My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Rekaman Cctv



Keadaan Hanna sudah semakin membaik, tubuhnya sudah segar kembali seperti sebelumnya dan kembali lebih bugar. Hanna bahkan sudah makan banyak saat papa dan mamanya bergantian menyuapinya.


Tapi hal itu sangat berbeda jauh dengan kondisi psikisnya saat ini yang sudah tidak seperti sebelumnya. Hanna terlihat mengalami trauma karena kejadian dia yang disekap di kamar mandi oleh kakak kelasnya.


Meskipun kondisinya tubuhnya terlihat sudah sehat tapi pikirannya benar benar kacau. Hanna sulit sekali diajak berbicara tidak ada senyum lagi yang menghiasi bibirnya. Bahkan dia terlihat ketakutan saat bertemu dengan orang yang tidak dia kemal, begitu juga saat dia melihat dokter dan perawat yang datang memeriksa, dia terlihat ketakutan.


Mungkin itu adalah trauma yang harus dia dia alami karena perbuatan Angel dan teman temannya. Dan hal itu membuat Doni dan Vita sedih melihat kondisi psikis putri mereka, bahkan Vita terus menangis saat melihat Hanna yang ketakutan setiap melihat orang yang tidak dikenalnya terutama seorang wanita.


" Pa... kenapa kondisi Hanna seperti itu?" tanya Vita dengan raut wajah yang teramat sedih yang terus menangis ketika melihat kondisi Hanna.


" Tenanglah sayang... dia pasti akan sembuh kembali seperti sebelumnya" Doni berusaha menghibur istrinya agar tidak sedih lagi meskipun dia sebenarnya juga sangat sedih melihat kondisi putri satu satunya. Tapi dia harus berusaha kuat sebagai kepala keluarga yang harus melindungi anggota keluarganya jika mereka sedang ada masalah.


Hari ini Doni meminta ijin tidak masuk pada pimpinan di kantornya bahwa dia tidak bisa masuk kerja terlebih dahulu karena harus menunggu putrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Selain itu sebenarnya dia juga ingin ke sekolahnya untuk mencari tahu tentang kejadian yang dialami Hanna.


Tapi sepertinya dia tidak bisa melakukannya saat ini melihat kondisi Hanna yang cukup mengkhawatirkan. Meskipun ada istrinya yang bisa menjaga Hanna tapi dia tetap tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Apalagi Vita yang terus menangis melihat kondisi Hanna.


*


*


*


Sementara itu di sekolah, Vanno tetap berangkat ke sekolah seperti biasanya. Dia terlihat seperti biasa seolah kemarin tidak terjadi apa apa dengan Hanna. Tapi sebenarnya dalam hatinya ada perasaan marah dan ingin segera mencari tau kejadian yang dialami Hanna.


" Pagi Van..." sapa Dewa saat dia telah sampai di kelas mereka.


Vanno yang sudah sampai di kelas duluan hanya melirik ke arah Dewa sekilas tanpa menjawab sapaan Dewa.


Tidak lama kemudian sahabat yang lainnya juga bergantian datang. Mereka langsung mendekat ke meja Vanno, Dita duduk di kursi meja Hanna yang berada di depan bangku Vanno.


" Gimana kabar Hanna, Van?" tanya Dita yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar sahabatnya begitu juga dengan yang lainnya.


Vanno menatap ke arah sahabatnya satu persatu. Dia yakin mereka pasti juga mengkhawatirkan keadaan Hanna saat ini sama seperti dirinya. Tapi apa yang mau dia jawab, dia sendiri belum tau keadaan Hanna saat ini. Dia hanya tau keadaan Hanna kemarin yang memang sudah sadar dari pingsannya tapi pagi ini dia sama sekali belum tau.


" Aku nggak tau" jawab Vanno dengan singkat dan terlihat cuek.


" Bukannya kemarin kamu yang nganterin Hanna ke rumah sakit?" kini Viona yang bertanya dengan polosnya.


" Kemarin sudah sadar, dan aku langsung pulang, ada mamanya yang nungguin" jawab Vanno.


Mereka masih ingin membicarakan tentang keadaan Hanna. Tapi rupanya waktu tidak berpihak pada mereka karena bel masuk dan mulainya pelajaran telah berbunyi.


Semua siswa kembali duduk ke bangkunya masing masing, begitu juga dengan siswa yang masih berada di luar kelas langsung berlari masuk ke dalam kelas sebelum guru pengajar masuk ke kelas mereka.


Pelajaran segera dimulai dan semua siswa memperhatikan guru pengajar yang memberikan pelajaran. Tapi berbeda dengan Vanno, dia memang terlihat melihat ke depan tapi pandangannya sudah jelas melihat ke arah depan bangku yang ada di depannya. Sudah pasti itu adalah bangku yang ditempati oleh Hanna.


' Jika memang ada yang berniat menyakiti Hanna, aku pastikan akan segera mencari tau siapa dalangnya' batin Vanno dengan geram sambil mata tajamnya terus menatap bangku yang tepat berada di depannya.


Meskipun suara guru pengajar dengan lantangnya memberikan materi, Vanno sama sekali tidak menggubrisnya. Semua orang juga bisa melihat kalau Vanno tidak sedang mendengarkan materi yang diberikan oleh guru mereka. Tapi tidak ada yang berani mengganggunya, jika tidak ingin Vanno Dan bahkan tidak ada yang berani menyapanya agar


' Dan aku pastikan, dia akan menderita karena telah membuat Hanna terluka' lanjutnya masih bergumam dalam hati dengan dada yang terasa sakit dan sesak saat dia mengingat kondisi Hanna saat pertama kali dia menemukannya di kamar mandi.


Tapi tidak dengan Vanno dan yang lainnya yang masih setia berada di dalam kelas mereka. Sekali lagi mereka mendekati bangku Vanno untuk membicarakan tentang Hanna.


" Apa menurut kalian kejadian yang dialami Hanna itu memang disengaja?" tanya Dewa yang memiliki firasat yang sama dengan Vanno.


Semua langsung menatap ke arah Dewa yang biasanya selalu bertingkah cengengesan dan kali ini dia berbicara dengan serius


" Maksud kamu?" tanya Dita bingung dengan alis berkerut tajam.


Robert yang sebenarnya juga memiliki pemikiran yang sama dengan Dewa hanya mengangguk. " Aku juga berfikiran sama kayak Dewa, ada seseorang yang ingin menyakiti Hanna mengingat kondisi Hanna sewaktu kita menemukan dia" sahut Robert yang juga sependapat dengan pemikiran Dewa.


" Apa benar begitu?!" tanya Viona dengan suara yang keras karena dia terkejut. Apalagi Viona tidak tau kondisi Hanna sewaktu mereka menemukannya. Karena Viona yang saat itu menemani Vita di lantai bawah di sekolah mereka karena keadaan Vita yang lemas karena terus menangis.


Semua orang tidak menjawab pertanyaan Viona yang menurut mereka sangat berisik suaranya. Dan kini semua menatap ke arah Vanno yang sedari tadi diam tanpa ingin ikut berbicara dengan mereka.


" Bagaimana menurut kamu Vanno?" kini Robert meminta pendapat dari Vanno. " Apa kamu juga berfikiran sama kayak kita, kalau ada yang ingin mencelakai Hanna?" sambungnya memperjelas pertanyaannya.


Vanno melihat ke arah Robert sekilas lalu bergantian melihat ke arah sahabatnya yang lain. Dan semua orang menunggu jawaban dari Vanno yang hanya bisa menghela nafas dengan berat karena dia sendiri juga belum mengetahui pastinya.


" Sama! aku juga berfikir begitu" akhirnya Vanno menjawab pertanyaan dari Robert.


Semua orang saling berpandangan menatap satu sama lain. " Kira kira siapa orangnya? apa kalian mencurigai seseorang?" tanya Dita yang beruntun dengan wajah geramnya setelah mendengar kecurigaan semua sahabatnya.


Terlihat semua cowok di sana hanya diam dengan menghela nafas panjang. Robert dan Dewa menggeleng dengan pelan karena mereka hanya menduga saja tapi tidak tau pastinya seperti apa. Sedangkan Vanno hanya diam tanpa merespon ataupun menjawab pertanyaan Dita.


" Kita harus menyelidikinya, siapa orang yang harus bertanggung jawab akan musibah yang dialami Hanna" ucap Viona penuh dengan semangat sangking kesalnya mendengar dugaan teman temannya meskipun tidak ada yang tau siapa orang yang telah membuat sahabatnya terluka.


" Iya benar yang dikatakan Viona, kita harus mencari tau siapa yang sudah berani menyakiti Hanna" sahut Dewa setuju dengan pendapat Viona.


Yang lain hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat. Mereka bukannya tidak ingin mencari tau siapa orang yang telah menyakiti Hanna. Mereka juga ingin mencari bukti orang yang sudah berbuat jahat pada Hanna, tapi bagaimana mereka mencari bukti buktinya.


" Bagiamana caranya kita mencari tau bukti bukti seseorang yang telah berbuat jahat pada Hanna?" Robert balik bertanya pada semua sahabatnya.


Semuanya terdiam setelah mendengar pertanyaan dari Robert. Otak mereka berfikir keras untuk mencari cara bagiamana caranya mereka mencari tau siapa orang yang telah menyakiti Hanna. Seluruh siswa disini sangatlah banyak apalagi jika digabung dengan kelas 8 dan 9, mereka pasti kesulitan mencari orang yang bisa mereka curigai.


" Bukankah di sekolah ini ada cctv? kita bisa mencari bukti dari sana, siapa orang yang telah mencelakai Hanna" ucap Dita mengingat bahwa di sekolah mereka pasti ada cctv nya karena sekolah mereka merupakan sekolahan elit yang hanya ditempati oleh anak orang orang kaya.


Semua langsung melihat ke arah Dita yang saat itu duduk di bangku Hanna. Tidak lama mereka tersenyum tipis mendengar ucapan Dita yang sangat bagus. Entah bagaimana mereka semua tidak mengingat akan cctv yang ada di sekolah mereka, meskipun cctv hanya di pasang di beberapa tempat saja. Tapi mereka bisa mengumpulkan beberapa bukti dari cctv meskipun tidak akan terlihat sepenuhnya.


" Kamu benar Ta, kita bisa mencari bukti dari rekaman cctv!" seru Robert yang senang akhirnya mereka bisa mencari bukti.


" Iya kamu benar benar sahabat yang hebat!" kali ini Viona berseru girang sambil memeluk tubuh Dita dengan erat.


" Masalahnya siapa yang berani meminta rekaman cctv, jika kita yang meminta pasti pihak sekolah tidak akan memberi kita ijin" kali ini Dewa memikirkan kendala yang harus mereka hadapi


Sejenak mereka terdiam memikirkan cara untuk meminta ijin meminta rekaman cctv di hari kejadian Hanna terkurung di kamar mandi. Tidak lama kemudian semua orang menatap ke arah Vanno yang hanya terdiam tanpa berkata sama sekali.


Semua orang tersenyum dan akhirnya tertawa bersama kecuali Vanno yang hanya diam dan menutup matanya dengan malas. Dia tau maksud tatapan dan tawa mereka serta apa yang dipikirkan oleh semua sahabatnya.