My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Sudah Sembuh



Setelah mendapatkan informasi dari petugas resepsionis tempat ruangan Hanna dirawat, mereka berlima langsung berlalu untuk mencarinya setelah Dita berterima kasih terlebih dahulu pada petugas resepsionis. Mereka berjalan bersamaan, meskipun di sana ada lift tapi mereka lebih suka menggunakan anak tangga untuk bisa sampai di lantai 2.


Mereka berjalan dengan mata yang terus melihat lihat tulisan yang ada di atas pintu untuk mencari ruangan Melati 4 dimana ruang rawat Hanna berada. Dan tidak lama kemudian mereka menemukan ruangan Melati 4 yang letakkan ada di ruangan paling ujung.


" Itu dia ruangannya" ucap Viona yang memberitahu semua teman temannya, padahal tanpa diberitahu pun mereka juga sudah tau dimana ruangan tersebut setelah sebelumnya mereka mengurutkan nomer ruangan Melati dimulai dari ruangan Melati 1.


Kebetulan pintu ruangan tersebut sedikit terbuka dengan sehingga mereka bisa langsung masuk setelah membukanya dengan pelan. " Siapa yang masuk duluan?" tanya Dewa saat mereka sudah berdiri Li luar pintu ruangan Melati 4.


Mereka semua terdiam tidak ada yang menjawab, akhirnya Dita yang menjawab karena terlalu lama jika harus menunggu salah satu dari mereka yang masuk duluan.


" Biar aku yang masuk" ucap Dita akhirnya yang bersedia masuk dan memastikan ruangan yang mereka masuki benar adanya.


Dita masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu sendirian sedangkan yang lainnya menunggu di luar ruangan terlebih dahulu menunggu Dita memastikan bahwa di sana ada Hanna. Dita masuk ke dalam dengan langkah yang pelan meminimalisir suara agar tidak mengganggu pasien yang mungkin sedang beristirahat.


" Assalamualaikum" salam Dita dengan suara pelan sambil melangkahkan kakinya memasuki ruangan untuk melihat dan memastikan bahwa ruangan yang mereka datangi benar adanya adalah ruangan Hanna dirawat.


" Waalaikumsalam" sahut seseorang dari dalam yang langsung menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara orang memberi salam.


Dita tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan sopan saat melihat beberapa pasang mata melihat ke arahnya. Rupanya yang menjawab salamnya bukanlah mamanya Hanna dan pasien yang sedang terbaring juga bukan Hanna melainkan seorang anak kecil laki laki.


" Maaf... apa benar Hanna dirawat di sini?" dapat Dita lihat sepertinya ada 2 tempat ranjang pasien di sana, namun yang satunya tertutup oleh Tirai sehingga Dita tidak bisa melihat pasien yang satunya.


" Oh...kamu pasti temannya cewek yang dirawat di sana ya" sahut salah satu orang yang duduk di sana dengan sopan.


" Terima kasih" sahut Dita dengan sopan dan tersenyum pada beberapa orang yang menatapnya.


Dengan langkah pelan Dita akan bejalan dan melihat dan memastikan bahwa Hanna yang ada di ranjang pasien satunya. Tapi belum sempat Dita berjalan Tirai tiba tiba terbuka dengan pelan dan keluarlah dari sana seorang wanita paruh baya.


Dapat Dita lihat wanita tersebut adalah mamanya Hanna karena mereka sudah pernah bertemu dan berkenalan. Begitu juga Vita yang juga mengenal salah satu teman teman putrinya.


" Tante" panggil Dita yang langsung berjalan dengan pelan untuk menghampiri mamanya Hanna.


Vita yang hanya mengenali wajah salah satu teman putrinya langsung tersenyum ramah. Meskipun dia lupa siapa nama teman anaknya tersebut. " Kamu sendirian saja nak?" tanya Vita yang melihat Dita datang sendiri kemudian dia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Dita.


Dita terlebih dahulu menyalami tangan kanan Vita dan mencium punggung tangan tersebut. "Tidak Tante, saya datang sama teman teman yang lainnya. Sebentar!" Dita berbalik lagi dan menyusul teman temannya yang masih menunggu di luar ruangan.


Hanna yang saat itu sedang tertidur langsung dibangunkan oleh mamanya agar bangun karena teman temannya datang menjenguk. Hanna langsung bangun dan dengan dibantu oleh Vita dia mengangkat tubuhnya agar bisa duduk dan menyandarkan punggungnya.


Hanna merapikan baju dan rambutnya yang kelihatan acak acakan setelah dia tertidur sebelumnya agar terlihat rapi dengan menggunakan tangan kanannya. Tangan kirinya masih terdapat infus yang tertancap sehingga dia harus berhati hati saat bergerak.


" Ayo masuk!" kata Dita yang kemudian menyuruh teman temannya untuk masuk ke dalam ruangan.


Akhirnya mereka semua masuk ke dalam mengikuti langkah Dita yang masuk duluan. Mereka langsung menghampiri dan bergantian menyalami dan mencium tangan kanan Vita, baru kemudian mereka mendekat ke arah ranjang di mana Hanna sudah duduk di atas ranjang dengan menyandarkan punggungnya ke belakang.


" Ini tante" ucap Dewa sambil menyerahkan bingkisan yang berisi buah buahan


" Gak apa apa tante" sahut Dewa dengan tersenyum.


Vita menaruh bingkisan buah tersebut di atas meja balas di sebelah ranjang Hanna. " Kalau begitu Tante keluar dulu, ya. Kalian bisa ngobrol bersama Hanna" Vita ingin memberikan waktu kebersamaan untuk putri dan teman temannya agar mereka bisa mengobrol dengan nyaman tanpa sungkan jika ada dirinya di sana.


Vita berjalan keluar dari ruangan, dia akan pergi dulu untuk memberikan waktu untuk mereka mengobrol lebih santai.


" Hanna.... aku kangen banget tau gak!" ucap Viona yang kemudian mendapatkan pukulan pelan dari Dita di bahunya karena Viona bicara dengan keras.


" Pelankan suaramu!" kata Dita memarahi Viona dengan suara pelan namun penuh penekanan dengan matanya melotot.


" Sorry..." sahut Viona dengan bibirnya yang tersenyum tipis merasa bersalah. Dia juga ingin memeluk Hanna namun belum sempat dia melakukannya Dita sudah terlebih dahulu melarangnya dengan menarik baju Viona menjauhi Hanna. " Apalagi sih, Ta?" tanya Viona yang kesal namun dengan suara lirih.


" Kamu mau Hanna tambah sakit" sahut Dita.


Melihat kedua sahabatnya membuat Hanna langsung tersenyum bahagia memiliki sahabat yang begitu menyayangi dirinya.


Mereka berlima berdiri mengelilingi ranjang Hanna. " Gimana kabar kamu?" tanya Robert yang berdiri di sebelah kiri ranjang Hanna.


" Aku sudah sembuh, terima kasih kalian sudah datang ke sini" jawab Hanna yang kemudian berterima kasih pada semuanya.


" Apa sakitnya ada yang serius?" kali ini Dewa yang bertanya.


" Tidak, tidak ada yang serius. Kata dokter paling besok sudah boleh pulang" jawab Hanna dengan masih menampilkan senyuman manisnya.


" Syukurlah kalau begitu" kali ini Dita yang menimpali ucapan Hanna. " Kita kangen banget sama kamu, Han" lanjutnya dengan wajah yang terlihat sendu.


" Sama, aku juga kangen sama kalian semua" sahut Hanna yang terus menampilkan senyuman manisnya.


Mereka semua mengobrol panjang lebar, selalu diselingi dengan candaan serta gurauan. Bahkan Robert sempat menanyakan siapa pelaku yang telah berbuat jahat padanya namun Hanna hanya diam tidak menjawab.


Awalnya Hanna kekeh menjawab tidak tau meskipun sebenarnya dirinya sangat jelas mengetahui siapa pelaku yang telah berbuat jahat padanya. Sebelumnya orang tuanya juga sempat menanyakan siapa pelaku yang telah menyekap dirinya namun dia sama sekali tidak mau bercerita.


Tapi setelah Dita dan Viona mengatakan bahwa mereka mencurigai Angel kakak kelas mereka yang sempat mengancam dirinya di kantin sebelum kejadian penyekapan yang dialaminya. Akhirnya Hanna mengaku juga bahwa Angel yang sudah berbuat jahat padanya.


Kelima orang yang masih berdiri di tempatnya merasa kesal dan geram dengan cerita Hanna waktu kejadian penyekapan.


Begitu juga Vanno yang sedari tadi hanya diam berdiri terpaku di ujung ranjang berhadapan dengan Hanna. Dia hanya diam tanpa berbicara namun telinganya mendengar dengan seksama cerita Hanna. Rahangnya mengeras dengan tatapan mata yang tajam saat mendengar cerita Hanna. Kedua tangannya mengepal dengan kuat menahan amarah seakan ingin menghajar seseorang.


Dalam hati dia berjanji akan membuat perhitungan dengan Angel apapun akan dia lakukan untuk bisa membalaskan dendam Hanna. Dia tidak akan tinggal diam membiarkan Angel bisa hidup dengan tenang.


Setelah lama mereka di rumah sakit saling mengobrol, bercerita serta bercanda ria, kini saatnya mereka pulang karena hari sudah mulai petang. Robert akhirnya mengajak teman temannya untuk segera pulang, karena Hanna harus beristirahat agar cepat sembuh.


Mereka segera berpamitan pada mamanya Hanna setelah wanita tersebut masuk menemui mereka semua. Dan mereka langsung pulang ke rumah setelah dijemput oleh sopir masing masing setelah mereka sebelumnya menghubungi sopirnya.