
Sementara itu tempat lain Vanno yang sudah sampai di rumahnya bersamaan dengan suara adzan magrib berkumandang. Vanno langsung masuk ke dalam rumahnya dan langsung mencari maminya.
Dia langsung pergi ke ruang santai karena disaat jam jam seperti ini maminya sedang duduk santai bersama yang lainnya menunggu adzan magrib dan langsung sholat berjamaah. Dan benar saja semua orang sedang duduk di sofa keluarga sambil menonton salah satu acara televisi.
" Assalamualaikum" salam Vanno yang sudah berdiri di sebelah maminya.
" Waalaikumsalam..." serentak semua orang yang ada di sana menjawab salam dari Vanno dan menatap ke arahnya secara bersamaan.
Vanno langsung mencium tangan kanan Alya. "Kok baru pulang? dari mana saja? kenapa gak ngabarin mami duluan?" tanya Alya secara beruntun karena tadi dia begitu merasa khawatir belum pulang pulang. Bahkan ponselnya beberapa kali dihubungi tidak diangkat dan terakhir justru tidak tersambung.
Vanno hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan maminya. Dia yakin maminya pasti sudah tau lebih dulu sebelum dia menjawab pertanyaannya. Siapa lagi kalau bukan dari sopirnya mang Asep yang pasti akan ditelpon oleh maminya jika dia tidak menerima panggilan teleponnya.
Vanno bergantian mencium tangan kanan Ferdi yang duduk di sebelah maminya.
" Kalau ditanya sama mami kamu itu dijawab Vanno!" ucap Ferdi mengingatkan putranya untuk menjawab pertanyaan dari istri tercintanya.
" Pasti mami sudah tau jawabannya juga pi" sahut Vanno cuek. Dia bergantian memberikan tangan kanannya pada kedua adiknya agar bergantian mencium tangan kanannya.
" Ya sudah kamu mandi sana, nanti keburu habis waktu sholat magribnya" suruh Alya pada Vanno karena memang sudah selesai adzan magribnya.
" Iya mi" sahut Vanno mengiyakan dan dia berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
" Kita tunggu di mushola sayang!" seru Alya saat Vanno berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
" Yes mam!" jawab Vanno tanpa berbalik dan terus menaiki anak tangga satu persatu hingga bayangannya tidak terlihat lagi.
" Ayo kita tunggu di mushola" ajak Ferdi pada seluruh anggota keluarganya untuk ke mushola untuk sholat magrib berjamaah sambil menunggu Ferdi yang masih membersihkan diri.
Tanpa ada yang berani membantah perkataan Ferdi semuanya berdiri dan berjalan menuju ke mushola yang ada di samping ruang keluarga dan bersebelahan dengan taman kecil. Semua menyiapkan diri dengan berwudhu terlebih dahulu sebelum memasuki mushola.
Tidak hanya keluarga inti saja yang akan mengikuti sholat berjamaah di mushola tersebut. Beberapa pegawai di rumah mereka juga selalu ikut sholat berjamaah di sana jika tidak berhalangan. Dan Ferdi yang selalu menjadi imam mereka jika Ferdi ada di rumah.
Tidak lama semua orang sudah siap dengan peralatan sholat mereka masing masing. Begitu juga dengan Vanno yang sudah selesai dengan acara membersihkan badannya dan sudah rapi untuk melaksanakan sholat berjamaah. Mereka semua melaksanakan sholat berjamaah dengan khusyuk dengan Ferdi yang menjadi imam mereka.
Setelah selesai dengan acara ibadah, mereka kembali lagi ke ruang santai untuk menunggu waktu makan malam. Dan pastinya Alya yang memasak untuk suami dan anak anaknya dengan dibantu oleh para asisten rumah tangga mereka.
Tidak lama semua makanan sudah terhidang di meja makan. " Makanan sudah siap!" seru Alya memanggil anak dan suaminya dari meja makan.
Semua berjalan menuju ke meja makan setelah mendengar suara panggilan Alya. Sudah pasti Keisha yang berlari duluan dan langsung menghampiri maminya. " Keisha nomer satu!" seru Keisha yang sangat senang jika dia yang sampai duluan.
Semua tertawa melihat tingkah lucu Keisha yang selalu membuat keluarga mereka tertawa karena kelucuannya. Semua sangat menyayangi putri kecil mereka begitu juga dengan Rion yang sangat menyayangi Keisha meskipun dia sering sekali menjahili adik kecilnya itu.
Mereka langsung duduk di kursi masing masing tanpa ada yang berebutan karena mereka sudah memiliki tempat duduk sendiri dari dulu. Keisha selalu memimpin do'a jika mereka akan dan selesai makan. Hal itu dilakukan agar Keisha bisa menghafal semua do'a sehari hari.
Mereka makan dengan santai dengan diselingi obrolan kecil serta kelucuan Keisha. " Coba kamu cerita kemana saja kamu tadi? dan kenapa kamu gak terima telpon daru mami?" tanya Alya yang masih ingin menginterogasi putra sulungnya.
" Ngaterin teman ke rumah sakit" jawab Vanno dengan singkat.
" Memangnya teman kamu sakit apa?" tanya sang mami yang masih berusaha untuk terus menginterogasi Vanno.
Semua sudah terbiasa dengan sikap Vanno yang seperti itu, karena memang begitulah sifat yang dimiliki Vanno. Dia anak yang dingin, irit bicara, cuek bahkan jika orang yang tidak mengenalnya akan bilang bahwa dia adalah anak yang sombong.
" Bagaiman bisa?" kali ini Ferdi sang papi yang bertanya karena dia merasa sedikit jengkel mendengar jawaban Vanno yang selalu singkat tanpa keterangan yang lebih jelas. Sehingga istrinya terus bertanya karena penasaran.
Semua orang tau bahwa sebenarnya Vanno hanya takut dengan papinya. Dia akan melakukan apa saja yang dikatakan oleh Ferdi tanpa berani membantahnya. Bukannya dia tidak takut dengan Alya, tapi karena Alya merupakan seorang mami yang sangat sabar hampir tidak pernah memarahi anak anaknya.
Berbeda dengan Ferdi yang memiliki sifat yang hampir sama dengan Vanno. Sehingga hal itu yang membuat Vanno mengerti bagaimana menghadapi orang yang bersifat seperti mereka. Ferdi bukanlah papa yang jahat ataupun tidak sabar, justru Ferdi adalah seorang papa yang sangat sabar. Tetapi jika dia kesal atau marah maka kesabarannya akan hilang dalam sekejap.
" Cerita pastinya Vanno juga gak tau, kita mengira dia tidak masuk sekolah tapi saat pulang sekolah dan melihat ibunya menjemput ke sekolahan, baru kita tau bahwa sebenarnya dari pagi dia sudah berangkat ke sekolah" akhirnya Vanno mulai bercerita lebih rinci.
Semua orang yang sedang duduk menikmati hidangan makan malam sambil mendengarkan dengan seksama cerita dari Vanno.
" Saat itu juga kita mencarinya ke seluruh ruangan di sekolah dan ternyata dia sudah tidak sadar di salah satu kamar mandi di sekolahan yang terkunci" lanjut Vanno bercerita. " Makanya Vanno bantu nganterin dia ke rumah sakit karena ibunya hanya naik sepeda motor" sambungnya lagi.
" Terus gimana keadaannya sekarang?" kini Alta yang bertanya lagi.
" Tadi sebelum Vanno balik, dia sudah sadar tapi belum sepenuhnya" jawab Vanno.
" Syukurlah kalau begitu" sahut Alya yang juga merasa lega karena dia tau bagaimana perasaan seorang ibu yang melihat kondisi anaknya yang dalam keadaan sakit.
Semua orang mengangguk sambil menikmati makan malam mereka. Dan mereka terdiam dan ada beberapa pertanyaan yang ada di dalam otak mereka tapi mereka hanya bisa memendamnya saja.
" Kak Vanno hebat, kayak pahlawan yang suka membantu orang" ucap Keisha merasa bangga dengan sikap kakaknya yang menurutnya baik dan seperti seorang pahlawan. " Tidak seperti kak Rion yang sukanya jahatin Keisha terus!" lanjutnya dengan menjelek jelekkan Rion yang selama ini memang suka sekali menjahili adiknya. Makanya Rion dan Keisha sering sekali beradu mulut jika mereka sedang bertengkar.
" Tapi kalau Rion orang ramah gak kayak kak Vanno yang sombong sama orang lain" Rion membela dirinya dengan membandingkan sifatnya yang memang berbanding terbalik dengan Vanno.
" Sudah... jangan bertengkar!" seru Ferdi yang risih mendengar anak anaknya selalu berdebat dan bertengkar meskipun sebenarnya hal itu bukanlah pertengkaran yang hebat. Mereka hanya menunjukkan kasih sayang mereka satu sama lain dengan cara bertengkar dan berdebat terus.
" Cepat habiskan makan kalian" suruh Ferdi sekali lagi agar semua anggota keluarganya segera menghabiskan makan malam mereka.
Semua orang melanjutkan makan malam yang sudah dihidangkan tanpa ada lagi yang berkata sedikit saja. Di keluarga mereka hanya & Ferdi yang menjadi orang yang ditakuti oleh semuanya. Mungkin karena Ferdi memang kepala keluarga mereka atau juga karena sifat Ferdi yang dingin dan cuek dengan siapa saja, kecuali jika dengan istrinya dia akan menjadi laki laki yang lembut dan penuh perhatian bahkan bisa sangat manja melebihi anak anaknya.
Makan malam akhirnya selesai juga dan mereka berkumpul lagi di ruang santai untuk mengerjakan tugas tugas mereka dari guru mereka. Selain itu mereka juga menyiapkan pelajaran untuk besoknya. Ferdi dan Alya tidak ketinggalan menemani anak anak mereka yang sedang belajar. Bahkan Alya sering membatu anak anak mereka jika mengalami kesulitan mengingat Alya adalah siswi yang sangat pintar dan cerdas.
" Suruh sekolah mencari penyebabnya teman kamu terkunci di kamar mandi" kata Ferdi menyuruh Vanno untuk melaporkan kejadian yang dialami oleh Hanna.
" Iya pi" jawab Vanno yang memang sudah berfikir untuk mencari bukti bukti dan mengatakan kebenaran pada kepala sekolah.
Ferdi memang orang yang cuek tapi dia memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Meskipun dia tidak mengenal sama sekali orang yang akan dia tolong.
Dan sifat tersebut sangat menurun pada Vanno yang bukan hanya wajah mereka yang sangat mirip, tetapi juga watak dan sifat mereka yang juga sama.
" Sepertinya ada yang ingin mencelakai teman kamu dan cari tau siapa orangnya " kata Ferdi lagi yang memiliki pemikiran yang sama dengan Vanno dengan apa yang terjadi pada Hanna.
Vanno hanya mengangguk tanpa menyahuti ucapan papinya. Sebenarnya dari awal dia menemukan Hanna dia sudah curiga bahwa ada seseorang yang ingin mencelakai Hanna. Buktinya saat dia menemukan Hanna pertama kali tubuh Hanna terikat begitu juga dengan mulutnya yang ditutup oleh kain kain.
Dalam hati dia juga sudah berencana akan mencari tau tentang siapa yang mencoba menyakiti Hanna. Dia akan bertanya langsung pada Hanna ataupun mencari bukti dari yang lainnya.