
Walaupun Sheria tidak duduk di kursi depan tapi Bryan mencuri kesempatan untuk melihat Sheria dari kaca spion mobil saat dalam perjalanan.
Bryan tersenyum melihat Sheria, gadis itu memang tipenya.
"Ehem! Perhatikan jalanan, Dude!" tegur Chade tidak suka.
Bryan memutar bola matanya malas, Chade selalu saja mengganggu. Bryan bisa menyimpulkan jika Chade memang menyukai Sheria.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Tempat itu dekat dengan danau supaya memudahkan mereka mencari air.
Bryan dan Chade segera membuat kemah di sana sementara Sheria mempersiapkan peralatan masak.
"Aku akan membuat kopi!" seru Sheria yang merebus air.
"Dua kopi dan satu jus," ucap Bryan mencibir Chade.
"Kau pikir aku tidak bisa meminum kopi?" kesal Chade yang wajahnya semakin terlihat masam.
Bryan terkekeh. "Hey, aku hanya bercanda, Dude!"
"Not funny!" Chade berlalu meninggalkan Bryan ke danau.
Sheria yang sudah selesai membuat kopi memberikan satu gelas pada Bryan.
"Chade memang seperti itu, dia masih labil dan belum bisa mengendalikan emosinya," ucap Sheria.
"Sepertinya hubunganmu sangat dekat dengan Chade?" komentar Bryan.
"Ya begitulah, kami besar bersama," sahut Sheria.
Selesai membuat tenda, malam itu mereka membuat api unggun. Mereka sengaja membuat api unggun supaya hewan buas tidak mendekat.
"Aku membawa bir, apa kalian mau?" tawar Chade yang mengeluarkan bir kaleng yang dia bawa.
"Kau menawari minuman beralkohol pada seorang dokter, itu tidak sopan Chade!" balas Sheria.
"Memangnya dokter tidak boleh meminum bir?" Bryan menerima bir dari tangan Chade. "Pada saat musim dingin, bir berguna untuk menghangatkan diri!"
"Akan cocok dengan steak juga!" Sheria memberi piring yang sudah ada daging steak di atasnya, daging yang dimasak oleh Gwen jadi Sheria tinggal memanasinya sebentar.
"Kita istirahat malam ini kemudian besok kita masuk ke hutan," ucap Bryan.
"Okay!" sahut Chade dengan senyuman smirk.
Setelah memakan steaknya, Bryan meminum bir kaleng sampai habis. Tak lama dia terus menguap kemudian tidak sadarkan diri.
Chade dan Sheria mengangkat tubuh Bryan masuk ke dalam tenda, mereka menutup tenda dan memastikan tidak ada hewan buas yang mendekat ke arah tenda.
"Sepertinya sudah aman, ayo cepat pergi!"
Mereka kemudian bersiap-siap untuk menjalankan misi mereka. Alasan kenapa mereka memilih hutan tempat mereka berkemah karena jaraknya yang lebih dekat dengan penjara bawah tanah.
Penjara bawah tanah letaknya memang terpencil, jauh dari kota.
"K, J, O dan L pasti sudah menunggu kita," kata Sheria.
Dan benar saja, sudah ada mobil van warna hitam menjemput mereka.
"Kita harus bergegas, Miss," ucap J yang membukakan pintu.
Sheria dan Chade masuk ke dalam mobil van itu, mereka mempersiapkan diri di sana sambil melihat peta penjara bawah tanah.
"Semoga tepat waktu dan kita bisa melihat apa yang terjadi di sana, kalau aku memberi kode merah berarti kita semua harus mundur!" jelas Sheria.
Semuanya mengangguk paham, Sheria menggenggam tangan Chade yang mengepal.
"Untuk kali ini, tolong kontrol emosimu!" ucap Sheria penuh penekanan.
Chade mengangguk. "Aku akan berusaha!"
Saat mereka sampai, mereka memakirkan mobil agak jauh dari lokasi.
Mereka semua turun dan segera mengecek keadaan.
...°°°°°...
Bersambung....