My Husband My Puppy Love

My Husband My Puppy Love
Kita ke Rumah Sakit



Tapi karena sudah tidak sabar Vanno langsung mencoba mendobrak pintu kamar mandi tersebut. Robert yang melihat juga langsung membantu Vanno untuk mendobrak kamar mandi tersebut. Dengan menggunakan tubuh, mereka mendobrak dengan sekuat tenaga. Hingga dobrakan yang kelima kalinya mereka sudah bisa mendobrak pintu tersebut hingga terbuka.


Dan saat itu Dewa juga beberapa guru dan penjaga sekolah datang berbondong bondong untuk masuk ke kamar mandi tersebut. Begitu pintu terbuka semua langsung terkejut dan membuka matanya lebar saat melihat pemandangan yang sangat mengerikan bagi mereka.


Mereka semua terkejut melihat seorang murid perempuan yang saat itu duduk di atas closed dengan tangan dan kaki terikat oleh kain. Begitu juga dengan mulutnya yang ditutup dengan kain juga. Semua orang tidak hanya bisa membelalakkan mata melihat kondisi salah satu murid di sekolah mereka.


" Hanna!" teriak Dita yang langsung bisa mengenali siapa cewek tersebut meskipun saat ini wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh rambutnya yang berantakan.


Vanno sendiri yang juga melihatnya langsung masuk ke dalam dan mencoba membantu Hanna yang sudah terlihat sangat lemas. Vanno langsung membuka semua ikatan di tangan dan kaki Hanna.


Tanpa menunggu lebih lama lagi Vanno langsung membopong tubuh Hanna yang sudah lemas. Begitu juga dengan Dita yang ikut membopong tubuh Hanna di bagian kaki untuk membantu Vanno yang sedikit kesulitan membopong tubuh Hanna.


Mereka semua keluar dari kamar mandi dengan dibantu oleh Robert dan Dewa yang membantu memegangi pintu kamar mandi. Vanno dan Dita membawa tubuh Hanna keluar dari kamar mandi dan meletakkan tubuh Hanna sementara di kursi panjang yang ada di depan kelas yang berdekatan dengan kamar mandi.


Vanno dan Dita berusaha membangunkan Hanna yang sudah terlihat sangat lemah. Mereka terus memanggil nama Hanna dan menyuruhnya untuk segera bangun. Tapi Hanna tidak membuka matanya sama sekali tapi untungnya nafasnya masih terdengar.


" Han... bangun Han.." panggil Vanno yang terus menggoyangkan tubuh Hanna yang sedikit kesulitan bernafas karena haus.


" Hanna.... bangun Hanna....! seru Dita juga memanggil manggil nama Hanna dengan penuh cemas melihat kondisi sahabatnya yang terlihat memulihkan.


" Aku ambilkan air dulu!" ucap Dewa yang melihat bibir Hanna kering mungkin dikarenakan tidak minum sedari pagi apalagi mulutnya yang ditutup oleh kain.


Dewa langsung berlari menjauh dari mereka semua dan pergi mencari air putih yang ada di kelas mereka untuk diminum oleh Hanna.


Sementara itu semua guru serta para penjaga sekolahan yang sedang mencari di sekitar kelas 7 dan beberapa ruangan lainnya langsung berlarian saat melihat Vanno dan yang lainnya. Mereka semua langsung menghampiri Vanno dan yang lainnya. " Kalian menemukannya?" tanya salah satu ibu guru yang barusan datang bersama dengan yang lainnya.


" Iya bu" jawab Robert yang langsung menoleh saat melihat banyak orang datang menghampiri mereka dan kebetulan dia yang sedang berdiri.


Salah satu guru langsung mendekati Dita dan Vanno yang masih berusaha membangunkan Hanna. " Biar ibu bantu dulu" katanya menyuruh Vanno dan Dita untuk menyingkir sebentar.


Vanno masih diam ditempatnya tanpa mau mendengarkan perintah sang guru karena dia tidak ingin jauh jauh dari Hanna. Tapi Dita yang mengerti hanya bisa pasrah dengan sedikit menjauh dari tubuh Hanna memberikan tempatnya untuk Sanga guru memeriksa kondisi Hanna.


Sementara itu Dewa yang sudah mengambilkan air putih langsung berjalan mendekati semuanya lagi. Dan dapat dia lihat sudah banyak yang mengerubungi tubuh Hanna sehingga dia tidak bisa melihatnya.


" Permisi.... saya bawa air untuk Hanna" Dewa ingin melewati semua orang yang sedang mengerubungi Hanna agar air yang dia bawa tidak tumpah. " Ini airnya" lanjutnya memberikan botol yang berisi air pada Dita.


Vanno yang mengerti, langsung membantu tubuh Hanna agar bisa duduk dan segera minum. Vanno menahan tubuh Hanna dari belakang lalu Dita berusaha meminumkan air putih dari botol yang diambilkan oleh Dewa sebelumnya


Sedikit demi sedikit akhirnya Hanna bisa menelan air putih yang diberikan oleh Dita hingga kini perutnya telah terisi kembali. Tapi meskipun begitu tenaganya masih belum pulih dengan sempurna karena memang tubuhnya masih terasa sangat lelah.


" Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit saja, biar diperiksa langsung sama dokter" saran dari salah satu guru yang juga merasa khawatir dengan keadaan salah satu murid di sekolahnya.


" Iya... kita bawa saja ke rumah sakit sekarang juga" sahut Robert yang menyetujui saran dari salah satu guru.


Tanpa menunggu lebih lama lagi Vanno mencoba untuk membopong tubuh Hanna yang tadi dia letakkan di atas kursi panjang.


Seketika beberapa orang berusaha membantu Vanno yang membopong tubuh Hanna sendirian. Tapi belum sempat mereka mendekati Vanno, mereka sudah dihalau terlebih dahulu oleh Vanno yang tidak ingin dibantu orang lain.


Akhirnya dengan hanya dibantu oleh Dita, Vanno membopong tubuh Hanna yang masih terlihat lemas. Tapi kondisinya sedikit lebih baik daripada sebelum mereka menemukannya tadi.


Vanno dengan langkah yang berat mengangkat tubuh Hanna turun menuju ke lantai 1 diikuti oleh semua sahabatnya dan semua guru serta para karyawan sekolah yang lainnya. Saat mereka berada di bawah Vita yang saat itu sedang menunggu dengan cemas keadaan Hanna langsung terkejut ketika melihat Vanno mengangkat tubuh Hanna yang terlihat lemas.


" Hanna...!" panggilnya dengan isak tangis yang sedari awal terus menangis sejak mengetahui putrinya telah menghilang dan langsung berlari mendekati Hanna yang sedang diangkat oleh Vanno.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Vanno terus membawa tubuh Hanna keluar dari halaman sekolah dan langsung membawanya mendekati mobil yang menjemputnya dari tadi. Tanpa menunggu lama Vanno membawa Hanna masuk ke dalam mobil setelah sang sopir mengetahui kedatangannya.


" Tante ikut masuk ke dalam saja, biar sepedanya dititipkan di sini" ucap Dita memberikan saran.


" Iya, tolong ya minta satpam buat mengambil sepeda motor tante" sahut Vita meminta tolong pada sahabat Hanna yang berada di luar mobil Hanna.


" Iya tenang saja tan, kami akan mengurus semuanya disini" sahut Robert yang langsung mengiyakan permintaan mamanya Hanna.


" Van, kabari kami kalau ada apa apa" ucap Dewa. Vanno tidak menjawab, dia hanya mengangguk sekilas memberikan jawaban untuk Dewa.


Vita langsung masuk ke dalam mobil Vanno di kursi belakang dengan memangku kaki Hanna yang kebetulan kepalanya sudah berada di pangkuan Vanno. Sang sopir yang tadi sudah membantu Vanno masuk ke dalam mobil dengan membawa tubuh Hanna, langsung ikut masuk di kursi kemudi dan segera melajukan mobilnya keluar dari halaman sekolah.


" Ke rumah sakit terdekat mang!" suruh Vanno pada sopirnya yang tengah melajukan mobilnya keluar dari halaman sekolah.


" Iya den" sahut sang sopir yang sedang konsentrasi mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.


" Cari jalan pintas saja mang!" suruh Vanno yang melihat banyak kendaraan yang terlibat kemacetan karena banyaknya anak anak yang pulang sekolah dan pulang dari kantor.


" iya den" sahut sang sopir yang langsung mengiyakan perintah anak dari majikannya tanpa berani membantahnya.


Mobil melaju dengan cepat menuju ke rumah sakit yang terdekat dengan sekolahan. Kebetulan sempat terjadi kemacetan saat mereka melewati kawasan yang ramai oleh kendaraan bermotor. Dan kini mereka melewati jalan pintas yang melewati beberapa kawasan rumah kampung.


Tidak lama akhirnya mereka telah sampai di depan lobi UGD setelah sang sopir memarkirkan mobilnya. " Mas tolong ada pasien" ucap sang sopir yang keluar dari mobil dan memanggil salah satu perawat yang sedang berdiri di sebelah pintu ruangan UGD.


Salah seorang perawat langsung mengambil brankar dengan diikuti oleh 2 perawat lainnya yang juga berada di sana. Vita keluar terlebih dahulu dari mobil lalu semua perawat yang ada di sana membantu mengangkat tubuh Hanna yang berada di pangkuan Vanno dan meletakkannya di atas brankar.


" Bangun sayang..." ucap Vita dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Vita dan Vanno terus ikut mendorong dari kanan dan kiri brankar yang ditempati oleh Hanna. Mereka mendorong brankar tersebut menuju ke ruang UGD agar Hanna bisa mendapatkan penanganan dari dokter secara langsung.


Saat memasuki ruangan UGD Hanna dan Vita langsung dihadang oleh salah seorang perawat. " Maaf silakan menunggu di luar terlebih dahulu, kamu akan menangani pasien terlebih dahulu" kata salah seorang perawat yang menyuruh Vita dan Vanno untuk menunggu di luar ruangan UGD.


Perawat tersebut langsung masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya dari dalam. Dengan langkah pelan Vanno memapah tubuh Vita yang sedari tadi menangis untuk duduk dan menunggu kabar dari dokter yang menanganinya.


Dengan perasaan cemas dan khawatir Vita dan Vanno menunggu di depan ruangan UGD dengan duduk tepat menghadap pintu ruangan tersebut. Vita terus saja menangis karena merasa cemas dan khawatir, sedangkan Vanno diam saja dengan tatapan mata terus menatap ke arah pintu ruangan UGD dengan perasaan cemas meskipun tidak terlihat oleh orang lain.


# Buat para reader saya harap kalian tetap setia dengan semua cerita cerita aku. Maaf kalau untuk seminggu ini aku masih belum bisa aktif update lagi seperti sebelumnya karena alu sibuk bekerja. Jadi harap maklum mungkin aku hanya bisa update beberapa kali dalam seminggu.


# Jangan lupa untuk terus membaca semua cerita cerita novel aku. Dari yang sudah tamat Bukan Cinta Terlarang lalu novel kedua Suddenly Married yang masih on going dan yang terakhir adalah cerita berikut My Husband My Puppy Love yang merupakan kelanjutan daripada Bukan Cinta Terlarang.