
Di sisi lain, Irene yang mendengar kabar tentang kaburnya Ronan dari penjara merasa khawatir. Bagaimana jika Ronan berusaha mencarinya?
"Mom..." panggil Albert, anak sulungnya.
Irene membalik badannya karena saat itu tengah berdiri di jendela.
"Kau sudah bangun? Saudaramu yang lain mana?" tanya Irene.
"Mereka masih tidur. Apa daddy belum pulang? Kapan kita akan ke kota lagi, Mom?" tanya Albert yang bosan karena hidupnya terbatas di Pulau Biru.
"Kita tunggu daddy pulang dulu, ya?" bujuk Irene. Dia tidak mau menjanjikan apa-apa karena takut tidak bisa menepatinya. "Mommy akan buatkan cemilan, bermainlah dulu sambil menunggu saudara-saudaramu bangun!"
"Kapan kita akan hidup seperti Ares dan Athena? Mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau, kami juga ingin berteman dan bersekolah normal seperti yang lain," tuntut Albert.
Hal ini sebenarnya sudah Irene bicarakan dengan Jullian. Mereka akan membawa si kembar empat sekolah di kota tapi jika Ronan kabur justru akan membahayakan anak-anak mereka.
"Kita tunggu daddy pulang!" tegas Irene.
...°°°°°...
Hal sama dirasakan oleh Jullian, dia mencemaskan keadaan istri dan anak-anaknya. Jullian sekarang berada di tempat rahasia menunggu kedatangan Trevor dan Keiner.
Tak lama yang ditunggu akhirnya datang juga, Trevor dan Keiner masuk ke tempat rahasia mereka untuk membahas masalah Ronan.
"Jadi bagaimana? Di sini posisi yang paling berbahaya adalah istri dan anak-anakku!" ucap Jullian memulai pembicaraan.
"Tenanglah dulu supaya kita bisa berpikir jernih," sahut Trevor. Dia mengambil pematik dari sakunya untuk menyalakan rokok. "Kalau ada Gwen, aku tidak berani melakukan ini!"
Keiner memutar bola matanya malas. "Daddy mertua sering ke tempat rahasia kita diam-diam, 'kan? Tempat ini selalu dipenuhi bungkus dan putung rokok!"
"Ini supaya aku bisa berfikir," elak Trevor. "Sebelumnya pasti Ronan sudah merencanakan kabur dan pasti dia juga sudah tahu kalau Irene masih hidup!"
Jullian mengambil satu batang rokok kemudian menyalakannya. "Itu benar, lebih baik kita segera bertindak dan mencari Ronan berada sebelum dia menyerang kita!"
"Bukankah kita punya Sheria?"
"Hah!? Padahal aku ingin Sheria tumbuh menjadi gadis normal apalagi dia sudah mulai ingin berkencan," sahut Trevor dengan kepulan asap di sekitar wajahnya.
"Minta Sheria hanya melacak keberadaan Ronan sisanya adalah urusan kita,"
"Ya, lebih cepat lebih baik!"
"Kita juga pasti akan diawasi oleh polisi, kita harus lebih berhati-hati lagi,"
Mereka bertiga kemudian menyusun strategi untuk mengejar Ronan dan antek-anteknya.
"Dylan pasti ada dipihak Ronan jika aku membunuhnya, apa Chade akan baik-baik saja?" tanya Jullian kemudian.
Keiner hanya bisa memejamkan matanya. "Mungkin dia hanya diam dan hubungan kami akan semakin buruk!"
"Tapi Dylan adalah musuh kita, dia juga yang telah membunuh ayahmu!" Jullian mencoba mengingatkan posisi Chade.
"Jullian!" geram Trevor. "Jangan berbicara seperti itu, Chade adalah keluarga kita sekarang, kita juga tidak lebih baik dari dia!"
"Tapi Dad..."
"Chade akan berangkat ke asrama jadi jangan memikirkan anak itu, aku akan berbicara baik-baik saat waktunya tepat nanti!"
Keiner berharap Chade akan mengerti jika Dylan nantinya mati di tangannya.