
Mendengar ancaman dari kakak kelas mereka, bukannya takut tapi mereka malah ingin menantang Angel dan lainnya. Mereka merasa tidak bersalah karena memang mereka berenam sudah dekat satu sama lain.
Bahkan Vanno sendiri yang sudah menghadap kepala sekolah agar mereka bisa berada di kelas mereka. Itu berarti bukan hanya mereka bertiga saja yang merasa nyaman dengan persahabatan mereka. Tetapi juga Vanno, Robert dan Dewa yang juga merasa nyaman bisa bersahabat dengan mereka.
Jadi intinya mereka akan terus bersama menjadi sahabat, mungkin hingga mereka dewasa nanti. Dan mereka tidak akan memperdulikan sekitarnya selama mereka tidak mengganggu persahabatan mereka.
" Jangan beritahu hal ini sama Vanno, nanti dia pasti akan marah sama mereka" ucap Hanna mengingat kedua sahabatnya.
" Loh kenapa kita gak boleh kasih tau Vanno?" tanya Viona yang jelas dengan ucapan Hanna.
" Iya... bukannya lebih baik kita kasih tau dia langsung daripada nanti dia dengar dari orang lain" Dita ikut menimpali ucapan Viona.
Hanna menggeleng tidak setuju dengan ide kedua sahabatnya. " Gak. Jangan kasih tau dia" tolak Hanna. " Aku gak mau Vanno melakukan hal yang buruk sama Angel" lanjutnya yang tidak tega jika Angel sampai harus dipindahkan sekolahnya karena ulah Vanno.
" Baiklah" sahut Viona pasrah dengan keputusan Hanna.
" Ya sudah, lebih baik kita ke kelas dan lihat apa Vanno benar benar marah dengan kita" ajak Dita yang penasaran akan kemarahan Vanno.
Mereka bertiga langsung pergi dari kantin menuju ke kelas mereka. Setiap mereka bertemu dengan teman teman cewek, mereka bertiga akan melihat tatapan sinis dari semua cewek yang merasa iri dengan kedekatan mereka dengan idola mereka di sekolahan tersebut.
Hanna dan kedua sahabatnya langsung masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku mereka masing masing. Vanno yang tidak melihat kedatangan Hanna langsung mendongak dari ponselnya untuk melihat siapa yang sudah duduk di bangku depannya karena dia mendengar suara bangku yang bergeser.
" Kok baru balik?" tanya Vanno yang langsung mematikan ponselnya apalagi bel masuk baru saja terdengar.
" Iya... tadi masih ngobrol sama yang lainnya" sahut Hanna yang terus menghadap ke depan tanpa menoleh ke belakang.
Semua anak anak mengikuti pelajaran dan terus mendengarkan penjelasan dari guru yang mengajar. Hingga pelajaran hari itu berjalan dengan lancar.
*
*
*
Seperti hari hari biasanya, hari ini semua anak anak berangkat sekolah dengan diantar oleh sopir ataupun orang tua mereka. Begitu juga dengan Hanna yang diantar oleh papanya sekalian beliau berangkat bekerja.
Hanna yang memang selalu datang lebih awal karena tidak ingin papanya datang terlambat ke kantor hanya karena mengantarkan dia terlebih dahulu. Makanya mereka berangkat lebih pagi dan otomatis Hanna akan datang yang paling awal di kelasnya.
Seperti biasa saat itu keadaan sekolah memang masih terlihat sepi, hanya ada beberapa anak yang juga sudah datang. Dan juga pegawai yang bertugas membersihkan sekolah mereka. Tanpa merasa curiga Hanna terus berjalan melewati beberapa kelas mulai dari kelas 9 hingga kelas 7 yang ada di lantai 3.
Saat dia sudah berada di lantai 3, Hanna yang berjalan pelan menuju kelasnya, tiba tiba tangannya ditarik oleh seseorang dari belakang. Bahkan kini mata dan mulutnya sudah ditutup dengan kain oleh seseorang yang dia perkirakan lebih dari satu orang.
" Le....pas....kan ak...ku..." Hanna ketakutan dan berusaha memberontak dengan suara terbata bahkan suaranya hampir tidak bisa di dengar.
Karena suasana yang memang masih sepi, jadi tidak akan ada yang melihat perbuatan jahat mereka. Dan perbuatan jahat mereka memang sudah mereka rencanakan dari jauh jauh hari setelah mereka menyelidiki semuanya terlebih dahulu.
Hanna terus memberontak tapi tenaganya masih kalah dengan beberapa orang yang terus memegangi dirinya. Dalam hati Hanna, dia hanya bisa berharap bahwa tidak akan terjadi apa apa dengan dirinya. Dia berharap ada temannya ataupun pekerja kebersihan yang datang dan akan membantunya.
Hanna terus ditarik oleh mereka hingga akhirnya mereka semua masuk ke dalam sebuah ruangan yang terasa lembab. Ternyata mereka membawa Hanna masuk ke dalam kamar mandi cewek khusus kelas 7 yang ada di lantai 3 yang paling ujung. Dan Hanna langsung didudukkan dengan kasar di atas closet dan mereka langsung membuka penutup mata Hanna. Tapi mulutnya masih mereka tutup dengan kain agar Hanna tidak bisa berteriak.
"Kenapa? terkejut? hahaha...." Angel tertawa seolah mengejek Hanna yang saat ini sudah tidak berdaya dengan tangan Angel yang menjambak rambut Hanna hingga dia mendongak ke atas menahan rasa sakit.
Hanna hanya bisa berusaha memberontak, tapi dia sama sekali tidak berdaya karena tubuhnya yang terus dipegang oleh teman teman Angel yang lainnya. Dengan tangannya yang terikat dan mulutnya yang tertutup rapat oleh kain. Bahkan salah satu teman Angel mengikat kaki Hanna agar kaki ya tidak bisa bergerak ataupun menendang lagi.
" Makanya jangan suka membantah!" seru Angel. " Aku kan sudah peringatkan kamu, segera jauhi Vanno! tapi kenapa kamu masih saja dekat dekat sama dia!" lanjutnya yang kini mulai emosi. " Ini akibatnya kalau kamu tidak mau mendengar ancamanku!" lanjut Angel yang terus mendorong dorong dahi Hanna.
"Plakk" uara tamparan terdengar keras saat tangan Angel memukul pipi kiri Hanna karena dia sudah tersulut emosi.
Hanna sendiri yang selama ini belum pernah mendapatkan perlakuan kasar seperti itu, hanya bisa menahan rasa sakit di pipinya yang pasti terlihat berwarna merah dan tanpa sengaja air mata langsung menetes di pipinya.
" Hah... gitu aja sudah nangis" ejek salah satu teman Angel yang melihat Hanna meneteskan air mata.
" Cengeng...!" ejek yang lainnya lagi tanpa merasa kasihan sedikitpun melihat kondisi Hanna yang sudah memprihatinkan.
Dan tiba tiba teman Hanna langsung menyalakan air kran dan mengarahkan ke wajah Hanna. Sehingga Hanna hanya bisa menutup matanya dan menahan nafas sebentar karena semburan air kran yang keras mengenai wajahnya.
' Huh...' Hanna hanya bisa mengambil dan mengeluarkan nafasnya dari hidung karena mulutnya masih tertutup kain. Matanya juga terus terbuka tertutup untuk menghalau air yang akan masuk ke dalam matanya setelah teman Hanna tidak menyemprotkan air kran ke wajahnya lagi.
Baju seragam Hanna yang awalnya terlihat bersih dan rapi, kini sudah terlihat berantakan dan lusuh karena tarikan tangan dari teman teman Angel. Bahkan sudah basah semua karena tetesan air kran yang tadi disemprotkan ke wajah Hanna.
Rambut yang sudah basah dan acak acakan karena dijambak oleh Angel dan wajahnya yang sudah terlihat kusut dengan air yang dari tadi masih menetes dari atas kepalanya bahkan pipinya terlihat sudah memar. Air matanya bahkan sudah tidak terlihat lagi saat dia sudah menangis.
" Aku peringatkan sekali lagi, jangan dekat dekat sama Vanno lagi, kalau tidak aku bakal bikin kamu lebih menderita dari ini!" ancam Angel sekali lagi dengan memegang dagu Hanna dengan keras dan Hanna hanya bisa menahan rasa sakitnya.
" Ayo buruan kita pergi dari sini sebelum semua anak anak yang lain datang" ajak teman Angel.
" Dasar cewek ganjen" ejek salah satu teman Angel yang mendorong dahi Hanna dengan keras.
Bahkan sebelum keluar dari kamar mandi tersebut semua teman Angel mengejek Hanna. Selain itu mereka juga menyakiti tubuh Hanna sekilas, entah itu mendorong ataupun memukul beberapa bagian tubuh Hanna.
" Awas kalau sampai kamu bilang sama semua orang tentang kita, aku bakal bikin hidup kamu menderita" ancam Angel sekali lagi sebelum dia keluar dari kamar mandi tersebut.
Hanna yang sudah tidak berdaya hanya bisa menundukkan wajahnya karena badannya yang merasa lemas bahkan wajahnya kini terasa sakit semua.
Angel keluar dari kamar mandi tersebut setelah memastikan ikatan tangan dan mulut Hanna tidak akan bisa dibuka lagi. Mereka dengan tega meninggalkan Hanna sendirian di dalam kamar mandi yang terasa pengap karena tidak adanya ventilasi udara.
Angel langsung mengunci kamar mandi yang ditempati Hanna dari luar dan membuang kunci tersebut di tempat sampah Yanga ada di sebelahnya. Setelah itu dia juga sengaja mematikan lampu kamar mandi tersebut agar Hanna ketakutan. Tidak hanya sampai di situ saja mereka juga sudah membuat tulisan di kertas yang bertuliskan "Kamar mandi rusak, masih dalam perbaikan". Lalu mereka menempelkan di pintu kamar mandi tersebut.
Sudah pasti dengan adanya tulisan tersebut akan banyak murid lainnya yang mengira bahwa benar kamar mandi tersebut sedang rusak. Apalagi dengan pintu kamar mandi yang terkunci pasti semua akan percaya dan tidak akan pernah mendatangi kamar mandi tersebut yang sialnya memang berada di ujung.
Sejak bertemu dengan Vanno saat dia masuk kegiatan PLS di sekolah barunya, Angel sudah menyukai Vanno yang saat itu menjadi kakak pembina OSIS di kelompok Vanno. Dan sejak saat itu Angel menjadikan Vanno gebetannya apalagi Vanno saat ini sudah menjadi idola baru di sekolah tersebut.
Tapi sikap Vanno sama sekali tidak menghiraukan dirinya sama sekali yang berusaha mendekatinya. Justru Vanno selalu bersikap dingin terhadapnya. Dan beberapa kali terlihat Vanno terlihat selalu berjalan berdua dengan Hanna ataupun saat mereka bersama dengan teman temannya. Bahkan Vanno selalu terlihat ramah dan hangat bahkan mudah tersenyum saat bersama Hanna.
Karena hal itu Angel menjadi kesal dan sangat marah dengan Hanna. Awalnya dia hanya ingin mengancam Hanna agar menjauhi Vanno tapi Hanna sama sekali tidak memperdulikan ancamannya. Terpaksa dia memberikan pelajaran untuk Hanna hari ini setelah beberapa hari yang lalu dia terus menyelidiki kegiatan Hanna selama di sekolah.