
Malamnya Vanno diantar ke sekolah oleh keluarganya sendiri. Ferdi mengemudikan sendiri mobil mereka dengan maminya yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Vanno duduk di kursi belakang bersama kedua adiknya, dimana Keisha yang duduk di tengah diantara kedua kakaknya.
Tadinya Rion tidak ingin ikut mengantar kakaknya ke sekolahannya, tapi karena disuruh oleh papinya akhirnya dia tidak bisa menolak lagi. Akhirnya dengan terpaksa dia ikut mengantar sang kakak yang akan pergi rekreasi bersama dengan teman teman sekolah.
Sehabis sholat magrib berjamaah, Ferdi memang mengajak seluruh anggota keluarganya untuk berangkat langsung mengantar Vanno ke sekolahannya. Selain itu Ferdi sekalian akan mengajak mereka makan malam di luar terlebih dahulu. Dan Ferdi sudah memberitahu istrinya, agar Alya tidak memasak untuk makan malam mereka.
Rion memang memiliki sikap yang menyebalkan, entah darimana sifat tersebut diturunkan. Meskipun dia sangat menyebalkan dan pencicilan, bahkan sikapnya sangat berbanding terbalik dengan Vanno. Tetapi Rion juga anak yang selalu menurut sama orang tuanya terutama papinya dan tidak akan pernah berani membantah perkataan papinya.
" Papi belum kasih aku uang saku" ucap Vanno yang memang belum diberi uang saku oleh Ferdi.
" Papi belum ambil uang, habis ini kita mampir dulu di ATM sekalian kita makan malam" sahut Ferdi tanpa melihat ke belakang karena dia sedang menyetir.
" Pi... Kei mau makan ayam goreng Upin ipin" ucap Keisha dengan suaranya yang lucu dan sangat menggemaskan.
" Iya sayang.... nanti kita makan ayam goreng Upin Ipin kesukaan Kei ya" sahut Ferdi dengan tersenyum mendengar putri kesayangannya tersebut yang sangat menggemaskan.
Suasana di dalam mobil semakin hangat dan ceria dengan kehadiran Keisha yang selalu membuat mereka berempat tersenyum. Dan hanya Keisha yang bisa membuat ketiga laki laki di keluarga Adi Wijaya menjadi hangat karena keceriaannya yang selalu membuat mereka tersenyum begitu juga dengan Alya.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di salah satu restoran yang juga menjual ayam goreng kesukaan Keisha. Karena keinginan Keisha yang ingin memakan ayam goreng Upin Ipin seperti di televisi. Dan untungnya Ferdi juga mengajak keluarganya makan di restoran yang searah dengan sekolah Vanno jadi mereka tidak akan memutar arah jalan mereka untuk menuju ke sekolahan Vanno.
Setelah makanan yang mereka pesan sudah tersaji di meja, mereka langsung menyantapnya. Keisha sudah bisa makan sendiri dengan sedikit di bantu oleh maminya. Dan setelah mereka selesai makan, Ferdi membayarnya dengan menggunakan kartu kreditnya, kemudian mereka segera masuk kembali ke dalam mobil.
Ferdi melajukan lagi mobilnya untuk mencari tempat mesin ATM. Dan akhirnya dia berhenti di mini market yang juga terdapat mesin ATM di dalamnya, Ferdi langsung menghentikan mobilnya di depan mini market tersebut.
" Kamu gak pengen belanja sekalian sayang?" tanya Ferdi yang sebenarnya ingin mengajak istrinya turun dan ikut masuk ke dalam mini market.
" Ya sudah aku mau beli camilan buat mereka" sahut Alya yang ikut keluar bersama Alya.
Meskipun mereka berdua sudah punya 3 anak, Ferdi masih sangat mencintai Alya bahkan semakin posesif setiap harinya. Dia langsung menggandeng tangan Alya dan mengajaknya masuk kedalam mini market. Ferdi langsung menuju ke mesin ATM dan Alya berputar terlebih dahulu belanja camilan untuk anak anaknya terutama untuk Vanno agar bisa dimakan bersama teman temannya nanti.
Setelah Alya selesai belanja dengan dibantu Ferdi mereka langsung menuju ke kasir. Ferdi segera membayar belanjaan yang dibeli istrinya dimana terdapat 2 kantong besar. Lalu mereka masuk kembali ke dalam mobil dan memberikan satu kresek berisi camilan untuk anak anaknya agar mereka memakannya.
" Ini uang sakunya, gunakan dengan sebaik baiknya" ucap Ferdi sambil memberikan beberapa lembar uang seratusan ribu rupiah pada Vanno. "Hati hati menggunakannya, gunakan untuk kebutuhan kamu di sana" lanjut Ferdi menasehati putra sulungnya.
" Makasih pi" Kat Vanno sambil menerima uang tersebut dan memasukkannya ke dalam dompetnya yang ada di dalam tasnya. Uang saku yang diterima Vanno lumayan banyak untuk ukuran uang saku rekreasi bagi anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
" Dan gak usah beli oleh oleh buat kita semua, kita bisa sendiri membelinya di sini" Alya ikut menasehati Vanno. " Kamu gunakan untuk keperluan kamu selama di sana" lanjutnya.
" Iya mi.." mengiyakan nasehat maminya sambil mengangguk yang sedang memangku adik perempuannya.
Ferdi segera melajukan mobilnya kembali menuju ke sekolahan Vanno yang letakkan sudah tidak jauh. Dan tidak lama mereka sudah sampai di depan sekolah Vanno.
Vanno langsung turun dan mengambil kopernya yang ada di kursi belakang sendiri begitu mobil yang dikemudikan papanya berhenti. Dan diikuti yang lainnya yang juga turun dari mobil untuk mengantar Vanno sampai naik ke dalam bus. Lalu mereka berjalan mendekat ke halaman sekolah yang sudah penuh dengan anak anak serta para pengantar. " Ini camilan buat kamu dan teman teman kamu" Alya memberikan sekantong kresek berisi makanan ringan yang dibelinya tadi.
" Iya mi" sahut Vanno tanpa menolak pemberian Alya. " Vanno berangkat dulu ya mi" pamit Vanno pada maminya lalu mencium tangan kanan, pipi dan kening Alya dan berpelukan sebentar.
Lalu dia bergantian berpamitan pada Ferdi dan melakukan hal yang sama seperti maminya. Tidak lupa di juga berpamitan pada kedua adiknya bedanya hanya mereka yang mencium tangan kanan Vanno lalu berpelukan. Dan di sini terlihat bahwa Vanno yang memiliki sikap dingin sangat menyayangi keluarganya terutama adik adiknya.
" Hai Van... baru datang?" tanya Robert yang melihat Vanno baru datang dan kini sudah berdiri di sebelahnya.
" Hemm..." sahut Vanno hanya dengan gumaman. " Nih... jajan buat kalian tadi dibelikan sama mami" Vanno memberikan kantong kresek berisi camilan yang dibeli oleh Alya tadi pada Robert.
" Makasih Van, biar aku yang bawa" Dewa langsung saja menyambar kantong kresek tersebut dengan cepat bahkan bibirnya tersenyum jahil.
Vanno dan Robert hanya bisa memutar matanya jengah dan menggeleng pelan melihat tingkah menyebalkan sahabat mereka yabg satu itu.
Tatapan Vanno yang terlihat dingin, tapi matanya mengawasi sekitarnya mencari seseorang yang terlihat belum datang. Padahal kedua sahabatnya sudah datang dan berdiri di depan mereka.
Sementara itu Hanna yang baru saja tiba di sekolah, langsung berpamitan dengan kedua orang tuanya dan langsung berjalan mendekati teman temannya yang sudah berbaris untuk mendengarkan pengarahan dan pembagian tempat duduk mereka di dalam bus.
Suasana yang terlihat ramai membuat Hanna sedikit kebingungan mencari kedua sahabatnya karena mereka semua terlihat berbeda jika sudah berpakaian bebas seperti saat ini.
Viona yang melihat Hanna sedang berjalan dan kebingungan, dia langsung melambaikan tangannya agar Hanna bisa melihat dirinya. "Han...." panggil Viona dengan senyum cerahnya dan sontak saja membuat Dita dan ketiga cowok yang berdiri di belakang mereka langsung melihat ke arah pandang Viona.
Hanna yang meras dipanggil dan dia langsung bisa melihat Viona yang sedang melambaikan tangan pada dirinya. Hanna berjalan mendekat ke arah mereka. " Hai..." sapa Hanna begitu dia telah sampai di hadapan kedua sahabatnya.
Dan tidak jauh dari mereka berdiri ada Robert, Dewa dan Vanno yang masih memperlihatkan wajah dinginnya. Dari tadi mereka memang sudah berdiri di belakang Dita dan Viona.
" Baru datang?" tanya Dita yang saat ini sedang berpelukan bertiga.
" Dasar lebay!" ejek Dewa dengan suara lirih tapi yang hanya bisa didengar oleh Robert dan Vanno.
" Kena semprot Dita baru tau rasa kamu!" ucap Robert pelan penuh penekanan.
Vanno yang berdiri di samping mereka, hanya diam tanpa ekspresi dengan wajah dinginnya. Dia merasa lega karena orang yang dari tadi dicarinya kini sudah datang meskipun dia tidak menyapanya. Tanpa ada yang mengetahui bahwa dirinya berkali kali selalu mencuri pandang pada Hanna.
Mereka semua diam saat guru wali kelas mereka menyampaikan arahan. Dan setelah itu ketua kelas membacakan tempat duduk teman teman sekelasnya di dalam bus.
Hanna tidak menyangka bahwa dirinya harus duduk bersama dengan Vanno. Ternyata tempat duduknya di acak antara cowok dan cewek. " Kenapa aku harus duduk sama dia sih?" gumam Hanna dengan pelan tapi Dita yang berdiri di sampingnya masih bisa mendengar gumaman Hanna.
" Gak pa apa Han, dengan begitu kalian kan akrab lagi seperti dulu" ucap Dita tersenyum licik berusaha memprovokasi, agar Hanna tidak mencurigai dirinya yang memiliki rencana mendekatkan mereka kembali bersama teman teman yang lainnya.
" Apaan sih kamu, apa tidak bisa ganti tempat duduk?" tanya Hanna berbisik di telinga Dita agar suaranya tidak terdengar oleh Vanno yang mang dari tadi berdiri di belakangnya.
" Ya gak bisa lah Hanna sayang... Bu Desi pasti juga gak akan mengijinkan kita pindah bangku" sahut Dita dengan tersenyum tipis melihat ketidaknyamanan Hanna yang harus duduk bersebelahan dengan Vanno.
Sementara itu Vanno yang mengetahui bahwa dia duduk bersama Hanna, tiba tiba tersenyum tipis sekali, bahkan tidak akan ada yang tau bahwa saat ini dirinya sedang tersenyum tipis. Hatinya benar benar senang akhirnya dia bisa duduk dengan Hanna.
' Ini adalah kesempatanku untuk mengajak dia berbicara dan berteman lagi seperti dulu' batin Vanno dengan senang karena rencananya untuk mengajak Hanna berbicara dan berteman lagi seperti dulu akhirnya bisa terlaksana.
Dia bertekad nanti akan berusaha untuk mendekati Hanna dan mengajaknya berteman lagi.