
Hari berganti hari dan kini Hanna sudah sekolah di sana 1 tahun lamanya. Semua teman satu kelasnya sangat baik kepadanya, apalagi kedua sahabatnya Dita dan Viona, kemana mana mereka selalu bertiga.
Bahkan Vanno yang terlihat cuek dan dingin terhadap siapapun, tapi sikapnya akan berbeda jika dengannya. Meskipun Vanno selalu baik dengan semua temannya, tapi Vanno sedikit lebih baik terhadap Hanna. Jika Hanna bertanya Vanno akan menjawabnya meskipun hanya dengan jawaban singkat. Kadang Vanno sendiri juga bertanya pada Hanna jika ada yang ingin dia ketahui.
Banyak teman cewek sekelasnya yang merasa iri padanya karena Hanna bisa ngobrol dengan Vanno meskipun tidak sering. Tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa apa, karena Vanno sendiri yang baik pada Hanna. Menurut mereka mungkin itu adalah keberuntungan bagi Hanna yang bisa duduk di depan Vanno sehingga Vanno sering mengajaknya berbicara meskipun cuma sebentar.
Hanna yang memang sudah menyukai Vanno dari pertama mereka bertemu merasa sangat bahagia dan senang karena bisa dekat dengan Vanno. Tapi dia ingat dengan pesan kedua sahabatnya untuk tidak mengatakan perasaannya pada Vanno jika tidak ingin Vanno menjauhinya atau malah membenci dirinya.
Baginya lebih baik bisa dekat dengan Vanno dari pada harus dibenci oleh Vanno. Untuk itu dia berusaha untuk terus menyembunyikan perasaannya dan biarlah dia menyimpannya sendiri dalam hatinya. Seperti teman temannya yang lain yang juga menyukai Vanno, tapi tidak berani mengatakannya perasaannya pada Vanno.
' Biarlah rasa suka ini aku simpan dalam hati saja' batin Hanna menyemangati dirinya sendiri. ' Mungkin ini hanya cinta monyet, nanti kalau aku sudah dewasa aku akan melupakan dia dan menyukai orang lain' lanjutnya bergumam dalam hati sambil tersenyum tipis.
Sampai akhirnya mereka naik ke kelas 6 mereka masih satu kelas dan tidak ada teman sekelas mereka yang pindah kelas ataupun sekolah. Hanna dan Vanno masih duduk ditempat yang sama seperti tempat duduk mereka ketika masih kelas 5 yaitu Vanno duduk di belakang sendiri dengan Hanna yang duduk di depan bangkunya.
Itu semua karena Vanno sendiri yang minta agar Hanna duduk di depannya dan dia tidak mau ada yang menggantikan tempat duduk Hanna. Ya meskipun Vanno tidak mengatakannya secara langsung agar Hanna duduk di depannya. Bahkan pernah ada teman sekelasnya cewek yang tiba-tiba duduk di depannya, Vanno langsung mengusirnya.
Flashback on
" Ngapain kamu duduk di situ?" tanya Vanno pada cewek yang duduk di depan bangkunya yang biasa diduduki oleh Hanna.
" Gak pa pa, aku cuma mau duduk di sini kok" jawab cewek tersebut yang bernama Lea tanpa rasa takut.
" Pergi dari situ gak!!?" usir Vanno dengan bentakan keras yang membuat semua murid sekelasnya bisa mendengar suaranya dan melihat ke arah mereka berdua.
Lea tetap diam bahkan masih setia duduk dan tidak segera pergi dari sana. Hal itu tentu saja langsung membuat amarah Vanno semakin memuncak. " Pergi!!" bentak Vanno dengan suara lantangnya.
Tidak hanya membentak Vanno bahkan mendorong bangku yang ada di duduki Lea yang tepat berada di depannya. Sehingga Lea terkejut dan untungnya tidak sampai terjatuh dari bangkunya. Dan akhirnya Lea pergi kembali duduk di bangkunya sendiri.
Dari sana semua murid lainnya tidak ada yang berani duduk di depan Vanno. Karena Vanno pasti akan mengusir mereka yang berani duduk di depan bangkunya kalau itu bukan Hanna.
Bahkan jika mereka sedang ada tugas kelompok, Vanno selalu minta satu kelompok dengan Hanna. Entah kenapa Vanno sampai melakukan hal seperti itu, mungkin karena Hanna anak yang pintar?, entahlah hanya Vanno sendiri yang tau.
flashback off
Saat istirahat kedua, Hanna ke kantin bersama Dita dan Viona untuk mengisi perut kosong mereka. Dan tanpa mereka bertiga sangka Vanno bersama Robert dan Dewa juga pergi ke kantin untuk makan siang. Tentu saja mereka bertiga selalu menjadi pusat perhatian seluruh murid di sekolahan tersebut.
Setelah mengambil makanan, Vanno yang melihat Hanna dan kedua temannya duduk dan kebetulan bangku di depan mereka kosong. Vanno langsung berjalan mendekati Hanna dan kedua sahabatnya. Robert dan Dewa mengikuti Vanno tanpa protes dan langsung duduk di sebelah Vanno yang sudah duduk di depan Hanna.
Hanna dan kedua temannya terkejut saat mereka melihat Vanno dan kedua temannya duduk di hadapan mereka. Dan tentu saja sekarang mereka bertiga juga menjadi pusat perhatian murid murid yang lain kedatangan Vanno, Robert dan Dewa.
" Ka...kalian nga...pain di sini?" tanya Viona dengan suara gagap saking terkejutnya.
" Ya makanlah!" sahut Dewa malas mendengar pertanyaan Viona.
" Maksudnya Vio kenapa kalian duduk dan makan di sini?" kini Dita yang ingin memperjelas pertanyaan Viona.
" Bangkunya kosong makanya kita duduk di sini" sahut Robert ikut menjawab pertanyaan dari Dita.
Dita melihat ke semua arah kantin dan terlihat ada beberapa bangku yang kosong juga di sana. Dan hal itu membuat Dita kesal dengan jawaban Robert. " Lihat.... di sana banyak bangku kosong, seharusnya kalian duduk di sana" tunjuk Hanna pada beberapa bangku yang nampak kosong.
" Tap..." ingin Dita membantah jawaban Robert, tiba tiba suara Vanno membungkam suara Dita meskipun suaranya pelan tapi terdengar dingin.
" Berisik!!" potong Vanno dengan suara pelan tapi terdengar penuh intimidasi dari suaranya.
Mendengar ucapan Vanno yang dingin dan penuh intimidasi ersebut membuat mereka berlima langsung terdiam dan tidak ada yang berani membuka mulutnya untuk berbicara lagi. " Sudahlah Ta, sebaiknya kita makan lagi" bisik Hanna di telinga Dita untuk tidak berbicara lagi dan segera menghabiskan makanan mereka.
Tanpa ada yang bersuara lagi, akhirnya mereka langsung memakan makanan yang ada di hadapan mereka. Hanya suara sendok yang bertabrakan dengan piring atau mangkok mereka saja yang mewakili berbicara bahwa mereka sedang makan.
" Emmm.... Han, boleh aku tanya gak?" tanya Dewa setelah mereka semua sudah selesai menghabiskan makan siang masing masing.
" Iya tanya aja" sahut Hanna dengan tersenyum tipis.
" Sori Van, Han... kalian jangan marah ya?" ucap Dewa nampak ragu membuat semua yang duduk di sana melihat ke arah Dewa karena penasaran. " Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan Vanno?" tanya Dewa yang akhirnya bisa mengeluarkan pertanyaan yang selama ini selalu berputar putar di kepalanya.
Semua orang hanya bisa melongo mendengar pertanyaan Dewa. Hanya Vanno yang tidak peduli dan masih saja menampilkan wajah cuek dan dinginnya. Sedangkan Hanna sendiri terkejut tapi tidak lama kemudian dia tersenyum tipis.
" Kamu itu ada ada saja pertanyaannya Wa, aku dan Vanno tentu saja hanya teman satu kelas sama kayak kalian" jawab Hanna dengan tersenyum canggung.
" Tapi selama ini kalian kan deket banget, bahkan Vanno hanya mau berbicara sama kamu saja, sama mereka saja, Vanno enggan berbicara" tanya Dewa lagi sambil dagunya menunjuk ke arah Dita dan Viona.
" Ya itu karena Vanno sendiri dingin dan sombong sama kita" sahut Dita yang merasa kesal mendengar pertanyaan Dewa.
" Kita hanya berteman saja kok, iya kan Van?" jawab Hanna memperjelas karena tidak ingin ada keributan diantara teman temannya, lalu bertanya balik pada Vanno.
Vanno hanya mengangkat bahunya sebentar tanpa menjawab pertanyaan Hanna. " Balik!" ajak Vanno pada kedua temannya dan mereka bertiga langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kantin tanpa sepatah kata lagi.
" Dasar aneh!" maki Dita meskipun hanya dengan suara pelan yang hanya bisa didenger oleh Hanna dan Viona.
" Oh iya bener juga kata Dewa, kasih tau kita Han, sebenarnya apa hubungan kalian berdua?" kini Viona yang jadi penasaran.
" Hem... iya bener juga, selama ini Vanno hanya baik sama kamu saja" Dita ikut membenarkan ucapan Dewa.
" Kalian ini bicara apa sih? gak ada apa apa antara aku sama Vanno, lagian kita masih kecil buat ngerti hal kayak gitu" sahut Hanna dengan kesal mendengar ucapan kedua sahabatnya.
" Kita sih seneng kalau memang diantara kalian ada hubungan spesial lebih dari sekedar teman, ya meskipun sikap Vanno itu cuek dan dingin tapi dia kan selalu baik sama kamu Han" dukung Dita pada sahabatnya tersebut.
" Iya aku juga setuju, meskipun aku juga suka sama Vanno sih, tapi aku juga gak pengen punya hubungan spesial dengan manusia dingin dan cuek kayak Vanno. Aku sih cukup mengagumi ketampanan dia saja" Viona ikut mendukung dan diiyakan oleh Dita.
Mendengar ucapan kedua sahabatnya, Hanna hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang. Sebenarnya dia memang suka sama Vanno sejak mereka bertemu pertama kali. Tapi dia tidak pernah berfikir untuk memiliki hubungan spesial dengan Vanno.
Dirinya masih terlalu kecil untuk bisa mengerti perasaan suka dan cinta pada seseorang. Mungkin yang dia rasakan hanya sebatas rasa suka untuk anak yang masih seumuran mereka. Dan bisa dibilang perasaan cinta di hatinya ini hanya cinta monyet yang akan berubah kelak mereka dewasa nanti.
" Kalian itu ngaco! kita masih kecil! gak usah ngomong yang aneh aneh deh" seru Hanna dengan kesal pada kedua sahabatnya. " Yuk... balik ke kelas" ajak Hanna dengan wajah cemberutnya sambil berdiri dari duduknya dan langsung diikuti oleh kedua sahabatnya.
Dita dan Viona mengikuti Hanna yang berjalan dengan cepat. Mereka hanya bisa diam tidak ingin memaksa Hanna lagi.