dewa, dengan santai aku bangkit dari atas kasur lalu berdiri di dekat jendela sambil meletakan ponsel ku di dekat telingaku.
“halo yuuta tumben sekali kau menghubungi ku, ada apa nak?”tanya kakek dewa di balik ponsel nya.
“kakek, aku memiliki permintaan kepada kakek”kata ku.
“apa itu nak?”tanya kakek dewa
“apa anda bisa mengembalikan semua ingatan masa laluku yang telah sangat lama aku lupakan?”tanya ku.
“tentu saja aku bisa, namun apa kau yakin ingin mendapatkan semua ingatan mu dulu?”tanya kakek dewa memastikan keputusan ku.
“ya aku sangat yakin dengan keinginan ku ini”jawab ku tanpa ragu.
“baiklah aku akan mengambulkan permintaan mu itu”kata kakek dewa.
Setelah itu kakek dewa mengakhiri panggilan nya dengan ku, setelah aku meletakan ponsel ku di atas meja tiba-tiba saja tubuh ku ambruk ke lantai sambil memegangi kepalaku yang tiba-tiba terasa sangat sakit sekali.
“rasanya ada sesuatu yang masuk ke dalam kepala ku secara paksa”gumam ku sambil menahan rasa sakit di kepala ku.
Aku terus mencoba menahan semua rasa sakit ini dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak pingsan di lantai, di saat bersamaan gagang pintu terbuka dan terlihat luchifer yang terlihat terkejut melihat ku tergeletak di lantai sambil memegangi kepala ku dengan kesakitan.
“yuuta!!”teriak luchifer.
Setelah itu secara perlahan pandangan ku menjadi kabur dan tak lama kemudian pandangan ku berubah menjadi hitam menandakan kalau aku pingsan.