
Keesokan harinya Sheria kembali ke aktivitas yang sering dia lakukan yaitu mengantar susu untuk para pelanggan yang tinggal di pemukiman peternakan sapi.
Sheria memakai sepeda dengan box berisi susu yang ada di belakang sepedanya.
"Sheria, kami sudah menunggumu!" ucap seorang pria paruh baya.
"Hai, tuan Andrew. Pesanan seperti biasa bukan?" Sheria sambil memberikan pesanan susu tuan Andrew itu.
Tuan Andrew menerimanya dengan seutas senyuman. "Apa kau ada waktu weekend nanti? Kebetulan kami akan mengadakan jamuan, kami mengundangmu, papa dan mamamu juga!"
"Aku akan memberitahu mereka!" sahut Sheria.
"Kami menunggumu, Sheria!" Tuan Andrew berharap Sheria benar-benar datang karena dia mau memperkenalkan Sheria dengan anak laki-lakinya.
Sheria dikenal baik dan ramah, oleh karena itu banyak yang suka di pemukiman Sheria tinggali sekarang.
Saat Sheria sudah mengantarkan semua pesanan susu, dia ingin secepatnya kembali ke peternakan tapi di perjalanan, Sheria merasa ada yang mengikutinya.
Gadis itu mengayuh sepedanya lebih cepat dan berbelok ke gang sempit untuk bersembunyi. Sheria menunggu gerak-gerik dari seseorang yang mengikutinya, dia mengeluarkan alat kejut yang selalu dia bawa ke mana-mana.
Saat merasa yakin, Sheria segera keluar dari tempat persembunyiannya dan ingin menyerang orang itu.
Tapi orang itu lekas sadar dan mencoba untuk kabur.
"Berhenti!" teriak Sheria yang sudah bersiap akan menancapkan alat kejutnya. Jika alat itu dia tancapkan pada target maka tubuh target akan terkena aliran listrik sampai badannya bisa mengejang dan pingsan.
Sheria berusaha mengejar dan akhirnya kehilangan jejak.
"Ck! Para mata-mata sekarang lebih bertindak terang-terangan!" decak Sheria sebal. Dia akan melaporkan ini pada Trevor.
Sheria bergegas kembali ke peternakan dan menemui Trevor yang berada di kandang sapi. Saat itu Trevor tengah memeriksa anak Momo, sapi yang baru dilahirkan.
"Aku di sini!" Trevor masih berdiri memperhatikan anak sapi yang menyusu pada induknya.
"Papa, aku bertemu dengan mata-mata lagi hari ini, dia berhasil kabur!" lapor Sheria yang sudah berada di samping Trevor.
"Anggap saja dia beruntung kali ini," balas Trevor santai.
"Aku harap mereka tidak bertemu dengan kak Irene," tambah Sheria yang cemas jika mata-mata tahu jika Irene memang belum mati.
Karena jika memang begitu pasti mereka akan yakin jika rumor dan kutukan itu adalah kebohongan belaka.
"Tenang saja, Irene aman bersama Jullian di Pulau Biru," ucap Trevor lagi.
Memang semenjak bisnis Jullian berkembang dan Irene yang melahirkan keempat anak kembar mereka, Trevor meminta Jullian membawa keluarganya tinggal di Pulau Biru untuk keamanan.
"Pulau Biru memang tempat paling aman, pulau itu tidak ada di peta dunia dan tidak terlacak," gumam Sheria.
Trevor melirik gadis itu dengan seulas senyuman. "Lebih baik kau memikirkan masa depanmu, kau ingin terus-terusan jadi pengantar susu? Aku tidak akan mati dengan tenang jika kau belum menikah Sheria!"
"Papa!" teriak Sheria tidak suka jika Trevor membicarakan kematian. "Jangan bicara seperti itu dan menikah itu masih dari kata jauh!"
Sheria menarik tangan Trevor untuk keluar dari kandang sapi. "Ayo kita temui Mama!"
"Gwen tidak memasak hari ini karena kita akan datang ke pesta di mansion Keiner," jelas Trevor.
"Ah, pesta untuk Chade, ya! Anak itu sudah bertambah tinggi!" komentar Sheria.
"Kau menyukai Chade?" tanya Trevor mencoba memastikan karena kedekatan putri angkatnya itu dengan pemuda yang lebih muda dari Sheria.
"Tentu saja suka, Chade adalah temanku selama ini," jawab Sheria yang masih tidak peka dengan perasaan Chade.