My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Minta Maaf



Hanna merasa kesal dengan sikap Vanno yang cuek, dingin, suka memaksa bahkan terlihat arogan dan terdengar sombong dalam setiap kata katanya. Ingin rasanya Hanna menangis karena mendengar bentakan dari Vanno yang membuat semua teman sekelasnya memandang iba dan kasihan padanya.


Selama ini dia tidak pernah dibentak oleh siapapun bahkan kedua orang tuanya selalu berkata dengan lembut. Makanya begitu Vanno membentaknya membuat dia sakit hati padahal dia hanya ingin mengembalikan roti dan air putih yang telah dia makan kemarin dengan memakai kartu makanan Vanno.


' Kenapa dia membentak, aku kan hanya ingin mengembalikan apa yang sudah aku makan kemarin' batin Hanna dengan mata yang sedikit berkaca kaca sambil menundukkan kepalanya.


Semua teman sekelas Hanna yang tidak tau menahu dengan kejadian yang baru terjadi antara Vanno dan Hanna hanya bisa diam saja. Mereka semua menatap ke arah Hanna dengan tatapan iba, tapi mereka tidak mau ikut campur karena memang mereka tidak tau ada masalah apa antara Vanno dan Hanna. Apalagi Hanna merupakan murid baru di kelas mereka jadi mereka belum begitu mengenal Hanna.


Vanno sendiri yang duduk di belakang bangku Hanna hanya bisa melihat punggung Hanna yang tengah menundukkan kepalanya. Vanno menghela nafas panjang dan menutup matanya sejenak untuk meredakan emosinya yang baru saja tersulut karena sikap Hanna yang membantahnya.


' Apa aku terlalu keras tadi membentaknya' gumam Vanno dengan masih menghela nafas panjang. ' Tapi dia sendiri yang keras kepala, dikasih tau susah banget, apa tadi dia bilang? hutang? memangnya aku memberikan hutang sama dia?' batinnya kembali kesal dengan sikap keras kepala Hanna. ' Memangnya papiku bakalan bangkrut kalau aku kasih dia roti dan air putih?' Vanno masih saja bergumam dengan pertanyaan pertanyaan dalam hatinya dengan kesal.


Tidak lama bel pelajaran berbunyi hingga seorang guru masuk ke dalam kelas dan memberikan mereka pelajaran lagi. Hanna mencoba melupakan kejadian yang baru saja dia alami karena dia tidak ingin terus bersedih dan takutnya guru pengajar akan mengetahui kejadian yang baru dia alami. Dia mulai berkonsentrasi mendengarkan setiap materi yang diberikan oleh gurunya.


Setelah lama mereka belajar, akhirnya istirahat untuk yang kedua kalinya. Guru pengajar keluar dan diikuti oleh beberapa murid yang ingin keluar dari kelas hanya untuk bermain atau makan di kantin lagi. Hanna memasukkan buku bukunya dan tetap duduk di kursi bangkunya, dia merasa enggan untuk keluar kelas.


" Heii...." panggil Vanno sambil mendorong pelan kursi Hanna yang ada di depannya. "Sorry.. .!" katanya dengan dengan suara yang masih terdengar dingin dan arogan.


Merasa dirinya dipanggil Hanna langsung menoleh ke belakang dan dilihatnya Vanno yang menatapnya dengan wajah dinginnya. "Hah..." Hanna terkejut dan bingung dengan alis yang berkerut mendengar kata maaf dari Vanno. " Apa..?" tanya Hanna ingin memastikan bahwa telinganya masih berfungsi dengan baik.


" Huh" Vanno menghembuskan nafasnya malas mendengar pertanyaan Hanna. " Aku minta maaf, sudah membentak kamu tadi" Vanno kembali menegaskan ucapannya agar Hanna bisa mendengarnya.


Hanna tersenyum mendengar kata maaf dari Vanno. " Iya gak pa pa" sahut Hanna masih tersenyum.


" Makanya jangan bikin orang kesal, roti tadi buat kamu saja gak usah dikembalikan aku ikhlas kasih buat kamu" kata Vanno memperjelas agar Hanna mengerti.


" Iya... makasih" Hanna dengan senyum cerianya mengulurkan tangan kanannya mengajak Vanno berjabat tangan.


Alis Vanno berkerut tajam melihat tangan kanan Hanna terulur di depannya. " Apa?" tanya Vanno dengan bingung.


" Kita berteman" sahut Hanna dengan senyum cerahnya.


Vanno berdecak sambil menggelengkan kepala tidka percaya dengan sikap Hanna. Tapi dia tidak mau menyakiti perasaan Hanna, diapun akhirnya membalas uluran tangan Hanna dan menjabat tangan tersebut sebentar.


Setelah melepaskan tangannya Vanno langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri 2 teman laki lakinya. "Yuk kita ke kantin" ajak Vanno pada kedua temannya dengan perasaan campur aduk.


Akhirnya mereka bertiga keluar dari kelas mereka menuju ke kantin tanpa memperdulikan tatapan semua teman sekelasnya. Mereka bertiga termasuk anak anak orang kaya di Jakarta. Bahkan wajah mereka bertiga terlihat tampan diantara seluruh murid laki laki yang ada di sekolahan tersebut. Meskipun mereka masih kecil mereka bertiga sudah menjadi idola di sekolahan itu.


" Tumben tadi kamu mau menjabat tangan Hanna?" tanya Robert salah satu temannya Vanno.


" Iya... biasanya juga kamu gak peduli" Dewa ikut menimpali yang kini berjalan di sebelah kanan Vanno menuju ke kantin.


Vanno hanya mengangkat bahunya, dia juga tidak tau kenapa dia mau berjabat tangan dengan Hanna dan terlihat peduli. Padahal selama ini dia terlihat sangat cuek dan dingin dengan cewek manapun kecuali teman cewek sekelasnya meskipun tidak terlalu peduli dengan mereka.


' Iya ya... kenapa aku peduli sama cewek tadi, padahal biasanya aku juga gak begitu peduli dengan cewek lain' gumam Vanno dalam hati dengan alis berkerut. ' Ahhh... entahlah mungkin aku merasa bersalah aja sudah membentaknya tadi' membuang nafasnya dengan kasar.


Mereka tiba di kantin dan langsung membeli makanan tanpa memperdulikan sekitarnya yang terlihat menyukai kedatangan mereka bertiga terutama para cewek. Suasana kantin pada istirahat kedua memang terlihat lebih ramai daripada saat istirahat pertama. Mungkin dikarenakan waktunya masuk jam makan siang makanya banyak yang ke kantin dia istirahat kedua.


" Gimana sudah baikan sama Vanno?" tanya Dita yang penasaran. Saat ini mereka duduk di depan kelas mereka yang terdapat tempat duduk disebelah taman kecil.


Hanna tersenyum dan mengangguk. " Iya, kita sudah baikan kok" sahut Hanna yang membuka roti yang dibawanya lalu menawari Dita dan Viona untuk ikut memakan roti tersebut.


" Apa aku bilang, Vanno gak bakalan mau terima roti kamu" kata Dita. " Dia itu anak orang kaya, meskipun dia terlihat cuek dan dingin sebenarnya dia peduli kok sama teman sekelasnya. Iya gak Vi?" lanjutnya kini dan memastikan dengan bertanya pada Viona.


Viona yang tengah mengunyah roti Hanna hanya bisa mengangguk setuju tanpa berkata karena di dalam mulutnya penuh dengan roti yang dia kunyah.


" Tadi kamu atau Vanno yang bicara duluan?" tanya Dita yang masih penasaran.


" Dia duluan yang ngajak bicara dan langsung minta maaf" jawab Hanna.


" Hah... yang bener?" kini Viona yang terkejut dengan perkataan Hanna. Dita sendiri juga terkejut tapi sudah diwakilkan dengan keterkejutan Viona.


" Hemm..." sahut Hanna meyakinkan kedua temennya dengan menganggukkan kepalanya.. " Memang kenapa sih?" tanya balik Hanna yang bingung melihat kedua temannya seolah terkejut mendengar jawabannya.


" Aneh aja Han, padahal selama ini Vanno itu gak pernah loh ngajak bicara duluan sama cewek, apalagi sampai minta maaf segala" kata Dita memberitahu Hanna.


" Hemm... bener Han. Apalagi tadi aku lihat dia mau menjabat tangan kamu" Viona ikut menimpali.


" Masa sih?" tanya Hanna yang tidak percaya.


Dita dan Hanna serempak menganggukkan kepalanya bersamaan untuk meyakinkan Hanna.


" Mungkin dia merasa bersalah aja sudah bentak aku tadi" sahut Hanna mencoba menepis pikiran jelek tentang Vanno. " Kalau jabat tangan, aku tadi ajak dia buat berteman. Ya meskipun tadi terlihat Vanno seperti ingin menolak, tapi gak tau kenapa dia mau balas menjabat tanganku" lanjut Hanna.


" Vanno itu memang dingin dan cuek bahkan terkesan arogan dan semaunya sendiri, tapi dia sangat peduli sama teman sekelas kita" beritahu Dita. " Tapi dia paling gak suka sama cewek yang mencoba mengejar ngejar dia dengan memberikan makanan karena mencoba mendekati atau suka sama Vanno" lanjutnya.


" Iya makanya mungkin tadi Vanno marah sama kamu karena dia mengira kamu mengejar ngejar dia kayak cewek cewek lain yang mencari perhatian Vanno, apalagi kamu kan anak baru" Viona ikut menimpali.


" Ooohhh gitu" sahut Hanna mengangguk mengerti.


" Ya itu mungkin loh Han" kata Viona yang hanya bisa menebak.


" Memang selama ini sudah banyak yang mendekati atau suka sama Vanno?" tanya Hanna penasaran.


" Ya banyaklah Han Vanno itu kan sudah jadi idola di sekolah kita, tapi Vanno tidak pernah peduli dan selalu menolak, makanya dia gak suka malah benci sama cewek yang berusaha mendekati dia" sahut Dita.


" Kalian sendiri apa tidak ada perasaan suka sama Vanno?" tanya Hanna yang ingin tau.


" Siapa sih yang gak suka sama Vanno, dia itu tampan anak orang kaya siapa saja pasti pengen deket dan jadi pacarnya" jawab Viona. "Tapi kita gak mau kayak teman sekelas kita dulu yang mengejar Vanno dan bilang suka langsung sama Vanno, tapi habis itu anaknya dipindahkan ke kelas lain karena Vanno yang minta langsung sama guru kita" lanjutnya.


" Iya dari kejadian itu, semua teman cewek sekelas kita hanya bisa menyukai Vanno dalam hati saja" Dita ikut menyahut. " Kalau kamu juga suka sama Vanno itu gak masalah asal tidka mengatakan langsung sama Vanno dan lebih baik dipendam saja dalam hati" lanjutnya menasehati Hanna.


Hanna mengangguk mengiyakan nasehat Dita, memang dia juga suka sama Vanno tapi dia akan berusaha untuk memendam rasa suka dia dalam hatinya.