My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Siapa Mereka?



"Jaga emosi kamu!" sahut Robert balik kesal dengan sikap Vanno. " Kamu mau ada yang tau dengan rencana kita untuk mencari bukti rekaman cctv, dan akhirnya mereka duluan yang menghilangkan jejak kejahatan mereka!" lanjut Robert menjelaskan maksudnya yang berusaha menahan Vanno tadi saat di hadapan pak Indra.


Robert tadi menahan Vanno yang akan pergi dan langsung menghadap kepala sekolah karena dia tidak ingin Vanno berbuat gegabah. Sehingga nantinya akan ada yang mengetahui rencana mereka yang ingin mencari bukti keterlibatan seseorang dengan kejadian yang dialami Hanna.


Vanno akhirnya terdiam tanpa ingin mendebat Robert lagi. Dalam hatinya dia membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya tersebut yang selalu mengerti dan memahami situasi dan kondisi sekitarnya. Robert juga adalah orang selalu bisa mengatasi masalah yang sedang terjadi saat itu dan bagaimana menyelesaikannya tanpa membuat masalah yang baru lagi.


Ketiga teman mereka yang sedari tadi menunggu di luar ruangan guru langsung berdiri dan berjalan menghampiri Robert dan Vanno.


" Gimana?" tanya Dewa langsung tanpa menunggu lebih lama.


Tanpa menjawab pertanyaan Dewa, Vanno berjalan melewati semuanya dan mencari tempat duduk. Robert hanya menggeleng dan mengikuti Vanno yang sudah duduk di bangku tunggu di depan ruang guru dan diikuti yang lainnya.


" Gimana Bert, apa kalian sudah mendapatkan rekamannya?" kini Dita yang bertanya langsung pada Robert, dia pasti tidak akan pernah mendapatkan jawaban jika bertanya pada Vanno.


Robert melihat Dita dan menggelengkan kepalanya. " Belum" jawab Robert dengan wajah lesu.


" Terus sekarang gimana? apa yang harus kita lakukan?" kini Viona yang bertanya dengan wajah sedihnya.


Robert menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan pelan. " Kita tunggu pak Indra yang sekarang menghadap kepala sekolah dan meminta ijin sama kepala sekolah untuk melihat rekaman cctv yang kita mau" jawab Robert lagi tidak ingin membuat sahabat lainnya bingung dan sedih.


" Kenapa tidak kita saja yang langsing ijin dan meminta rekaman cctv pada kepala sekolah?" kini Dewa bertanya lagi.


Robert langsung menatap ke arah Dewa dengan tatapan tajam lalu memukul pelan bahu Dewa. " Kita gak boleh gegabah, jangan sampai ada yang tau kalau kita sedang mencari bukti bukti kejadian yang menimpa Hanna. Biarkan pak Indra membantu kita terlebih dahulu jika tidak berhasil biar Vanno yang langsung bertindak entah dia sendiri atau melalui papinya" sahut Robert menjelaskan pada semua sahabatnya agar tidak ada yang bertanya lagi.


Semua mengangguk mengerti sekarang mereka tinggal menunggu saja hasil yang dilakukan pak Indra. Mereka diam dengan masing masing pikiran mereka sendiri. Dewa yang sedikit bosan langsung mengeluarkan ponselnya dan bermain game sambil menunggu pak Indra. Begitu juga yang lainnya juga ikut mengeluarkan ponsel mereka untuk mengurangi kejenuhan mereka sambil menunggu pak Indra.


Berbeda dengan Vanno dia terus diam sambil memejamkan matanya dengan kepala bersandar di tembok. Dia bukannya tidur, dia hanya ingin berdiam sambil membayangkan wajah Hanna dan berfikir keras mencari cara lain untuk mencari bukti-bukti.


Robert malas memainkan game di ponselnya, pikirannya masih tertuju pada kejadian yang dialami oleh Hanna. " Apa kalian pernah melihat Hanna memiliki masalah dengan murid lainnya di sini?" tanya Robert pada Dita dan Viona setelah dia memasukkan ponsel di saku celananya.


Dita dan Viona yang sedang bermain ponselnya langsung menoleh ke arah Robert. Kening keduanya langsung berkerut mencerna pertanyaan Robert. Kemudian Dita dan Viona saling bertatap seolah saling bertanya satu sama lain dengan masih berfikir keras.


" Entahlah... sepertinya tidak pernah" jawab Dita dengan sedikit ragu.


" Mungkin ada yang tersinggung dengan Hanna atau pernah bersitegang dengan Hanna?" tanya Robert lagi seperti detektif yang sedang menginterogasi.


Dewa yang mendengar percakapan mereka akhirnya mengakhiri permainannya. Dia ikut mendengarkan dengan seksama apa yang ditanyakan oleh Robert pada Dita dan Viona.


Vanno sendiri yang hanya berpura pura tidur dapat mendengar obrolan mereka, karena suasana yang sepi dan mereka duduk bersebelahan jadi Vanno masih bisa mendengarkan semua ucapan mereka semua. Tanpa membuka mata dia menajamkan pendengarannya siapa tau nanti dia akan menemukan kejanggalan dari jawaban Dita dan Viona.


Viona sedari tadi hanya diam nampak berfikir keras tidak menghiraukan perkataan teman temannya. Entah apa yang dipikirkannya sampai sampai matanya menyipit, kedua alisnya berkerut tajam.


" Tunggu dulu!" seru Viona berdiri cepat yang langsung membuat yang lainnya terkejut dan melihat ke arahnya kecuali Vanno yang hanya membuka matanya sambil melirik ke arah Viona yang sedang berdiri tapi tidak lama kemudian dia menutup matanya dengan malas.


" Sialan! bikin kaget aja kamu Vi!" seru Dita yang terkejut karena suara Viona yang berteriak di sebelahnya. Dia memukul pelan tangan Viona yang sedang berdiri di sebelahnya.


" Iya nih... bikin kaget semuanya aja" Dewa ikut menimpali ucapan Dita yang juga kesal dengan suara Viona yang cempreng.


" Kamu ingat sesuatu Vi?" tanya Robert dengan menatap Viona penuh selidik.


Viona termasuk cewek yang lugu, berfikir lambat dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya seolah dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Tapi dia akan selalu berkata jujur apapun itu, selain itu ingatannya sangat tajam, dia akan selalu mengingat apa yang terjadi beberapa hari ke belakangnya. Bahkan dia juga bisa mengingat dengan jelas akan kejadian ataupun perkataan orang lain beberapa hari yang lalu.


Viona langsung mengangguk yakin sambil tersenyum tipis. Dita dan Dewa yang melihat Viona mengangguk langsung membuka mata lebar. Mereka yakin Viona sedang tidak bercanda karena Viona tidak akan berkata berbohong jika sedang serius.


" Apa itu?" tanya Robert yang sudah tidak sabar begitu juga dengan Dewa dan Dita.


Vanno juga menajamkan pendengarannya dengan mata tetap berpura pura tertutup. Dia ingin mendengar apa yang akan disampaikan oleh Viona.


" Beberapa hari yang lalu, waktu kita di kantin bertiga setelah kalian pergi mengejar Vanno yang tiba-tiba pergi dari kantin kalian ingat?" Viona mulai bercerita dengan mengingatkan yang lainnya.


Semua tampak berfikir mengingat kejadian itu. " Ooo... iya aku ingat, itu kan yang katanya Dita kita berenam dikira pasangan kekasih" sahut Dewa yang ingat saat kejadian yang dimaksud oleh Viona.


" Iya kamu betul" membenarkan ucapan Dewa. "Saat itu Vanno kan langsung pergi dan kalian nyusul Vanno takut Vanno marah gara gara digosipin pacarnya Hanna" sambungnya sedikit demi sedikit menceritakan kejadian yang dialami Hanna dan dirinya serta Dita.


Dita yang mulai mengingat akhirnya menganggukkan kepalanya tapi dia tidak ingin menghentikan cerita Viona. Dia tau jika dia sampai menyela cerita Viona maka dalam sekejap saja Viona akan lupa dengan apa yang ingin dia sampaikan. Biarlah Viona yang bercerita nanti jika ada kurangnya maka dia akan menambahkan.


" Terus" sahut Robert menginginkan Viona untuk segera menyelesaikan ceritanya.


" Setelah kalian pergi, ada 3 murid mendatangi kita dan langsung marah marah sama Hanna" cerita Viona lagi. " Dia datang marah marah pake ngancem ngancem kita terutama Hanna. Iya kan Ta kamu ingat gak?" sambungnya dan mencoba mengingatkan Dita saat kejadian itu.


Dita yang ditanya mengangguk mengiyakan cerita Viona. Tapi dia masih diam berusaha untuk membiarkan Viona yang bercerita terlebih dahulu.


" Dia marah marah karena Hanna dekat sama Vanno, dan dia menyuruh Hanna dan kita berdua buat menjauhi dari kalian semua, tapi Dita dan Hanna masih saja berusaha melawan ucapan mereka" mencoba mengingat ingat kejadian waktu itu.


Semua diam mendengarkan cerita Viona dan mereka semua tidak ingin menghentikan atau bertanya pada Viona sebelum ceritanya selesai.


" Dan mereka akhirnya ngancem kita, kalau kita masih saja dekat sama kalian, katanya, dia akan buat kita gak betah sekolah disini, habis itu mereka pergi begitu saja" cerita Viona yang hanya menceritakan kejadian saat itu meskipun tidak mengatakan apa saja yang dikatakan waktu itu yang penting dia sudah bercerita intinya saja yang pasti dimengerti oleh semua temannya.


" Apa itu benar Ta?" kini Robert bertanya pada Dita untuk lebih meyakinkan lagi.


Dita mengangguk mengiyakan. " Iya... benar kata Vio waktu itu kita memang diancam sama murid lain dan kalau gak salah mereka sepertinya kakak kelas kita " membenarkan cerita Viona. " Kita sudah biasa mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari semua murid hanya karena kita dekat sama kalian. Tapi baru pertama itu kita diancam sama salah satu murid yang sepertinya menyukai Vanno" lanjutnya lagi.


Vanno yang bisa mendengar cerita Viona dengan jelas ditambah kata Dita yang membenarkan cerita Viona masih saja berpura pura menutup mata. Tanpa disadari kedua tangannya mengepal dengan kuat dan nafas naik turun dengan cepat, terlihat Vanno yang begitu marah saat mendengar cerita Viona. Rasanya dia ingin segera memukul seseorang untuk melampiaskan amarahnya.


" Aku yakin itu pasti mereka" ucap Robert penuh dengan keyakian.


Semua mengangguk setuju dengan pemikiran Robert. " Van.. kamu dengar kan?" tanya Dewa sambil menepuk bahu Vanno pelan karena dia tau Vanno hanya pura pura tidur saja.


" Hemm..." jawab Vanno hanya bergumam tanpa membuka matanya.


"Kalian tau siapa mereka? atau mungkin jika kalian tidak tau siapa mereka, kalian pasti tau kan mereka di kelas apa" tanya Robert ingin segera mengetahui siapa cewek yang sudah berani mengancam sahabatnya. Dan dia meyakini mereka adalah orang yang terlibat dengan kejadian yang dialami oleh Hanna.


Dita dan Viona selain berpandangan seolah bertanya satu sama lain akan pertanyaan yang diajukan oleh Robert. Mereka berdua balik melihat Robert dan langsung menggeleng pelan tidak tau merasa bersalah karena tidak mengetahui siapa mereka.