
Dengan perasaan cemas dan khawatir Vita dan Vanno menunggu di depan ruangan UGD dengan duduk tepat menghadap pintu ruangan tersebut. Vita terus saja menangis karena merasa cemas dan khawatir, sedangkan Vanno diam saja dengan tatapan mata terus menatap ke arah pintu ruangan UGD dengan perasaan cemas meskipun tidak terlihat oleh orang lain.
Setelah sekitar setengah jam Hanna berada di ruangan UGD dan ditangani oleh dokter dan perawat. Tiba tiba ruangan terbuka dan keluar seorang dokter wanita yang melepaskan masker yang menutupi wajahnya.
Vanno dan Vita yang sedang duduk di kursi tunggu langsung berdiri dan berjalan menghampiri dokter tersebut dengan perasaan cemas. " Bagaimana kondisi putri saya dok?" tanya Vita yang sudah sangat cemas dan khawatir dengan kondisi putri tunggalnya tersebut.
" Pasien sudah kami tangani, dia mengalami dehidrasi berat karena kekurangan cairan dalam tubuhnya sehingga tubuhnya sangat lemas" jelas dokter perempuan tersebut berbicara dengan tenang. " Untung saja anak ibu langsung dibawa ke sini, kalau saja terlambat dibawa ke sini, mungkin ceritanya akan beda lagi. Kalian sudah bisa menemuinya di dalam" lanjutnya memberikan waktu pada Vita dan Vanno untuk menemui Hanna.
" Iya terima kasih dok" kata Vita dengan senyum lega dan penuh syukur setelah mendengar penjelasan sang dokter tentang keadaan Hanna.
Vita langsung masuk ke dalam ruangan UGD yang langsung diikuti oleh Vanno yang ingin mengetahui kondisi Hanna saat ini. Mereka mencari Hanna di beberapa tempat brankar yang juga telah diisi oleh beberapa orang yang dari ditangani oleh dokter.
Begitu mengetahui tempat Hanna Vita langsung mendekati Hanna yang kini sudah sadar tapi dengan kondisi tubuh yang masih lemas. Apalagi ada jarum selang yang menancap di tangannya untuk mengalirkan infus ke dalam tubuh Hanna agar kondisinya cepat pulih kembali.
" Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya Vita dengan wajah penuh kekhawatiran.
" Ma..ma..." sahut Hanna dengan suara yang terdengar masih lemas.
Mendengar suara Hanna yang terdengar lemas, Vita merasa sedih karena kondisi Hanna yang terdengar memprihatinkan. Tapi dia juga merasa lega melihat Hanna yang dalam keadaan baik baik saja.
" Vann...no..." Hanna yang melihat keberadaan Vanno yang berada di samping mamanya langsung memanggilnya tetap dengan suara tercekat.
" Jangan banyak bicara, istirahat saja dulu biar kamu cepat pulih" sahut Vanno dengan wajah datarnya.
Hanna hanya bisa menutup matanya sekilas seolah mengiyakan perintah Vanno tanpa ingin mendebatnya. Akhirnya Hanna diam tanpa berbicara lagi, dan mungkin karena reaksi obat yang disuntikkan ke dalam cairan infusnya membuat dia mengantuk dan akhirnya tertidur.
" Apa ibu keluarga dari pasien cewek ini?" tanya salah seorang perawat yang datang menghampiri Vita dan Vanno yang berdiri di sebelah brankar yang ditempati Hanna.
" Iya saya ibunya" sahut bu Vita yang mengiyakan pertanyaan perawat tersebut.
" Baiklah, silakan ibu mengurus semua persyaratan administrasi pasien, agar pasien segera mendapatkan ruang perawatan" kata perawat tersebut menyuruh Vita dengan penuh sopan.
" Iya... terima kasih" sahut bu Vita. " Oh ya nak, apa kamu terburu buru untuk pulang?" kini bu Vita bertanya pada Vanno yang berdiri di sebelahnya.
" Tidak te" sahut Vanno dengan wajah yang terlihat datar.
" Bisa tante minta tolong?" tanya Vita sekali lagi.
Tanpa menjawab pertanyaan mamanya Hanna, Vanno hanya mengangguk sekilas.
" Tolong kamu jaga Hanna dulu ya , Tante mau mengurus semua administrasi Hanna terlebih dahulu" ucap Vita meminta tolong pada Vanno.
" Iya te" sahut Vanno masih dengan wajah dinginnya.
Vita langsung pergi dari ruangan UGD menuju ke tempat administrasi untuk mengurus semua persyaratan Hanna yang harus dirawat dirawat di rumah sakit. Sekitar setengah jam kemudian Hanna sudah selesai mengurus semua persyaratan administrasi perawatan Hanna. Saat ini dia sedang berjalan kembali menuju ke ruang UGD yang masih ditempati oleh Hanna.
Sebelum dia masuk kembali ke ruangan UGD, terlebih dahulu beliau duduk di bangku kursi tunggu yang ada di depan ruangan UGD. Vita langsung mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya lalu melakukan panggilan pada seseorang.
" Assalamu'alaikum pa" sapa Vita pada seseorang yang berada di seberang. Ternyata dia sedang menelpon sang suami yang belum mengetahui tentang keadaan Hanna saat ini yang sedang berada di rumah sakit.
" Waalaikumsalam, iya ma ada apa?" tanya balik Doni dari seberang yang saat ini masih berada di kantornya.
" Apa papa belum pulang?" tanya Vita sekali lagi ingin mengetahui keberadaan suaminya.
" Ini masih di kantor, sebentar lagi mau pulang. Memangnya ada apa ma?" tanya Doni balik yang penasaran dengan sikap istrinya yang tidak pernah menelpon dirinya yang sedang bekerja kecuali kalau ada hal yang sedang terjadi dengan semuanya.
" Huuuhh..." bu Vita hanya bisa menghirup udara dengan berat lalu menghembuskannya. Dia masih bingung bagaimana harus memberitahukan semua yang terjadi pada Hanna.
" Apa... papa bisa... pulang dan langsung ke... rumah... sakit?" tanya Vita dengan suara tercekat bingung ingin mengatakan apa pada suaminya.
" Ke rumah sakit?!" tanya balik Doni dengan suara keras karena terkejut. " Memangnya siapa yang sakit?" lanjutnya bertanya lagi dan kini dengan suara sedikit pelan.
" Hmm... Hanna sekarang ada di rumah sakit" jawab Vita dengan perasaan bingung serta khawatir.
" Hanna?" Doni mengulangi lagi pertanyaannya. " Memangnya Hanna sakit apa? dan mulai kapan dia masuk ke rumah sakit?" tanya Doni lagi yang kini ikut mencemaskan keadaan putri semata wayangnya meskipun dia sendiri belum mengetahui dengan pasti keadaan Hanna.
" Tadi saat pulang sekolah" jawab Vita yang tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada suaminya sebelum suaminya datang sendiri ke rumah sakit dan mengetahui keadaan putrinya.
" Ya sudah, aku akan pulang duluan dan langsung pergi ke rumah sakit" ucap Doni berusaha bersikap tenang meskipun di dalam hatinya dia juga merasa cemas dengan keadaan putrinya.
" Ya sudah, mama tenang dulu jagain putri kita. Habis ini aku akan langsung ke sana" sahut Doni berusaha menenangkan istrinya yang sudah pasti sangat mencemaskan kondisi putrinya meskipun sebenarnya dalam hatinya juga merasa sangat cemas. " Di mana Hanna di rawat sekarang?" tanya Doni sekali lagi.
" Di rumah sakit Mitra Keluarga" sahut Vita melalui sambungan telepon di ponselnya.
" Baiklah mama tenang saja, habis ini aku ke sana. Ya sudah assalamualaikum" pamit Doni setelah berusaha menenangkan istrinya sekali lagi.
" Iya, waalaikumsalam" sahut Vita lalu menutup teleponnya setelah dia melakukan panggilan suara dari suaminya ditutupnya.
Vita langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang selalu dia bawa saat menjemput Hanna. Setelah itu dia langsung beranjak dari duduknya dan masuk kembali ke dalam ruangan UGD untuk menemani Hanna.
Vita melihat Vanno yang masih setia menemani Hanna yang saat ini sedang tertidur karena pengaruh dari obat. Vanno sedang duduk di kursi di sebelah ranjang Hanna.
" Terima kasih ya nak sudah mau membantu Tante menjaga Hanna" Vita yang sudah berdiri di samping Vanno dan langsung berterima kasih pada Vanno sambil menepuk bahunya.
Vanno yang saat itu terus menatap wajah Hanna langsung menoleh karena terkejut saat bahunya ditepuk oleh seseorang yang tidak lain adalah mamanya Vita. " Sama sama te" jawab Vanno langsung saat mamanya Hanna berterima kasih padanya.
Vanno langsung berdiri dari duduknya dan mempersilahkan mama Hanna untuk duduk di kursi yang baru saja dia duduki.
" Apa tadi Hanna terbangun dan mencari tante?" tanya Vita lagi yang saat ini sudah duduk di kursi yang sebelumnya diduduki oleh Vanno.
" Tidak te" sahut Vanno langsung.
" Untung saja tadi kalian menemukan keberadaan Hanna. Coba kalau Hanna sampai tidak ketemu, entah apa yang akan terjadi pada Hanna" ucap Vita dengan raut wajah sedihnya sambil tangannya memegang tangan Hanna yang tidak terdapat jarum selang.
Vanno hanya diam tidak membalas ucapan Vita yang terdengar sedih bahkan suaranya terasa bergetar seakan ingin menangis.
" Sekali lagi Tante ucapkan banyak terima kasih karena sudah banyak membantu tante dan Hanna" ucap Vita yang terus berterima kasih akan bantuan yang dilakukan oleh teman teman Hanna terutama Vanno.
" Oh ya nak, siapa nama kamu?" lanjutnya masih bertanya dan kini tatapannya beralih pada Vanno.
" Vanno tante" sahut Vanno dengan senyum tipis tapi wajahnya masih terlihat dingin.
" Oh nak Vanno" mengulang nama Vanno kembali dan mencoba untuk mengingatnya. "Ini sudah mau magrib sebaiknya nak Vanno pulang duluan. Pasti orang tua nak Vanno sudah menunggu kepulangan nak Vanno" suruh Vita yang tidak ingin merepotkan Vanno sekali lagi apalagi ini sudah lebih dari jam pulang sekolah pasti orang tuanya sedang mencemaskan kepulangannya.
" Baiklah tante saya pulang dulu" pamit Vanno pada Vita yang langsung meminta tangan kanan Vita untuk dia jabat tangannya.
Vita memberikan tangan kanannya pada Vanno yang langsung dijabat oleh Vanno bahkan diciumnya tangan kanannya tersebut.
" Terima kasih ya, dan sampaikan terima kasih tante pada teman teman kalian yang lainnya yang sudah ikut membantu mencari Hanna" kata Vita lagi.
Vanno mengangguk dan tersenyum tipis lalu berjalan pergi keluar dari ruangan UGD setelah melihat wajah Hanna sekilas. Dia segera berjalan keluar menuju ke tempat parkir dimana sopirnya menunggu. Maminya pasti sudah menunggu kepulangannya yang sedikit terlambat dari biasanya