My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Rencana sahabat 2



Hari ini adalah hari Jumat dan sesuai dengan jadwal kegiatan di sekolahan, bahwa nanti malam mereka akan pergi berangkat ke Yogyakarta untuk rekreasi sekaligus study tour. Kegiatan tersebut hanya diikuti oleh murid murid kelas 6 bersama dengan seluruh bapak ibu guru.


Hari ini sekolah diliburkan semua dari kelas bawah hingga kelas 5. Dan hanya kelas 6 yang datang ke sekolah bersama bapak ibu guru. Itupun hanya untuk mendengarkan pencerahan serta nasehat dari kepala sekolah sebelum mereka berangkat nanti malam. Mereka juga mendengarkan penjelasan serta perintah dari ketua panitia pelaksana kegiatan study tour, tentang apa yang harus mereka lakukan dan yang harus mereka bawa dan segala kebutuhan masing masing selama pergi rekreasi.


Setelah mendapatkan pengarahan dari bapak kepala sekolah dan perintah dari ketua panitia pelaksana study tour, anak anak langsung diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing masing. Dengan begitu mereka bisa bersiap siap dan beristirahat sebelum nanti malam mereka semua berangkat ke Yogyakarta.


Karena banyak orang tua yang langsung pulang saat mereka mengantar anak anaknya, saat ini semua anak anak terpaksa menunggu jemputan terlebih dahulu hingga mereka datang. Apalagi guru wali kelas juga baru memberitahukan di grup kelas masing masing bahwa anak anak sudah pulang dan bisa dijemput kembali.


Sekalian menunggu jemputan dari orang rumah, Robert, Dewa, Dita dan Viona masih duduk di kelas. Mereka ingin memastikan rencana mereka yang akan mendekatkan Vanno dan Hanna kembali. Mereka masih menetap di kelas setelah Vanno dan Hanna beranjak pergi meninggalkan kelas mereka. Dan hanya tersisa mereka berempat dan beberapa teman kelas mereka yang masih asyik dengan teman mereka.


" Gimana? sudah ada yang punya rencana yang bagus?" tanya Robert pada ketiga temannya tanpa menunggu lama.


" Menurut aku, gimana kalau seperti rencana awal, kita buat Hanna terjatuh tanpa sengaja di depan Vanno?" ucap Dewa mengatakan usulannya.


" Iya aku setuju dengan Dewa, setidaknya tidak terlalu beresiko jika hanya terjatuh di depan Vanno" Viona setuju dengan rencana Dewa.


" Tapi kalau tanpa sengaja terjatuh Hinga terluka path gimana?" tanya balik Robert pada Viana dan Dewa yang hanya diam tanpa bisa menjawab.


" Kalau menurut aku, gimana kalau Hanna kita buat pingsan saja? biar lebih terlihat beneran dan Vanno pasti akan langsung panik melihat Hanna pingsan di depannya" kata Dita memberikan usulan yang berbeda dengan Dewa dan Vion


" Trus...? apa yang harus kita gunakan untuk membuat Hanna pingsan? kita tidak mungkin Samapi membiusnya kan?" telah Dewa yang kurang setuju dengan usulan Dita untuk membuat Hanna pingsan.


" Hemm..., kalau seperti itu akan beresiko tinggi, karena kita tidak tau kesehatan Hanna sendiri bagaimana" Robert sendiri juga kurang setuju jika harus membuat Hanna pingsan.


" Nanti aku dan Viona akan mengajak dia untuk berkeliling hingga dia kelelahan dan kecapean dan bisa saja kan begitu tiba dia akan langsung pingsan" kata Dita lagi menjelaskan.


" Tapi bagaimana kalau yang pingsan justru bukan Hanna, melainkan kalian berdua?" tanya Robert yang langsung mematahkan rencana Dita.


" Trus gimana dong?" tanya Dita yang sudah bingung dan semakin tidak sabar.


" Ehmmm... bagaimana menurut kalian, kalau kita buat Hanna tersesat saja di jalanan saat nanti kalian ajak dia berkeliling di tempat wisata. Lalu kalian bersembunyi dan bilang pada Vanno kalau kalian terpisah dengan Hanna kehilangan jejak dia" Robert menjelaskan rencananya. " Dan kita akan memantau Hanna dari kejauhan selama kalian meninggalkan Hanna sendirian" lanjutnya masih menjelaskan rencana yang sudah dia pikirkan sebelumnya.


Mereka bertiga berfikir sejenak mendengar rencana yang dikatakan Robert, hingga tidak lama kemudian, akhirnya Dewa yang berbicara. " Menurut aku itu juga ide yang bagus dan dengan resiko yang aman" setuju dengan rencana Robert.


Mendengar Dewa yang setuju dengannya membuat Robert tersenyum tipis dengan kepala mengangguk.


" Lalu bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Robert pada Dita dan Viona yang masih terdiam dengan pikiran mereka masing masing.


Dan tidak lama kemudian Dita dan Viona langsung mengangguk dalam setelah mereka berfikir panjang. Dan akhirnya mereka berempat setuju dengan ide yang disampaikan oleh Robert.


" Baiklah berarti itu adalah rencana awal kita, tapi jika rencana awal kita tidak berhasil, maka kita bisa memakai rencana lainnya entah membuat Hanna terjatuh atau pingsan" ucap Robert. " Tapi ingat kita harus terus berdiskusi sebelum melaksanakan rencana kita, dan jangan melaksanakannya sendiri" lanjut Robert menasehati ketiga temannya,


Mereka bertiga serentak menganggukkan kepala setuju dengan semua ide Robert. Memang benar Robert adalah teman yang paling pintar dan bijaksana diantara mereka berempat.


" Ehh.. tunggu dulu... nanti di dalam bis Hanna duduk dengan siapa?" kini Viona yang bertanya.


" Kita belum tau juga, tadi kata Bu Desi nanti waktu mau berangkat baru diberitahu tempat duduknya" jawab Dita. " Memangnya kenapa?" lanjutnya bertanya pada Viona sambil menatapnya penuh tanda tanya.


Robert, Dita dan Dewa hanya bisa mengerutkan kedua alis mereka bingung dengan jawaban Viona. Tapi sejurus kemudian mereka langsung tertawa pelan. "Tumben otak ini bisa berfikir cerdas, biasa lemot banget" puji Dita yang terkesan mengejek Viona yang sering lamban mengerti ucapan teman temannya.


" Bener kata Viona, langkah awalnya kita bisa mendekatkan mereka waktu mereka di dalam bus" setuju dengan ide bagus yang baru saja muncul di otak Viona. " Sebaiknya sekarang kita langsung menghadap Bu Desi dan meminta tolong untuk menempatkan mereka di satu bangku sebelum nanti malam tempat duduknya dibacakan oleh Bu Desi" ajak Robert untuk menghadap wali kelas mereka.


Mereka berjalan beriringan dengan cepat menuju ke ruang guru untuk bertemu dengan guru wali kelas mereka Bu Desi untuk menanyakan serta meminta tolong untuk menempatkan Hanna dan Vanno dalam satu bangku.


" Selamat pagi bu" sapa mereka pada Bu Desi saat mereka tiba di ruang guru.


" Pagi anak anak, ada apa kalian mencari saya?" tanya bu Desi penuh tanda tanya yang sedang duduk di kursinya.


" Tidak ada bu , kita hanya mau tanya tempat duduk Vanno dan Hanna, dan sekalian mau minta tolong sama ibu untuk menempatkan duduk mereka dalam satu bangku" kata Robert langsung menyampaikan maksud kedatangan mereka dengan masih berdiri di hadapan Bu Desi.


" Kenapa kalian ingin mereka duduk bersama?" tanya bu Desi penasaran.


" Kami ingin mendekatkan mereka kembali bu, kebetulan saat ini mereka sedang bertengkar jadi kami ingin mereka bisa kembali menjadi teman seperti dulu" jawab Robert yang tidak ingin menutup nutupi rencana mereka.


siapa tau saat bu Desi tau dengan masalah mereka akhirnya beliau mau membantunya dan pastinya akan memudahkan bagi mereka menjalankan semua rencana mereka yang sudah disusun.


" Dari awal saya memang sudah menempatkan Vanno dan Hanna dalam satu bangku, karena saya tau selama ini Vanno hanya merasa nyaman dengan Hanna" sahut bu Desi sambil memperlihatkan nama nama yaang sudah dia buat sebelumnya.


Keempat murid tersebut langsung melihat kearah kertas yang tertulis tempat kursi dan nama anak anak. Sontak saja hal itu membuat mereka berempat langsung kegirangan karen rencana awal mereka telah dilakukan oleh guru wali kelas mereka.


Mereka langsung berterima kasih pada bu Desi karena sudah membantu rencana mereka lebih dulu. Mereka segera berpamitan untuk pulang ke rumah mereka masing masing.


Sementara itu Vanno berjalan keluar dari kelas menuju ke halaman sekolah bersama teman teman yang lainnya. Dia memang sengaja berjalan di belakang Hanna dan pura pura tidak mengenalinya dengan selalu menampilkan sikap cueknya. Lalu dia melihat Hanna berhenti di halaman sekolah dan kepalanya melihat ke sana kemari untuk memastikan ibunya sudah menjemput atau belum.


Vanno terus berjalan melewati Hanna yang berdiri di depannya tanpa menyapa sama sekaki. Dia sudah dijemput oleh sopir pribadinya, lebih tepatnya sang sopir menunggunya sejak dia mengantar anak majikannya tersebut ke sekolah. Karena Alya sudah menyuruh sopir Vanno untuk menunggu Vanno sampai pulang sekolah karena dia yakin anaknya hanya sebentar di sekolahan.


Vanno masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Sebentar dia menyuruh sopirnya untuk tidak menjalankan mobilnya sebentar. Dia ingin melihat Hanna terlebih dahulu dari dalam mobil.


Dia sebenarnya sangat merindukan hari hari baik pertemanan mereka yang sudah berjalan setahun lebih. Dan baru kali ini dia merasa sedih karena pertemanan mereka harus renggang hanya karena pertanyaan yang membuat mereka berdua merasa canggung hingga akhirnya mereka tanpa sengaja semakin menjauh satu sama lain.


' Kenapa kita sekarang menjadi seperti ini? apa kita tidak bisa berteman lagi kayak dulu lagi, dan kenapa kita harus menjauh hanya karena ucapan Dewa tempo hari?' batin Vanno bertanya tanya dalam hati.


Pak sopir yang duduk di kursi pengemudi berkali kali melihat dari kaca tengah untuk melihat anak majikannya. Dia sebenarnya ingin sekali bertanya dan menegurnya tapi dia tidak berani karena sudah beberapa hari ini wajah Vanno yang terlihat semakin dingin.


" Huuuhh..." terdengar suara helaan panjang dari mulut Vanno yang terlihat frustasi.


Terlihat Hanna yang sudah dijemput oleh ibunya seperti biasanya dengan menaiki sepeda motor matic. Terlihat interaksi diantara keduanya yang membuat Vanno tersenyum.


" Kita pulang mang" suruh Vanno pada sopirnya setelah tidak melihat bayangan Hanna dan ibunya yang pergi dengan sepeda motor matic mereka meninggalkan sekolahan.


" Baik mas" sahut mang Asep yang langsung melajukan mobilnya keluar dari sekolahan berbaur dengan mobil penjemput lain yang satu persatu juga pergi meninggalkan sekolahan.