My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Jangan Asal Tuduh



Keesokan harinya Vanno dan yang lainnya seperti biasa berangkat ke sekolah dengan diantar sopirnya. Seharian itu juga Vanno hanya diam tanpa ngobrol dengan teman temannya, dia lebih senang mencari kesibukan sendiri. Dalam hati dia telah berjanji akan membalas dendam pada Angel yang telah menyakiti Hanna.


Namun dia tidak mengatakan apa apa pada teman temannya, karena dia ingin melakukan semuanya sendiri, meskipun dirinya tidak akan terlibat secara langsung. Kalau dia mengatakan pada teman temannya maka semuanya akan menjadi runyam, akan banyak yang tau dan bisa gagal semua rencananya.


Hanya satu orang yang mengetahui rencana Vanno, bahkan orang tersebut juga telah memberinya lampu hijau pada Vanno untuk membalaskan dendam temannya. Siapa lagi kalau bukan Ferdi, daddy-nya sendiri, karena selama ini Vanno selalu bercerita pada Alya dan Ferdi, jika ingin melajukan tindakan maka dia akan langsung meminta saran dari daddy-nya.


Pelajaran berlangsung seperti biasanya begitu juga dengan Vanno dan teman teman yang lainnya. Rencananya sepulang sekolah Vanno akan ke ruangan kepala sekolah sendiri tanpa mengajak teman temannya. Dan baru saja bel berbunyi yang artinya pembelajaran untuk hari ini telah selesai dan anak anak sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing masing.


" Yuk kita pulang" ajak Dewa pada Robert dan Vanno dan langsung diangguki oleh Robert dan kebetulan Dita dan Viona sudah pulang duluan.


Sedangkan Vanno hanya diam sambil pura pura menulis catatan yang tadi dituliskan oleh gurunya di papan tulis. " Kalian duluan aja, aku masih belum selesai nyatetnya" ujar Vanno mencari alasan, tadi dia memang sengaja tidak segera menyalin apa yang ditulis guru mereka di papan tulis.


" Mau aku pinjemin buku?" Robert menawarkan bukunya untuk dibawa pulang.


Vanno menggeleng dengan cepat. " Gak usah nanggung, ini juga udah mau selesai. Kalian pulang aja duluan" tolak Vanno masih asyik mencoretkan pena di atas kertas bukunya.


" Ok, kalau gitu kita balik dulu ya" pamit Robert kemudian mengajak Dewa untuk segera meninggalkan Vanno dan keluarga dari kelas mereka. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun dan karena tidak ingin mengganggu Vanno, akhirnya Robert dan Dewa pulang terlebih dahulu.


Vanno yang tadi hanya berpura pura menulis di bukunya, langsung menghentikan kegiatannya. Matanya melihat ke arah luar kelas untuk memastikan keberadaan sahabatnya sudah tidak ada di sekitar kelas mereka. Begitu memastikan Robert dan Dewa benar benar telah pergi dari kelas, Vanno dengan segera membereskan semua buku bukunya yang masih tergelatak di atas meja dan menaruhnya ke dalam tas.


Di kelasnya masih ada beberapa murid yang masih sibuk menyalin catatan guru di papan tulis. Namun Vanno tidak memperdulikan mereka karena baginya yang terpenting sahabatnya dan juga kedua teman Hanna sudah pulang terlebih dahulu.


Vanno segera meletakkan tas sekolah di punggungnya dan keluar kelas dengan langkah cepat. Dia harus segera ke ruang kepala sekolah sebelum orang yang dia cari pulang duluan. Dengan langkah cepat tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya Vanno berjalan menyusuri koridor sekolahan menuju ke ruang kepala sekolah.


Tok Tok Tok


Vanno langsung mengetuk pintu kayu dengan cat berwana coklat yang di atasnya terdapat tulisan ' Headmaster atau kepala sekolah'.


Vanno langsung membuka pintu tersebut setelah mendengar sahutan dari dalam yang menyuruh seseorang yang mengetuk pintu untuk segera masuk ke dalam ruangan. Vanno masuk ke dalam dan langsung menutupnya kembali dengan pelan.


" Selamat sore pak" sapa Vanno dengan sopan sambil menganggukkan kepalanya sedikit.


" Sore" sahut pria paruh baya yang melihat kedatangan Vanno dengan kedua alisnya yang menyatu dalam. Beliau yang memang tidak mengenal Vanno hanya menatap bingung ke arah Vanno, namun melihat paras wajah Vanno pria paruh baya tersebut seolah berfikir pernah melihatnya tapi dimana?. Tapi melihat tanda kelas di bajunya, kepala sekolah tau bahwa dia adalah salah satu murid kelas 7.


Dengan penuh percaya diri Vanno berjalan menghampiri meja kepala sekolah hingga kini dia berdiri tepat di belakang kursi yang berhadapan dengan kepala sekolah duduk.


" Duduklah" suruh kepala sekolah sambil menatap wajah Vanno penuh selidik.


" Kamu siapa? dan ada keperluan apa kamu langsung menghadap ke saya?" tanya kepala sekolah yang menyandarkan punggungnya ke belakang.


" Apa bapak masih mengingat saya? dulu saya pernah datang ke sini dan meminta bantuan sama bapak" ujar Vanno yang memang pernah datang ke ruang kepala sekolah saat dia meminta bantuan kepala sekolah untuk menempatkan dirinya dan semua sahabatnya ke dalam kelas yang sama. " Saya Alvanno Ferdiansyah Wijaya" beritahu Vanno tidak ingin berlama lama memberi tebakan pada kepala sekolah yang pasti tidak begitu mengenal murid murid baru di sekolah tersebut.


" Oh... kamu anaknya pak Ferdi yang dulu pernah meminta bantuan untuk menempatkan kamu dan teman teman kamu dalam satu kelas" ucap pria paruh baya tersebut yang mengangguk paham dan mengingat pertemuan pertama mereka. " Ada apa lagi kamu kemari?" tanya kepala sekolah dengan nada biasa yang sudah mengerti maksud kedatangan menghadapnya pasti Vanno ingin meminta bantuan lagi.


" Saya mau minta tolong sama bapak untuk mengeluarkan salah satu murid bapak yang sudah berbuat jahat sama teman saya" ucap Vanno langsung pada intinya maksud kedatangannya.


Kepala sekolah langsung menegakkan tubuhnya dan matanya langsung membuka lebar saat mendengar permintaan salah satu murid dari orang terkaya di Indonesia. " Me... mengeluarkan... murid..?" tanya pria paruh baya tersebut dengan terbata saking terkejutnya.


Alih alih Vanno menjawab pertanyaan dari kepala sekolah yang terlihat terkejut, Vanno hanya menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.


" Hahaha....kamu jangan bercanda nak" pria tersebut tertawa sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan permintaan salah satu muridnya.


" Saya tidak bercanda pak" sahut Vanno meyakinkan dan masih berbicara dengan nada suara yang terdengar sopan. " Bapak harus mengeluarkan dia, karena dia yang sudah menyekap salah satu teman saya di kamar mandi, beberapa hari yang lalu. Tentunya bapak mendengar kejadian itu juga kan?" lanjut Vanno mencoba mengingatkan kejadian yang baru terjadi beberapa hari yang lalu.


Pria paruh baya di hadapan Vanno tersebut sangat terkejut, dan mengerutkan kedua alisnya dengan penuh selidik. " Tentu saya mendengar kejadian itu, tapi kita masih menyelidikinya siapa pelakunya? karena korban masih dirawat di rumah sakit kita masih belum bisa menyelidikinya" ujar kepala sekolah memberikan pengertian pada salah satu muridnya.


" Tidak perlu menyelidikinya lagi pak, saya sudah tau siapa pelakunya. Pelakunya bernama Angel, siswi kelas 9" beritahu Vanno langsung.


Sekali lagi kedua alis pak kepala sekolah langsung terangkat tidak percaya. Bagaimana bisa Vanno langsung menuduh salah satu murid kelas 9 sebagai pelakunya, sedangkan pihak sekolah saja masih menyelidikinya tapi belum bisa mendapatkan titik terang siapa pelakunya.


" Kamu jangan asal tuduh! pihak sekolah masih mendalami kasus ini, jadi kamu jangan asal menuduh orang lain" sahut kepala sekolah meningkatkan Vanno agar tidak berbuat semaunya sendiri apa lagi meminta dirinya untuk langsung mengeluarkan slah satu murid yang dimaksud.


" Saya tidak asal tuduh pak! saya dan teman teman sudah menyelediki dan bertanya pada korban" sangkal Vanno. " Ini bukti beberapa hari sebelum kejadian, teman saya diancam oleh murid yang bernama Angel di kantin" lanjut Vanno memberikan bukti rekaman cctv pada kepala sekolah yang kemudian langsung melihatnya dengan seksama.


Setelah melihat bukti rekaman yang diberikan Vanno, kepala sekolah langsung menggeser ponsel Vanno mendekat ke arah Vanno. " Bukti rekaman ini tidak kuat, karena tidak ada bukti suara pengancaman di sana, jadi ini tidak bisa dijadikan bukti" ujar kepala sekolah memberikan pengertian pada Vanno bahwa bukti yang diberikan masih belum bisa dijadikan acuan untuk barang bukti.


Vanno menatap ke arah kepala sekolah dengan frustasi, nafasnya mendesah kuat untuk menghirup udara sebanyak banyaknya. Lalu dia mengutak atik ponselnya kembali kemudian memberikan kembali kepada kepala sekolah.


" Di sini ada bukti rekaman suara pengakuan dari korban" ucap Vanno kembali memberikan ponselnya pada kepala sekolah. " Dan yang ini rekaman suara pelaku saat kami menanyakan kejadian penyekapan, meskipun tidak ada bukti rekaman gambarnya, bapak bisa mendengar suara pelaku yang ketakutan" lanjutnya menunjukkan 2 rekaman suara di ponselnya.


Kepala sekolah langsung memutar rekaman tersebut dan mendengarnya dengan seksama.