My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Serahkan Pada Ahlinya



Vanno hanya diam saja masih tetap berdiri dengan tenang ditempatnya, tapi tatapan matanya begitu tajam memperhatikan Angel yang masih


Lagian ngapain aku meski nyekap Hanna di kamar mandi" ucap Angel tanpa sadar telah mengakui kesalahannya sendiri.


" Hahaha.... kena kamu!" seru Dewa yang langsung tertawa setelah Angel membongkar sendiri perbuatannya.


Robert sendiri hanya tersenyum lebar namun terlihat sinis sedangkan Vanno hanya diam dengan matanya yang menatap Angel dengan tajam. Sungguh diluar kendali Angel yang tanpa sengaja malah mengatakan semuanya tanpa disadarinya.


Ketiga teman Angel hanya bisa menatap ke arah Angel yang masih belum mengerti maksud ucapan Dewa. Mereka terlihat diam dengan wajah lesu sambil menutup mata mereka tanpa bisa berbuat apa apa karena Angel sendiri yang telah membocorkan kejahatannya di hadapan Vanno dan teman temannya.


Angel hanya mengerutkan kedua alisnya bingung mendengar Dewa yang tertawa seolah menertawakan dirinya. Karena hingga detik itu juga Angel masih belum sadar dengan apa yang barusan dia ucapkan.


" Kenapa Lo bilang kalau bukan Lo yang nyekap Hanna?" tanya salah satu teman Angel dengan suara lirih namun masih bisa didengar oleh teman lainnya dan Angel masih terlihat bingung maksud temannya.


Teman yang lainnya langsung mengangguk mengiyakan. " Dari tadi mereka cuma tanya masalah di kantin, gak tanya masalah penyekapan yang terjadi pada Hanna. Tapi kenapa Lo bilang seperti itu?" kali ini temen Angel yang satunya berisik di telinga Angel.


Seketika Angel merasa takut saat dia sudah sadar dengan apa yang barusan dia ucapkan. Mata Angel langsung terbuka dengan sempurna dan menelan ludah dengan berat untuk menghilangkan rasa takutnya. Matanya kini langsung bertatapan dengan mata Vanno yang menatapnya dengan tajam seolah ingin membelah tubuh Angel menjadi dua bagian.


" Em..ma...mak.... bu..bu.. bukan.... mak..sud... gue...ke.kenapa Lo... ke..tawa?" tanya Angel pada Dewa dengan suara tergagap saking takutnya.


Dewa semakin tertawa dengan begitu kencang hingga suaranya menggema dengan begitu kerasnya di dalam lapangan tersebut. " Kamu tanya kenapa, hahaha?" tanya Dewa yang balik bertanya dan semakin menertawakan sikap, tingkah dan pertanyaan Angel.


" Karena kamu yang udah nyekap Hanna" kali ini Robert yang menjawab dengan cepat pertanyaan Angel pada Dewa.


" Hemmm... betul itu!" seru Dewa langsung membenarkan jawaban Robert dan mengacungkan jari jempolnya ke hadapan Angel dan teman temannya dengan senyuman mengejek.


" Engg... Nggak kok!" Angel masih berusaha mengelak dengan menggelengkan kepalanya berulang kali. " Gue nggak nyekap Hanna kok!" serunya terus saja mengelak dari tuduhan yang ditujukan padanya. Angel sudah bisa mengatasi rasa takutnya dan suaranya sudah tidak terbata lagi untuk terus mengelak.


Dewa mendengus kesal dengan sikap Angel yang menurutnya sangat menggelikan. " Kalau bukan kamu, trus ngapain tadi kamu bilang bukan kamu yang nyekap Hanna" ucap Dewa. "Padahal dari tadi kita gak pernah menyinggung soal penyekapan yang terjadi pada Hanna" lanjut Dewa dengan begitu kesalnya.


" Emm..." Angel bingung mencari alasan yang tepat untuk mengelak dari tuduhan Dewa.


" Semua murid di sekolah ini tau semua dengan kejadian penyekapan Hanna, kok!" kali ini salah satu teman Angel kembali membantu memberi jawaban dengan cepat.


" Iya! semua murid sudah tau semuanya" Angel buru buru menimpali jawaban masuk akal yang dikatakan oleh temannya dengan mengangguk cepat dan tersenyum dengan kaku.


Angel akhirnya bisa bernafas dengan panjang, meskipun belum bisa bernafas dengan lega karena Vanno dan teman temannya masih berusaha menginterogasi dirinya yang telah menjadi tersangka di mata mereka bertiga. Namun dia berusaha untuk tetap bersikap tenang meskipun nafasnya berdetak lebih cepat daripada biasanya.


Angel masih saja terus mengelak karena dia takut dengan Vanno. Selain itu jika sampai kejadian itu terbongkar, maka tamatlah riwayatnya. Vanno yang merupakan anak pengusaha terkenal dan terkaya pasti bisa melakukan apa saja padanya. Apalagi orang tau Vanno merupakan salah satu penyumbang dana terbesar di yayasan sekolah mereka semuanya.


Jadi bisa dipastikan dirinya akan hancur meskipun orang tuanya juga termasuk salah satu pengusaha dan kaya raya. Namun kekuasaan yang dimiliki orang tuanya masih kalah jauh dengan kekuasaannya yang dimiliki dari keluarga Vanno. Makanya dia akan terus berusaha mengelak dan membela dirinya karena dia yakin bukti penyekapan memang sudah tidak ada dan dia bisa terus mengelak.


" Sudahlah... gak usah terus ngelak, kamu jujur saja sebelum hal buruk menimpa dirimu atau keluargamu" ucap Dewa mencoba membujuk Angel agar mengakui kejahatannya serta menasehatinya agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan oleh Angel.


" Beneran gue gak tau apa apa" ucap Angel masih mengelak terus sekaligus mencoba meyakinkan Dewa terutama Vanno yang sedari tadi tidak berbicara sepatah kata, namun tatapannya matanya begitu menakutkan bagi yang melihatnya.


" Siapa tau kan ada yang memfitnah gue, mengingat gue sama Hanna sempat berdebat di kantin" ucap Angel mencoba memberikan alasan yang tepat agar mereka bertiga percaya.


" Iya! sepertinya memang ada yang sengaja mengadu domba mereka berdua, supaya mereka terlihat bertengkar dan menyalahkan Angel atau Angel!" kali ini salah satu teman Angel kembali memberikan alasan yang masuk akal sehingga mereka bisa terbebas dari tuduhan Dewa dan yang lainnya.


Angel langsung mengangguk dengan cepat dan bibirnya cemberut terlihat menyedihkan, seolah dirinya telah menjadi korban atas tuduhan yang ditujukan padanya. " Iya benar, pasti ada yang pengen gue sama Hanna menjadi musuh, padahal gue pengen banget bisa menjadi teman Hanna" kata Angel membenarkan alasan yang begitu masuk akal yang dikatakan dari salah satu teman.


Tak terasa sudah lama akhirnya mereka telah berdebat, dan tiba tiba suara bel tanda masuk kelas telah berbunyi. Menandakan semua murid agar segera masuk ke kelas mereka masing masing setelah beberapa menit sebelumnya mereka telah beristirahat.


Dan suara bel tersebut seolah telah menjadi pahlawan bagi Angel dan teman temannya. Karena dengan begitu mereka dapat mencari alasan untuk bisa terlepas dari penyelidikan Vanno dan teman temannya yang mencari pelaku penyekapan yang terjadi pada Hanna.


" Bel masuk bunyi, gue balik dulu, ya!" ucap Angel dengan cepat.


Tanpa menunggu jawaban ataupun ijin dari Vanno dan teman temannya, Angel langsung membalikkan badannya dan langsung diikuti oleh ketiga temannya. Dengan langkah cepat mereka berjalan menuju ke pintu keluar lapangan tanpa mengindahkan panggilan dari Dewa yang menyuruh mereka untuk berhenti.


" Hei.... kalian!" panggil Dewa dengan suara keras yang tidak ingin melepaskan Angel begitu saja. " Berhenti kalian!!" Dewa terus memanggil Angel dan ketiga temannya yang terus berjalan dengan langkah cepat menuju ke pintu keluar lapangan.


Angel masih berjalan dengan langkah cepat seolah mereka sedang berlari kecil agar secepatnya bisa keluar dari lapangan. Suara Dewa yang terus memanggil mereka membuat Angel merinding ketakutan. Bagi Angel yang terpenting untuk saat ini adalah mereka terlepas dulu dari penyelidikan Vanno dan teman temannya. Setelah ini dia akan mencari jalan keluar untuk bisa terus mengelak dari tuduhan Vanno.


Sementara itu Robert yang mendengar Dewa terus berteriak penuh kekesalan memanggil Angel dan ketiga temannya yang berjalan jauh dari mereka hingga tubuh para cewek tadi menghilang dari pandangan mereka. Lalu Robert mendekati Dewa dan menepuk bahu Dewa pelan.


" Biarkan saja mereka pergi, yang pening kita sudah tau siapa pelaku di balik penyekapan terhadap Hanna" ucap Robert menepuk bahu Dewa agar tenang.


" Tapi Bert__" ingin Dewa memprotes ucapan Robert namun sudah terpotong terlebih dahulu oleh Robert.


" Serahkan pada ahlinya" potong Robert dengan mengatakan ahlinya yang dimaksud adalah Vanno dan Dewa langsung tersenyum saat melihat Vanno.


Tanpa berkata, dengan santainya Vanno beranjak pergi dari tempatnya untuk keluar dari lapangan. Robert kemudian mengikuti langkah Vanno dan kemudian Dewa juga langsung menyusul mereka berdua yang sudah berjalan menjauh darinya.