My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Bersiap Siap



Di rumah Hanna sedang menyiapkan segala keperluan yang dia butuhkan untuk rekreasi bersama teman teman sekolahnya. Dia akan memasukkan beberapa baju ke dalam koper kecil miliknya, perintah dari ketua panitia pelaksana rekreasi tadi agar semuanya membawa koper saja yang akan lebih enak jika dibawa dan tas selempang kecil.


Hanna tidak membawa banyak baju karena mereka akan melakukan perjalanan rekreasi Jakarta - Yogyakarta selama 4 hari 3 malam. Dia juga tidak membawa makanan ringan atau Snack untuk menemani perjalanannya nanti. Karena pihak sekolah dan pihak pemilik bus pariwisata sudah menyiapkan segala kebutuhan anak anak. Dari semua makanan berat dan ringan serta peralatan medis dan obat obatan untuk anak anak dan semuanya.


Bahkan mereka menyewa bus pariwisata yang paling mewah di Jakarta. Dengan harga yang mahal tiap anak, tapi sebanding dengan segala fasilitas yang terlengkap dan terbaik di dalam bus tersebut. Dan tentu saja itu semua atas permintaan para wali murid yang ingin memberikan fasilitas yang terbaik untuk perjalanan anak anak mereka agar mereka merasa senang.


" Apa semua sudah dimasukkan sayang?" tanya ita yang masuk ke dalam kamar putrinya.


" Belum mah, ini aku masih mengeceknya dulu habis itu aku masukkan ke dalam koper" jawab Hanna yang masih meletakkan barang barang yang akan dia bawa untuk rekreasi di atas ranjangnya.


Hanna memang anak yang sangat teliti dengan segala hal. Makanya dia sengaja meletakkan semua keperluan yang sudah disiapkan di atas ranjangnya agar dia bisa mengecek dengan pasti semua brang bawaannya sebelum dimasukkannya ke dalam koper kecilnya. Tadi di sekolah semua anak sudah diberi catatan kecil yang berisi segala kebutuhan yang harus mereka bawa dari rumah.


Vita masuk dan mendekati Hanna yang sedang duduk di atas ranjangnya. " Sini mama bantu masukin ke dalam koper" ucap Vita ingin membantu putrinya untuk menyiapkan segala kebutuhannya.


" Sebentar ma, ini masih Hanna cek dulu, sudah lengkap apa belum" sahut Hanna yang sesekali melihat kertas yang dipegangnya untuk memastikan.


Tidak lama Hanna sudah selesai mengecek semuanya dan segala kebutuhannya sudah lengkap. Akhirnya Hanna dan Vita mulai memasukkan dan menata semua barangnya ke dalam koper. Dan untungnya semua bisa masuk ke dalam koper tanpa ada yang ketinggalan meskipun koper yang dipakai Hanna tergolong kecil.


Setelah itu dia memasukkan barang barang kecil yang akan dia butuhkan sewaktu waktu ke dalam tas selempang yang nantinya akan dia bawa kemana mana. Sehingga dia tidak perlu membuka kopernya yang pasti akan diletakkan didalam bagasi. Dan kebetulan mereka diperbolehkan membawa ponsel atau kamera untuk mengabadikan momen bahagia mereka.


" Sudah selesai" seru Hanna dengan gembiranya setelah selesai merapikan semua keperluannya ke dalam koper dengan dibantu mamanya.


Vita tersenyum melihat raut kebahagiaan di wajah Hanna. " Memangnya boleh membawa ponsel sayang?" tanya Vita yang melihat Hanna memasukkan ponsel, headset serta cas ke dalam tas selempang.


" Boleh mah, ini tulisannya ada" Hanna memberikan ketikan di kertas yang tadi diberikan oleh ketua pelaksana rekreasi. " Tadi juga sudah diberitahu, boleh bawa ponsel atau kamera" lanjutnya memberitahu Vita.


Vita melihat kertas yang diberikan oleh Hanna dan benar saja ternyata di sana tertulis boleh membawa ponsel atau kamera. Vita mengangguk dan tersenyum ke arah putrinya dan mengembalikan kertas yang tadi diberikan putrinya. " Hati hati bawanya" kata Vita menasehati dengan wajah sedikit khawatir karena selama ini Hanna belum pernah membawa ponsel di luar rumah


" Siapp ma...!" seru Hanna dengan senyuman sedari tadi terbit di bibirnya. Lalu meletakkan koper dan tasnya di depan sebelah pintu kamarnya.


" Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu biar nanti tidak kecapean di perjalanan" suruh Vita karena hari memang masih siang dan Hanna bisa beristirahat terlebih dahulu karena dia akan berangkat nanti malam.


Hanna mengangguk dan Vita beranjak dari duduknya lalu mencium kening Hanna sebentar. Kemudian Vita keluar dari kamar putrinya, sedangkan Hanna sendiri langsung merebahkan tubuhnya di ranjang untuk tidur siang terlebih dahulu. Tidak lama dia akhirnya tertidur karena sedikit lelah setelah mempersiapkan keperluannya.


Malamnya sesudah sholat isya Hanna makan malam bersama dengan kedua orang tuanya sebelum nantinya dia berangkat ke sekolah dengan diantar kedua orang tuanya.


" Jaga diri baik baik selama di sana, dengarkan arahan bapak ibu guru dan jangan sampai terpisah dari teman teman lainnya atau bapak ibu guru" kata Doni menasehati Hanna dan mereka saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu sebelum mereka berangkat ke sekolah Hanna.


" Iya pa" jawab Hanna yang saat ini duduk di sebelah papanya.


Lalu Doni mengeluarkan beberapa lembar uang mulai dari uang yang 5 ribuan hingga yang seratus ribuan. Doni memang sengaja memberikan beberapa lembar uang yang berbeda dari yang terkecil hingga terbesar. Dengan maksud agar Hanna tidak kesulitan saat membutuhkan uang kecil atau uang besar nantinya.


" Ini uang sakunya, papa sengaja tidak memberi kamu uang yang besar saja, di sini ada juga yang yang kecil, agar nanti kamu tidak kesulitan saat membutuhkan uang kecil di sana" beritahu Doni sambil memberikan beberapa lembar uang yang baru diambilnya dari dompet.


" Makasih pa..." Hanna menerima uang tersebut dan memasukkan ke dalam dompet, serta memilah milah terlebih dahulu uang tersebut agar dia lebih mudah mengambilnya tanpa tercampur. Kemudian dompet tersebut dia masukkan tersembunyi di dalam tas selempang yang sudah dia pakai.


" Tidak usah beli apa apa buat papa atau mama, kamu beli saja untuk kebutuhan kamu di sana" Vita ikut menasehati putrinya agar tidak membeli hal hal yang tidak penting, selain itu juga akan merepotkan Hanna sendiri.


" Semuanya sudah siap?" tanya Doni dan Hanna mengangguk mengiyakan.


" Sudah pa.." sahut Hanna sambil menunjuk koper yang ada di sebelah sofa.


Doni berdiri lalu mengambil koper Hanna dan membawanya. " Sebaiknya kita berangkat sekarang, nanti daripada terjebak macet dan akhirnya terlambat" ajak Doni kemudian membawa koper Hanna keluar dari rumah mereka diikuti oleh Hanna.


Vita berjalan masuk ke kamarnya untuk mengambil tas yang belum sempat dia bawa tadi. Dan juga mengambil kunci rumah mereka kemudian mengikuti suami dan putrinya yang sudah keluar dari rumah. Vita langsung mengunci rumah mereka.


Doni dan Hanna masuk duluan ke dalam mobil menunggu Vita yang masih berad di dalam rumah untuk mengambil tasnya dan kunci rumah mereka. Tidak lama Vita sudah ikut masuk ke dalam mobil di kursi depan di samping Doni.


Doni langsung melajukan mobilnya menuju ke sekolah Hanna. Hanna yang duduk di kursi belakang sedang asyik melihat lihat ponselnya. Doni melajukan mobilnya dengan pelan karena suasana malam yang terlihat ramai karena banyaknya mobil yang melintas.


Tidak lama mereka akhirnya sampai juga di sekolah Hanna. Doni terpaksa memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari depan sekolah Hanna karena banyaknya mobil pengantar yang terparkir di depan sekolah Hanna.


Sementara itu saat sore hari di rumah keluarga Adi Wijaya, Vanno yang masih sibuk untuk mempersiapkan segala keperluannya selama rekreasi. Dia dengan dibantu maminya untuk mempersiapkan segalanya kebutuhannya. Dia bahkan juga membawa ponsel serta kameranya, dia ingin mengabadikan kegiatan dirinya bersama dengan teman temannya.


" Jaga diri baik baik dan jangan sampai terpisah dengan teman lainnya" kata Alya menasehati putra sulungnya.


" Iya mi.." sahut Vanno yang memasukkan ponsel serta kamera dan semua perangkatnya ke dalam tas ransel kecil miliknya.


" Kak Anno belikan Kei oleh oleh ya..." minta Keisha dengan wajah imutnya yang saat ini sedang duduk di ranjang kakaknya sambil menggendong boneka kesukaannya.


" Iya sayang...kakak akan belikan oleh oleh yang banyak buat adik kesayangan kakak yang satu ini" jawab Vanno yang memeluk adik perempuannya tersebut. " Memangnya Keisha mau dibelikan apa?" tanya Vanno dengan wajahnya yang tidak sedingin jika dia berad di luar rumah.


" Hemm... apa ya..?" ucap Keisha dengan bibir cemberutnya seolah sedang berfikir keras.


" Mainan, boneka atau makanan?" tanya Vanno yang saat ini sedang memangku adik perempuannya tersebut.


" Terserah kak Anno saja" akhirnya membiarkan Vanno sendiri yang memilihkan oleh oleh untuk dirinya.


" Aku juga mau dibelikan oleh oleh sama kak Vanno!" seru Rion yang mendengar ucapan adik dan kakaknya, dia langsung berlari ke kamar kakaknya yang ada di sebelah kamarnya dan langsung menyahut dengan senyuman menyebalkan.


" Gak janji!" sahut Vanno dengan wajah dinginnya. Meskipun dia berkata seperti itu pada Rion tapi sebenarnya itu hanya untuk menggoda Rion saja agar adik laki lakinya tersebut kesal. " Memangnya kamu mau dibelikan apa?" tanya Vanno.


" Ehhhmmm... bisa belikan candi Borobudur saja gak kak...? hahaha..." goda Rion dengan sengaja dan dia tertawa keras dan langsung pergi dari kamar kakaknya karena dia tau kakaknya pasti marah mendengar candaannya.


" Menyebalkan...!" teriak Vanno yang melempar bantal yang ada di sebelahnya ke arah pintu kamarnya. " Awas saja kamu ya...!" ancam Vanno dengan perasaan kesal dengan ucapan adiknya.


" Sudah gak usah beli apa apa, kamu beli saja yang kamu butuhkan selama di sana" akhirnya Alya melarang anak sulungnya tersebut untuk membeli untuk yang lainnya. Karena baginya dia bisa membelinya di Jakarta tanpa harus pergi ke Yogyakarta terlebih dahulu.


Vanno hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan panjang untuk meredakan rasa kesalnya yang disebabkan oleh adik keduanya tersebut.


Akhirnya Alya selesai membantu menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan oleh Vanno selam di pergi rekreasi ke Yogyakarta bersama teman temannya. Dia memasukkan semuanya ke dalam koper yang sudah disiapkan oleh Vanno.