
Keesokan harinya, Bryan terbangun sambil memegangi kepalanya. Dia merasakan pusing luar biasa, dia mengingat-ngingat apa yang terjadi.
"Apa aku mabuk? Ini sangat memalukan, seorang dokter mabuk sampai pingsan. Apa kata Sheria?" gumamnya.
Buru-buru Bryan keluar dari tendanya, dia justru mendapati Chade yang duduk termenung di depan danau.
"Kau sudah bangun? Apa aku semalam mabuk?" tanyanya.
Chade melirik ke arah Bryan dan tersenyum miring seakan mencibir lelaki itu. "Dasar payah! Hanya karena bir kaleng saja, kau bisa mabuk!'
Sebenarnya Bryan tidak suka dengan sikap Chade yang seperti itu, anak itu tidak punya sopan santun pada orang yang lebih tua darinya. Tapi apa Chade bersikap seperti itu hanya pada dirinya atau orang lain juga begitu?
Yang jelas Bryan harus memaklumi sikap Chade padanya.
"Apa Sheria belum bangun?" tanya Bryan lagi sambil melirik tenda Sheria.
Karena tidak mau mengganggu waktu Sheria, Bryan berinisiatif untuk merebus air. Dia ingin membuat kopi sekaligus menyeduh mie instan.
"Untuk ukuran dokter, hidupmu sepertinya tidak sehat, ya," komentar Chade.
"Kita berada di hutan, sepertinya tidak bisa memilih makanan, apa kau mau?" sahut Bryan bersahabat.
"Terserahmu saja,"
"Terserah berarti iya, apa kau tidak tidur?"
"Hm, begitulah!"
"Untuk ukuran remaja, pikiranmu terlalu berat,"
Bryan balik menyindir Chade yang membuat pemuda itu kesal.
"Sebentar lagi aku kuliah jadi bukan remaja lagi,"
"Jadi apa namanya? dewasa tanggung, ya?"
Kedua lelaki itu terus berbicara sambil saling menyindir satu sama lain. Sampai kopi dan mie instan yang dibuat Bryan sudah jadi.
Bryan dan Chade makan bersama di meja lipat yang mereka bawa.
Tak lama mereka melihat ada mobil yang datang ke tempat kemah mereka.
Sepertinya Chade mengenal mobil yang datang, mobil itu adalah mobil Keiner.
Dan benar saja saat mobil berhenti, Keiner keluar bersama Trevor dan Jullian.
Rupanya kabar mengenai penjara bawah tanah sudah terdengar oleh Keiner begitu juga Trevor dan Jullian. Ketiganya langsung bertemu dan memutuskan untuk menjemput Sheria dan Chade.
Mereka harus memastikan jika Sheria dan Chade tidak terlibat.
"Kak Keiner?" Chade pura-pura bingung. "Kenapa kemari?"
Keiner, Trevor dan Jullian menelisik tempat kemah tanpa satu patah kata pun.
"Di mana Sheria?" tanya Trevor kemudian.
"Sheria masih tidur," jawab Bryan.
Bryan merasa aneh kenapa Trevor menyusul mereka. "Apa terjadi sesuatu?" tanyanya.
"Kalian harus bersiap pulang!" ucap Trevor tanpa mau menjelaskan.
Kemudian Trevor mencoba membangunkan Sheria.
"Papa?" Sheria pura-pura terkejut akan kedatangan Trevor, sebenarnya dia sudah bangun sedari tadi.
"Kita harus pulang!" tegas Trevor.
Untuk sementara Trevor percaya jika Sheria dan Chade tidak terlibat jadi mereka bisa membuat alibi untuk pihak kepolisian apalagi ada Bryan sebagai saksinya.
Semuanya akhirnya kembali pulang tapi Keiner dan Chade memasuki mobil lain dan memisahkan diri.
"Daddy mertua, kita harus bertemu lagi nanti," ucap Keiner sebelum pergi.
"Kita harus ke tempat rahasia kita," sahut Trevor.
Sebagai mantan mafia, Trevor tentu sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan ke depannya yang terjadi. Maka dari itu dia bersama Keiner dan Jullian mempunyai tempat rahasia untuk membicarakan jika ada hal tak terduga terjadi seperti sekarang.
Sebelum masuk mobil, Chade memasang wajah masam sekali karena melihat Sheria berduaan dengan Bryan.
"Sheria, kau tidak menatapku lagi!" kesalnya.