
"Apa yang terjadi?" batin Sheria yang masih berada di dalam helicopter.
Sheria melihat kepulan asap yang menutupi pulau Biru. Dia sangat yakin jika itu adalah kebakaran.
Hal sama dipikirkan oleh Keiner, lelaki itu semakin mencemaskan keluarganya.
Helicopter mendarat agak jauh dari landasan, Keiner segera turun disusul oleh Sheria.
"Daddy..." Athena berlari ke arah Keiner karena ketakutan.
Keiner segera memeluk putrinya dan mencoba menenangkan. "Tidak apa-apa, daddy di sini!"
"Babe..." Juvel juga ikut menyusul bersama Ares kemudian keluarga kecil itu berpelukan bersama.
Jullian juga memeluk Irene sedari tadi dengan anak-anak wuba mereka.
"Kita tidak punya apa-apa lagi Jullian," keluh Irene dengan isak tangisnya.
"Kau masih punya aku dan anak-anak wuba kita, semuanya akan baik-baik saja," bujuk Jullian.
Sementara Trevor yang memeluk Gwen melirik ke arah Sheria yang sendirian. Dia mengulurkan satu tangannya pada gadis itu.
"Kemarilah!" Trevor tersenyum supaya Sheria tidak mengira jika dia marah atas rahasia yang disembunyikan oleh Sheria selama ini.
Sheria menyambut uluran tangan itu dan meluapkan semua perasaannya. Sheria menangis tanpa mau menahan-nahannya lagi.
Rasa marah dan kecewa menjadi satu sekarang. Dia tidak percaya Chade akan semudah itu berpaling.
Suasana di Pulau Biru menjadi begitu suram ditambah turunnya hujan di sana. Rupanya langit pun ikut menangis akan kesedihan keluarga besar itu.
Setelah api padam karena air hujan, Trevor membawa keluarganya untuk pergi meninggalkan pulau Biru.
"Pergi ke mansionku saja, kita istirahat sementara di sana," ucap Keiner.
...°°°°°...
Lucas berada di atas rooftop perusahaan untuk menunggu kedatangan majikannya. Di sana ada K dan J yang juga menunggu Sheria.
Tak lama terlihat dua helicopter mendekat kemudian mendarat di landasan heliped berada.
"Tuan..." sambut Lucas saat melihat Keiner turun.
"Mobil jemputan sudah menunggu di bawah!"
Keiner mengangguk. "Bantu anak-anak untuk turun ke bawah!"
Sementara K dan J memberi laporan pada Sheria jika firewall perusahaan Keiner sudah diperkuat.
"Tenang saja, Miss. Tidak akan ada yang membobol karena lawan justru akan terpental dan ribuan virus masuk ke jaringan mereka,"
"Aku mengandalkan kalian tapi jangan remehkan lawan. Camkan itu!" Sheria memberi peringatan keras.
K dan J hanya bisa tertunduk karena nyatanya mereka memang meremehkan White Eagle sebelumnya.
"Kalian kembalilah dan jangan ganggu aku sementara waktu," sambung Sheria.
"Tapi, Miss...."
"Beri waktu aku untuk berpikir!"
Setelah itu, Sheria ikut bergabung dengan yang lainnya untuk ke mansion Keiner.
Karena jika melakukan tindakan sekarang akan membuang waktu dan energi. Sheria ingin keadaan meredam dahulu.
Saat sampai di mansion Keiner, Sheria memilih untuk menempati kamar Chade. Kamar yang selalu mereka gunakan untuk bertukar cerita berdua.
"Sekarang kau ada di mana, tuan muda," keluh Sheria.
Tanpa membersihkan diri, gadis itu langsung membaringkan dirinya, rasanya begitu melelahkan.
Sampai Sheria pun akhirnya tertidur.
Beberapa jam berlalu, Sheria terbangun, badannya terasa berenergi kembali. Dia kemudian ingin membersihkan diri.
"Di mana handuk?" gumam Sheria.
Gadis itu mencari handuk di dalam lemari tapi atensinya tertuju pada kertas yang menempel di lemari yang dia buka.
Kertas itu berisi tulisan-tulisan penyemangat diri yang dibuat oleh Chade.
Ayo semangat tampan, hadapi hari yang berat ini dengan berani. Dan selalu ingat Sheria adalah penyemangat hidupmu.
Kemudian ada foto Sheria dengan tanda hati berwarna merah yang digambar oleh Chade.
"Jadi, selama ini dia tidak main-main, Chade menyukaiku sebagai seorang wanita?" Sheria merasa terkejut.
"Kenapa aku bisa terlambat menyadari itu?"