
Bukannya merasa kesakitan, Ronan justru tertawa menerima perlakuan kasar Trevor. Dia sudah lama di penjara sampai tubuhnya mati rasa, Ronan tidak bisa membedakan lagi rasa sakit karena yang dia tahu hanyalah dendam membara.
Bertahun-tahun dia menyusun rencana, kalaupun dia mati, Ronan tidak peduli lagi. Yang terpenting, rencananya berjalan mulus.
"Papa!" Sheria yang mengawasi Trevor ingin menghentikan aksi ayah angkatnya itu.
Tapi, baru juga berdiri drone-drone menangkap banyak subjek yang mendekat.
"Aku sudah menduganya," komentar Keiner yang langsung meraih senjatanya dan keluar dari mobil untuk mencari Jullian.
"Jullian, kita harus menyusul daddy!"
Sheria tidak mau tinggal diam, dia juga mengikuti dua lelaki itu.
Saat mereka sampai, mereka mengelilingi Trevor yang membuat atensi Ronan mengarah pada Sheria.
"Ki-- ta bertemu lagi," ucap Ronan yang lehernya masih dicengkram oleh Trevor.
Trevor mengerutkan keningnya dan melepas cengkraman kuat dari tangannya. Ronan langsung mengenali Sheria?
"Uhuk-uhuk!" Ronan terbatuk-batuk karena lepas dari cengkraman Trevor kemudian dia terkekeh dan memandangi setiap orang yang ada di sana.
Mata Ronan tertuju pada Jullian. "Jadi, di mana kau sembunyikan hantu Irene?"
"Diam kau! Jangan sebut nama istriku!" teriak Jullian tidak suka.
"Istri?" Ronan semakin emosi jika mengingat dirinya yang terhina. "Bagaimana kau bisa menikah dengan hantu, heh?"
Jullian maju dan ingin menghajar Ronan tapi dia kalah cepat oleh Sheria.
Gadis yang sudah menahan diri sedari tadi akhirnya hilang kesabaran juga. Sheria memukul Ronan sampai jatuh, barulah setelah itu, Sheria dengan membabi buta naik ke perut Ronan dan mengeluarkan semua tenaganya.
"Ini untuk orang tuaku!" Sheria menghajar wajah Ronan bertubi-tubi di sana.
Dan Ronan sendiri tidak melakukan perlawanan sama sekali. Justru dia tertawa dengan memuntahkan darah dari mulutnya.
"Mungkin karena terlalu lama di penjara, kau hilang ingatan, ya?" cibir Sheria dengan sinis. "Aku ingat jelas bagaimana kau menembak mommy-ku!"
"Tapi, apa kau tahu cara mati daddy-mu? Dia mati ditangan Trevor," balas Ronan.
Sheria mengepalkan kedua tangannya lagi, kejadian malang itu terlintas kembali di kepalanya.
"Dan kau akan mati ditanganku!" Sheria menodongkan senjata di kepala Ronan dan siap menarik pelatuk pistolnya.
Bersamaan dengan itu, wajah Sheria dipenuhi oleh titik-titik merah dari sinar laser.
"Sheria, jangan bergerak!" teriak Trevor karena Sheria sudah dibidik di sana.
Tak lama segerombolan orang-orang mengepung tempat itu dengan senjata di tangan mereka.
"Tenang saja, kalian tidak akan mati hari ini, aku hanya ingin bermain-bermain dengan kalian," ucap Ronan tanpa beban.
Dari gerombolan orang-orang bersenjata itu, keluarlah sosok yang sangat mengejutkan.
"Chade!" seru semuanya.
"Kenapa kau ada di sini? Kau kabur dari asrama?" cecar Keiner.
Chade hanya diam tanpa ekspresi, dia menatap Sheria yang wajahnya masih tampak terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sheria dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat kecewa pada pemuda itu.
Chade tidak menanggapi, justru dia membantu Ronan untuk berdiri.
"Ikat mereka semua!" perintah Chade kemudian.
Badan Sheria terikat dengan Trevor sementara badan Keiner terikat dengan Jullian.
Setelah seperti itu, Chade membalik badannya dan pergi bersama Ronan.