
"Weekend ini kau ada waktu, 'kan? Kita bisa melakukan kencan!" seru Chade.
Awalnya Chade ragu kalau Sheria tidak mau berkencan pasalnya gadis itu selama ini tidak tertarik menjalin hubungan romansa. Tapi memang Chade salah paham karena Sheria mempunyai tujuan lain.
Sheria mengernyit melihat respon Chade tapi dia berusaha menjelaskan apa tujuannya ingin mempunyai teman kencan.
"Papa selalu menanyakan keinginan dan masa depanku nanti seperti apa dan aku takut dia curiga tentang The Eye! Apalagi kami sering berpindah markas supaya alamat IP kami tidak terlacak jadi aku memutuskan untuk mempunyai teman kencan agar papa mengira jika aku seperti gadis normal lainnya,"
"Kebetulan weekend ini tuan Andrew mengundangku ke rumahnya. Aku tidak bodoh pasti dia ingin memperkenalkanku pada anak laki-lakinya yang super tampan itu!"
Sheria menjelaskan panjang lebar yang mana membuat wajah Chade jadi masam.
"Chade..." panggil Sheria karena pemuda itu tidak merespon.
Chade justru berdiri dan mengusir Sheria dari kamarnya. "Lebih baik kau bergabung dengan para wanita di bawah, aku ingin mandi!"
"Kau ini kenapa?" tanya Sheria kebingungan. "Apa aku salah bicara? Padahal aku ingin meminta bantuanmu!"
"Aku tidak bisa membantumu jadi cepat keluar!" Chade tetap mengusir Sheria.
Suasana hati Chade langsung hancur karena Sheria yang ingin berkencan dengan lelaki lain. Dan sudah dipastikan lelaki itu adalah lelaki yang jauh lebih dewasa darinya.
Sementara Sheria menggerutu dalam hatinya, dia ingin minta bantuan tapi justru diusir oleh Chade.
"Dasar berondong labil!" kesalnya.
Sheria lebih memilih bergabung dengan Trevor, Jullian dan Keiner. Mungkin karena dia tidak punya teman perempuan jadi Sheria lebih nyaman berkumpul dengan laki-laki.
"Jadi bagaimana perkembangan kafe?" tanya Trevor pada putranya.
"Cukup bagus walaupun tidak seramai dulu tapi pendapatan cukup stabil," jawab Jullian santai.
"Aku juga memikirkan hal itu, aku sudah mempunyai konsep promosi yang lebih menantang dengan nuansa erotis pasti banyak peminatnya. Aku akan memasak dengan seksi dan membuatnya menjadi konten," jelas Jullian sambil membayangkan keinginannya.
Trevor langsung memukul kepala Jullian dengan keras. "Itu sama saja kau menjual tubuhmu!"
"Argh! Dad..." Jullian memegangi kepala yang dipukul Trevor.
Keiner menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ayah mertua dan kakak iparnya kemudian atensinya beralih pada Sheria yang hanya terdiam dengan wajah masam.
"Kenapa dengan wajah itu? Kau seperti Athena kalau sedang merajuk," tegur Keiner.
"Chade tidak mau bermain denganku, dia sangat menyebalkan!" jawab Sheria sambil membuang wajahnya.
"Bukankah kalian sering seperti itu? Sebentar lagi juga baikan, ayo kita lebih baik mulai acaranya. Aku akan memanggil Chade!" Keiner berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar Chade berada.
Keiner mengetuk pintu kamar pemuda itu tapi tak kunjung dibuka.
"Chade..." panggil Keiner lagi dan lagi.
Akhirnya Chade membuka dengan raut wajah datar.
"Seharusnya tidak perlu mengadakan acara khusus untukku begini, Kak. Ini seperti kekanakan dan aku malu," protes Chade.
"Hanya acara keluarga kecuali aku mengadakan pesta besar-besaran," sahut Keiner.
Chade berdecak dan berlalu ingin turun ke lantai bawah tapi Keiner menahannya. Dia teringat permintaan Juvel untuk lebih perhatian pada pemuda itu.
"Ehem! Apa kau sudah berjambang?" tanya Keiner yang bingung mau memberi perhatian dalam bentuk apa.