
Saat ini semua tengah menunggu wali kelas mereka untuk melaporkan kejadian yang dialami oleh Hanna. Mereka yakin ada seseorang yang sengaja melukai Hanna mengingat kondisi tubuh Hanna waktu itu yang terikat begitu juga mulutnya yang dibungkam dengan kain.
Dita dan Viona yang mengingat kejadian sebelum kejadian yang menimpa Hanna dan mereka menceritakan semuanya pada teman teman lainnya. Bahwa ada seorang cewek dan kakak kelas mereka yang tiba tiba datang dan mengancam Hanna untuk menjauhi Vanno.
Namun sayang sekali saat ditanya siapa mereka Dita dan Viona hanya bisa menggeleng karena tidak mengenal siapa mereka. Tapi yang pasti mereka yakin bahwa orang yang melakukan kejahatan pada Hanna adalah orang yang dimaksud Dita dan Viona.
Tidak lama kemudian pak Indra keluar dari ruang kepala sekolah, Robert langsung berdiri dan menghampiri pak Indra. Yang lain juga ikut berdiri saja dan membiarkan Robert yang bertanya pada pak Indra.
" Bagaimana pak? apa boleh kami melihat rekaman cctvnya?" tanya Robert saat sudah berdiri di hadapan guru kelasnya.
Pak Indra langsung menganggukkan kepalanya. " Iya, kalian boleh melihat rekaman cctvnya" jawab pak Indra kemudian. " Tapi, hanya 2 anak yang boleh masuk" lanjutnya memberi nasehat sesuai dengan petunjuk yang disampaikan oleh kepala sekolah.
" Baik pak, saya dan teman saya Vanno yang akan masuk" sahut Robert dengan sopan, yang kemudian kembali menghampiri teman temannya yang masih menunggu kabar darinya.
Di ruang pemantauan mereka berempat terlihat serius melihat satu persatu bukti rekaman penyekapan yang dialami Hanna. Setelah sekian lama petugas pemantau memutar kembali cctv, sama sekali tidak ditemukan bukti yang mereka inginkan.
Vanno begitu kecewa dan frustasi karena tidak bisa menemukan bukti kejahatan yang dilakukan oleh seseorang. Begitu juga dengan Robert dan pak Indra yang juga merasa kecewa.
" Karena kejadian terjadi di kamar mandi, jadi kita tidak bisa melihatnya karena di sana tidak ada kamera pengawasnya" beritahu petugas pemantau.
Tentu saja mereka tidak akan mendapatkan bukti rekaman penyekapan yang dilakukan pada Hanna. Karena sebelumnya sudah ada seseorang yang terlebih dahulu menghapus beberapa bukti sebelum dan sesudah kejadian sebelum para pelaku melakukan perbuatan mereka di kamar mandi.
" Aneh" lirih pak Indra yang sebenarnya dia juga merasa janggal.
" Maaf pak, bisa tunjukan rekaman di kantin beberapa hari sebelumnya?" minta Robert yang mengingat cerita dari Viona dan Dita tadi. Meskipun belum pasti dengan pelakunya tapi Robert merasa mungkin mereka bisa saja dijadikan tersangka.
Petugas pemantau mengiyakan dan langsung memutarkan rekaman cctv di kantin beberapa hari sebelum kejadian.
" Coba lihat ini pak" tunjuk Robert ketika melihat Hanna sedang berdebat dengan seseorang di kantin.
Rekaman cctv hanya menampilkan gambar saja tanpa adanya suara sehingga mereka juga tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan saat di kantin.
" Kita tidak bisa langsung menuduh mereka yang melakukan penyekapan" nasehat pak Indra pada Robert yang hanya melihat Hanna sedang berbicara dengan beberapa siswa lainnya.
" Iya pak" mengiyakan nasehat pak Indra sambil mengangguk. " Tapi biasakan saya meminta rekaman tersebut?" minta Robert lanjutnya.
Pak Indra hanya bisa mengiyakan dan menyuruh petugas tersebut untuk mengirimkan rekaman yang dimaksud Robert ke ponsel Robert. " Setelah ini kalian pulanglah" ucap Pak Indra kemudian dia pergi keluar dari ruangan kecil yang hanya terdapat beberapa lemari untuk penyimpanan kaset rekaman cctv selama ini.
" Makasih pak" ucap Robert setelah berhasil mendapatkan kiriman rekaman dari petugas pengawas. Dengan cepat Robert segera menarik Vanno untuk keluar dari ruangan tersebut.
Mereka berdua langsung menghampiri teman teman yang lainnya yang juga langsung menyambut kedatangan mereka berdua dan langsung beranjak berdiri semuanya karena sudah penasaran ingin segera mengetahui siapa pelakunya. " Bagaimana?" tanya Dita yang sudah tidak sabar.
" Kalian tau siapa mereka?" kali ini Dewa yang menyambung pertanyaan Dita.
Robert langsung duduk kembali di bangku yang sebelumnya di duduki dengan wajah sayu, begitu juga dengan Vanno. Melihat ketiga temannya Robert hanya bisa menggelengkan kepalanya memberikan jawaban tanpa berucap.
Mereka bertiga merasa begitu kecewa dan sedih karena usaha mereka sama sekali tidak membuahkan hasil. Kembali mereka duduk di bangku yang sempat mereka tinggalkan karena rasa penasaran mereka yang terlalu tinggi.
Tidak ada yang menanggapi pertanyaan Dewa karena mereka semua juga merasa bingung apa yang akan mereka lakukan saat ini. Mereka semua terdiam tidak ada yang berbicara lagi dengan pikiran mereka masing masing.
" Kalian berdua masih ingat kan dengan wajah kakak kelas yang mengancam Hanna?" tanya Robert yang langsung membuyarkan keterdiaman mereka semua dan memencet ponselnya mencari sesuatu di sana.
Viona dan Dita yang masih bingung akhirnya mengangguk mengiyakan saat mereka sadar dengan pertanyaan Robert.
" Apa anak ini yang kalian maksud?" tanya Robert lagi yang menunjukkan ponselnya pada Viona dan Dita agar mereka melihat video yang ada di ponselnya yang tidak lain rekaman cctv di kantin yang memperlihatkan Hanna yang berbicara dengan kakak kelas mereka.
Dengan seksama Vio dan Dita melihat ponsel Robert dan mereka langsung mengangguk dengan cepat. " Iya itu mereka!" seru Viona yang langsung berbicara dengan suara keras.
" Iya benar, mereka yang mengancam Hanna" Dita juga langsung menyahut ucapan Vio untuk meyakinkan yang lainnya.
Dewa yang penasaran juga langsung mendekat ke Robert untuk melihat cewek yang mereka maksud. " Sekarang kita cari mereka!" seru Dewa dengan tidak sabaran.
" Semua sudah pulang... dasar bego!" bentak Dita dengan geram pada Dewa yang terlihat menyebalkan.
" Sori... saking semangatnya aku gak tau kalau ini sudah terlalu sore" sahut Dewa dengan wajah cengengesan saat melihat jam di pergelangan tangannya.
" Ya sudah kita pulang dulu" ajak Robert yang langsung berdiri dari duduknya dan diikuti semua temannya.
" Kirim videonya" ucap Vanno lirih di telinga Robert dengan nada yang menyuruh.
Robert yang mengerti maksud Vanno hanya mengangguk tanpa menjawab dengan kata kata. Nanti dia akan mengirim videonya pada Vanno kalau dia sudah ada di mobil.
Semua melihat sopir keluarga masing masing yang sedang menunggu mereka di halaman sekolah. Sebelumnya mereka sudah memberi kabar untuk menunggu mereka karena mereka masih ada urusan jadi semua sopir yang menjemput mereka masih setia menunggu anak majikan mereka.
Mereka semua langsung pulang dengan masing masing penjemput yang langsung melajukan mobil mereka keluar dari halaman sekolahan.
Besok mereka akan mencari tau keberadaan kakak kelas mereka dan akan menyelidiki keterlibatan mereka dengan penyekapan yang tejadi pada Hanna.
Vanno baru saja menerima kiriman video dari Robert yang dia minta tadi. Saat ini dia terus melihat video tersebut sambil mengamati mimik muka mereka saat berbicara.
' Aku gak akan pernah melepaskan mereka' batin Vanno yang saat ini sedang duduk di kursi penumpang.
' Kalian juga harus merasakan apa yang sudah kalian perbuat pada Hanna, hingga kalian bersujud dan memohon ampun pada Hanna' gumam Vanno sambil meremas ponselnya seolah ingin meremukkan benda pipih yang terbuat dari besi tersebut.
Hawa panas seolah menyelimuti seluruh kabin mobil. Terlihat kilatan marah di mata Vanno sehingga membuat sang sopir tidak berani untuk melihat ke arahnya apalagi bertanya pada Vanno. Sang sopir hanya terus menyetir dan melajukan mobil majikannya agar segera sampai di kediaman keluarga Ferdi.
## Hallo kakak semuanya.... maaf ya lama banget updatenya, karena aku sekarang lagi kerja jadi hanya bisa nulis saat senggang saja kak.
Aku baru bisa sempet nulis cerita aku yang lain juga masih on going " Suddenly Married" jadi cerita yang ini belum bisa update dari kemarin.
Mulai hari ini aku usahain untuk bisa update setiap harinya, jadi jangan lupa terus baca ceritanya ya para reader tercinta.
Jangan lupa berikan vote, hadiah, like dan komentarnya ya kakak kakak.... agar aku lebih semangat nulisnya dan update setiap harinya. Syukur syukur bisa double up, makasih banyak supportnya kak🙏🙏🙏