
Hari Senin semua anak anak kelas 7 masuk bersamaan dengan kelas 8 dan 9 yang juga sudah mulai masuk awal semester. Sekolahan terlihat semakin ramai karena banyaknya murid yang masuk di sekolah yang di kelola oleh yayasan tersebut.
Sebelum masuk ke kelas masing masing semua anak anak kelas 7 berdiri di lapangan basket terlebih dahulu. Kali ini diberitahukan pada semua murid agar mereka melihat ke papan Mading untuk melihat kelas baru yang akan mereka tempati nantinya.
Semua anak bergerombol bergantian berdiri di depan papan Mading untuk melihat kelas mereka masing masing. Setelah itu mereka langsung pergi mencari tempat kelas mereka sesuai dengan nama yang tertulis di papan mading.
Hanna dan kedua sahabatnya yang tidak tahu menahu tentang rencana Vanno dan Kedua sahabatnya merasa cemas jika saja mereka tidak masuk dalam satu kelas. Tapi begitu mereka tau bahwa nama mereka ada di dalam satu kelas yang sama, mereka bertiga merasa sangat bahagia.
Saat mereka melihat nama mereka ada di dalam satu kelas yang sama tentu saja mereka sangat senang. " Akhirnya kita bisa satu kelas lagi!" Viona berseru bahagia setelah membaca nama mereka yang berada di papan Mading.
" Iya benar, aku juga bahagia kita bisa masuk di kelas yang sama!" sahut Hanna yang tidak kalah bahagianya dibanding dengan kedua sahabatnya.
Dita hanya mengangguk tapi hatinya juga bahagia dan mereka berpelukan bersama dengan berjalan beriringan sambil mencari kelas mereka berada. Dita berfikir bahwa mereka pasti akan masuk di kelas yang sama karena perbuatan Vanno meskipun tidak yakin.
Vanno, Dewa dan Robert yang tidak jauh berdiri di belakang ketiga sahabat mereka hanya bisa menggeleng melihat kebahagiaan mereka. Vanno hanya melihat ketiganya tanpa tersenyum sama sekali, tapi dalam hatinya dia sangat bahagia akhirnya dia bisa meminta bantuan kepala sekolah untuk menempatkan mereka semua dalam satu kelas.
Tadi Dewa sudah memastikan sendiri bahwa mereka juga berada dalam satu kelas dengan ketiga sahabat mereka. Dan langsung memberitahukan hal itu pada Vanno dan Robert.
" Kita berenam masuk di kelas yang sama!" beritahu Dewa setelah dia menyelinap diantara teman-temannya yang lain untuk melihat nama nama mereka.
" Kamu yakin?" Robert ingin memastikan sekali lagi.
" Iya... aku sudah melihat nama nama kita berenam ada di kelas yang sama" sahut Dewa meyakinkan sahabatnya tersebut. " Tenang saja, kalau nanti ada kesalahan sahabat kita yang satu ini pasti akan melakukan apa saja demi kita, ya gak Van?" lanjutnya mengajak Vanno bercanda.
" Yuk ke kelas" ajak Vanno tidak ingin bercanda lagi dengan kedua sahabatnya yang bisa bisa didengar oleh orang lain.
Mereka berjalan dan Vanno melihat ketiga sahabat mereka berjalan di depan mereka dengan jarak beberapa meter dan terhalang oleh teman teman lainnya.
Tanpa diketahui oleh ketiganya Dewa mengajak Robert dan Vanno berjalan mengikuti mereka bertiga. Tanpa ingin menyapa mereka terlebih dahulu karena mereka bertiga terlihat sangat bahagia hingga mereka melupakan Vanno dan kedua sahabatnya.
Hanna yang berjalan bersama kedua sahabatnya menyusuri koridor beberapa kelas untuk mencari kelas mereka. Berbicara sambil bercanda ria dengan suara pelan karena terlihat jalan yang mereka lewati adalah beberapa kelas tingkat atas.
" Tapi tunggu dulu deh!" Dita menghentikan langkah Viona dan Hanna karena terkejut dengan suara teriakan Dita yang tiba tiba.
" Jangan berisik! nanti dimarahi sama gurunya" Hanna memarahi Dita dengan suara pelan tapi penuh penekanan, karena Dita yang tiba tiba berteriak dan berhenti seenaknya saja.
Vanno dan kedua sahabatnya yang berjalan di belakang mereka dengan jarak yang lumayan jauh. Juga langsung ikut berhenti hingga beberapa teman lainnya mendahului mereka yang masih berhenti diam di koridor tanpa ada yang berbicara.
" Sekalian jalan, gak enak dilihat sama yang lainnya" ucap Hanna mengajak agar tetap berjalan.
" Iya kamu kenapa sih Ta? bikin kaget aja!" ucap Viona dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
Mereka tetap berjalan dengan santai sambil mengobrol santai. " Aku baru ingat, gimana sama Vanno dan yang lainnya? apa mereka satu kelas sama kita juga?" tanya Dita yang baru ingat bahwa dirinya tadi tidak sempat melihat nama nama ketiga sahabat mereka yang lainnya saat di depan Mading.
" Iya kamu benar!" seru Viona. " Tapi dimana mereka? bukannya tadi mereka ada di belakang kita?" lanjut Viona yang bertanya balik sambil matanya mencari ke sana kemari.
" Mungkin saja Han, buktinya kita saja bisa masuk dalam satu kelas" sahut Viona yang masih berjalan bersama kedua sahabatnya bahkan kini mereka menaiki tangga lantai atas. " Kan Vanno sudah menghad__" belum sempat Viona yang memiliki mulut ember langsung ditutup dengan tangan Dita yang juga langsung menatapnya tajam memberikan peringatan agar tidak mengatakan apa yang telah mereka bicara dengan Dewa tempo hari.
Dita tidak ingin Hanna mengetahui tentang Vanno yang kemungkinan besar ikut andil besar dalam urusan kelas mereka. Dia tidak ingin Hanna berfikiran buruk tentang Vanno yang akan membuat hubungan mereka meregang lagi seperti dulu.
" Kamu kenapa sih Ta? kok mulut Vio kamu tutup?" tanya Hanna yang merasa heran dengan sikap kedua sahabatnya. " Memangnya Vanno kenapa?" tanya Hanna lagi karena tadi dia sempat mendengar Viona berkata tentang Vanno tapi mulut Viona langsung ditutup oleh tangan Dita.
" Ah... gak apa apa Han" sahut Dita sambil tersenyum canggung dan melepas tangannya yang ada di mulut Viona.
Viona sendiri mengerti dengan peringatan yang diberikan Dita padanya dan dia sama sekali tidak marah. Memang dasar dirinya saja yang suka berbicara sesukanya tanpa bisa menahannya.
" Kasih tau, ada apa dengan Vanno? apa dia menghadap kepala sekolah sehingga kita bisa masuk dalam satu kelas?" desak Hanna yang mulai curiga dan mengingat ucapan Dita dulu saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar tentang Vanno yang langsung menghadap kepala sekolah untuk memindahkan teman satu kelasnya.
" Aku gak tau Han, makanya aku tutup mulutnya karena kita gak tau kebenarannya kan" sahut Dita yang merasa bersalah karena sebenarnya dia sendiri belum yakin bahwa semua ini adalah campur tangan Vanno sehingga mereka bisa masuk di kelas yang sama.
" Iya Han... aku tadi cuma keceplosan saja ngomongnya, jangan berfikiran buruk deh!" Viona ikut menyahuti. " Lagian kita juga belum tau kebenarannya kan?" lanjutnya membujuk Hanna agar tidak mencurigai Vanno.
Hanna hanya bisa mengangguk pelan karena mereka juga tidak tau kebenarannya. Lagipula mereka juga belum tau, apakah Vanno dan kedua sahabatnya akan berada dalam satu kelas dengan mereka. ' Tapi jika memang mereka masuk di kelas yang sama dengan kita, aku yakin bahwa semua karena campur tangan Vanno yang entah apa yang dia lakukan dan aku akan bertanya langsung padanya' batin Hanna tidak ingin marah marah lagi dengan kedua sahabatnya sebelum dia melihat sendiri.
Saat ini mereka bertiga sudah berada di depan kelas baru mereka yang berada di lantai 3. Mereka masih harus berdiri di luar pintu sambil menunggu teman satu kelas mereka yang lainnya. Vanno dan yang lainnya juga sudah berada di depan kelas baru mereka dan kini berdiri di belakang Hanna dan yang lainnya.
Saat menunggu di depan kelas, Viona yang sedang menoleh ke sana kemari langsung membuka matanya dengan lebar saat melihat ketiga sahabatnya berdiri tidak jauh di belakang mereka.
Robert yang juga melihat Hanna langsung menggeleng dan meletakkan jari telunjuknya agar Viona tidak berteriak dan memberitahu Hanna terlebih dahulu. Viona sendiri yang langsung tersadar dengan isyarat dari Robert hanya mengangguk pelan sambil menelan ludahnya dengan perasaan takut.
Lalu dia berusaha bersikap biasa saja terhadap kedua sahabatnya agar mereka tidak curiga terutama Hanna. ' Kalau mereka ada di sini itu artinya mereka juga satu kelas dengan kita' batin Viona memahami situasinya.
Setelah pintu kelas dibuka oleh salah satu guru lalu mengabsen nama nama murid di kelas tersebut satu persatu. Karena nama Vanno yang memiliki awalan huruf 'A' jadinya dia yang yang dipanggil duluan daripada kelima teman mereka.
Dari sana Hanna akhirnya tau bahwa mereka berenam berada di kelas yang sama lagi sepeti dulu. " Kalian tau kan kalau mereka satu kelas dengan kita?" tanya Hanna pada kedua sahabatnya setelah mendengar nama Vanno dipanggil oleh guru mereka.
Vanno dengan santainya langsung masuk tanpa memperdulikan tatapan Hanna yang sedari tadi mengintimidasi dirinya. Karena dia masuk kelas duluan dia mencari tempat duduk di belakang sendiri bahkan dia melarang anak lain yang akan duduk di depannya. Sudah pasti itu disiapkan untuk Hanna.
Hanna langsung duduk di depan bangku Vanno, karena Vanno memberinya isyarat agar dia mendekati dirinya dan duduk di depannya. Tanpa menolak Hanna langsung duduk di depan bangku Vanno
" Ini ulah kamu kan?" tanya Hanna langsung tanpa basa basi saat dia sudah duduk di bangkunya.
Hanna tidak menoleh ke belakang, hanya badannya yang dia arahkan ke belakang dan Vanno sendiri memajukan tubuhnya sehingga mereka bisa mendengar ucapan mereka satu sama lainnya. Dari dulu mereka memang sepeti itu jika memang berbicara di dalam kelas mereka bahkan mereka jarang sekali langsung bertatap mata.
" Hemm..." Vanno mengerti maksud Hanna dan dia mengiyakan hanya dengan berdehem saja tanpa berucap lagi. Tapi masih bisa didengar oleh Hanna yang duduk di depannya.
Dari dulu Vanno memang selalu terbuka jika berbicara dengan Hanna tapi hanya mereka yang tau semuanya.