
Di sisi lain, Chade marah pada Ronan karena dia baru mengetahui tentang pengeboman di Pulau Biru.
"Kau melanggar janjimu, brengsekk!" teriak Chade.
Pada saat itu, Ronan masih dalam perawatan karena luka yang dia derita.
"Diamlah, yang penting mereka tidak mati, bukan?" Ronan menanggapi dengan santai sekali.
Chade masih tidak terima karena Ronan melanggar kesepakatan yang telah mereka buat sebelumnya. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat banyak.
"Berikan kuncinya sekarang!" Chade kemudian meminta sesuatu yang telah dijanjikan oleh Ronan.
Ronan melirik ke arah sekutunya, Aaron -- ketua kelompok White Eagle.
"Berikan kunci padanya, dia cukup berguna," ucap Ronan.
Aaron yang sedari tadi menyender di dinding dengan tenang akhirnya mengambil kunci yang dimaksud dan melemparkannya pada Chade tanpa sepatah kata pun.
"Awas kalian!" Chade menangkap kunci itu dengan tatapan galak pada Ronan dan Aaron.
Kemudian pemuda itu meninggalkan ruangan rawat begitu saja.
"Kau yakin mau menggunakan dia menjadi senjata kita? Jangan sampai dia justru menjadi boomerang!" Aaron akhirnya membuka suaranya.
"Bukankah kau ingin mengalahkan The Eye? Dialah solusinya, kau tahu pemimpinnya seorang gadis kecil? Kau tidak mau kalah darinya, bukan?" Ronan mulai menyulut api peperangan.
"Itu tidak akan pernah terjadi, sekarang White Eagle sudah selangkah lebih maju!" ucap Aaron percaya diri.
Ronan berseringai. "Ayo kita bangkitkan The Green Hornet lagi, bersama-sama kita akan menuju kejayaan dan menguasai dunia bawah tanah!"
Ambisi Ronan dulu kembali terpupuk lagi.
"Dad..." seru Chade seraya berlari ke arah Dylan yang disekap dan disiksa di ruangan itu.
"Aku tahu, kau akan datang padaku," ucap Dylan dengan mulut penuh darah.
Sebelumnya, saat Dylan gagal membujuk Chade, Ronan menjadi murka luar biasa. Ronan menyekap Dylan dan menyiksanya, dia menjadikan Dylan pancingan dengan mengirimkan video penyiksaan itu pada Chade.
Itulah yang membuat Chade sampai nekat kabur dari asrama, tujuannya adalah menyelamatkan ayah kandungnya tapi tentu semua itu tidak akan mudah. Karena nyatanya Chade harus ikut serta dalam rencana Ronan.
"Kita harus kabur dari sini!" ucap Chade sembari melepas ikatan yang ada pada tubuh Dylan.
"Kabur? Kau telah menjadi bagian dari The Green Hornet," jelas Dylan.
"Apa kau gila? Setelah Ronan membuatmu seperti ini, kau masih setia padanya, Dad?" Chade jadi gusar.
"Kalau pun aku kabur, bos Ronan akan mudah menemukan kita! Di dalam tubuhku tertanam chip pelacak!" Dylan berusaha membuat Chade berada di pihaknya. "Kalau kau kembali, apa ada yang menerimamu?"
"Di dalam tubuhmu mengalir darahku, kau tidak akan bisa menjalani hidup mewah seperti tuan muda yang selama ini kau jalani Chade," tambahnya.
Chade memejamkan matanya, dia teringat wajah Sheria sebelumnya. Rasa kecewa tergambar jelas di wajah gadis yang dia cintai, gadis yang selama ini menjadi tumpuan dan pijakan kakinya.
"Aku semakin jauh dari Sheriaku!" batin Chade pilu.
Dengan kebimbangan yang nyata, Chade menyendiri di atap markas baru Ronan. Dia mengeluarkan bra Sheria, satu-satunya barang yang dia bawa sebelum pergi dari asrama.
"Kita benar-benar tidak pernah bisa bersatu Sheria, aku harus melupakanmu!" ucapnya seraya mencium bra itu untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal!" Chade menyalakan korek api dan membakar bra keramat itu.