
Selain mengetahui Irene yang masih hidup, apalagi yang Ronan tahu?
"Ronan memancing kita untuk keluar, terlalu ceroboh kalau dia melakukannya tanpa persiapan sebelumnya," komentar Trevor.
"Tujuannya pasti membunuhku, bukan?"
Sheria mengeratkan gigi gerahamnya, dia mengingat jelas wajah Ronan saat di penjara bawah tanah.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Papa," ucap Sheria.
"Kau lebih baik tetap tinggal di mobil, aku yang akan maju!" Trevor tidak mau terjadi apa-apa pada Sheria.
Kemudian Trevor mencoba menghubungi Keiner dan Jullian supaya kedua orang itu menyusul mereka.
Markas Ronan berada di wilayah utara membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai.
Sementara Keiner sendiri harus rela meninggalkan pekerjaannya demi menyusul Trevor, dia mempercayakan semua urusan pada asistennya Lucas untuk mengambil alih selama dia tinggal.
"Aku tinggal dulu," pamit Keiner.
"Percayakan semua padaku, Bos," jawab Lucas percaya diri.
Keiner juga mencoba menghubungi kepala asrama untuk menanyakan keadaan Chade.
"Apa Chade baik-baik saja, Prof?" tanya Keiner.
"Chade menyibukkan diri di perpustakaan tapi seharian ini, aku belum melihatnya. Mungkin Chade di kamarnya karena mempersiapkan diri minggu depan, aku akan memeriksanya lagi nanti," jawab kepala asrama.
"Terima kasih, Prof!" Keiner bisa bernafas lega.
Sekarang Keiner dan beberapa bodyguard-nya menuju wilayah utara. Sebelum itu dia juga menjemput Jullian yang berada di kafe.
"Apa rencana Ronan kali ini?" geram Jullian.
"Aku tidak tahu tapi aku gelisah sedari tadi," sahut Keiner sambil memejamkan matanya.
Jullian menghela nafasnya berat sekali. "Itu karena kita sudah mempunyai istri dan anak jadi pasti tidak tenang. Saat muda dulu aku selalu bertindak sesuka hatiku tapi sekarang?"
"Inilah alasan besar, aku tidak mau membangun keluarga," tambahnya.
"Tapi kau bahagia, 'kan?" tanya Keiner.
"Ya, Irene dan keempat anakku tidak tergantikan oleh apapun," jawab Jullian.
"Senang melihatmu serius seperti ini, itu menandakan kalau kau sudah tua!"
Keduanya tertawa bersama untuk menghilangkan ketegangan yang ada.
Sampai beberapa jam kemudian, mereka sampai di titik lokasi yang Trevor kirimkan. Di sana Sheria dan Trevor sudah menunggu kedatangan mereka.
"Jadi, sekarang bagaimana?" tanya Jullian.
"Target utama adalah aku jadi aku akan maju duluan!" terang Trevor.
Trevor membagi chip pada semuanya. "Jangan sampai terlepas!"
"Aku sudah menaikkan drone untuk melihat situasi, Ronan sepertinya sudah menunggu," jelas Sheria.
Keiner melihat rekaman dari drone dan mencari keberadaan Dylan tapi tidak ada. "Dia sendirian," gumamnya.
"Dad, berhati-hatilah," ucap Jullian saat melihat Trevor maju.
Trevor menganggukkan kepala, dia berjalan dengan tenang. Ada tiga drone terus mengikutinya dari atas kemudian drone itu berpencar untuk merekam situasi dari segala sisi.
Markas Ronan sudah hancur hanya tertinggal puing-puing besar. Dan di sana Ronan duduk dengan santai di sebuah kursi batu.
Rona terkekeh melihat Trevor datang, kali ini Trevor datang dengan tangan kosong.
"Di mana pedangmu? Apa saat pensiun kau membuangnya?" tanya Ronan.
Trevor memicingkan matanya. "Aku tidak suka berbasa-basi jadi katakan apa keinginan terakhirmu? Kali ini aku tidak akan melepasmu dengan mudah!"
"Aku hanya ingin kau diam di sini bersamaku!" sahut Ronan tersenyum smirk.
Trevor maju dan semakin mendekati Ronan, dia langsung mencekik leher musuhnya itu dengan tangan kosong.
"Aku selalu berlatih dengan memeras susu setiap hari rasanya aku ingin memeras lehermu juga," geram Trevor.
...°°°°°...
Catatan Author :
Drone yang dimaksud di sini bukan drone pesawat gitu ya gaes ya. Tapi, drone-nya lebih canggih, bentuknya bulat-bulat bisa terbang sendiri.
[ Ilustrasi drone Sheria ]