
Sheria menahan air matanya, sudah dipastikan Ronan bisa mencari celah atas bantuan dari Chade. Tapi, dengan cepat Sheria menepis air matanya yang akan jatuh, dia harus fokus.
"Papa, kita harus membagi tugas. Aku dan Kak Keiner akan mengurus peternakan sapi dan Kafe," ucap Sheria kemudian.
"Baiklah, kita harus cepat bergerak, jaga dirimu," sahut Trevor sambil mangusap rambut Sheria kemudian dia menoleh pada Jullian. "Ayo, kita pergi!"
Jullian mengangguk, dia akan membawa Trevor ke tempat di mana dia biasanya menggunakan helicopter.
Sementara Sheria yang tertinggal menyusun pembagian tugas untuk para anak buahnya.
"K dan J, kalian harus pergi ke perusahaan kak Keiner. Aku yakin setelah ini White Eagle akan menyerang perusahaan jadi perkuat firewall di sana supaya tidak bisa dibobol dengan mudah," perintah Sheria.
"Baik, Miss," jawab K dan J bersamaan.
Sheria lalu melihat ke arah Keiner. "Kak, tolong beritahu uncle Lucas jika anggotaku ada yang akan ke sana!"
"Baiklah," ucap Keiner cepat.
Sekarang tersisa O dan L yang ditugaskan oleh Sheria untuk mengurus peternakan sapi dan Kafe.
"Kalian harus mengurus peternakan sapi, para sapi harus cepat dibakar dan peternakan harus disterilkan!"
"Untuk Kafe kita tidak bisa berbuat banyak dan pasti pemadam kebakaran sudah memadamkan apinya!"
Sheria memberikan instruksi pada anak buahnya yang tersisa.
"Tenang saja, Miss. Kami akan membereskan semuanya,"
"Aku percaya pada kalian,"
Setelah kepergian para anggotanya, Sheria kembali ingin berbicara pada Keiner.
"Kita harus ke asrama, Kak. Kita harus menyelidiki, apa yang sebenarnya terjadi," ucap Sheria.
"Sepertinya itu ide bagus," balas Keiner setuju.
Keduanya akhirnya menuju asrama dan menyelidiki bagaimana Chade bisa bergabung bersama Ronan.
...°°°°°...
Di sisi lain, Gwen dan Juvel baru mendarat di Pulau Biru. Di sana tampak sepi dan tidak ada tanda-tanda bekas serangan apapun.
"Mom..." Athena merasa takut sedari tadi dan tidak mau jauh dari Juvel.
"Tenanglah, kakak akan menjagamu," bujuk Ares.
"Ayo kita masuk ke dalam!" ajak Gwen kemudian.
Mereka berhati-hati sekali saat melangkah karena takut ada jebakan yang menanti mereka.
Tapi, mereka bisa bernafas lega karena tiba-tiba Irene keluar dari rumah.
"Mommy, Juvel, kalian datang?" tanya Irene yang tidak tahu apa-apa.
Gwen dan Juvel saling pandang, mereka bersyukur Irene baik-baik saja.
"Apa tidak ada sesuatu yang mencurigakan di sini?" tanya Gwen memastikan.
"Tidak, ada apa sebenarnya?" Irene semakin bingung. "Ayo masuk!"
Mereka semua akhirnya masuk, anak-anak wuba pun berlarian keluar dari kamar mereka.
"Ares... Athena..." seru mereka.
"Albert, bawa semuanya bermain di taman," ucap Irene pada anak sulungnya.
"Main di sini saja supaya mereka ada di jangkauan kita," sela Gwen yang tidak mau cucu-cucunya jauh dari pandangan matanya.
Irene mengerutkan keningnya semakin dalam, dia jadi khawatir. "Apa ini ada hubungannya dengan Ronan?"
"Ya, kita semua dijebak," jawab Juvel mendengus kasar.
"Ronan pasti mencariku, 'kan?" tanya Irene takut-takut.
"Melihat Pulau Biru masih aman artinya Ronan belum mengetahui lokasi pulau ini," sahut Gwen menyimpulkan.
Bersamaan dengan itu, ponsel Juvel menerima pesan dari Keiner. Keiner menuliskan jika Jullian dan Trevor menuju pulau Biru.
Aku tidak ikut karena mengurus masalah lain. Jaga anak-anak kita.
Keiner kemudian menjelaskan semua insiden yang terjadi pada istrinya.
"Kafe Jullian mengalami kebakaran, Mom," lapor Juvel pada Gwen.
Anak-anak wuba yang pendengarannya tajam langsung berlari ke arah Juvel untuk menanyakan kebenaran itu.
"Kafe daddy kebakaran, apa itu artinya bangkrut?"
"Akhirnya daddy jatuh miskin, kita akan hidup normal!"