
Saat ini mereka sudah bergabung dengan kelompoknya masing masing dengan dipandu oleh 2 orang kakak kelas mereka yang merupakan anggota OSIS. Vanno yang terpisah dengan semua sahabatnya hanya bisa pasrah dan dia semakin bersikap dingin dengan teman teman satu kelompoknya.
Tidak hanya Vanno, Dita yang juga sendirian di dalam kelompoknya juga merasa kesal. Dia pengen bisa bersama dengan kedua sahabatnya. Tapi meskipun begitu dia tidak bisa berbuat banyak hanya bisa mengikuti kegiatan hari ini dengan malas apalagi dia harus berpisah kelompok dengan semua sahabatnya selama seminggu ini.
Mereka berenam sudah terbiasa bersama sejak mereka duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Jadi jika mereka tidak bisa bersama lagi seperti saat ini sudah pasti mereka akan merasa bosan dan kesal.
Setiap kelompok dipisah, mereka hampir tidak bisa bertemu dengan teman kelompok lainnya. Dewa terus berdiri di samping ataupun di belakang Hanna, karena selain dia ingin menjaga Hanna, dia juga ingin Hanna membantunya jika dia mendapatkan kesulitan nantinya.
Kelompok Hanna dan Dewa di suruh untuk berkenalan di depan semua teman temannya yang lain. Selain Dewa di kelompok Hamm, ada juga yang dulunya juga pernah satu kelas dengan mereka sewaktu di Sekolah Dasar. Sehingga Hanna banyak mendapatkan perhatian dari kakak OSIS Karema teman temannya yang menyanjungnya.
" Hanna, tolong kamu maju ke depan" suruh salah satu kakak OSIS.
" Iya kak" sahut Hanna dan dia langsung berdiri dari duduknya dan mendekati kedua kakak OSIS yang sedari tadi berdiri di depan teman temannya.
" Kamu bacakan peraturan ini kepada teman teman kamu" suruh kakak OSIS sambil menyerahkan selembar kertas pada Hanna.
Hanna menerima kertas tersebut dan langsung menghadap semua teman satu kelompoknya. Dia langsung membacakan semua peraturan yang tertulis di kertas tersebut. Dia membacakannya dengan santai tanpa merasa terbebani.
Dita yang awalnya merasa kesal karena dia hanya sendirian di kelompoknya, kini akhirnya dia bisa berbaur dengan teman satu kelompoknya. Terutama yang dulu pernah menjadi teman satu kelasnya. Begitu juga dengan Robert dan Viona merasa baik baik saja saat mereka melakukan kegiatan bersama dengan kelompok mereka.
Sangat berbeda dengan Vanno yang sama sekali tidak bersemangat. Entah itu karena dia yang malas dengan kegiatan yang dilakukan kelompoknya atau karena dia yang berpisah kelompok dengan Hanna. Yang pasti moodnya benar benar buruk tidak seperti sebelumnya saat dia bertemu dengan Hanna.
Kebetulan di kelompoknya ada beberapa yang dulu juga pernah satu kelas dengannya. Jadi semua teman kelompoknya bisa tau kepribadian Vanno setelah diberitahu oleh teman satu kelas Vanno sebelumnya.
Bahkan sebelumnya salah satu kakak OSIS menyuruhnya untuk berkenalan dengan teman satu kelompoknya. Tapi Vanno sama sekali tidak mau memperkenalkan dirinya kepada semua teman satu kelompoknya. Dia tidak peduli dan terus bersikap dingin terhadap teman satu kelompoknya ataupun kakak OSIS.
Hingga salah satu teman kelasnya dulu memberitahu kakak OSIS tentang kepribadian Vanno dan perilakunya saat dia masih duduk di Sekolah Dasar. Mereka semua mengerti dan tidak ingin membuat Vanno kesal dan marah jika tidak ingin mereka mendapatkan masalah karena harus berurusan dengan Vanno.
*
*
*
Setelahnya kegiatan PLS selama 5 hari ini. Dan ini adalah hari terakhir mereka melakukan kegiatan PLS untuk murid murid baru. Semua murid telah melaksanakan semua tugas yang diberikan oleh Kaka OSIS selama mereka melaksanakan kegiatan PLS dengan baik.
Semua murid kelas 7 berbondong bondong masuk untuk segera pulang ke rumah mereka masing masing. Berbeda dengan Vanno, Dewa dan juga Robert yang justru berjalan menuju ke ruang guru untuk mencari kepala sekolah.
" Selamat siang pak" sapa Dewa dengan tersenyum berbeda dengan kedua sahabatnya yang sudah sekali tersenyum terutama Vanno.
" Siang, kalian mau mencari siapa?" tanya salah satu guru pria di sekolah tersebut.
" Maaf pak, kami mau mencari kepala sekolah" sahut Dewa dengan ramah.
" Bapak kepala sekolah tidak ada disini" beritahu sang guru. " Kenapa kalian mencari kepala sekolah? apa ada masalah?" lanjutnya bertanya.
" Iya pak ada sedikit masalah yang mau kami sampaikan" sahut Robert membantu menjawab pertanyaan sang guru.
" Baiklah kalian bisa katakan sama saya, mungkin bapak bisa membantu kalian" kata bapak guru meminta murid murid barunya bisa mengatakan masalah mereka tanpa melibatkan kepala sekolah terlebih dahulu.
Dewa dan Robert langsung melihat ke arah Vanno meminta pendapatnya. Vanno yang mengerti juga bingung tapi ini hari terakhir mereka untuk mengatakan semuanya kepada pihak sekolah. Setelah mereka terdiam sebentar tanpa ada yang berbicara akhirnya Vanno mulai angkat bicara.
" Baiklah, kami bisa meminta bantuan sama bapak untuk menyelesaikan masalah kami" ucap Vanno yang bersedia mengatakan keinginan semua sahabatnya pada sang guru.
Robert dan Dewa diam menyimak agar Vanno saja yang bercerita dan siapa tau guru tersebut bisa membantu mereka tanpa harus menghadap kepala sekolah mereka.
" Kami ingin ditempatkan si kelas yang sama" beritahu Vanno langsung tanpa berbasa basi.
Sang guru hanya bisa diam terperangah mendengar ucapan Vanno yang langsung to the point tanpa ada rasa takut sedikitpun. Apalagi mereka merupakan murid baru di sekolah tersebut yang baru 5 hari ini masuk sekolah mengikuti kegiatan PLS.
" Kenapa kalian minta ditempatkan di kelas yang sama?" tanya bapak guru tersebut yang langsung tersadar.
Bapak guru tersebut langsung menghela nafas panjang mendengar permintaan Vanno yang seenaknya saja. Rasanya guru tersebut sangat geram dan kesal dengan tingkah ketiga murid yang seenaknya meminta ditempatkan dalam satu kelas.
" Apa bapak bisa membantu?" tanya Vanno mendesak guru tersebut yang terlihat kebingungan.
" Kenapa kalian minta ditempatkan dalam satu kelas? kalian tidak bisa meminta hal itu seenaknya saja!" sahut pak guru yang mulai tersulut emosi.
" Bapak bisa bantu tidak? kalau tidak saya akan menghadap langsung kepada kepala sekolah" ancam Vanno yang tidak ingin berdebat lagi dengan guru tersebut.
" Ckck..." lidah guru tersebut berdecak sambil menggelengkan kepalanya kesal dengan sikap arogan Vanno. " Sebaiknya kalian pulang saja, kalian tidak akan bisa berbuat seenaknya saja di sekolah ini" usir bapak guru tersebut yang sudah terlihat emosi.
" Tapi pak..." Dewa ingin memohon kepada guru tersebut tapi langsung dipotong oleh sang guru.
" Keluar saya bilang!" usir guru tersebut yang terlihat marah hingga ada beberapa guru yang langsung melihat ke arah mereka.
Vanno yang sudah tidak ingin berdebat lagi dengan sang guru dan langsung melangkah pergi meninggalkan guru tersebut dan keluar dari ruang guru tanpa berpamitan pada guru tersebut. Dewa dan Robert hanya bisa saling memandang.
" Kami pergi dulu pak" pamit Dewa mewakili kedua sahabatnya dan langsung mengikuti langkah Robert yang lebih dulu menyusul Vanno yang sudah keluar dari ruangan guru.
Vanno terus berjalan dan ternyata dia sudah menemukan ruangan kepala sekolah dan kini mereka sudah berada di depan ruangan tersebut. Tanpa menunggu lama lagi Vanno sudah mengetuk pintu ruangan yang terlihat terbuka sedikit dan dia yakin bahwa kepala sekolah ada di dalam.
Tok..tok..tok... suara pintu diketuk dari luar oleh Vanno.
" Masuk!" terdengar suara dari dalam menyuruh dirinya masuk ke dalam ruangan tersebut.
Vanno langsung mendorong pintu yang memang sudah sedikit terbuka tersebut. Dia langsung melihat seorang laki laki paruh baya yang menatap ke arahnya dengan wajah datar.
" Ada apa?" tanya kepala sekolah yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Tanpa membalas pertanyaan kepala sekolah Vanno langsung berjalan dan berdiri di depan meja kepala sekolah. " Saya ingin meminta bantuan dari bapak" akhirnya Vanno menjawab pertanyaan dari kepala sekolah tersebut.
" Duduklah" suruh kepala sekolah.
Dan Vanno langsung duduk di kursi yang berhadapan yang hanya dibatasi dengan meja kerjanya kepala sekolah.
" Kamu mau meminta bantuan apa sama saya?" tanya kepala sekolah tersebut langsung meletakkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya ingin mendengar keluhan dari salah satu murid barunya.
" Saya Alvanno Ferdiansyah Wijaya" Vanno langsung menyebutkan nama papinya agar kepala sekolah tersebut bisa langsung mengenali orang tuanya yang sangat terkenal tersebut.
" Oh..jadi kamu putra dari pengusaha terkenal bapak Ferdi Wijaya!" yang langsung tersenyum senang karena sosok Ferdi adalah seorang pengusaha terkenal di Jakarta dan siapa yang tidak mengenal kekuasaannya. " Apa yang bisa bapak bantu?" tanya kepala sekolah tersebut dengan wajah sumringahnya.
" Saya mau ditempatkan dikelas yang sama dengan semua teman teman saya" beritahu Vanno langsung pada pokok permasalahannya.
Kepala sekolah langsung mengangguk mengerti maksud Vanno. " Baiklah siapa saja teman kamu, tuliskan disini nama nama teman kamu?" tanya kepala sekolah yang langsung menyodorkan buku dengan pensil ke arah Vanno.
Tanpa menunggu lama Vanno langsung menuliskan nama lengkap semua sahabat sahabatnya. Kemudian menyerahkan kembali buku tersebut pada kepala sekolah.
" Baiklah nanti akan bapak bantu agar kalian bisa masuk dalam satu kelas" ucap kepala sekolah yang sudah menerima bukunya kembali.
" Terima kasih pak, kalian begitu saya permisi dulu" ucap Vanno berterima kasih dan langsung berpamitan keluar dari ruangan kepala sekolah.
Saat di luar Vanno melihat Dewa dan Robert yang sudah menunggunya dan langsung berdiri saat melihat Vanno keluar dari ruangan kepala sekolah. Mereka memang sengaja tidak ikut masuk ke dalam ruangan kepala sekolah karena memberi ruang agar Vanno sendiri yang berbicara pada kepala sekolah.
" Bagaimana?" tanya Dewa yang sudah penasaran.
" Beres" sahut Vanno yang langsung berjalan melewati kedua sahabatnya.
Robert dan Dewa saling menatap dan mereka langsung tersenyum karena mereka memang sudah yakin kalau Vanno pasti bisa menyelesaikan semuanya. Mereka berdua langsung mengejar Vanno dengan perasaan bahagia karena keinginan mereka terpenuhi. Mereka berjalan bersama sambil bercanda tawa keluar dari sekolah yang sudah terlihat sepi.