
Setelah selesai makan di kantin Robert dan ketiga sahabatnya kembali lagi ke kelas setelah bel masuk berbunyi. Saat mereka masuk ke kelas terlihat bangku yang ditempati Vanno kosong membuat Robert dan Dewa heran.
Awalnya mereka mengira mungkin Vanno hanya ke kamar mandi saja atau sedang berada di luar. Dan pasti sebentar lagi Vanno akan kembali ke kelasnya.
Tapi sejak mereka masuk bahkan guru pengajar datang untuk memberikan materi pelajaran. Vanno sama sekali belum terlihat kembali lagi ke kelas mereka. Tapi tasnya masih ada di sana itu menandakan bahwa Vanno masih ada di lingkungan sekolahan tersebut, itu yang ada di dalam pikiran mereka saat itu.
" Vanno ke mana?" tanya Robert dengan suara lirih karena guru pengajar sedang memberikan tugas untuk semua murid kerjakan.
" Gak tau" sahut Dewa yang duduknya sedikit jauh dari Robert bahkan dia juga berkata dengan lirih tidak ingin guru pengajar mengetahui mereka sedang berisik hingga nanti mereka akan dihukum.
Akhirnya mereka diam dengan pikiran masing masing dengan keberadaan Vanno yang tiba tiba juga menghilang tidak kembali ke kelasnya. Mereka juga langsung mengerjakan tugas yang sudah diberikan oleh guru pengajar.
Tidak lama pelajaran sudah selesai hingga bel waktu pulang sekolah sudah berbunyi. Robert dan yang lainnya langsung bergegas memasukkan buku buku mereka ke dalam tas. Bahkan tidak lupa mereka juga memasukkan buku buku Vanno yang masih ada di mejanya.
Mereka bukannya bergegas pulang tapi mereka masih berkumpul lagi setelah dirasa semua teman teman satu kelas mereka sudah keluar dari kelas mereka.
" Vanno kemana sih?" tanya Dewa yang merasa cemas akan keberadaan Vanno yang belum kembali ke kelas mereka sejak istirahat tadi.
" Iya dia itu ada ada saja, Hanna dari pagi juga gak ada kabar sekarang dia yang justru menghilang gak tau di mana!" seri Dita yang kesal dengan tingkah Vanno yang justru menambah kecemasan mereka.
" Bagaimana kalau kita cari Vanno dulu sama sama, sebelum kita pulang" saran Robert mengajak ketiga sahabatnya untuk mencari Vanno bersama sama.
" Tapi gimana kalau aku sudah ditunggu sama sopirku?" tanya Viona dengan manja.
" Kalau kamu gak mau kamu bisa pulang!" sahut Dewa kesal dengan sikap manja Viona yang tidak tau tempat. Semua orang sedang bingung dengan keberadaan Vanno tapi Viona seakan malah memikirkan tentang sopirnya yang menunggunya.
" Kok jadi kamu yang marah!?" sahut Viona sewot mendengar ucapan Dewa.
" Gimana gak....." belum sempat Dewa melanjutkan kata katanya sudah harus dipotong oleh Robert.
" Sudahlah kalian jangan bertengkar!" sela Robert kesal dengan pertengkaran mereka berdua yang selalu bertengkar di manapun mereka berada.
Viona dan Dewa seketika langsung terdiam karena bentakan dari Robert. Wajah mereka berdua langsung melengos tidak ingin melihat satu sama lain.
" Vi.. kalau kamu mau pulang gak pa apa, kamu pulang saja. Biar kami yang cari Vanno" kata Robert dengan suara pelan agar Viona tidak merasa kesal kepadanya.
" Gak! aku akan ikut kalian cari Vanno dulu" sahut Viona yang merasa bersalah karena mementingkan dirinya sendiri.
" Ya sudah kita cari dia sama sama" akhirnya Robert mengajak mereka semua mencari Vanno bersama sama.
" Sini tasnya biar aku bawa" Dewa meminta tasnya Vanno yang dibawa oleh Robert.
Robert memberikan tas Vanno pada Dewa dan meletakkannya di punggung bersisian dengan tasnya sendiri. Mereka semua berjalan keluar dari kelas dengan Viona dan Dita yang berada di depan dan diikuti oleh Robert dan Dewa.
Belum sempat mereka keluar dari kelas mereka tiba tiba seseorang masuk membuat mereka semu berhenti sesat dan langsung terkejut. Ternyata orang yang baru saja datang adalah Vanno sahabat mereka yang baru saja akan mereka cari karena keberadaannya yang tiba tiba menghilang dari kelas dan tidak kembali hingga bel pulang berbunyi.
" Vanno!" seru Dita yang lebih dulu melihat kedatangan Vanno di kelas mereka.
Vanno yang awalnya mengira sudah tidak ada sama sekali temannya, tiba tiba dikejutkan dengan keberadaan keempat sahabatnya yang belum pulang bahkan belum sempat keluar dari kelas mereka.
" Kalian belum pulang?" tanya Vanno yang merasa heran dengan keberadaan mereka.
" Kamu dari mana saja? kita mau nyariin kamu karena kamu gak balik balik lagi dari tadi siang" tanya Dewa yang senang karena Vanno sudah kembali lagi.
" Sorry aku tadi pengen sendirian dulu" sahut Vanno merasa bersalah pada sahabatnya yang terlihat mengkhawatirkan dirinya.
" Kita sudah bingung dengan keberadaan Hanna dan kamu tiba tiba menghilang, giman kita gak cemas" kata Viona dengan wajah kesalnya.
" Untunglah Vanno sudah balik" Robert ikut menimpali. " Ya sudah sekarang kita pulang saja" lanjutnya mengajak semua sahabatnya untuk pulang ke rumah mereka masing masing.
Tanpa mereka sadari bahwa mereka telah meninggalkan Hanna sendirian di kamar mandi yang kini sudah tidak berdaya lagi. Tubuh Hanna yang terasa sakit semua kini terasa nyeri semuanya mulai dari ujung rambut hingga kakinya yang terikat. Perutnya yang kosong karena belum sempat makan siang membuat tubuhnya semakin lemas tak berdaya.
Hanna sudah berusaha meminta bantuan dengan berbagai cara namun apa daya tenaganya semakin lama semakin terkuras karena perutnya yang kosong. Selain itu bajunya yang tadi basah oleh siraman Angel dan teman temannya membuatnya kedinginan karena bajunya yang basah dan belum kering membuatnya kedinginan dan kini badannya terasa menggigil.
Hanna sudah pasrah jika dirinya hari ini sampai harus mati, karena tidak ada yang datang menolongnya. Entah sudah jam berapa sekarang Hanna sama sekali tidak tau karena dia sama sekali tidak bisa melihat cahaya matahari.
Berkali kali ponselnya berbunyi tapi dia sama sekali tidak mengangkatnya. Bukan karena tidak ingin mengangkat panggilan suara di ponselnya, tapi karena dia sudah tidak bisa mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya karena tangannya yang masih terikat.
" Kalian belum mengetahui kabar Hanna?" tanya Vanno saat mereka berjalan bersama menuju halaman sekolah.
" Kami belum mendapatkan kabar darinya sama sekali" sahut Dita yang berjalan di depan bersama dengan Viona.
" Kamu sendiri tadi dari mana saja? kenapa gak kasih kabar ke kita kalau kamu mau menyendiri dulu?" kini Robert balik bertanya pada Vanno yang berjalan di sebelahnya.
" Aku di perpustakaan" jawab Vanno berbohong pada semua sahabatnya karena dia tidak ingin ada yang tau tempat rahasianya.
Mereka berjalan ke halaman sekolah dengan diselingi obrolan ringan dan candaan. Hingga akhirnya mereka telah sampai di halaman sekolah. Dan terlihat suasana yang sudah sepi hanya terdapat mobil mobil para guru yang terparkir di halaman sekolah. Lalu mereka mencoba mencari para penjemput mereka masing masing, entah itu orang tua mereka sendiri atau sopir pribadi mereka.
" Tunggu dulu deh!" seru Viona saat dia melihat seseorang yang sedang menunggu seseorang yang biasa dijemput. " Itu bukannya mamanya Hanna? kenapa dia kesini?" lanjut Viona penuh pertanyaan saat dia melihat mamanya Hanna sedang mencari seseorang di sekolah mereka.
Semua langsung melihat ke arah dimana Viona menatap saat ini. Mereka semua langsung terkejut saat melihat mamanya Hanna berada di halaman sekolah dan terlihat sedang mencari seseorang.
" Iya benar! itu mamanya Hanna!" seru Dita membenarkan.
" Kalau Hanna gak masuk sekolah kenapa mamanya kesini?" tanya Robert yang langsung diangguki oleh semuanya.
" Gimana kalau kita samperin saja beliau di sana" ajak Dewa yang sudah tidak sabar ingin mengetahui maksud kedatangan mamanya Hanna.
Mereka berlima langsung berjalan mendekati Vita yang terlihat bingung mencari keberadaan Hanna yang belum keluar. Apalagi sekolah sudah terlihat sepi tapi dia belum melihat Hanna yang keluar dari sekolahnya.
Selamat sore tante" sapa Dita mewakili semua sahabatnya menyapa mamanya Hanna.
" Selamat sore nak" balas Vita yang tersenyum terpaksa terlihat dari wajahnya dia sedang mengkhawatirkan sesuatu.
" Apa tante ini mamanya Hanna?" tanya Robert dengan ramah saat berbicara dengan orang lebih tua dari mereka.
Vita yang mendengar salah satu anak yang menghampiri dirinya menyebut nama Hanna, tentu saja di langsung menoleh dan terdiam melihat ke arah Robert yang berdiri di belakang Dita.
" Kalian kenal dengan Hanna?" tanya Vita yang memang belum begitu mengenal teman teman Hanna di sekolahnya.
" Kenal Tan, kebetulan kita juga teman satu kelasnya" jawab Dewa dengan ramah.
" ooh... gitu ya" jawab Vita dengan tersenyum akhirnya dia bisa ketemu dengan teman Hanna bahkan mereka teman satu kelas Hanna.
" Iya Tante, bukan hanya teman satu kelas saja di sini, kita juga teman satu kelas waktu kita masih di SD dulu Tan" Viona kembali ikut menimpali.
Vita mengangguk dengan tersenyum senang melihat anak anak yang menghampiri dirinya rupanya adalah teman teman Hanna selama ini. " Terus Hanna dimana? kenapa dia tidak keluar bareng kalian?" akhirnya Vita bertanya dimana keberadaan Hanna yang tidak bersama dengan teman temannya.
Wajah mereka berlima langsung terlihat bingung dan mereka juga langsung saling menatap saat mendengar pertanyaan mamanya Hanna. Begitu juga dengan Vita yabg juga bingung saat melihat ekspresi kelima teman Hanna yang terlihat kebingungan saat dia bertanya tentang Hanna.
" Tante... bukannya hari ini Hanna tidak masuk sekolah ya?" tanya balik Dita yang masih merasa bingung.
" Iya Tante, dari pagi Hanna tidak ada masuk ke kelas dan juga tidak ada surat ijin. Kami mengira Hanna tidak masuk sekolah karena sakit, makanya kita tanya sama Tante" Robert menimpali dengan sopan.
Mendengar ucapan teman teman Hanna , langsung membuat Vita membuka matanya dengan lebar. Pasalnya Hanna dari pagi sudah diantar oleh papanya dan sekarang teman temannya bilang Hanna tidak masuk sekolah. Lalu dimana Hanna berada?