
Juvel membuat teh dan mendatangi suaminya di ruang kerjanya. Di dalam sana Keiner membaca laporan dengan memijit pelipisnya. Perusahaan cabangnya banyak mengalami kebangkrutan.
Sekarang Keiner harus mempertahankan perusahaan utama supaya tetap stabil.
"Babe, minumlah dulu!" Juvel meletakkan tehnya di meja suaminya.
Keiner menatap istrinya dan langsung memeluk Juvel dengan menenggelamkan wajahnya di dada istrinya.
"Apa aku bisa membantu?" tanya Juvel seraya mengelus rambut suaminya. "Ternyata walaupun kita sudah keluar dari dunia mafia, bayangan itu tidak akan pernah hilang."
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi pada Ares dan Athena. Mereka pasti bingung dan berita mulai tersebar, teman-teman sekolah mereka pasti membicarakan kebangkrutan keluarga Volstaire," sambung Juvel.
"Kita tidak sepenuhnya bangkrut, Babe. Aku punya banyak aset dan tabungan yang cukup, aku bisa memakai itu untuk menutupi kebangkrutan jadi jangan khawatir. Aku hanya butuh waktu," balas Keiner.
Juvel mengusap pipi suaminya kemudian menyatukan kening mereka. "Kau tahu bukan masalah materi, bukan?"
"Hm, kita harus memberi pengertian pada anak-anak kita." Keiner mencium bibir Juvel, mereka saling membalas sampai terdengar suara Trevor yang menggema di mansion.
"Ada apa itu?"
Keiner dan Juvel melepas ciuman mereka, mereka keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Rupanya Sheria sudah kembali ke mansion dan gerak gerik gadis itu diperhatikan oleh Trevor sampai Sheria ketahuan memiliki luka di perutnya.
"Katakan, Sheria!" Trevor begitu marah karena Sheria menutupi siapa pelakunya.
Sheria bingung harus menjawab apa tapi sepertinya dia harus menjawab jujur pada Trevor karena dia tahu papanya tidak akan berhenti bertanya.
"Chade... dia yang menusukku!" akhirnya Sheria mengatakan siapa pelakunya.
Dan hal itu membuat Trevor semakin marah, dia berteriak mengingat semua telah hancur. Dari pulau Biru yang menyimpan berjuta kenangan bersama orang tuanya sampai peternakan sapinya yang dia besarkan susah payah.
"Aku akan hidup lebih lama untuk membunuh anak itu," ucap Trevor dengan aura yang sangat gelap.
Setidaknya Gwen bisa meredam kemarahan Trevor sementara waktu.
Mendengar Chade yang menusuk Sheria membuat Keiner semakin kecewa, dia hanya bisa menatap Juvel dengan mata berkaca-kaca. Seandainya dia bisa lebih peka, apakah Chade akan bertindak sejauh itu?
"Ini bukan salahmu," ucap Juvel kemudian.
Sebenarnya Jullian sama marahnya dengan Trevor mengingat bisnisnya yang dihancurkan dalam sekejap mata.
Dia mendekati Sheria dan mencoba melihat luka gadis itu.
"Aku tidak apa-apa, Bryan sudah mengobatinya," ucap Sheria supaya Jullian tidak mengkhawatirkan dirinya.
"Siapa Bryan?" tanya Jullian.
"Dia kekasihku. Dan aku akan tinggal bersamanya," jawab Sheria.
"What? Daddy akan akan tambah marah." Jullian tidak setuju.
"Aku tidak mau membuat beban kak Keiner tambah banyak, sebaiknya kak Jullian juga memikirkan jalan kedepannya bagaimana, tidak mungkin kan si kembar empat akan terus-terusan tinggal di sini," balas Sheria.
"Ya, kau benar. Aku sudah memikirkan itu, lebih baik kita fokus untuk memulihkan keadaan dulu." Jullian tidak mau terbawa emosi dan mengabaikan keluarganya.
"Ternyata ada pelajaran juga yang bisa diambil dari kejadian ini, daddy wuba mulai dewasa," ungkap Sheria dengan kekehan.
"Aku dewasa dari dulu," ketus Jullian tidak terima.
_
Pemanasan satu bab dulu, ya.😊 Terima kasih yang masih stay baca.