
Setelah perjalanan panjang mereka selama kurang lebih 7- 8 jam perjalanan tanpa berhenti, akhirnya mereka telah sampai di Yogyakarta. Saat itu langit masih terlihat petang karena memang mereka tiba jam Setengah 5 pagi.
Bus yang mereka tumpangi berhenti di salah satu restoran yang lumayan besar yang sudah dibooking oleh pihak PO. Di restoran tersebut biasa digunakan bus pariwisata lainnya sebagai pemberhentian awal bus setelah melakukan perjalanan jauh. Jadi di restoran tersebut semua anak anak dan para guru akan membersihkan badan mereka yang terasa lengket. Di sana mereka bisa sholat Karema di sana juga tersedia mushola untuk mereka yang ingin melaksanakan sholat.
Hanna yang terbangun dari tidurnya karena suara kernet bus yang memberitahu bahwa mereka telah sampai di Yogyakarta dan berhenti untuk bersih bersih dan sarapan. Hanna kebingungan dengan posisi tidurnya yang terasa nyaman, karena seingatnya tadi malam dia tertidur dengan ponsel yang menyala dan headset yang berada di telinganya. Bahkan tubuhnya tidak senyaman seperti saat ini.
Hanna langsung mengangkat tubuhnya hingga terduduk dengan tegak. Dia langsung memeriksa ponselnya yang ternyata ada di dalam tas selempangnya.
' Apa mungkin Vanno yang melakukan itu semua' batin Hanna yang melihat Vanno sedang tertidur dengan lelap di sebelahnya.
Vanno memang tidak mendengar suara yang sedikit ramai karena semua penumpang ingin bergantian keluar dari dalam bus. Sebenarnya dia baru tertidur tadi jam setengah 3pagi, karena keasyikan bermain game hingga dia merasa ngantuk dan akhirnya tidur. Tentu saja dia sama sekali tidak terganggu dengan suara berisik di sekitarnya karena dia baru tidur selama 2 jam.
Hanna yang duduk di sebelah kaca otomatis tidak bisa keluar karena jalannya dihalangi oleh Vanno yang masih tertidur dengan lelap. Dia bingung ingin membangunkan, tapi kasihan melihat Vanno yang tertidur dengan nyenyak.
" Han... gak keluar?" tanya Dita yang sedang berdiri di sebelah Vanno mengantri untuk keluar dari bus.
" Ssttt..." Hanna meletakkan jari telunjuknya di bibirnya agar Dita tidak berisik karena tidak ingin Vanno terbangun dari tidurnya mendengar suara Dita.
" Ya bangunin Hanna.... semua sudah turun" ucap Dita dengan suara lirih.
" Iya... kamu duluan saja" sahut Hanna yang ingin menunggu Vanno sebentar untuk bangun.
Semua orang sudah turun dari bus tinggal mereka berdua yang masih di dalam bus. Beberapa kali kernet dan sopir bus mengecek ke dalam untuk melihat masih ada orang apa tidak. Saat melihat Hanna dan Vanno, beberapa kali mereka menyuruh Hanna untuk membangunkan Vanno dan mengajaknya turun. Tapi Hanna menjawab sebentar lagi.
Hingga sekitar 15 menit akhirnya Hanna memberanikan diri untuk membangunkan Vanno Karena dia sudah tidak tahan untuk buang air kecil. " Van..." panggil Hanna dengan suara pelan sambil menepuk bahu Vanno yang ada di sebelahnya.
Vanno belum terbangun juga, hanya terlihat gerakan gerakan kecil saja, tapi matanya masih tertutup.
" Vanno.... bangun kita sudah sampai" Hanna membangunkan lagi dan kali ini dengan suara sedikit keras sambil menggoyangkan bahu Vanno sedikit keras.
" Hemmm..." mendengar suara seseorang yang membangunkannya serta bahunya yang digoyang dengan keras, membuat Vanno sedikit membuka matanya dengan malas karena tidurnya terasa terganggu.
Hingga akhirnya Vanno membuka matanya dengan lebar bersamaan helaan nafas yang panjang. Dan matanya yang baru terbuka langsung melihat wajah Hanna yang kini menatapnya dengan bibir cemberutnya.
" Ada apa?" tanya Vanno yang masih belum sadar betul.
" Kita sudah sampai, semua orang sudah turun dari tadi" jawab Hanna dengan wajah mengerasnya bukan karena marah tapi karena dia sudah tidak kuat menahan untuk buang air kecil.
Vanno bukannya bangun ia malah melihat ke arah samping dan belakang dan benar saja sudah tidak ada orang lain di dalam bus. "Semuanya sudah turun?" tanya Vanno dengan santainya.
" Iya!" sahut Hanna dengan suara kerasnya. "Buruan bangun... aku sudah gak tahan..." lanjut Hanna dengan wajah memerahnya.
" Apa?" tanya Vanno yang tidak mengerti ucapan Hanna.
" Ck... aku udah gak tahan mau buang air kecil!" kesal Hanna menjawab pertanyaan Vanno yang menyebalkan.
" Oh... bilang dari tadi!" sahut Vanno dengan wajah santainya dan dia langsung merapikan kursi sleeper seatnya dan langsung berdiri menjauh dari tempat duduknya untuk memberi jalan Hanna yang ingin keluar dari bus.
Mendapat jalan keluar, Hanna langsung buru buru berlari untuk segera turun dari bus dan langsung menuju ke kamar mandi setelah bertanya pada seorang petugas restoran yang dia temui. Bahkan dia sampai lupa membawa tas selempang yang tadi dia taruh di kursinya.
" Ck..." kata Vanno berdecak melihat tas Hanna yang terjatuh dari kursi tempat duduknya saat dia berdiri dan langsung berlari keluar dari bus. " Kebiasaan!" Vanno menggeleng dengan kebiasaan sikap Hanna yang sering lupa dengan barang bawaannya sendiri.
" Ternyata sudah jam 5" ucap Vanno sendiri sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Vanno segera membereskan semua barangnya dan memasukkan ke dalam tasnya dan segera meletakkan di punggungnya. Lalu dia juga mengambil tas Hanna dan membawanya turun dan keluar dari bus.
" Adik mau ambil kopernya?" tanya kernet bus yang sedang nongkrong bersama dengan kernet dan pengemudi bus lainnya pada Vanno yang baru saja keluar dari bus.
Vanno melihat ke arah bagasi dan terlihat hanya tertinggal 2 koper dan bisa dipastikan bahwa itu adalah kopernya dan punya Hanna.
Kernet bus langsung mengambil kedua koper tersebut karena dia tau bahwa koper satunya adalah milik cewek yang duduk di sebelahnya. Dan tadi anak cewek tadi terburu buru berjalan masuk ke restoran hingga dia tidak bisa memanggilnya.
Vanno menggeret 2 koper tersebut dengan tas di punggungnya dan tas selempang Hanna yang dia selempangkan juga di tubuhnya. Vanno berjalan menuju ke kamar mandi. Dia ingin memberikan koper serta tas Hanna yang dia yakin Hanna di sana untuk buang air kecil.
Kebetulan tempat kamar mandi yang ramai dan kamar mandi cewek dan cowok terpisah tapi masih bersebelahan. Vanno melihat Hanna yang berdiri mengantri di depan kamar mandi dengan berdiri sambil menahan kencing.
Merasa kasihan Vanno mendekat dan menarik tangan Hanna sehingga semua murid lainnya melihatnya, tapi Vanno tidak peduli dengan tatapan semua temannya. Vanno langsung menarik tangan Hanna yang sedang antri dan mengajak Hanna masuk ke dalam restoran.
"Van... kenapa kamu tarik tarik! aku masih mengantri buat buang air kecil!" teriak Hanna berusaha melepaskan tangan Vanno yang menggandengnya di depan.
" Diamm!" bentak Vanno dengan suara pelan tapi tegas dengan tangan yang menggandeng tangan Hanna.
Akhirnya Hanna hanya diam mengikuti langkah Vanno yang menyeretnya. Dia tidak ada tenaga untuk memberontak apalagi ingin membantah Vanno lagi.
" Tunjukkan kamar mandi karyawan" suruh Vanno pada pegawai restoran yang sedang menyapu lantai tanpa rasa takut.
" Tapi mas kamar mandi itu dikhususkan hanya untuk karyawan saja" sahut karyawan laki laki tersebut masih berusaha ramah dengan memanggil Vanno dengan sebutan Mas, karena tinggi badan Vanno yang hampir sama dengan karyawan tersebut yang terlihat sudah berumur.
" Dia sudah gak tahan mau buang air kecil" ucap Vanno ingin menerobos karyawan tersebut.
Hanna tidak menyangka kalau Vanno ingin mengajaknya ke kamar mandi karyawan restoran agar dia bisa buang air kecil secepatnya.
" Mas...tunggu.... kalian gak boleh masuk seenaknya saja, kamar mandi pengunjung sudah disediakan di sana" karyawan tersebut berusaha menghalangi jalan Vanno.
" Di sana antriannya banyak, kamu mau dia kencing di sini!" ucap Vanno dengan tegas terdengar mengancam.
" Van.. sudah... kita antri lagi saja di sana" ucap Hanna mencoba menenangkan Vanno yang mulai tersulut emosi.
" Diam!" bentak Vanno meskipun suara pelan.
" Cepat tunjukkan, kalau gak mau panggil manager kamu!" suruh Vanno dengan tegas.
Karyawan tersebut tidak menyangka melihat anak sekecil Vanno sudah berani menyuruhnya dengan sikap arogannya.
Mendengar ada suara keributan, seorang wanita paruh baya berjalan mendekati mereka. " Ada apa ini?" tanya wanita tersebut yang merupakan atasan dari karyawan yang sedang menyapu tersebut.
" Ini bu, anak ini memaksa untuk masuk ke dalam kamar mandi karyawan" beritahu pegawai tersebut dengan rasa takut.
" Teman saya sudah tidak tahan mau buang air kecil, di sana antriannya panjang makanya saya minta dia buat nunjukin letak kamar mandinya agar teman saya bisa secepatnya buang air kecil" jelas Vanno.
Hanna hanya diam dengan interaksi mereka, dia melihat Vanno memiliki sikap yang tegas sehingga orang tidak akan menyangka bahwa dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
" Tapi mas, peraturannya memang seperti itu, kamar mandi karyawan hanya dikhususkan untuk karyawan saja dan pengunjung dilarang masuk" jelas wanita tersebut dengan sabar.
" Biarkan dan kencing dulu di sini habis itu kita ke kamar mandi pengunjung" Vanno tetap memaksa karena dia tau di kamar mandi pengunjung masih banyak antriannya.
" Tapi mas.." wanita tersebut ingin menasehati Vanno lagi tapi ucapannya langsung dipotong oleh Vanno.
" Kalian mau dia kencing di sini!" potong Vanno dengan mengancam wanita paruh baya tersebut.
Hanna yang berdiri di belakang Vanno hanya diam sambil menundukkan kepala mendengar suara Vanno yang terus memaksa. Dia merasa malu karena melihat tindakan Vanno yang seenak jidatnya.
" Bagaimana? dia kencing di sini apa di kamar mandi karyawan?" tanya Vanno lagi sudah tidak sabar.
" Baiklah tapi hanya buang air kecil habis itu kalian pindah ke kamar mandi pengunjung" akhirnya wanita tersebut memberikan ijin pada Hanna untuk buang air kecil di kamar mandi karyawan.