My Life In Another World As Otaku

My Life In Another World As Otaku
chapter 09 : hari seleksi masuk akademi sihir dan lagi lagi masalah datang



~~ sudut pandang yuuta ~~


Pagi ini aku berjalan di jalanan kota sambil membawa surat yang di berikan oleh kepala sekolah kepada ku, setelah menunggu dua minggu akhirnya penantian ku telah tiba, hari ini adalah hari dimana tes masuk ke akademi di mulai kulihat banyak sekali kereta kuda dari luar kota datang ke kota ini.


“ramai juga”kata ku sambil.


Aku terus berjalan hingga akhirnya tiba di depan gerbang akademi, aku tersenyum dan berjalan untuk masuk dengan sangat santai.


“yuuta!!”


Aku berbalik dan menatap luchifer yang berlari menghampiri ku, aku menatap kebelakang dan menatap sasha yang berjalan bersama kelompok nya, saat tahu aku menatap nya ia memalingkan wajah nya dari hadapan ku dan segera mempercepat langkah nya.


“kurasa aku terlalu berlebihan kepada sasha”gumam ku.


“ada apa yuuta?”tanya luchifer.


“ah tidak ada hanya kepikiran sesuatu tadi, kalau begitu ayo kita pergi”kata ku.


Aku dan luchifer kemudian berjalan bersama untuk masuk ke akademi, beberapa anak berseragam yang sama seperti sasha menatap ku yang berjalan di samping luchifer, mereka terlihat tak suka dengan keberadaan ku di sini.


“jadi ini laki laki yang telah membuat keributan dengan bangsawan beberapa hari lalu”


Di depan kami seorang anak dengan seragam khusus bangsawan berdiri sambil menatap ku yang berjalan dengan luchifer, aku diam saja dan terus berjalan melewatinya, dia kemudian meraih pundak ku dan dengan cepat aku memelintir tangan nya hingga terdengar suara aneh dari tangan nya.


“apa apa an kau ini?”tanya anak itu.


“justru aku lah yang harus bertanya pada mu”kata ku dengan sangat dingin.


Aku melepaskan tangan anak itu dan ia menatap ku dengan tatapan penuh kemarahan.


“berani sekali kau terhadap ku, berlututlah dan minta maaf pada ku dasar kampungan”kata anak itu.


Aku menghela nafas dan menatap nya dengan tajam, untuk ukuran seorang anak bangsawan ia lebih parah daripada sasha.


“aku menolak”kata ku.


“kau berani-beraninya, kau tak akan pulang hidup hidup”ancam anak itu.


“diam lah”kata ku.


Setelah aku mengatakan kata kata itu pada nya seketika tubuh nya menjadi kaku dan ia tak bisa mengerakan tubuh nya, semua orang menatap ku dengan sangat terkejut, ia menatap dirinya dan kemudian menatap ku dengan tatapan penuh kebencian.


“apa yang kau lakukan pada ku hah?”tanya nya dengan panik.


“tidak ada hanya menyuruhmu diam saja”kata ku dengan santai.


Anak itu terkejut dengan kata kata ku, aku menggunakan sihir kata kata yang telah ku pelajari selama dua minggu lalu kepada nya dan seketika tubuh nya diam membeku, semua anak bangsawan yang ada di sana menatap ku dengan tatapan terkejut sekaligus heran.


“sebaiknya kau diam di sana dan perbaiki sikap mu”kata ku


.


Aku dan luchifer kemudian berjalan pergi meninggalkan anak itu di sana, ku lihat sasha dan kelompok nya terdiam di pintu masuk akademi melihat apa yang telah aku lakukan pada anak itu.


“mereka sangat merepotkan”gumam ku.


Kami berdua memutuskan masuk ke dalam akademi dan segera menuju ke tempat registrasi untuk menyerahkan surat yang di berikan kepala sekolah, ngomong-ngomong soal luchifer dia juga dapat surat seperti ku namun surat itu berbeda dari miliku yang bersifat khusus sedangkan ia membawa surat yang sama seperti anak anak biasa.


“hei luchifer dari mana kau mendapatkan surat undangan yang ada di tanganmu itu?”tanya ku.


“ah surat ini di antar oleh burung hantu kerumah ku sehari sebelum nya”kata luchifer.


Kami terus berjalan dan akhirnya tiba di meja registrasi, kulihat tempat itu nampak lenggang aku kemudian bergegas menuju ke sana agar aku bisa menyerahkan surat milik ku, kami berdua berdiri di depan meja registrasi dan segera menyodorkan surat kami.


Petugas registrasi mengamati surat luchifer tanpa ekspresi terkejut namun saat mereka melihat surat ku mereka terlihat kaget dan menatap ku untuk memastikan bahwa aku sungguhan di beri surat itu, setelah memastikan mereka meminta ku pergi ke ruang tunggu ku.


Aku mengangguk dan berjalan bersama dengan luchifer menuju ke ruang tunggu kami masing masing, ku lihat semua orang mengamati ku dengan seksama, hal ini bukan masalah untuk ku karena kejadian di pintu masuk tadi.


“apa aku terlalu mencolok ya?”tanya ku kepada luchifer.


“sejak awal kau datang ke sini kau sudah sangat mencolok di antara yang lain”kata luchifer.


Mendengar kata kata luchifer aku hanya bisa menghela nafas panjang, setelah cukup lama berjalan di koridor aku dan luchifer berpisah untuk ke kamar tunggu kami masing masing, setelah berjalan lebih lama akhirnya aku tiba di kamar tunggu ku dan segera masuk ke dalam untuk menunggu giliran ku.


Dengan santai aku duduk di sofa yang ada di ruang tunggu ku dan mengamati ruangan ini dengan seksama, aku menatap rak buku besar yang ada di dekat ku dan memutuskan untuk membaca buku sebelum giliran ku.


*in another place*


Hanabi menatap teman teman nya yang sedang berlatih di sebuah padag rumput dekat sebuah kota kecil, karena sebuah kejadian misterius ia dan teman teman sekelas nya terbawa ke dunia lain oleh dewa sebagai pahlawan, hanabi menghela nafas dengan bosan karena hanya menonton teman teman nya yag sedang membunuh monster di tempat ini.


Hanabi mendapat kelas priest saat tiba di dunia ini dan saat ini ia sudah berlevel 49 hampir naik ke angka 50, ia sering berlatih pengendalian sihir dan sihir penyembuhan karena priest utamanya kelas bertipe magic, ia duduk dengan murung di dekat sebuah pohon sambil menatap teman teman nya.


“andai yuuta berada di sini”gumam hanabi.


Hanabi berpikir bahwa seharus nya yuuta ikut terbawa ke dunia ini karena dia sudah pasti lebih berpengalaman soal dunia lain, ia menatap arena latihan dan membayangkan yuuta bertarung dengan pedang di tangan nya, ia terus melamun hingga akhirnya ia kaget dengan suara kazuya.


“ada apa hanabi?”tanya kazuya yang sedang berdiri di depan nya.


Kazuya sendiri mendapat kelas paladin dan saat ini berada di level 65, sama hal nya dengan hanabi kazuya dan teman teman nya yang lain berpikir keberadaan yuuta cukup berguna untuk situasi saat ini, namun mengingat fakta bahwa yuuta sudah tiada di dunia ini dan kemungkinan di reinkarnasi juga cukup kecil membuat mereka patah arang.


“ah tidak ada apa apa, apa kau butuh sihir penyembuh?”tanya hanabi.


“tidak aku hanya memastikan keadaan mu saja dan hendak istirahat sebentar”kata kazuya.


Kazuya duduk di tanah dekat tempat duduk hanabi dan mengamati teman teman nya yang sedang berlatih dengan sangat keras, sejak berada di dunia ini mereka memutuskan untuk terus berlatih agar menjadi lebih kuat tanpa harus mengandalkan anak seperti yuuta.


“sungguh keadaan nya akan membaik bila dia ada di sini sekarang”kata kazuya.


“ku pikir pikir juga begitu, oh ya apa ada tanda tanda orang telah di reinkarnasi?”tanya hanabi kepada kazuya.


“sayang nya belum ada informasi dari dewa soal itu”kata kazuya.


Hanabi menatap wajah kazuya yang secara berkala cemberut.


“apa ada yang mengganggu mu?”tanya hanabi.


“ada sih tapi kupikir pun agak aneh juga”kata kazuya.


“memang ada apa?”tanya hanabi.


“kudengar tahun ini akademi sihir sudah di buka di beberapa kerajaan”kata kazuya.


“lah lalu kenapa kau cemberut?”tanya hanabi.


“ku dengar di akademi kerajaan sebelah ada anak bernama yuuta hibiki tapi sosok nya sangat berbeda dengan yuuta yang kita ingat”kata kazuya.


Hanabi terdiam mendengar kata kata kazuya, di mata nya saat ini terlihat secercah cahaya harapan untuk mereka.


“memang nya yuuta yang kau maksud ciri ciri nya bagaimana?”tanya hanabi.


“hmm kata nya dia berambut putih seputih salju, memiliki warna mata berwarna merah darah, untuk ciri lain nya aku berani katakan mirip sekali dengan yuuta”kata kazuya.


Hanabi terdiam mendengar penjelasan kazuya soal orang yang mirip seperti yuuta.


“apa tak ada informasi lain soal orang itu?”tanya hanabi.


“ku dengar juga ia memiki kekuatan yang melebihi semua orang di dunia ini, dan kita agak kesulitan untuk memastikan apakah orang itu adalah yuuta atau orang lain”kata kazuya.


“kau bilang kekuatan nya melebihi orang orang di dunia ini bukan, mungkinkah itu sungguhan yuuta yang di reinkarsi ke dunia ini?”tanya hanabi.


“entahlah tapi bila melihat soal kekuatan nya kurasa itu sungguhan yuuta, mungkin setelah ini aku akan bicara dengan yang lain nya agar mengumpulkan informasi dulu soal anak itu sebelum kita pergi ke kota tempat anak itu berada dan memastikan soal ini”kata kazuya sambil bangkit dari tempat nya.


“kalau begitu kita harus menunggu”kata hanabi.


“ya kurasa begitu”kata kazuya.


*in another place*


~~ sudut pandang yuuta ~~


Aku berdiri di arena menunggu lawan ku dalam ujian praktek, tak lama kemudian terlihat seorang anak laki laki dengan armor dan pedang berjalan ke arena, aku menatap anak bangsawan yang tadi ku permalukan di


depan pintu tadi dengan tatapan bosan.


“yo kupikir kau tak akan repot repot untuk mengikuti duel ini”kata yuuta dengan suara dingin.


“kau tahu urusan kita tadi belum selesai dan mari kita selesai kan itu di sini”kata anak itu dengan nada meremehkan ku.


Aku menghela nafas dan berdiri sambil menunggu aba aba dari wasit.


“pertarungan ini selesai apa bila salah satu dari peserta sudah tak dapat bertarung lagi, kehilangan kesadaran, atau mati, dan ujian praktek dimulai”


Setelah mendengar kata kata wasit di pengeras suara anak itu mengeluarkan pedang nya dan menatap ku dengan sangat bangga, pedang ia bawa mulai mengeluarkan kobaran api dan membuat seisi koloseum bersorak.


“pedang sihir ya?”kata ku dengan santai.


“ya pedang ini sudah di wariskan do keluarga ku secara turun temurun, dan bersiap lah untuk mati”kata anak itu.


Anak itu berlari kearah ku sambil membawa pedang api milik nya, dengan tak tertarik aku menatap pedang itu dan meniup api yang berkobar dari bilah pedang itu, api pedang itu padam dan anak itu segera berhenti dan menatap ku.


“sialan apa yag kau lakukan dengan pedang ku?”kata anak itu.


“ah hanya meniup korek pemantik mu”kata ku dengan santai.


Semua orang menatap ku dengan sangat terkejut dengan kemampuan ku, dengan santai aku meraih sebuah kerikil dan menatap nya sejenak, aku melemparkan nya ke atas dan mengarahkan jempol ku kearah anak itu untuk melontarkan kerikil itu kepada nya.


Saat aku mengarahkan jempol ku kearah anak itu untuk melontarkan kerikil itu sebuah percikan petir berwarna merah muncul di tangan ku, kerikil itu jatuh dan ketika tepat berada di depan jempol ku dengan segera aku mendorong kerikil itu hingga melesat ke arah anak itu.


Anak itu menatap kerikil yang melesat kepada nya dan segera merapal sihir pelindung untuk melindungi nya, kerikil itu melesat dengan kecepatan tinggi dan menembus pelindung sihir milik anak itu hingga membuat nya terkejut.


*dumsh


Sebuah ledakan terjadi setelah kerikil berkecepatan tinggi itu mengenai tembok pembatas koloseum, aku menatap anak bangsawan itu yang terduduk dengan ekspresi tak percaya dengan kekuatan kerikil itu.


“b..bagaimana bisa sihir itu menembus pelindung terkuat ku?”tanya anak itu dengan suara bergetar.


“itu tadi bukan sihir melainkan kerikil”kata ku.


Seketika semua orang terdiam setelah aku mengatakan itu, anak itu menatap ku dengan tak percaya karena pelindung sihir dapat di tembus dengan hanya sebuah kerikil kecil.


“kau meremehkan ku ya, baiklah sekarang giliran ku untuk menyerang mu”kata anak itu dengan kesal.


Anak bangsawan itu berdiri di hadapan ku dan mengarahkan pedang nya ke hadapan ku, pedang itu mengeluarkan api dan ia segera mengarahkan nya kepada ku.


“fire slash”


Ia menebaskan api di pedang nya kearahku, aku menatap api yang bergerak menuju ke tempat ku dan menghela nafas, dengan santai aku menatap api itu dan meniup nya, api itu seketika padam dan seluruh penonton terdiam melihat ku.


“bagaimana kau?”tanya anak itu dengan tak percaya.


“kurasa lebih baik ku akhiri saja secepatnya”gumam ku.


Aku mengangkat tangan kanan ku dan sebuah lingkaran sihir muncul bersamaan dengan sebuah api yang cukup berbeda dari milik anak bangsawan itu, semua orang mulai riuh karena aku bisa mengeluarkan sihir tanpa rapalan dan juga jenis api yang ku gunakan cukup unik.


“itu api kegelapan bagaimana dia bisa mengeluarkan nya tanpa rapalan mantra?”


“Siapa orang ini sebenarnya?”


“jangan jangan dia reinkarnasi raja iblis”


“benar benar menakutkan”


Aku mendengar para penonton mulai membicarakan ku dari kursi tempat mereka duduk, kebanyakan penonton di koloseum ini adalah murid murid senior akademi dan beberapa bangsawan yang menonton putra dan putri mereka.


“fire arrow”


Aku melepaskan api kegelapan dari tangan ku dan api itu berubah menjadi panah api yang melesat ke arah anak itu dengan kecepatan tinggi, dia terlihat panik dan tak sempat merapal sihir pelindung saat jarak nya dengan panah api ku sudah berada di depan hidung nya.


*duarr


Sebuah ledakan yang cukup kuat terjadi di tempat anak bangsawan sombong itu berdiri, setelah debu yang berterbangan menghilang seluruh orang di sana terdiam menatap pemandangan yang ada di depan mereka, sebuah tubuh tergeletak di arena dengan keadaan hangus aku menghampiri tubuh itu dan menghela nafas.


“kurasa aku terlalu berlebihan”gumam ku sambil menatap tubuh itu.


Aku kemudian mengarahkan tangan ku ke atas mayat itu dan mulai merapal sebuah sihir.


“ingall”


Secara tiba tiba sebuah lingkaran sihir muncul menelan mayat anak itu dan tak lama kemudian anak itu muncul dari dalam lingkaran dengan ekspresi ketakutan, semua murid senior dan bangsawan yang hadir tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka lagi, kulihat beberapa bangsawan berbisik satu sama lain sambil mengamati ku.


“bagaimana rasanya ku antar kan kau kepada kematian?”tanya ku sambil menatap anak itu dengan tatapan tajam.


“s..siapa kau sebenarnya?”tanya anak itu dengan ketakutan.


“kau tak perlu tahu soal siapa diriku, apa kau masih ingin bertarung?”tanya ku.


Aku masih menanyakan pertanyaan yang sama kepada anak itu, anak itu diam dan tak menjawab pertanyaan ku, aku menghela nafas dan mengarahkan tangan ku ke hadapan nya dan menjentikan nya, seketika tubuh nya hancur setelah aku menjentikan jari ku karena terhempas oleh angin yang sangat kuat yang berasal dari jentikan jari ku.


Darah berceceran di arena dan aku merapal ingall untuk menghidupkan nya kembali, setelah menghidupkan nya aku bertanya lagi dan hanya mendapat jawaban yang sama seperti sebelum nya, aku menjentikan jari ku dan ia kembali mati, setelah itu aku merapal ingall untuk menghidupkan nya.


Semua orang menatapku dalam bisu karena aku dapat membunuh orang dengan satu jentikan tangan, aku kembali membunuh nya dan menghidupkan nya terus menerus karena dia terus menerus diam tak menjawab pertanyaan ku, beberapa murid senior beranjak dari kursi mereka karena tak tahan melihat kekejaman yang ku lakukan pada anak ini.


Aku terus menerus membunuh dan menghidupkan anak ini, ketika aku hendak menjentikan jari ku lagi anak itu langsung bersujud kepada ku sambil memohon untuk tidak membunuh nya lagi, aku menatap anak itu dan memejamkan mata ku kemudian aku berjalan pergi dari hadapan nya untuk keluar dari koloseum.


Wasit terlambat mengumumkan pemenang dari ujian ini karena masih tak percaya dengan yang mereka lihat, saat pengumuman kemenangan aku sudah beranjak pergi dari sana.


Setelah ujian praktek kemampuan cukup lama akhirnya tiba saat nya ujian pengukuran kekuatan sihir, sku menatap para murid yang lolos setelah ujian praktek kemampuan yang mengukur jumlah kekuatan sihir pada sebuah batu kristal dan cermin ajaib.


Setelah menunggu akhirnya tiba giliran ku untuk mengukur kekuatan sihir ku, aku meletakan tangan ku di atas batu kristal, sebuah lingkaran inti sihir berwarna merah muncul di dalam kristal di ikuti cermin ajaib yang mulai menebak jumlah sihir ku.


“tidak terhingga”kata petugas yang mengawasi uji pengukuran.


Di saat bersamaan batu kristal yang di gunakan untuk mengukur kekuatan sihir ku retak dan hancur karena tak bisa menahan kekuatan ku, semua orang menatap diriku dengan sangat penasaran karena jumlah kekuatan sihir ku mampu membuat kristal pengukur hancur.


Aku berjalan pergi untuk menuju ke ruang administrasi untuk mengambil hasil tes masuk akademi, beberapa atribut untuk seragam ku dan buku buku pelajaran, setelah berjalan hampir 20 menit akhirnya aku tiba di ruang administrasi.


Dengan segera aku masuk dan seketika semua orang langsung menatap ku, bahkan ada beberapa yang terlihat gemetar dan takut ketika melihat ku, aku berjalan ke deretan bangku yang ada di ruangan itu dan duduk di sana sambil menunggu nama ku di panggil.


Tak lama setelah aku duduk pintu terbuka dan para anak bangsawan masuk ke dalam, mereka berjalan ke tempat duduk yang berbeda dan memang di khususkan untuk mereka, aku kemudian menghela nafas dan memejamkan mata ku sambil mencoba istirahat sebentar.


“yuuta kau cepat sekali”kata luchifer yang masuk dan duduk di samping ku.


“itu karena hasil pengukuran nya adalah tak terhingga”kata ku dengan santai.


Luchifer menatap ku dengan terkejut, semua orang yang ada di sini juga mematung setelah mendengar kata kata ku.


“kau tidak bercanda bukan ?”tanya luchifer dengan tak yakin.


“aku tidak bercanda bahkan kristal pengukurnya hancur karena tak dapat menahan kekuatan ku”kata ku.


Aku menghela nafas karena sudah ku duga luchifer akan sulit untuk mempercayai kata kata ku walau pun begitu lah kenyataan nya, seorang petugas memanggil nama ku dan dengan segera aku bangkit dan berjalan menghampiri nya.


Saat aku tiba di hadapan nya dia langsung memberikan sebuah tas dan sepucuk surat kepada ku, aku meraih tas itu dan mengamati nya di dalam nya terdapat buku-buku, atribut seragam, dan kertas hasil tes.


Petugas itu menjelaskan soal barang barang itu dengan singkat dan aku berjalan keluar dari ruangan, saat aku keluar ku lihat luchifer sudah menunggu, tanpa berlama lama kami berdua berjalan bersama untuk kembali pulang ke rumah kami.


“yuuta aku penasaran dengan kemampuan mu setelah melihat mu mengalahkan anak bangsawan itu dengan satu jentikan tangan”kata luchifer.


“ah soal itu ya”kata ku sambil tersenyum kecut.


Kami berdua berjalan di halaman depan akademi dan menatap beberapa orang yang terlihat seperti prajurit berdiri di depan gerbang akademi, aku menghentikan langkah ku kemudian aku menoleh ke belakang dan mendapati beberapa prajurit berdiri sambil menatap ku.


“luchifer tetaplah di dekat ku”bisik ku kepada luchifer.


Aku mengamati para prajurit itu dengan sikap waspada penuh, di belakang prajurti yang menjaga pintu gerbang akademi seorang laki laki dengan pakaian formal berjalan menghampiri ku.


“kemampuan mu di arena tadi cukup mengerikan sekali”kata laki laki itu sambil menyeringai.


“apa mau kalian dengan ku?”tanya ku dengan serius.


“kami di sini untuk menghabisi mu, tindakan mu di arena tadi kepada adik ku adalah sebuah penghinaan besar kepada kami”kata laki laki itu.


Setelah mendengar kata kata itu aku hanya bisa menghela nafas dan menatap laki laki itu dengan santai.


“aku wajib memperingati mu soal perbedaan kekuatan di sini, aku tak ingin menggunakan cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah ini”kata ku.


Setelah aku mengatakan hal itu laki laki itu beserta para prajurit nya tertawa dengan keras, mereka tertawa dan laki laki itu menatap ku dengan tatapan merendahkan.


“kau mencoba memperingati kami, sungguh sebuah lelucon yang cukup lucu”kata laki laki itu.


aku menatap mereka dan memejamkan mata ku sambil menghela nafas panjang, kemudian aku membuka mata ku dan mengaktifkan sihir pada mata ku dan menatap laki laki itu, laki laki itu menatap mata ku dengan terkejut sekaligus ketakutan.


“mata itu, bukan nya hanya keluarga ishgar yang memiliki nya”kata laki laki itu.


“kau tak perlu mengetahui nya”kata ku dengan dingin.


Aku menatap laki laki itu dan seketika tubuh nya ambruk ke tanah bersama dengan prajurit nya, saat aku mengaktifkan sihir mata itu aku melepas aura intimidasi milik ku yang sebelum nya pernah ku gunakan kepada sasha.


“aku tadi sudah memperingati kalian soal ini tetapi karena kalian sangat keras kepala aku terpaksa melakukan ini”kata ku.


Jalan batu di halaman akademi retak dan lampu taman yang ada di sana pecah secara tiba tiba, semua orang menatap ku dengan gemetar karena aura yang ku keluarkan sangat kuat, kemudian luchifer menarik lengan ku dan menatap ku.


“yuuta hentikan mereka bisa mati”kata luchifer.


Aku melirik ke arah luchifer sejenak dan menghela nafas, aku menonaktifkan mata sihir dan aura intimidasi ku setelah itu luchifer menarik tangan ku untuk pergi dari sana.


“yuuta jangan ladeni mereka”kata luchifer sambil menarik lengan ku pergi dari sana


.


Aku menghela nafas dan mengikuti luchifer yang menarik lengan ku untuk pergi, ku lihat ia tak ingin aku dapat masalah hanya karena bangsawan arogan itu, kami terus berjalan di kota untuk kembali kerumah kami masing masing.


“setelah sampai di rumah apa yang akan kau lakukan nanti?”tanya luchifer.


“mungkin merayakan kelulusan ku”kata ku dengan santai.


Aku sebenarnya tak berniat merayakan nya tapi kurasa tuan sean akan merayakan nya, jadi aku hanya bisa mengikuti apa yang di lakukan tuan sean.


“apa kau juga demikian luchifer?”tanya ku.


“ya, ayah pasti akan mengajak semua orang yang ada di rumah untuk merayakan nya”kata luchifer.


“ada apa, kau terlihat murung”kata ku sambil mengamati wajah luchifer.


“hanya berpikir mungkin aku bisa memanfaat kan perayaan itu untuk bicara dengan sasha”kata luchifer.


Melihat diri luchifer ia terlihat sudah sangat lama tersiksa karena kakak nya membenci nya, ia sangat ingin berbaikan dengan sasha tapi bila melihat sifat dan sikap sasha itu pastinya sangat sulit.


“hei luchifer apa kau sudah menceritakan hal ini kepada ayah mu?”tanya ku.


“aku tak pernah mengatakan nya kepada ayah”kata luchifer.


Aku memejamkan mata dan menghela nafas, ia selama ini memendam semua itu sendirian dan selalu memikirkan nya hingga tak sempat memikirkan dirinya sendiri, aku tersenyum karena sifat itu mirip sekali dengan diriku dulu.


“sebaiknya kau bicarakan hal itu dengan nya itu lebih baik dari pada kau terus menyiksa dirimu sendiri seperti ini”kata ku.


Luchifer terdiam sambil menatap ku setelah mendengar kata kata ku, aku mengatakan hal itu karena memang itulah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini, luchifer kemudian memalingkan wajah nya dan memegang lengan ku dengan erat.


“t..terimakasih yuuta”kata luchifer


.


Luchifer memalingkan wajahnya dari ku dan kami terus berjalan hingga akhirnya tiba di depan rumah luchifer, rumah ini tak ada bedanya dengan mansion yang ku tempati saat ini, luchifer berdiri di depan ku dengan agak malu.


“t..terima kasih telah mengantarkan ku pulang, maaf telah merepotkan mu”kata luchifer.


“tak masalah kalau begitu sampai besok”kata ku.


Luchifer melambaikan tangan nya kepada ku dan aku membalasnya, aku kemudian merapal gate dan sudah berada di pintu depan rumah ku, dengan santai aku berjalan masuk untuk mengabarkan tuan sean soal kelulusan ku dalam tes.


~~ sudut pandang luchifer~~


Aku berdiri sambil melambaikan tangan ku kepada yuuta sebelum ia mengaktifkan gate dan sudah tak ada di sana, aku diam di sana sejenak dan berjalan masuk ke halaman rumah ku, aku berjalan dan menatap ke lantai dua dan mendapati ayah sedang menatap ke pintu gerbang rumah.


“kurasa aku akan bicara kepada ayah nanti”kata ku sambil mengumpulkan keberanian ku.


Kemudian aku bergegas masuk ke dalam untuk memberi kabar gembira ini kepada semua orang di rumah.