My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Kalian Gak Pantas



Kini mereka berenam berada di kelas yang sama seperti saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Bahkan mereka berenam selalu bersama kemanapun mereka pergi sehingga banyak yang menganggap bahwa mereka berenam adalah pasangan kekasih.


Tanpa menghiraukan anggapan semua orang mereka akan selalu bersama seperti biasanya. Mereka sudah biasa mendengarkan beberapa orang membicarakan mereka tapi tidak ada satupun yang memperdulikannya.


Seperti biasa Vanno, Robert dan Dewa selalu menjadi idola baru di sekolah tersebut, seperti waktu mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Hampir semua murid cewek menyukai mereka, terutama Vanno dan mereka semua ingin dekat dengannya.


Tidak hanya yang seangkatan bahkan kakak kelas mereka juga ada beberapa yang menyukai Vanno. Itu karena Vanno memiliki wajah yang sangat tampan meskipun umurnya masih 13 tahun. Begitu juga dengan Robert dan Dewa juga tampan tapi Vanno yang lebih tampan dan memiliki banyak penggemar meskipun sikapnya sangat dingin.


Banyak teman seangkatan ataupun kakak kelas mereka yang memberikan hadiah untuk Vanno. Tapi Vanno selalu menolaknya secara langsung tanpa basa basi. Bahkan ada juga yang sampai menyatakan perasaan suakanya pada Vanno tapi langsung dia tolak mentah mentah.


Melihat kedekatan Vanno dan Hanna membuat semua murid cewek di sana merasa iri ingin menjadi seperti Hanna yang selalu berada di dekat Vanno.


" Kenapa semuanya di tolak sih?" tanya Hanna heran yang saat itu sedang duduk di kantin bersama dengan kelima sahabatnya.


" Malas" jawab Vanno dengan cepat.


Mendengar jawaban Vanno ada perasaan lega karena Vanno tidak pernah menanggapi murid lain yang memberikan hadiah ataupun menyatakan perasaannya. Karena dengan begitu dia bisa terus berada di dekat Vanno dengan menjadi sahabatnya. Meskipun dalam hatinya dia ingin dekat lebih dari seorang sahabat.


" Kenapa gak laporin aja mereka ke kepala sekolah kayak dulu, biar mereka dikeluarkan dari sekolah ini" Dewa ikut menimpali.


Tanpa menjawab Vanno hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dan menikmati makan siang mereka di kantin sambil sesekali dia melirik Hanna yang duduk di depannya sedang menikmati makan siangnya.


" Kalian tau gak? banyak siswa yang beranggapan kalau kita semua itu pasangan kekasih" beritahu Robert yang sebenarnya sangat risih jika mendengar teman teman membicarakan persahabatan mereka.


" Ya gak apa pa kan? kamu sama Dita dan Hanna sama Vanno trus aku sama Viona hahaha" sahut Dewa dengan leluconnya.


" Idihh.... amit amit aku harus sama kamu" sahut Viona yang tidak terima dijodohkan dengan Dewa.


Yang lain hanya menggeleng dengan candaan keduanya yang selalu membuat suasana di sekitar mereka menjadi ramai dan ceria. Vanno dan Hanna hanya diam tanpa merespon. Begitu juga dengan Dita yang sudah salah tingkah tapi Robert yang merasa lucu dengan lelucon mereka.


" Kalian ini selalu saja bertengkar, jangan jangan kalian memang jodoh lagi" goda Robert melihat sikap mereka yang selalu ceria.


" Kayak gak ada cowok lain aja" Viona sangat kesal dengan Robert dan Dewa yang selalu menggoda dirinya.


" Jangan salah... gini gini banyak yang naksir juga loh" Dewa memuji dirinya sendiri.


" Iya dia kan gak kalah gantengnya sama Vanno" Robert ikut memuji Dewa.


Hanna dan Dita hanya tersenyum saja tanpa menyahuti ucapan mereka bertiga. Mereka sudah terbiasa dengan candaan Dewa dan rengekan Viona yang membuat suasana selalu ceria. Apalagi mendengar anggapan orang lain mengenai mereka berenam.


" Aku balik dulu" pamit Vanno yang sudah menyelesaikan makannya lalu berdiri dari duduknya dan melangkah pergi menjauh dari kantin sendirian.


Semua hanya bisa diam tanpa menjawab ucapan Vanno dan menatap punggung Vanno yang pergi meninggalkan mereka semua.


' Apa dia merasa risih kalau mereka selalu menjodoh-jodohkan kita' batin Hanna yang merasa kecewa dengan sikap Vanno. ' Apa memang tidak ada sama sekali rasa sayang dia untukku seperti aku yang selalu menyayangi dia?' tanya Hanna masih bergumam dalam hatinya.


" Ini semua gara gara kamu, awas aja kalau sampai Vanno marah!" Robert marah dengan candaan Dewa yang sering membuat Vanno marah.


" Tadi siapa yang mulai duluan?" tanya balik Dewa yang tidak terima disalahkan.


" Sudah jangan berdebat terus, buruan kalian pergi dan kejar Vanno" suruh Dita pada Robert dan Dewa. " Jangan sampai dia marah lagi sama Hanna kayak dulu lagi" ancam Dita yang kesal dengan candaan mereka tadi.


Tanpa melanjutkan makan siang mereka lagi yang sudah hampir habis. Robert dan Dewa langsung pergi untuk mengejar Vanno yang sudah jauh pergi dari kantin.


Vanno yang terus berjalan sendirian melewati beberapa kelas dari mulai kelas 9 yang ada di lantai 1 hingga kelas 7 yang ada di lantai 3 dimana kelasnya berada. Dia terus mendapatkan sapaan dari beberapa murid cewek yang bertemu dengan Vanno. Tapi Vanno sama sekali tidak menanggapi mereka semua, dia terus berjalan melewati mereka semua.


Sebenarnya dia bukan marah dengan candaan Dewa dan Robert tadi, dia hanya merasa canggung saja jika harus dijodohkan dengan Hanna. Tentu saja dia sangat bahagia jika dia bisa menjadi kekasih Hanna karena dia memang sayang dan cinta sama Hanna dari dulu. Dan dia hanya bisa memendamnya dalam hati agar tidak ada yang mengetahui dan mereka tetap menjadi sahabat selamanya.


Dia takut jika Hanna sampai mengetahui perasaannya, Hanna justru akan menjauh dari dirinya. Makanya dia selalu menghindar agar tidak ada yang mengetahui tentang perasaan cinta dan sayangnya terhadap Hanna.


Vanno langsung duduk di bangkunya dan mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya. Vanno langsung main game online yang biasa dia mainkan bersama sahabatnya ataupun adiknya Rion. Dengan begitu dia akan bisa mengalihkan pikirannya tentang Hanna.


Dewa dan Robert yang baru sampai di kelas langsung menghampiri Vanno yang sedang asyik bermain sendiri. Mereka berusaha mengatur nafas yang terdengar memburu.


Melihat kedatangan kedua sahabatnya yang terlihat habis berlari kening Vanno langsung berkerut tajam karena bingung. Sepertinya mereka berlari dari kantin, karena mereka tadi sedang ada di kantin dan sekarang sudah ada di depannya.


" Kamu gak marah kan?" tanya Dewa yang masih mengatur nafasnya. " Jangan marah, kita hanya bercanda tadi" lanjutnya merasa bersalah.


Vanno hanya diam belum mengerti dengan kedatangan keduanya dan bahkan langsung bertanya padanya apakah dia marah.


" Sori Van, jangan marah sama kita apalagi sama Hanna ya" bujuk Robert juga merasa bersalah.


Vanno langsung mengerti maksud kedua sahabatnya saat mereka membicarakan Hanna. Ternyata mereka takut dirinya marah dengan candaan mereka tadi saat di kantin. Makanya mereka langsung berlari untuk memastikan. bahwa dirinya tidak marah. Vanno hanya tersenyum dalam hati melihat kelakuan kedua sahabatnya tersebut.


" Siapa yang marah?" tanya balik Vanno ingin menggoda kedua sahabatnya tetap dengan wajah dinginnya dan langsung mengalihkan tatapannya pada ponselnya dan melanjutkan permainan gamenya.


" Kamu gak marah?" tanya Robert ingin memastikan sambil menatap Vanno yang sedang asyik bermain game di ponselnya.


Vanno tidak menjawab tapi langsung menggeleng agar kedua sahabatnya tidak penasaran lagi.


" Sialan! aku kita tadi kamu marah sama kita" geram Dewa dengan wajah kesalnya karena sudah berlari dari kantin ke kelasnya yang ada di lantai 3 hanya untuk memastikan kemarahan Vanno.


Terlihat Dewa dan Robert langsung kembali ke bangku mereka masing masing yang terlihat kesal dengan sikap dingin Vanno yang memang tidak bisa mereka tebak. Sesekali mereka melirik ke arah Vanno yang sama sekali tidak memperdulikan kekesalan mereka berdua.


Lalu mereka ikut mengambil ponselnya masing dan langsung ikut bergabung untuk bermain game bersama Vanno. Kini mereka bertiga sudah bermain game bersama dengan ponsel masing masing tanpa menghiraukan sekitarnya bahkan kekesalan Robert dan Dewa langsung lenyap entah kemana.


Sementara itu Hanna dan kedua sahabatnya masih duduk di bangku kantin setelah kepergian Robert dan Dewa. Tanpa ada niat merek untuk ikut pergi dari sana karena memang mereka belum menyelesaikan makan siang mereka.


Tanpa mereka sadari ada 3 cewek kakak kelas mereka yang langsung duduk di hadapan mereka. " Hei Hanna! kamu itu bukan siapa siapanya Vanno, jadi sebaiknya kamu menjauh dari dia!" seru salah satu cewek yang ternyata bernama Angel yang duduk di bangku kelas 9. "Kalian berdua juga jangan dekat dekat sama mereka bertiga!" lanjutnya yang juga menyuruh Dita dan Viona menjauhi Vanno dan kedua sahabatnya.


Hanna, Dita dan Viona hanya diam terbengong mendengar ucapan kakak kelas mereka yang seenaknya menyuruh untuk menjauh dari Vanno.


" Paham gak kalian!" teriak Cintia yang merupakan teman satu kelas Angel.


" Memangnya kenapa kita harus nurutin kalian buat menjauh dari sahabat kami!" seru Dita yang tidak terima disuruh oleh kakak kelasnya hanya untuk menjauh dari sahabat mereka.


" Karena kalian itu gak pantas buat dekat sama mereka!" sahut Angel yang kini menatap Dita dengan penuh ejekan.


" Memangnya kalian pantas?" sahut Hanna yang mulai kesal dengan ucapan Kaka kelasnya yang sesukanya menyuruh nyuruh mereka. "Kalau kalian yang pantas dekat sama mereka, seharusnya kalian sudah menjadi teman mereka bukan?" sindir Hanna. " Tapi buktinya kami yang selalu berada di dekat mereka dan itu artinya kami lebih pantas berad di dekat mereka!" seru Hanna langsung membuat mereka bertiga tidak berani menjawab lagi.


" Sialan kamu ya!" seru Angel yang langsung berdiri dan menggebrak meja makan mereka sehingga ada beberapa makanan mereka yang terjatuh.


" Awas saja kalau aku masih lihat kalian dekat dekat dengan Vanno" tekan Angel ingin mengancam Hanna. " Aku bakalan bikin kalian gak betah sekolah di sini" lanjut Angel mengancam mereka bertiga.


Tanpa sepatah kata lagi Angel mengajak kedua temannya pergi dari sana meninggalkan Hanna dan kedua sahabatnya.