
Chade memandangi anak Momo yang menyusu pada induknya. Pemuda itu terdiam sambil mengingat masa kecilnya, dulu saat dia meminta susu pada ibunya, Clara pasti marah dan membiarkannya kelaparan.
Maka dari itu, Chade sangat menyukai jika Sheria memberinya susu.
"Bahkan sapi saja sayang pada anaknya sendiri," komentar Chade kemudian.
Sheria yang berdiri di samping Chade melirik ke arah pemuda itu.
"Kau masih membenci ibumu walaupun dia sudah tiada?" tanya Sheria.
"Entahlah, benci dan cinta itu berbeda tipis. Aku lebih memikirkan daddy Harold," ungkap Chade. Laki-laki yang dianggap Chade ayah kandungnya yang tak lain adalah ayah Keiner sebelum dia bertemu dengan Dylan.
"Aku tahu kak Keiner membenciku karena itu! Dia membesarkan pembunuh ayahnya," tambah Chade.
"Dan kau tidak membenci pelakunya?" tanya Sheria memastikan perasaan Chade pada Dylan.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya benci dan cinta itu berbeda tipis," jawab Chade pilu.
Sheria yang mengerti bagaimana perasaan Chade segera memeluk pemuda itu.
"Kalau kak Keiner membencimu, dia tidak mungkin menerimamu sampai sejauh ini bahkan dia menyekolahkanmu di sekolah mahal. Asrama itu juga universitas terbaik di kota," ucap Sheria sambil mengelus punggung Chade.
Chade menikmati pelukan Sheria dengan memejamkan matanya. "Hanya Sheria yang bisa mengobati semua lukaku!" batinnya.
"Ehem!"
Tiba-tiba ada suara deheman yang membuat Sheria melepas pelukannya.
"Papa..." panggil Sheria yang melihat Trevor mengacak pinggang.
"Apa yang kalian lakukan di kandang sapi? Bagaimana kalau pekerja ada yang melihatnya?" cecar Trevor tidak suka.
Chade yang takut pada Trevor segera menjauh dari kandang Momo, dia mau cari aman.
"Kau mau kemana anak muda? Kau harus membantu memberi makan kuda!" ucap Trevor yang tidak akan membiarkan Chade pergi begitu saja.
"Kuda?" Chade menghentikan langkahnya.
Mau tidak mau, Chade akhirnya menurut. Dia pergi ke kandang kuda dan mencoba memberi makanan pada kuda-kuda di sana.
Awalnya kuda-kuda begitu galak tapi saat Chade memberi makan mereka jadi jinak.
"Saat kau memberi makan, kudanya mengira jika kau adalah pemilliknya," jelas Sheria.
"Benarkah seperti itu?" tanya Chade memastikan.
"Aku besar bersama mereka jadi sedikit tahu banyak," sahut Sheria sambil memberi apel pada kuda di depannya.
"Sheria, papa akan kembali ke rumah!" pamit Trevor saat selesai melakukan pekerjaannya.
"Aku akan telat kembali, aku ingin berkuda dengan Chade di bukit!" ucap Sheria yang berjalan untuk mempersiapkan keperluan berkuda.
"Jangan kembali saat larut," tegas Trevor sebelum pergi.
Kini hanya tertinggal Sheria dan Chade di kandang kuda.
"Kita pakai dua kuda, ya? Kau sudah ikut kelas berkuda beberapa kali, 'kan?" tanya Sheria.
Chade mengangguk. "Walaupun tidak mahir, aku mengerti dasar-dasarnya!"
"Baguslah, ayo kita cepat naik!"
Sheria dan Chade akhirnya naik kuda dan mereka berkuda menuju bukit yang tak jauh dari peternakan sapi.
"Ada pohon oak besar di sana! Bisa untuk kita berteduh dan anginnya sangat menyejukkan, bisa untuk merefresh otak!" jelas Sheria.
"Pohon itu seperti mempunyai sihir, aku selalu tertidur saat ke sana!"
Chade mengernyit. "Jadi begini kehidupanmu di peternakan sapi? Kau menyembunyikan identitasmu dengan baik Sheria!"
"Orang-orang pasti tidak akan percaya jika kau sering membobol uang bank!"