My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Tugas Kelompok



Pagi pagi sekali Vita sudah bangun dari tidurnya dan langsung melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah itu dia langsung berkutat sendiri di dapurnya untuk membuat sarapan hingga membersihkan rumah mereka.


Berbeda dengan suami dan putri kesayangannya, setelah sholat subuh seperti biasa mereka akan kembali tidur untuk memejamkan mata mereka barang sejenak saja. Baru setelah Vita selesai dengan kegiatan paginya dia akan membangunkan keduanya untuk segera bangun dan bersiap siap untuk pergi sekolah dan ke kantor.


Setelah Doni dan Hanna bersiap siap dengan segala keperluan masing masing, mereka langsung pergi ke dapur untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah dan ke kantor. Dan mereka segera makan sarapan yang telah dibuatkan oleh Vita.


" Hari ini kamu ikut nganter Hanna lagi gak sayang?" tanya Doni pada istrinya.


" Gak usah sayang...kamu anterin Hanna sekalian berangkat ke kantor sendiri saja" tolak Vita setelah menelan makanan yang ada di mulutnya. " Nanti kamu malah capek bolak balik anterin aku pulang lagi" merasa kasihan jika suaminya harus bolak balik nganterin dia pulang lagi.


" Ya sudah kalau gitu, setiap hari Hanna biar berangkat sama aku, dan pulangnya kamu yang jemput" ucap Doni.


Hanna dan Vita mengangguk setuju dengan ucapan Doni.


" Tapi kamu harus selalu berhati hati kalau jemput Hanna, gak usah terburu buru" kata Doni menasehati istrinya.


" Iya kamu tenang saja, aku juga sudah mulai menghapal jalanan ke sekolah Hanna" sahut Vita.


Mereka makan dengan lahap karena waktu terus berjalan. Dan Doni tidak ingin Hanna sampai terlambat tiba di sekolah.


Tidak lama kemudian setelah selesai sarapan Doni dan Hanna langsung berpamitan dengan Vita. Mereka berdua langsung naik mobil dan segera berangkat. Dan tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai juga di depan sekolah Hanna.


Hanna langsung berpamitan dengan papanya dan keluar dari mobil. Kemudian dia berjalan memasuki gerbang sekolahnya bersamaan dengan teman teman lainnya, entah itu teman seangkatan ataupun beda angkatan dengannya. Mereka semua berjalan dengan cepat sebelum bel masuk berbunyi.


Sekolah Hanna sangat ketat dan disiplin, begitu bel masuk sudah berbunyi mereka harus masuk ke dalam sekolahan. Karena jika mereka terlambat, pintu gerbang akan secara otomatis ditutup oleh satpam. Jika ada yang terlambat mereka akan mendapatkan hukuman entah itu berdiri di depan kelas sampai jam istirahat pertama atau mengerjakan hukuman yang diberikan oleh guru piket.


Dan untungnya selama ini dia belum pernah terlambat, sehingga dia tidak pernah mendapatkan hukuman. Bahkan Hanna datang lebih awal daripada kedua teman baiknya Dita dan Viona.


Hanna yang saat itu sedang duduk di bangkunya sambil membaca buku dan terdengar suara bangku di belakangnya ditempati oleh seseorang. Sontak saja Hanna melihat ke belakang dan ternyata Vanno yang datang dan langsung duduk di bangkunya.


" Pagi..." sapa Hanna ramah dengan senyuman manisnya.


" Hemm..." Vanno hanya menjawab dengan gumaman kecil, matanya enggan melihat ke arah Hanna yang duduk di depannya.


Tidak lama semua teman teman Hanna berhamburan datang dan langsung masuk kelas, karena pelajaran akan segera dimulai. Dita dan Viona juga sudah datang mereka menyapa Hanna sebentar dan langsung duduk di bangku masing masing.


Kemudian ibu guru kelas masuk dan memberikan sapaan selamat pagi. Sebelum pelajaran dimulai mereka terlebih dahulu berdoa bersama dengan dipimpin oleh ketua ketua kelas.


" Baiklah anak anak, hari ini ibu akan memberi kalian tugas kelompok" beritahu ibu guru. " Di sini ibu sudah menentukan 5 kelompok yang terdiri dari 4 orang tiap kelompok" lanjut guru pengajar.


Jumlah murid di kelas Hanna tidak banyak, hanya ada 20 anak. Tapi setiap tingkatan kelas ada 3 kelas. Jadi jika ditotal di sekolahan elit tersebut ada 18 kelas ruangan, dari kelas 1 hingga kelas 6.


Semua murid mendengar dengan seksama tugas yang diberikan oleh ibu guru tanpa ada yang menyahut ataupun membantah. " Jadi ibu akan memberikan setiap kelompok satu kertas gambar komik, kalian bisa berdiskusi dengan anggota kelompok untuk membuat cerita dari gambar komik yang ibu berikan" ucap bu guru menjelaskan.


" Dikerjakan dimana bu?" tanya salah satu murid.


" Kalian kerjakan di balik kertas gambar, jadi setiap kelompok hanya mengerjakan satu lembar saja" jawab Bu guru. " Sebaiknya kalian buat cerita dulu di kertas yang lain sebelum kalian menuliskan di balik kertas bergambar" lanjutnya.


Setelah itu ketua kelas membacakan pembagian kelompok yang sudah dibentuk oleh ibu guru. Sekalian memberikan satu kertas pada masing masing kelompok. Dan ternyata Hanna satu kelompok dengan Vanno.


" Kalian sudah bisa mengerjakannya mulai sekarang, ibu tinggal dulu karena ibu mau ada rapat" kata Bu guru. " Ingat jangan ada yang ramai, nanti ketua kelas akan mencatat siapa saja yang ramai" lanjutnya menasehati.


" Iya bu" jawab semua murid serentak.


Ibu guru meninggalkan kelas karena hari ini ada rapat dengan kepala sekolah. Makanya dia hanya memberikan tugas saja untuk anak anak agar mereka tidak ramai.


Hanna yang satu kelompok dengan Vanno langsung memutar bangkunya ke belakang dan kini mereka saling berhadapan dengan hanya dibatasi oleh bangku masing masing. Dan dua teman lainnya bernama Miko dan Amel.


Mereka tidak mungkin menyuruh Vanno yang mendekat ke arah mereka jika tidak ingin kena masalah dengan Vanno. Maka dari itu mereka mengalah dengan membawa bangku mereka mendekat ke bangku Hanna dan Vanno.


" Ini.... siapa yang akan menulis ceritanya?" kata Miko yang menyodorkan gambar yang diberikan ketua kelas.


"Gimana kalau Amel saja yang nulis?" kataku menunjuk Amel.


" Ya sudah, aku yang nulis tapi kalian bantu aku buat ceritanya" sahut Hanna.


Akhirnya Hanna menulis bahkan Hanna juga yang banyak memberikan ide ceritanya dengan dikoreksi oleh Miko dan Amel. Vanno hanya diam tanpa merespon sama sekali karena tidak ada yang berani bertanya atau menegurnya. Tapi meskipun begitu dia tetap ikut mendengar.


Hanna langsung mengganti tulisannya begitu melihat sudah selesai berdiskusi.


" Nih kalian baca dulu saja" suruh Hanna pada Miko dan Amel setelah dia menulis ya dengan bagus, dan mereka berdua menerimanya lalu bergantian membacanya.


" Bagus Han..." puji Miko.


" Iya ini bagus, apalagi tulisan kamu juga keren banget Han" Amel juga ikut memuji Hanna lalu memberikan kertas tersebut pada Hanna.


" Nih coba kamu baca!" kini Hanna menyuruh Vanno yang membacanya.


Amel dan Miko langsung menatap ke arah Hanna yang beraninya menyuruh Vanno. Padahal selama ini belum pernah ada teman satu kelasnya yang berani menyuruh Vanno. Mungkin hanya ketua kelas yang berani menyuruh itupun karena terpaksa.


' Hanna berani sekali nyuruh Vanno' batin Miko yang menggeleng pelan.


' Sebentar lagi Vanno pasti marah sama Hanna' Amel ikut membatin dengan penuh rasa khawatir pada teman barunya tersebut.


Tanpa mereka berdua sangka Vanno menerima kertas tersebut dan membacanya, dia juga penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Miko dan Amel.


Miko dan Amel menatap Vanno dan menunggu reaksi dia, tapi mereka hanya bisa melongo dengan mata terbuka lebar. Mereka tidak menyangka Vanno sama sekali tidak marah pada Hanna yang merupakan murid baru di kelas mereka.


' Bener kata Amel tulisan cewek keras kepala ini bagus sekali' puji Vanno dalam hati sambil membaca cerita yang dibuat oleh Hanna.


Miko, Amel dan Hanna menatap ke arah Vanno yang tengah serius membaca cerita bergambar yang ditulis oleh Hanna.


' Pintar juga nih cewek' Vanno masih memuji kepintaran Hanna hingga dia membaca cerita tersebut hingga selesai.


Vanno menyerahkan kembali kertas tersebut pada Hanna yang duduk di hadapannya tanpa mengucapkan sepatah kata.


" Gimana ceritanya?" tanya Hanna Yanga menerima kembali kertas bergambar tersebut.


" Hemmm..." jawab Vanno hanya bergumam sambil mengangguk pelan.


Hanna, Miko dan Amel langsung bernafas lega saat Vanno menganggukkan kepalanya.


" Ya sudah langsung saja kita kumpulkan" kata Miko pada yang lainnya.


" Iya kamu saja yang mengumpulkan" sahut Amel dan Hanna langsung memberikan kertas tersebut pada Miko sambil tersenyum tipis. "Tunggu deh! kayaknya yang lain belum selesai" lanjut Amel yang melihat semua teman sekelasnya masih sibuk sambil berdiskusi membuat cerita.


Mendengar Amel berkata seperti itu mereka bertiga langsung ikut melihat ke teman teman lainnya yang masih sibuk dengan tugas mereka.


" Untung aku satu kelompok sama kamu Han, ternyata kamu pintar banget" puji Miko sekali lagi penuh bangga. Amel mengangguk setuju dengan Miko.


" Makasih" sahut Hanna dengan tersenyum cerah.


Karena mereka tidak ingin mengganggu konsentrasi teman sekelas mereka yang masih mengerjakan tugas kelompok. Akhirnya mereka berempat ngobrol ringan, ah bukan berempat tapi bertiga karena Vanno hanya diam tanpa menanggapi obrolan ketiga temannya.


" Oh ya Han, kamu kenapa pindah ke sini?" tanya Miko mengawali obrolan dengan suara pelan.


" Aku ikut pindah papaku, karena kerja papaku dipindahkan ke sini" jawab Hanna dengan suara pelan juga dan Miko mengangguk mengerti.


" Kamu berapa bersaudara Han?" kini Amel yang bergantian bertanya.


" Aku anak tunggal" sahut Hanna langsung.


Obrolan ringan mereka bertiga berlanjut terus hingga semua teman yang lainnya sudah selesai dengan tugas kelompok mereka. Meskipun Vanno diam saja dan tidak ikut mengobrol, tapi dia mendengar dengan seksama apa yang mereka bertiga bicarakan.


Hingga semua kelompok yang lainnya sudah selesai mengerjakan dan mengumpulkan tugas mereka kepada ketua kelas yang memberikan pada ibu guru.