My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Kenapa Gak Bilang



Hanna selesai buang air kecil di kamar mandi khusus untuk karyawan restoran tersebut. Setelah Vanno sedikit bersitegang dengan karyawan hotel karena memaksa bahkan sedikit mengancam karyawan restoran.


Hanna keluar dari kamar mandi setelah selesai dengan acaranya buang air kecil yang sudah dia tahan sedari tadi. Dilihatnya Vanno berdiri dengan tangan memegang ponsel, tidak jauh menunggu dirinya dengan tas yang berada di punggungnya serta tas selempang Hanna. Tidak lupa 2 koper kecil punya dirinya dan punya Hanna yang ada di sebelahnya.


Vanno mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka langsung mendongakkan kepalanya. " Sudah selesai?" tanya Vanno pada Hanna yang sedang berjalan mendekati dirinya


" Sudah, yuk kita kembali" Hanna mengangguk dan langsung mengajak Vanno untuk kembali ke kamar mandi pengunjung.


Tanpa menjawab ajakan Hanna, Vanno langsung berbalik untuk kembali dengan langkah cepat. Hanna yang masih berdiri di tempatnya langsung mengejar Vanno yang sudah berjalan dengan cepat.


" Vanno...!" panggil Hanna dengan berjalan cepat untuk menyamai langkah Vanno yang kini berjalan di depannya.


Vanno tidak menjawab, dia terus berjalan tanpa berhenti atau menoleh ke belakang. Bahkan mereka sempat bertemu kembali dengan pegawai restoran yang tadi sempat bersitegang dengan Vanno.


" Van...." panggil Hanna lagi. " Sini tas sama koperku biar aku bawa sendiri!" minta Hanna yang masih bejalan di belakang Vanno dengan jarak hanya selisih 1 langkah saja.


Vanno tiba tiba berhenti dengan cepat dan langsung berbalik ke belakang. Hanna sendiri yang berjalan di belakang tanpa sengaja langsung menabrak dada dan sangat terkejut karena Vanno yang kini sudah menghadap ke arahnya.


" Aduhhh... bilang dong kalau mau berhenti, bikin kaget aja!" seru Hanna dengan wajah cemberutnya karena tanpa sengaja wajahnya menabrak dada Vanno.


" Makanya jangan suka melamun" ejek Vanno dengan kesal karena ditabrak oleh Hanna dia juga menyalahkan Hanna. Tapi untungnya Hanna adalah anak yang lebih pendek dari Vanno dan tidak gemuk, sehingga Vanno masih bisa menahan tabrakan mereka serta menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh.


" Ahh...sudahlah! mana tas dan koperku?" minta Hanna sekali lagi dengan wajah cemberutnya karena disalahkan lagi oleh Vanno.


Vanno langsung melepaskan tas selempang Hanna dan memberikan koper Hanna. " Nih...!" ucap Vanno dengan wajah dinginnya. " Jangan sampai tertinggal lagi" lanjut Vanno menasehati Hanna.


" Iya...!" sahut Hanna dengan wajah sebalnya karena sikap dingin Vanno yang mulai muncul lagi. Hanna pergi dan berjalan melewati Vanno, tiba tiba tangan Hanna di pegang dan ditarik oleh Vanno hingga dia kembali kembali lagi berdiri di hadapan Vanno.


" Apa lagi..?!" tanya Hanna melihat sikap Vanno yang seenaknya saja.


" Kenapa gak bilang" ucap Vanno yang membuat Hanna langsung mengerutkan kedua alisnya bingung dengan ucapan Vanno yang tidak jelas sama sekali.


" Bilang apa sih?" tanya Hanna yang masih belum mengerti dengan maksud Vanno.


" Ck!" Vanno berdecak kesal dengan ucapan Hanna. " Kalau ada orang bantuin kamu, harusnya kamu bilang apa!" kata Vanno mengingatkan.


Tidak lama Hanna mengerti maksud dari perkataan Vanno. " Ceh..!" Hanna seketika hanya bisa berdecih dengan sikap Vanno yang menyebalkan. " Bilang kek dari tadi! jangan bikin orang penasaran" lanjut Vanno.


Vanno hanya diam tanpa merespon ejekan dan matanya masih setia melihat wajah Hanna yang terlihat kesal dengan ulahnya.


" Ya sudah, makasih sudah mau bawain tas dan koper aku ya Vanno yang dingin, cuek dan menyebalkan!" akhirnya Hanna berterima kasih dengan suara yang dibuat buat manja tapi terdengar menyebalkan.


" Hemmm..." sahut Vanno yang hanya bergumam tanpa bersuara dan tangannya yang memegang tangan Hanna terlepas begitu saja tapi dalam hatinya dia tersenyum bahagia dengan sikap Hanna yang selalu membuatnya senang.


Hanna berjalan kembali menjauh dari Vanno dengan menghentakkan kakinya ke lantai merasa kesal dengan sikap Vanno yang masih menyebalkan. Vanno sendiri berbalik dan berjalan di belakang Hanna dengan senyum tipis di bibirnya melihat tingkah Hanna di depannya menuju ke kamar mandi pengunjung yang sudah terlihat sepi.


Mereka langsung membersihkan badan mereka yang sudah terasa lengket dan melaksanakan ibadah sholat subuh di mushola yang tersedia di sana.


Sementara itu sewaktu Vanno menarik tangan Hanna yang sedang antri untuk masuk ke kamar mandi. Tindakan mereka tidak luput daripada keempat sahabat mereka yang juga berada di sana dan melihat tindakan Vanno dengan sangat jelas.


Setelah mereka selesai membersihkan badan dan melaksanakan sholat subuh, akhirnya mereka berkumpul lagi di tempat yang terlihat sepi. Tentu saja mereka akan membahas tentang tindakan Vanno yang tiba tiba menarik tangan Hanna dan mengajaknya pergi.


Ketiganya hanya menggeleng karena mereka juga tidak tau apa yang telah dilakukan oleh Vanno terhadap Hanna.


" Tapi tadi aku lihat Vanno membawa 2 koper dan tas selempang milik cewek? apa menurut kalian itu punyanya Hanna?" kini Dewa yang bertanya dengan penasaran.


" Iya tadi aku juga lihat, tapi hanya sekilas saja karena Vanno langsung menarik tangan Hanna menjauh" sahut Viona yang juga melihat meskipun hanya sekilas.


" Sepertinya kita hanya perlu memantau mereka saja, karena aku yakin saat ini mereka sudah mulai berbaikan lagi" pikir Dita. " Tadi waktu di bus, aku mengajak Hanna turun, tapi dia malah menyuruhku untuk tidak berisik karena Vanno sedang tidur, sepertinya tadi malam mereka sudah pasti mulai dekat lagi" lanjutnya masih menerka.


" Trus apa yang harus kita lakukan selanjutnya? kita masih belum tau apakah mereka sudah baikan atau belum" tanya Dewa.


" Sepertinya kita pakai rencana yang mudah dulu, kita bisa ajak mereka berkeliling bersama saat melihat tempat rekreasinya" ucap Robert kini memiliki ide lagi. " Tapi kalian berdua jangan sering berbicara dengan Hanna, biarkan Hanna merasa sendiri. Aku dan Dewa juga akan melakukan hal yang sama sehingga mereka nanti bisa mengobrol karena merasa dicueki sama kita semua, gimana?" jelas Roberta dan meminta pendapat ketiga temannya.


" Bisa kita coba, sebelum nanti kita melanjutkan rencana yang yang lainnya jika rencana yang ini tidak berhasil" sahut Dita.


Dewa dan Viona hanya bisa mengangguk mengiyakan ajakan rencana Robert yang selalu bisa mencari solusi di saat mereka sedang kebingungan seperti saat ini.


" Ya sudah kita ke sana dulu, sepertinya Hanna sudah mencari kita" kata Dita yang melihat Hanna sudah selesai dengan kegiatan paginya.


Dita langsung menarik Viona untuk pergi menjauh dari Robert dan Dewa dan berjalan mendekati Hanna yang sedang sendiri menata baju kotornya. Dita tidak ingin Hanna curiga dan tau bahwa mereka sedang merencanakan sesuatu. Robert dan Dewa masih duduk dan diam saja di sana sambil menunggu Vanno yang pasti akan mencari mereka berdua.


Tidak lama kemudian mereka semua disuruh berkumpul oleh para guru tiap kelas. Dan mereka langsung diajak masuk ke dalam ruangan yang terlihat sangat besar. Di sana tersedia beberapa meja yang digabung memanjang dan beberapa kursi yang saling berhadapan.


Dan di pinggir tembok terdapat meja memanjang yang menyediakan berbagai masakan. Ternyata mereka diajak untuk sarapan bersama semuanya. Anak anak mengambil makanan secara antri dan kebetulan antara anak cewek dan cewek dipisahkan. Tidak hanya makanannya yang dipisahkan, tempat duduknya juga terpisah tapi masih dalam satu ruangan besar tersebut.


Dita, Hanna dan Viona duduk berjajar setelah mengambil makanan masing masing yang sudah disediakan prasmanan. Mereka bergabung dengan teman cewek kelasnya ataupun kelas lainnya.


" Han... kamu tadi diajak Vanno kemana?" tanya Dita di sela sela makan mereka dengan suara lirihnya agar tidak terdengar oleh cewek lain yang duduk di sebelahnya.


" Oh.. tadi aku udah gak kuat buang air kecil karena tadi antriannya banyak banget, trus dia ngajakin aku buat ke kamar mandi khusus karyawan restoran yang ada di dalam tadi" jawab Hanna.


" Jadi kalian sudah baikan nih?" tanya Viona dengan senyum menggoda.


Hanna hanya mengangkat bahunya tanpa menjawab pertanyaan Viona karena dia sendiri juga tidak tahu. Dita dan Viona yang menunggu jawaban Hanna hanya terdiam dengan membuang nafas.


' Sepertinya mereka masih belum berbaikan' batin Dita dengan perasaan kecewanya.


" Apa kalian gak bicara apa apa?" tanya Dita yang masih penasaran.


" Bicara sih... tapi kalian kan tau gimana itu anak!" gerutu Hanna yang kesal. " Dingin dan cuek!" kesal Hanna mengingat sikap Vanno yang tiba tiba baik tapi setelah itu bersikap dingin lagi bahkan terkadang membentaknya.


Sementara itu Robert, Dewa dan Vanno juga sama mereka saat ini juga duduk di kursi yang bersebelahan bersama teman cowok lainnya.


"Oh iya Van.. tadi kamu ajak Hanna kemana? sampek narik narik tangannya segala?" tanya Robert.


Vanno tanpa menggubris pertanyaan Robert ataupun menjawabnya. Dia hanya mengangkat bahunya sebentar tanpa menghentikan acara makannya. Di enggan menjawab pertanyaan kedua sahabatnya yang pasti akan semakin kepo jika dia menjawabnya. Apalagi Dewa yang selalu ingin tau segala sesuatu yang terjadi pada semua orang.


Apalagi jika mengingat pertanyaan Dewa beberapa Minggu yang lalu tentang dirinya dan Hanna. Dan karena pertanyaan itu dia menjadi semakin dingin pada Hanna, entah kenapa dia bisa menjadi dingin, mungkin karena sedikit canggung dan risih jika mengingat pertanyaan Dewa, bahkan dia menjadi lebih dingin daripada sebelumnya.


Makanya lebih baik dia diam saja daripada nanti mereka berdua semakin ingin tau dan akhirnya membuat dirinya tidak nyaman jika sedang dekat dengan Hanna. Apalagi Hanna terlihat juga canggung jika bersama denganku dan untungnya dengan adanya rekreasi ini dia berharap hubungan pertemanan mereka menjadi lebih bahkan lebih baik daripada sebelumnya.