My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Ada Murid Baru?



Vanno berjalan naik ke lantai atas menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Rion. Vanno melewati kamar Rion yang sedikit terbuka dan tanpa ada yang menyuruh, dia mendorong dan membuka pintu tersebut semakin lebar.


Vanno melihat Rion yang tengah tidur tiduran di ranjangnya dengan ponsel yang berada di tangannya. Dia tengah asyik memainkan game online yang ada di ponsel tersebut hingga tidak menyadari kedatangan kakaknya yang tengah berdiri di sisi ranjangnya.


" Dari jam berapa mainnya?" tanya Vanno tanpa basa basi.


Rion yang masih asyik dengan permainan game online di ponselnya seketika terkejut mendengar suara Vanno yang mengagetkan meskipun suara Vanno tidak keras. " Anjirrr...!" sontak tubuh Rion langsung terjingkat dan terduduk di atas ranjang dengan ponsel yang tadi dipegangnya ikut terlempar. " Bisa gak kalau datang itu bilang bilang dulu kak? bikin kaget aja!" lanjutnya dengan wajah terlihat kesal.


" Anjir! anjir! yang bener bilang astagfirullah haladzim kalau terkejut!" memarahi Rion, Vanno heran dengan kelakuan adiknya tersebut yang sangat jahil dengan semua orang bandel, pencicilan tapi dia anaknya sangat ramah, murah senyum bahkan suka sekali tebar pesona sangat berbanding terbalik dengan dirinya.


" Maaf kak... habisnya kakak sih, datang datang tanpa permisi, langsung ngomong, kan aku jadi kaget kak" ucap Rion dengan cengengesan berusaha mencari aman saja daripada nanti diomeli kakaknya panjang lebar.


" Kamu saja yang terlalu fokus sama game di ponsel, sampai sampai kakak masuk ke kamar, kamu gak denger!" Vanno masih memarahi adiknya yang bandel tersebut.


" Ya maaf kak.... peace" sahut Rion minta maaf sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari manis ke arah Vanno dengan senyum bibirnya yang dibuat buat untuk membujuk Vanno.


Vanno hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya panjang melihat tingkah kekonyolan adiknya tersebut. Tapi meskipun begitu dia sangat menyayangi Rion dan tidak pernah marah karena memang itu sudah menjadi sifat Rion.


Rion sendiri meskipun anak yang jahil, pencicilan dan tingkahnya sangat konyol, dia tetap anak yang baik masih mau mendengar nasehat orang tua ataupun kakaknya. Dia juga sangat menyayangi seluruh keluarganya, ya meskipun dia sering menjahili semua orang terutama adik perempuan satu satunya, Keisha yang sangat dia sayangi.


Vanno langsung mengambil ponsel Rion yang diam tanpa berniat untuk merebut ponsel yang diambil kakaknya kembali. Vanno melihat di layar ponsel adiknya masih menampakkan permainan game balapan mobil yang sangat dia sukai. Vanno hanya ingin memastikan bahwa adiknya menggunakan ponselnya dengan benar, tidak masalah mereka main game asal tidak sampai berlebihan atau melihat hal hal yang kurang positif.


" Sudah sholat belum?" tanya Vanno sambil mengembalikan ponsel adiknya kembali.


Rion menerima ponselnya kembali. " Ya sudahlah kak, kakak kan tau sendiri gimana mama" jawab Rion dengan senyum jahilnya.


" Ya sudah jangan terlalu lama main gamenya, habis itu buruan mandi" suruh Vanno dengan tegas.


" Siappp bos!" sahut Vanno masih dengan senyum cengengesan sambil meletakkan tangan kanannya di dahi seperti tanda hormat pada atasan.


Vanno menggelengkan kepalanya pelan dan memutar tubuhnya untuk keluar dari kamar Rion. Dan kini Vanno sudah berada di kamar dia sendiri dan langsung melakukan ritual mandi lalu berbaring di ranjangnya sejenak untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sedikit lelah.


Setelah itu Vanno mengerjakan tugas rumah yang diberikan gurunya dan mempersiapkan pelajaran untuk besok. Dia memang selalu belajar sendiri di kamar lebih awal agar nanti malamnya dia bisa berkumpul dan bercengkerama bersama kedua orang tua dan adik adiknya


Vanno sangat tegas dengan adiknya Rion bukan berarti dia berlaku jahat terhadap adiknya itu. Dia hanya berusaha menasehati dan memberikan contoh yang baik untuk Rion yang mempunyai sifat berbanding terbalik dengannya. Dan pastinya dia juga sangat menyayanginya adik adiknya. Mungkin karena Vanno adalah anak pertama jadi dia selalu bersikap tegas dan berusaha melakukan hal hal baik untuk memberikan contoh yang baik untuk adiknya terutama Rion.


Hingga kini waktunya untuk sholat magrib bersama. Ferdi selalu mengajak istri dan anak anaknya untuk melaksanakan sholat magrib dan isya berjamaah. Dia berusaha untuk melakukan setiap hari bersama anggota keluarganya dari dulu, tapi jika dia ada halangan karena masih ada pekerjaan dia meminta Vanno untuk menggantikan dirinya menjadi imam sholat di rumahnya.


Dulu Ferdi adalah anak yang tidak mengenal agama, nakal bahkan terjerumus di dalam perbutan dosa. Tapi setelah dia mengenal Alya dan menjadikan dia istrinya, Ferdi berusaha menjadi kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab. Dia belajar agama bersama dengan bantuan Alya yang selalu membimbingnya.


Dan beruntungnya mereka memiliki Vanno yang sangat membantu kedua orang tuanya menjaga dan ikut memberikan contoh yang baik untuk adik adiknya. Meskipun sikapnya acuh, dingin, tegas dan jarang tersenyum, tapi Ferdi tau bahwa Vanno sangat menyayangi adik adiknya.


Setelah sholat magrib dan isya berjamaah Alya mengajak suami dan anak anaknya untuk makan malam bersama. Mereka selalu melakukan hal rutin seperti itu setiap harinya untuk menghabiskan waktu kebersamaan setelah kegiatan seharian mereka masing masing.


Habis makan malam mereka selalu duduk bersama di ruang santai untuk menonton televisi ataupun bercengkerama bersama. Setiap hari Ferdi mengajak anggota keluarganya melakukan hal itu, entah hanya menonton televisi ataupun bercerita mengenai kegiatan mereka seharian ini.


Kegiatan seperti inilah yang disukai oleh Alya dan Ferdi. Mereka selalu berusaha untuk memperhatikan dan membuat jarak diantara mereka dan anak anaknya semakin dekat.


Mereka selalu mendengar dengan seksama jika anak anak mereka sedang bercerita tentang segala hal.


" Vanno..." panggil Alya yang duduk di sofa bersama suaminya.


Vanno yang tengah duduk di lantai beralaskan karpet bersama kedua adiknya langsung mendongak menatap mamanya yang memanggil dirinya. " Iya mah" sahut Vanno .


" Baik mah seperti biasanya" jawab Vanno.


Vanno memang irit bicara dan jika kedua orang tuanya bertanya, dia akan menjawab seperlunya saja. Bercerita sedikit dan mengatakan yang penting saja tidak terlalu mendetail karena menurutnya itu tidak perlu. Baginya asalkan dia sudah mengatakan inti ceritanya ya sudah.


Dan Alya sendiri sudah terbiasa dengan sikap anak pertamanya yang memang irit bicara. Tapi kadang dia juga kesal dengan sikap anaknya tersebut.


" Oh ya sayang, katanya di kelas kamu ada murid baru ya?" tanya Alya lagi.


" Iya mah, kemarin" sahut Vanno singkat.


" Cewek apa cowok sayang?" tanya Alya sekali lagi penuh selidik.


Sebenarnya Alya sudah mengetahui tentang teman baru Vanno dari grup perkumpulan wali murid satu kelas Vanno. Dimana guru kelasnya Vanno memberitahu bahwa ada murid baru di kelas mereka.


" Cewek" sahut Vanno langsung.


" Gimana anaknya sayang?" tanya Alya lagi agar Vanno bisa bercerita banyak tentang teman temannya di kelas. Karena selama ini Vanno jarang sekali bercerita tentang temannya.


" Baik" jawab Vanno singkat dan padat tanpa embel embel lainnya.


Alya hanya bisa menggeleng mendengar jawaban Vanno yang terkesan cuek. Padahal Alya pengen banget mendengar Vanno cerita banyak hal.


" Kamu itu harus menghilangkan sikap dingin dan cuek kamu Vanno, supaya kamu memiliki banyak teman" suruh Alya yang merasa gemas dengan sikap dingin dan cuek Vanno.


" Hemmm...." Vanno hanya menjawab dengan gumaman kecil tanpa bersuara.


Alya memutar matanya malas dengan sikap anaknya yang dingin itu. Di rumah saja dia bersikap dingin meskipun masih dalam batas wajar. Lalu apa kabarnya jika diluar, sikapnya pasti sedingin es batu di kutub Utara.


Hal itu yang membuat Alya khawatir, karena jika putranya selalu bersikap dingin, besar kemungkinan Vanno tidak memiliki banyak teman. Karena semua anak anak sebayanya pasti enggan dan takut untuk berdekatan dan berteman dengannya.


" Sifatnya itu persis kayak kamu" sindir Alya pada suaminya dengan suara lirih.


" Biarkan saja sayang... itu artinya dia mencoba melindungi dirinya dengan sikap dinginnya itu" bela Ferdi dengan tangan merangkul bahu Alya.


" Melindungi dari siapa coba?" tanya Alya malas.


" Melindungi diri dari orang orang munafik yang ingin mendekati dia sayang. Dia ingin berteman dengan orang yang tulus yang tidak memandang harta serta tampangnya saja" jawab Ferdi. " Aku dulu juga gitu, makanya aku tau kenapa dia bersikap seperti itu" lanjutnya yang sudah memiliki pengalaman.


" Ahh... sudahlah kalian berdua sama aja" kata Alya kesal dan kini matanya menatap ke arah putra keduanya " Rion sendiri di sekolah tadi gimana sayang?" kini Alya bertanya pada putra keduanya.


" Seru mah, tadi kita mewarnai bersama." cerita Rion anaknya itu berbeda jauh dengan kakaknya, ditanya sekali dia akan menjawab dengan panjang bahkan sangat detail.


" Tadi ada teman aku cewek namanya Anya, dia nangis nangis gara gara tempat mewarnainya di coret sama teman cowok Rion" Alya dan Ferdi masih mendengar cerita Rion. " Habis itu gambaran anak tadi balas aku coreti, dia malah nangis" bercerita dengan wajah lucunya membuat semua orang menatap ke arahnya dan tersenyum.


Mereka terus bercengkrama dengan obrolan ringan. Alya juga menuntun anak perempuannya Keisha untuk ikut bercerita tentang kegiatan Keisha seharian ini.


Hingga waktu beranjak malam dan sudah waktunya untuk beristirahat agar besok mereka tidak bangun kesiangan karena mengantuk. Alya menyuruh Vanno dan Rion kembali ke atas untuk tidur di kamar mereka masing masing.


Keisha dan Ferdi juga sudah pergi ke kamar mereka yang ada di lantai bawah. Karema Keisha masih kecil akhirnya dia masih tidur bersama kedua orang tuanya.