
Sheria terus berontak dan berusaha lepas dari Chade tapi justru lelaki itu mendorong tubuhnya sampai ke atas ranjang.
"Lepaskan aku, brengsekk! Aku akan membunuhmu!" ronta Sheria yang dipenuhi oleh dendam.
Tak lama pintu kamarnya diketuk oleh Gwen karena terdengar suara-suara ribut padahal Bryan sudah berpamitan pulang.
"Sheria, mama buka pintunya!"
Seharusnya Sheria membiarkan saja Gwen membuka pintu dan tahu kalau Chade menerobos masuk tapi justru Sheria memberi kode supaya Chade bersembunyi.
Alhasil Chade menarik selimut sampai menutupi tubuhnya dan memeluk Sheria.
"Ada apa?" tanya Gwen yang sudah membuka pintu. Dia mendapati Sheria berbaring dan hanya kepalanya saja yang terlihat. "Kau sakit?"
"Aku hanya merasa lelah saja, sudah lama tidak mengantar susu," jawab Sheria.
"Beristirahatlah! Mama akan pergi bersama papa, apa kau titip sesuatu?" tanya Gwen lagi.
"Tidak," jawab Sheria singkat. Dia sedang menahan sesuatu karena Chade tengah mencuri kesempatan. Lelaki itu membuka bra nya dan menyesap buah dadanya yang membuat Sheria geli setengah mati.
Gwen merasa tidak curiga, dia pun keluar dari kamar Sheria dan bersiap pergi bersama Trevor.
Melihat sudah aman, Sheria lekas membuka selimut dan mendapati Chade seperti bayi besar yang menghisap buah dadanya bergantian. Bahkan ada beberapa tanda merah yang lelaki itu tinggalkan.
Merasa ada kesempatan Sheria langsung mendorong tubuh Chade sampai dia bisa naik ke perutnya. Dari atas Sheria bisa melihat wajah Chade dengan jelas, Chade terlihat dewasa sekarang.
Dan dari bawah Chade bisa melihat tubuh seksi Sheria apalagi gadis itu nyaris tanpa busana.
"Aku akan membunuhmu!" Sheria mencengkram leher Chade dengan kedua tangannya.
Chade tidak melawan justru dia pasrah akan dibunuh oleh orang yang dia cintai.
Air mata Sheria pun jatuh, gadis itu menangis karena teringat kata-kata Trevor sebelumnya.
Cengkraman Sheria melemah dan tangan itu ditangkap oleh Chade.
"Kenapa kau ragu, Sheria?" tanya Chade yang masih berada di bawah Sheria.
Chade pun mengubah posisinya, kini dia kembali tubuh Sheria. Tangannya terulur untuk menghapus air mata di wajah cantik itu.
"Aku merindukanmu," ucapnya seraya menunduk dan kali ini Chade mencium bibir Sheria.
Sontak bola mata Sheria terbelalak, dia sangat tidak asing dengan ciuman ini. Ciuman yang sama seperti saat dia berada di pohon oak.
"Jadi kau penunggu pohon itu?" tanya Sheria saat Chade melepas ciuman.
"Kau tampak menikmatinya, jujurlah padaku Sheria kau lebih nyaman dengan ciumanku atau kekasihmu?" Chade bertanya seolah diantara mereka tidak terjadi apa-apa.
Sheria berdecak, mereka sudah tidak bertemu selama dua tahun lamanya dan sekarang Chade datang dengan pertanyaan seperti itu.
"Pergilah Chade!" usir Sheria. Dia tidak mau luluh dengan mudah.
Chade melepas Sheria perlahan, dia mengusap kepalanya yang benjol. Dia turun dari ranjang dan langsung melompat keluar jendela tanpa sepatah kata pun. Dia merasa ditolak oleh Sheria dan Chade sadar diri karena sudah banyak kesalahan.
Di atas ranjang, Sheria masih terdiam kemudian dia beranjak ke kamar mandi dan melihat pantulan dirinya di cermin wastafel.
Di leher dan dadanya terdapat tanda merah dari Chade. Laki-laki yang sebelumnya dia anggap saudara dan adik, sekarang berani melakukan itu padanya.
"Kau belajar dari mana Chade?" gumam Sheria.
_
Suka nonton video tyd........ 😅