My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Rooftop



Semua anak anak sudah mulai berdatangan ke kelas masing masing karena sebentar lagi bel masuk kelas berbunyi dan mereka semua tidak ingin sampai datang terlambat. Terlihat Vanno dan keempat sahabatnya yang sudah datang dan duduk di kursi masing masing.


Mereka melihat ke arah bangku Hanna yang kosong. Mereka mengira Hanna pasti tidak masuk sekolah, tapi entah kenapa tidak ada sama sekali pemberitahuan dari Hanna entah itu surat ijin ataupun pemberitahuan melalui ponsel.


' Tumben Hanna gak masuk sekolah dan gak memberitahu aku, biasanya jika dia tidak masuk dia akan memberitahuku melalui pesan singkat' batin Vanno yang tengah menatap bangku kosong di depannya.


Hanna dan Vanno selalu bertukar pesan setiap harinya tanpa ada mengetahuinya. Biasanya Vanno yang lebih duluan mengirim pesan pada Hanna dengan alasan bertanya soal pelajaran. Bahkan semalam mereka juga berkirim pesan dan Hanna sama sekali tidak memberi kabar kalau hari ini dia tidak masuk sekolah.


Kebetulan hari ini akan diadakan penilaian harian untuk pelajaran matematika. Dan sudah pasti Hanna akan mengikuti penilaian harian susulan saat dia masuk nantinya. Dan hal itu yang membuat semua sahabatnya heran kenapa Hanna tidak masuk sekolah. Padahal selama ini Hanna tidak pernah absen jika ada penilaian harian ataupun penilaian ujian lainnya.


Dulu Hanna selalu bilang kalau dia paling tidak suka jika harus mengikuti penilaian harian ataupun ujian susulan. Lebih baik dia ikut ujian bersama teman temannya daripada dia ikut susulan sendirian. Dan hal itu yang membuat kelima sahabat mereka heran terutama Vanno.


" Tumben Hanna gak masuk sekolah tanpa kasih surat ijin atau mengirimkan pesan singkat ke guru kelas kita?" tanya Viona yang saat itu sedang berdiri di depan bangku Dita yang sedang membereskan buku bukunya ke dalam tas.


Baru saja ujian penilaian harian pelajaran matematika baru dilaksanakan oleh teman teman sekelas Hanna. Dan bel istirahat telah berbunyi menandakan bahwa jam pelajaran telah usai.


" Aku juga gak tau, gak biasanya juga Hanna ijin gak masuk sekolah tanpa memberi kabar ke kita" sahut Dita yang juga merasa heran dengan sahabat mereka.


" Coba kamu telpon nomernya dan tanya dia kenapa tidak masuk sekolah" beritahu Dewa yang mendengar obrolan keduanya yang kebetulan tempat duduknya ada di belakang Dita sehingga dia bisa mendengarnya.


Dita langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Kemudian dia mencari nomer Hanna dan sama sekali tidak ada pesan y ataupun panggilan suara yang dia terima dari Hanna.


Dita langsung menghubungi nomer Hanna tanpa menunggu lama. Setelah menunggu lama nada dering tapi sama sekali tidak ada yang mengangkatnya, bahkan Dita sudah menghubungi nomer Hanna Samapi 5 kali tapi tidak ada respon penerimaan telepon sama sekali.


" Tidak dijawab" beritahu Dita yang membuat Viona semakin cemas.


" Ponselnya aktif gak?" tanya Robert yang saat itu ada di sebelah bangku Dewa.


" Aktif kok, ini aku kirim pesan juga sudah terkirim tinggal nunggu dibaca aja" jawab Dita langsung sambil memperlihatkan ponselnya pada semua sahabatnya membuktikan bahwa ponsel Hanna masih aktif.


" Aneh, gak seperti biasanya Hanna gak terima telepon dari kita" sahut Viona yang masih merasa heran.


" Kalian berdua gak tanya Vanno?" tanya Dita pada Robert dan Dewa.


Robert menggelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaan Dita. Dewa sendiri langsung melihat ke arah bangku Vanno yang ada di pinggir belakang sendiri.


" Tuh lihat sikapnya, kayak gak ada beban sama sekali" ejek Dewa yang melihat Vanno hanya bisa menelungkupkan kepalanya dia atas meja bangkunya dan memakai jaket Hoodie ya sebagai alas kepalanya.


" Ya sudah yuk kita ke kantin dulu" ajak Robert pada sahabatnya.


" Kalian gak ngajak Vanno? " tanya Dita


" Kalian taulah dia itu seperti apa? kalau gak ada Hanna mana mau dia pergi bareng sama kita" sahut Dewa dengan santainya.


" Iya sudah ada kodenya lagi untuk tidak mengganggunya" Robert ikut menimpali.


Mereka berempat akhirnya keluar dari kelas mereka yang ada di lantai 3 dan akan menuju ke kantin. Mereka bahkan tidak mengajak Vanno sekalian, karena tidak berani mengganggu Vanno yang sedang tidur tiduran di atas bangkunya. Entah dia tidur beneran atau tidak, tapi kalau Vanno sudah menelungkupkan kepalanya di atas bangkunya, itu artinya tidak ada yang boleh mengganggu dia sama sekali.


*


*


Tangan dan kaki Hanna yang diikat dengan tali membuatnya Hanna kesulitan untuk bergerak. Bahkan untuk bangun dari duduknya di atas closet saja dia tidak sanggup. Begitu juga dengan mulutnya yang ditutup rapat dengan kain membuat dia tidak bisa berteriak meminta tolong.


Tenaganya sudah terkuras habis saat dia berusaha melepaskan ikatan tangannya yang ada di belakang tubuhnya. Toilet kamar mandi yang tidak ada ventilasi udara membuat ruangan sempit tersebut menjadi pengap karena salah satu akses keluar masuknya udara yaitu pintu kamar mandi tertutup rapat dari luar.


Apalagi lampu kamar mandi yang memang sengaja dimatikan oleh Angel membuat Hanna kesulitan melihat keadaan sekitarnya karena ruangan yang gelap gulita. Hanya ada sedikit berkas cahaya yang bisa masuk ke dalam ruangan tersebut yang membuat Hanna sedikit lega karena dia bisa sedikit melihat keadaan di dalam toilet sendirian.


Dia sudah tidak tau bagaimana caranya dia meloloskan diri dari kamar mandi tersebut. Beberapa kali ponsel yang ada di tas yang masih ada punggungnya tersebut berbunyi beberapa kali. Tapi sayangnya ponselnya di silent seperti biasanya saat dia sedang berada di sekolahan jadi dia hanya bisa merasakan getarannya saja.


Andaikan ada bunyi suara panggilan ataupun pesan dari ponselnya pasti akan ada yang mendengarnya dari luar. Karena beberapa kali dia mendengar suara anak anak yang sedang masuk ke dalam kamar mandi. Tapi sayang dia tidak bisa berbuat banyak dan toilet yang dia tempati saat ini berada di ujung jadi mereka tidak akan kesana dan adanya tulisan toilet yang rusak tersebut membuat anak anak tidak akan pernah datang ke toilet tersebut.


' Ya Allah tolong kirimkan seseorang untuk datang kesini dan menolong hamba' batin Hanna berdoa penuh harap.


' Vanno...' tiba tiba Hanna bergumam dalam hati menyebut nama Vanno yang selalu ada disampingnya saat dia sedang ada masalah, dan dia berharap Vanno datang menolong dirinya dan membebaskan dirinya dari ruangan yang lembab, pengap dan sempit tersebut.


Meskipun tidak mungkin Hanna terus berharap ada yang datang menolongnya terutama Vanno yang selalu menolongnya saat dia sedang butuh bantuan.


*


*


Di tempat lain Vanno yang masih setia menelungkup kepalanya di atas bangku karena merasa kesepian. Akhirnya dia mulai tersadar karena memang dari awal dia tidak memejamkan mata sama sekali, bahkan telinganya masih bisa mendengar teman temannya yang berbicara .


Sebenarnya dia hanya berusaha menghindari segala pertanyaan pertanyaan yang akan diajukan oleh kelima sahabatnya mengenai Hanna. Dia tidak akan bisa menjawab pertanyaan mereka karena dia sendiri sama sekali tidak tau dimana keberadaan Hanna saat ini.


Setelah mengetahui kepergian semua sahabatnya, Vanno mengangkat kepalanya dan melihat sekelilingnya. Di sana dia melihat hanya ada beberapa murid yang tidak keluar dari kelas mereka untuk beristirahat.


Diangkat tubuhnya hingga dia berdiri dari duduknya. Dengan malas Vanno membawa tubuhnya keluar dari kelasnya. Dia hanya ingin menyendiri untuk saat ini dan rencananya dia juga akan berusaha menghubungi ponsel Hanna sekali lagi.


Kebetulan baru beberapa hari yang lalu Vanno dan Hanna menemukan tempat yang bagus untuk menyendiri. Dan hanya mereka berdua yang tau karena tidak ada yang berani menuju ke tempat tersebut.


Vanno berjalan menaiki tangga yang ada di atas kelasnya. Ya saat ini Vanno memang menuju ke rooftop, atap gedung dari sekolahan tersebut. Vanno menemukan tempat tersebut beberapa hari yang lalu bersama dengan Hanna. Biasanya dia akan pergi ke sana untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk teman sekolahnya yang terdengar berisik.


Ditempat itu Vanno bisa menenangkan di i karena tidak terdengar suara berisik dari teman teman sekolahnya. Hanya semilir angin yang terdengar di telinganya hingga membawa kedamaian di dalam hatinya.


Di sana terdapat bangku panjang yang sudah sedikit usang berada di tempat yang sedikit teduh. Sebagian rooftop tersebut terlihat tanpa atap sehingga padanya matahari langsung menyengat di kepala saat mereka berdiri di rooftop yang tanpa atap.


Vanno langsung duduk di atas bangku panjang tersebut dan matanya melihat ke depan. Teriknya matahari membuat mata seakan silau akan cahaya yang masuk ke mata.


Vanno mengambil ponselnya dan langsung mencari nomor telepon Hanna. Tanpa menunggu lagi dia langsung menghubungi nomor tersebut. Setelah menunggu lama tapi masih saja tidak ada tanda tanda panggilannya di terima oleh Hanna. Bahkan Vanno sudah beberapa kali menghubungi nomor tersebut tapi masih saja belum terjawab.


Setelah lama menelpon dia ingin mengirimkan pesan lagi kepada Hanna, tapi kemudian dia urungkan karena dia melihat pesannya yang tadi sudah terkirim tapi sampai saat ini bahkan belum dibaca oleh Hanna.


" Kamu dimana Han? kenapa kamu seakan menghilang begitu saja?" lirih Vanno berbicara sendiri lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Vanno mencoba merebahkan tubuhnya di atas bangku. Karena semilir angin yang kencang membuat matanya mengantuk dan tanpa diduga akhirnya matanya tertutup. Bahkan dia juga merasa malas untuk kembali ke kelas karena tidak ada Hanna.


Entah disengaja atau tidak Vanno bahkan tertidur hingga dia melewatkan mata pelajaran berikutnya. Dia tertidur hingga beberapa jam, disaat terbangun pun dia seakan sengaja tidak ingin masuk kembali ke kelasnya lagi untuk mengikuti pelajaran lagi dan menunggu di sana hingga bel pulang berbunyi.