
Semua orang bergantian pulang ke rumah mereka masing masing setelah perpisahan kelas 6 selesai. Semua wali murid datang ke gedung hotel tersebut dengan membawa mobil mereka sendiri tanpa ada yang ikut menumpang temannya atau naik taksi online.
Karena sekolahan tersebut memang sangatlah bagus dan hampir seratus persen semua orang tuanya adalah orang kaya. Atau kebanyakan orang tua mereka adalah orang yang bekerja di pemerintahan dengan jabatan yang tinggi.
Sangat berbeda dengan Hanna yang hanya anak dari seorang yang karyawan di perusahaan ternama di Jakarta. Tapi posisi papanya lumayan bagus, meskipun mereka bukanlah orang kaya Doni masih menyekolahkan Hanna di sekolah elit tersebut karena kemampuan anaknya yang pintar.
Terbukti kepintaran Hanna sudah bisa semua orang lihat dengan dia menjadi anak yang berprestasi di kelasnya. Sekaligus mendapatkan perhargaan karena nilainya yang merupakan nilai tertinggi di kota tersebut.
" Mama sama papa sangat bangga sama kamu sayang" ucap Vita yang saat ini sedang di dalam mobil untuk pulang ke rumah mereka.
" Setelah ini kamu mau sekolah dimana?" tanya Doni tanpa menoleh ke belakang di mana Hanna sedang duduk di sana. Doni sedang berkonsentrasi menyetir mobilnya.
" Terserah papa sama Mama mau nyekolahin Hanna di mana saja" sahut Hanna sambil tersenyum pada orang tuanya. Dia tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya lagi untuk menyekolahkan dirinya di tempat yang elit lagi.
" Kamu mendapatkan nilai terbaik di Jakarta, pasti semua sekolah favorit akan dengan senang hati menerima kamu sayang" beritahu Dita berusaha memberikan semangat anaknya tersebut.
" Iya benar kata mama kamu sayang. Di manapun kamu sekolah papa dan mama akan selalu mendukungmu. Jadi kamu mau sekolah di mana saja papa akan berusaha mewujudkannya" Doni ikut menimpali ucapan istrinya. " Asalkan kamu tetap semangat belajarnya dan tunjukkan pada semuanya bahwa kamu mampu dan bisa" lanjutnya menasehati Hanna.
" Iya pa.. nanti aku pikirkan lagi mau sekolah di mana" sahut Hanna yang sedari tadi duduk di kursi belakang.
Mobil terus melaju di jalan raya dengan tenang ditemani obrolan obrolan singkat diantara mereka bertiga.
*
*
*
Sementara itu Vanno dan keluarganya yang kini sedang bersantai di ruang santai sambil menonton televisi. Mereka baru saja selesai dengan makan malam bersama di rumah mereka.
" Kamu mau melanjutkan sekolah di mana sayang?" tanya Alya pada Vanno yang saat ini sedang melihat televisi dengan kedua adiknya.
Vanno yang ditanya langsung menatap mata maminya yang duduk di sofa dengan papinya. "Belum tau mi" sahut Vanno yang memang belum memikirkan akan melanjutkan sekolah dimana.
Selain itu Vanno juga ingin tau dimana Hanna akan melanjutkan sekolahnya. Dia ingin sekali bisa melanjutkan sekolah yang sama dengan dengan Hanna. Dan kalau bisa dia juga ingin sekali sekolah bersama dengan semua sahabatnya.
" Lanjutkan di sekolah yang sama saja" suruh Ferdi pada anak sulungnya.
" Iya...daripada cari sekolah lain, mendingan lanjutin saja sekolah di tempat yang lama" Alya juga menyetujui ide suaminya yang ingin menyekolahkan putranya di sekolah yang sama dengan sekolahnya sewaktu SD.
Di sekolah Vanno memang merupakan sekolah swasta bertaraf internasional dan tentunya favorit . Dengan menyediakan beberapa gedung sekolah mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Banyak anak anak orang kaya yang terus melanjutkan sekolah di sana hingga mereka lulus SMA.
Tempat gedungnya masih satu komplek dengan Sekolah Dasar tapi berada di sebelahnya. Tentu saja dengan jalan masuk yang berbeda dengan luas gedung sekolah yang lebih besar daripada gedung Sekolah Dasar. Tapi meskipun begitu dari satu gedung dengan gedung lainnya masih terdapat jalan penghubung di antaranya.
Sedangkan untuk gedung SMA berada di sebelah gedung SMP. Jadi sedikit jauh dari komplek gedung Sekolah Dasar. Tapi meskipun begitu sekolah tersebut masih termasuk dalam satu yayasan.
Vanno belum menjawab ucapan papi dan maminya. Dia masih bingung karena dia ingin sekali sekolah yang bersamaan dengan sahabat sahabatnya terutama Hanna.
" Iya pi nanti Vanno coba pikirkan lagi" sahut Vanno akhirnya tidak ingin langsung membantah ucapan kedua orang tuanya.
" Oh ya sayang, teman kamu yang mendapatkan nilai terbaik di Jakarta tadi, itu teman satu kelas kamu?" tanya Alya yang penasaran dengan seorang murid yang mendapatkan nilai terbaik di sekolah Vanno bahkan menjadi yang terbaik di seluruh Jakarta.
" Iya mi" jawab Vanno sambil mengangguk.
" Pintar sekali dia, apa kalian juga menjadi teman dekat? tadi mami lihat kamu foto foto bareng dia?" tanya Alya mencoba mencari tau murid tadi.
Vanno bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan maminya. Tapi meskipun begitu Vanno masih bisa menyembunyikan rasa gugupnya saat maminya bertanya tentang Hanna.
" Emmm... hanya sebatas teman satu kelas saja mi" sahut Vanno kemudian.
" Seharusnya kamu bisa berteman dengan dengan teman yang pintar seperti dia" suruh Alya.
Karena sudah malam Ferdi menyuruh semua anggota keluarganya untuk segera beristirahat karena memang sudah waktunya untuk tidur. Seperti biasa Vanno dan Rion naik ke kamar mereka yang ada di lantai atas.
" Langsung tidur jangan main main lagi" Ferdi memperingatkan kedua anaknya saat kedua anak laki lakinya naik ke lantai atas.
" Iya pi" sahut mereka bersamaan tanpa ada yang berani membantah.
Saat ini Vanno sudah ada di dalam kamarnya sendiri. Dia masih berusaha memikirkan ucapan papinya tentang sekolahnya. Sebenarnya memang dari dulu dia ingin melanjutkan sekolahnya di tempat yang sama.
Tapi entah kenapa sejak bertemu dengan Hanna dia merasa bimbang karena dia memang ingin sekali bisa satu sekolah dengan Hanna. Entah kenapa dia bis merasakan hal seperti itu padahal dia masih terlalu kecil untuk memiliki perasaan sepeti layaknya seorang laki laki pada perempuan.
Akan tetapi tidak dia pungkiri dia merasa hidupnya saat ini menjadi lebih bahagia saat bisa bersama dengan Hanna. Rasanya dia ingin selalu bisa berada di samping Hanna agar hidupnya lebih berwarna. Dan hanya bersama Hanna dia bisa tersenyum, sikapnya tidak sedingin sebelum dia mengenal Hanna.
" Apa Hanna juga akan sekolah di tempat yang sama" gumam Vanno sendiri. " Kalau yang lainnya kemungkinan akan tetap sekolah di tempat yang sama" lanjutnya masih bergumam sendiri dengan pemikirannya.
" Nanti aku tanya lagi saja sama dia" lirihnya dengan menganggukkan kepalanya yang sudah berada di atas bantal.
Tidak ingin terlalu banyak berfikir akhirnya Vanno terlelap setelah dia memejamkan matanya.
Keesokan paginya Vanno terbangun setelah dibangunkan oleh maminya yang menyuruhnya untuk segera sholat subuh. Dan setelah itu dia merebahkan lagi tubuhnya yang masih mengantuk. Apalagi mulai hari ini untuk kelas 6 diliburkan.
Siangnya Vanno yang sedang malas karena Rion yang pergi ke sekolah sedangkan mami dan Keisha pergi ke rumah sahabatnya. Dia sendirian di rumah bersama dengan para asisten rumah tangga. Vanno yang sedang asyik di ruang santai sambil memainkan ponselnya untuk bermain game online bersama dengan kedua sahabatnya siapa lagi kalau bukan Robert dan Dewa.
Hingga 1 jam mereka sudah bermain, Vanno mengakhirinya. Dan kini mereka sedang berbalas pesan satu sama lainnya. Kebetulan Robert sudah membuatkan grup di pesan singkat dengan kelima sahabatnya.
' Oh ya... kalian jadinya akan sekolah dimana? apa tetap di sekolah kita yang lama? Sepertinya papa menyuruhku untuk sekolah di tempat yang sama?' tanya Robert melalui pesan singkat untuk semua teman temannya.
' Aku sama bokap disuruh sekolah di tempat yang sama katanya supaya lebih mudah ngurusnya. Apalagi sekolah juga sekolah yang bagus' sahut Viona yang saat itu juga sedang online dan mengomentari pean yang dikirim Robert.
' Sama aku juga akan melanjutkan di sekolah kita' kini Dita juga menimpali komentar Viona.
Hanna yang saat ini juga sedang bersantai di rumahnya bersama sang mama hanya bisa membaca pesan dari sahabat sahabatnya tanpa ingin membalasnya. Karena dia juga masih belum menentukan akan melanjutkan sekolah dimana.
Vanno yang juga belum membalas komentar di grup pesan singkat mereka hanya membacanya sekilas. Dia ingin menunggu komentar dari Hanna terlebih dahulu. Dia ingin tau Hanna akan membalas apa untuk pertanyaan Robert kali ini.
' Wah.. sepertinya kita akan sering bertemu lagi karena aku juga akan tetap melanjutkan sekolah di tempat yang sama' kini Dewa ikut berkomentar.
' Apa kita juga akan berad di kelas yang sama?' tanya Dita yang penasaran.
' Mudah mudahan aja kita masih bisa satu kelas jika kita berenam sekolah di tempat yang sama' balas Viona yang juga berharap bisa satu kelas dengan sahabat sahabatnya.
' Tenang aja kan ada Vanno, dia pasti akan membantu kita agar bisa masuk si kelas yang sama' balas Robert menenangkan kedua Dita dan Hanna.
' Betulll' balas Dewa. ' Tapi ngomong ngomong Hanna sama Vanno bakalan sekolah di tempat yang sama dengan kita kan?' tanya Dewa yang jadi penasaran dengan kedua sahabat mereka yang belum membalas pesan pesan singkat mereka.
' Iya nih, kalian kenapa diam saja?' tanya Viona.
Hanna yang melihat pesan dari sahabatnya yang menanyakan dirinya merasa sungkan jika dia hanya membaca saja.
' Aku belum tau, nanti aku akan tanya sama papa dan mama aku dulu' akhirnya Hanna menjawab pesan dari teman temannya.
' Aku harap kamu bisa sekolah bareng kita Han' balas Viona dengan manjanya.
' Vanno sendiri giman Van?' kini Dewa bertanya sahabatnya tersebut yang sebenarnya juga sedang online.
' Pastilah dia akan sekolah di tempat yang sama dengan kita, iya kan Van?' Robert ingin memastikan.
Vanno sedari tadi hanya membaca komentar pesan dari sahabat sahabatnya tanpa ingin membalas. Karena Hanna masih belum memberikan kepastian akan melanjutkan sekolah dimana.