
Setelah pembicaraan mereka di kantin beberapa hari yang lalu, hubungan Hanna dan Vanno menjadi renggang karena adanya rasa canggung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Dewa tempo hari. Entah siapa yang memulai duluan, hari demi hari mereka terlihat saling menjauh. Bahkan mereka tidak pernah bertukar sapa ketika bertemu, mereka seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain.
Dan hal itu tidak luput dari perhatian semua sahabat mereka berdua bahkan teman kelas mereka juga melihat perubahan yang terjadi diantara Hanna dan Vanno. Semua murid cewek yang awalnya iri karena kedekatan Hanna dan Vanno, akhirnya mereka bisa merasa bahagia bahkan bertepuk tangan ketika melihat hubungan mereka yang merenggang.
Karena hal itu Vanno yang dari awal memang memilikinya sikap yang dingin dan cuek. Kini sikapnya menjadi lebih parah dari sebelumnya, sekarang sikapnya semakin dingin layaknya es gunung dan tidak peduli dengan sekitarnya lagi. Bukan hanya sikapnya yang menjadi dingin terhadap Hanna, Vanno juga terlihat tidak peduli sama sekali pada Hanna.
Hanna sendiri yang dulunya merupakan cewek yang ceria dan murah senyum. Kini sikapnya berubah menjadi pendiam dan susah tersenyum, kalaupun tersenyum terlihat senyumannya yang tipis dan terpaksa. Tapi jika di hadapan kedua sahabatnya Hanna masih bersikap seperti biasanya.
Saat ini sedang jam istirahat, Vanno dan Hanna tidak ikut pergi ke kantin bersama sahabat mereka. Vanno sedang tidur tiduran di atas bangkunya dengan malas dan Hanna sendiri pergi ke perpustakaan untuk menghilangkan rasa bosannya dan berusaha menghindar dari semua temannya agar mereka tidak terlalu banyak bertanya.
Dan kebetulan sahabat mereka sedang ada di kantin untuk makan siang bersama. Mereka sengaja makan siang bersama setelah mereka berjanjian sebelumnya. Selain makan siang mereka juga ingin membicarakan tentang hubungan Hanna dan Vanno yang semakin hari semakin menjauh.
" Ini semua gara gara kamu..., ngapain juga kamu bertanya tentang hubungan mereka! jadinya mereka sekarang malah seperti orang asing" ucap Dita setelah mereka semua selesai dengan makan siang masing masing dan kini dia tengah menyalahkan Dewa yang menyebabkan hubungan Hanna dan Vanno meregang karena pertanyaan Dewa waktu itu.
" Kok aku?!" sahut Dewa yang tidak terima disalahkan oleh Dita atas meregangnya hubungan Hanna dan Vanno.
" Kalau bukan kamu siapa lagi? ini semua karena pertanyaan kamu waktu itu sehingga mereka jadi menjauh" Viona juga ikut menyalahkan Dewa menurutnya sangat menyebalkan.
" Sudah jangan ribut! gak usah saling menyalahkan!" Robert langsung menyela ketika Dewa terlihat ingin menyanggah tuduhan Dita dan Viona. Robert sendiri mencoba menjadi penengah diantara ketiga temannya tersebut. "Kita berkumpul di sini bukan untuk saling menyalahkan atau untuk bertengkar. Kita kumpul di sini untuk mencari cara mendekatkan hubungan pertemanan Hanna dan Vanno" lanjutnya sedikit kesal melihat sikap ketiga temannya tersebut.
Sejenak mereka terdiam mendengar ucapan Robert, tanpa ada yang berbicara sama sekali. Hanya hembusan nafas mereka yang saling bersahutan yang terdengar di telinga mereka. Bahkan suara gaduh di kantin sama sekali tidak mereka hiraukan, karena mereka sedang larut dalam pikiran masing masing.
" Gimana kalau kita ajak mereka ketemuan?" usul Viona.
" Setiap hari mereka berdua sudah bertemu, Vio cantik....!" sahut Dewa dengan gemas dengan pemikiran konyol teman satu kelasnya itu.
" Ya kan kita ngajak ketemuannya di luar bareng bareng gak di sekolah" kekeh Viona dengan usulannya.
" Itu gak akan berhasil Vi, jangankan untuk keluar bareng, sekarang saja mereka sudah tidak mau menyapa satu sama lain bahkan terlihat tidak peduli sama sekali" akhirnya Robert ikut menimpali dengan sabar. " Tapi aku tau sebenarnya mereka masih peduli satu sama lain, hanya saja mereka berdua terlalu gengsi" lanjut Robert.
" Iya kamu benar" ucap Dita yang setuju dengan pendapat Robert. " Kamu sendiri punya usulan gak?" lanjut Dita kini bertanya pada Robert.
Robert hanya bisa menggeleng dan menghela nafas dengan panjang karena dia sendiri belum memiliki ide untuk mendekatkan Vanno dan Hanna kembali.
" Sepertinya diantara mereka harus ada kejadian buruk dulu, baru kita bisa melihat apa mereka masih peduli atau tidak?" kata Dita menyampaikan pemikirannya.
" Maksudmu?" tanya Viona yang masih belum paham dengan pemikiran Dita.
" Jadi gini, jika ada diantara mereka yang mengalami kejadian buruk, ya... contohnya terjatuh atau pingsan. Jika mereka masih peduli itu artinya kita masih bisa mendekatkan mereka kembali, dan sebaliknya jika sudah tidak ada rasa peduli diantara mereka itu artinya kita tidak bisa memaksakan mereka untuk kembali dekat seperti dulu" ucap Dita menyampaikan pendapatnya.
Robert, Dewa dan Vio mengangguk mengerti dan setuju dengan penjelasan Dita yang masuk akal.
" Tapi gimana mereka bisa terjatuh atau pingsan?" tanya Vio dengan polosnya.
" Bukan keduanya Vio sayang.... tapi salah satu dari mereka yang mengalaminya" jelas Dita dengan menahan geram akan pertanyaan Viona yang membuatnya kesal.
" Maksud aku juga gitu Dita... tapi itu kapan bisa terjadi?" tanya Viona lagi. " Sebentar lagi rekreasi, gimana kalau mereka masih sama seperti sekarang?" gumam Viona dengan wajah sedihnya yang masih bisa didengar dengan jelas oleh ketiganya.
" Apa???" tanya mereka bertiga serentak karena penasaran hingga suara mereka menggema di kantin dan didengarkan oleh semua yang ada di kantin.
" Jangan teriak! mereka semua melihat kita" kata Robert menasehati dengan suara pelan, karena saat ini semua yang ada di kantin sedang menatap ke arah mereka duduk.
" Biarin!, cepat kasih tau apa rencana kamu" ucap Dewa sudah tidak sabar tapi berusaha berbicara dengan suara pelan.
" Satu minggu lagi kan kita rekreasi, nah kita akan buat rencana di sana saja buat mendekatkan mereka berdua" ucap Robert memberitahu. " Kita bisa gunakan ide Dita untuk membuat salah satu diantara mereka terjatuh dengan disengaja atau mungkin kita buat Hanna pingsan" lanjutnya menyampaikan usulannya.
Dewa mengangguk setuju dengan pendapat Robert. " Sepertinya itu ide yang bagus" setuju dengan pendapat Dita dan Robert. " Tapi yang jadi pertanyaan gimana kita buat Hanna terjatuh atau pingsan? dan apa hal itu tidak berlebihan bagi mereka?" tanya Dewa masih ada sedikit keraguan.
" Aku belum tau sih gimana caranya? tapi yang pasti kita bisa gunakan waktu rekreasi untuk mendekatkan mereka kembali dengan salah satu cara tersebut atau mungkin dengan cara yang lainnya" sahut Robert yang juga masih bingung. " Kita masih ada waktu untuk memikirkan rencananya lagi, jadi kita bisa pelan pelan mencari ide lagi" lanjutnya.
Dewa, Dita dan Viona mengangguk setuju dengan usulan Robert. Tapi mereka harus menyiapkan segala rencananya dengan matang agar tidak terjadi kesalahan saat mereka melaksanakan rencana mereka.
" Ya sudah kita bisa berfikir pelan pelan untuk menjalankan rencana kita nanti, dan ingat jangan sampai rencana kita diketahui oleh mereka berdua atau bahkan orang lain selain kita" ucap Robert mengingatkan ketiganya.
Sekali lagi ketiganya mengangguk mendengar nasehat Robert yang memang dari dulu memiliki sifat yang lebih bijaksana daripada yang lainnya.
Setelah selesai berdiskusi dan memutuskan rencana mereka, akhirnya mereka kembali ke dari kantin menuju kelas mereka karena bel sudah berbunyi menandakan waktu istirahat telah berakhir.
Saat mereka berempat masuk ke dalam kelas, mereka melihat Hanna yang acuh tak acuh sambil membaca buku di bangkunya. Sedangkan Vanno masih setia dengan tidur di bangkunya meskipun mereka tau Vanno hanya berpura pura saja.
Melihat kedua sahabatnya masuk Hanna tersenyum tipis kepada Dita dan Viona begitu juga sebaliknya. " Sudah kenyang" tanya Hanna berbasa-basi sambil tersenyum tipis.
Dita dan Viona mengangguk mengiyakan dan tersenyum dan balik tersenyum pada Hanna lalu duduk di bangku mereka masing masing. Tanpa Hanna dan Vanno ketahui bahwa keempat sahabat mereka sudah memiliki rencana untuk mendekatkan mereka kembali.
Dan mereka hanya berpura pura bersikap seperti biasanya agar keduanya tidak menyadari rencana sahabat mereka.
Robert dan Dewa yang duduk di bangku belakang di kanan dan kiri Vanno, berjalan mendekati Vanno. " Van... bangun... sebentar lagi gurunya datang" Robert membangunkan Vanno sambil menepuk bahu Vanno pelan yang sedang tidur di bangkunya dengan malas.
Sebelum hubungan pertemanan mereka renggang, biasanya Hanna yang akan membangunkan Vanno yang biasa tidur di bangkunya. Entah tidur benar ataupun hanya berpura pura.
Vanno yang sedari tadi sebenarnya hanya berpura pura tidur, karena dia merasa canggung jika harus bertatap muka dengan Hanna. Dia bangun dari tidurnya dengan berpura pura menyipitkan kedua matanya setelah bahunya ditepuk pelan oleh Robert Kemudian dia hanya mengangguk pelan tanpa berucap sepatah kata.
Robert dan Dewa akhirnya juga duduk di bangku mereka masing masing menunggu guru pengajar datang ke kelas mereka.
Tidak lama guru pengajar datang dan langsung memberikan materi untuk murid muridnya, baru setelah itu akan memberikan tugas untuk mereka.
# Buat para reader terima kasih sudah mampir di cerita novelku, aku masih banyak belajar jadi jangan di bully ya. Maafkan jika ada kesalahan penulisan kata.
# Selalu dukung novel aku dan jangan lupa klik favorit agar kalian mendapatkan notifikasi update. Dan jangan lupa kasih komentarnya aku lebih baik lagi menulis ceritanya. Lalu kasih vote kalian sebanyak banyaknya yang keluar otomatis setiap hari Senin. Dan jangan lupa berikan hadiah kalian sebanyak banyaknya agar aku lebih bersemangat menulisnya.
# Kalian bis mampir di novel perdanaku yang sudah tamat yang berjudul Bukan Cinta Terlarang, karena novel My Husband My Puppy Love merupakan kelanjutan daripada novel Bukan Cinta Terlarang. Selamat membaca dan salam cinta dari saya 🥰🥰🥰